Kompatiologi dan Mekanisme Kebutuhan

Ditulis oleh: Liong Vincent Christian / Vincent Liong
Dibahas bersama: Adhi Purwono

Ingin ikut dalam diskusi? bersama kelompok khusus, japri saya.

Manusia dan hewan adalah makhluk hidup yang mampu
bergerak dan berpindah tempat dengan bebas, sifat ini
yang membedakan dua kelompok makhluk hidup ini dengan
tumbuhan. Manusia dibedakan dengan binatang karena
binatang tidak terlalu mempunyai keinginan untuk
melenceng dari penemuhan kebutuhan dasar saja,
sedangkan manusia merasa kurang bilamana hanya
terpenuhi kebutuhan dasarnya saja. Dalam pemahaman
tentang kebutuhan dasar, biasanya dianggap bahwa
setelah manusia terpenuhi kebutuhan dasarnya, maka
manusia tetap merasa mempunyai keinginan lebih untuk
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan lain di luar
kebutuhan dasar.

Mengapa manusia tidak hanya puas dengan terpenuhinya
kebutuhan dasar, sedangkan pada binatang mereka cukup
puas bila terpenuhi kebutuhan dasarnya?

Jika seorang Tarzan yang hidup di tengah-tengah budaya
Simpanse tumbuh sebagai manusia yang cukup puas
bilaman kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi. Namun,
jika seekor Blacky hidup di tengah-tengah budaya
Manusia, maka terpenuhi kebutuhan dasar saja tidak
cukup, karena Blacky terpengaruh dengan konsep
kenyamanan manusia; sofa yang empuk dengan berlapis
kulit yang hangat, makanan yang tidak hanya
mengkenyangkan tetapi memenuhi selera, kamar yang
ber-AC, dlsb meskipun tidak tidak sejauh manusia dalam
mengejar konsep kebutuhan akan kenyamanan moderen.
Mengapa Blacky tidak terbawa konsep kenyamanan moderen
sejauh Manusia? Ini disebabkan karena manusia tidak
sanggup mempengaruhi Blacky seperti manusia
mempengaruhi manusia lain.

Tao mengatakan; “Manusia mengikuti aturan bumi, Bumi
mengikuti aturan Langit. Sementara langit itu
mengikuti aturan Tao.”

Dalam kutipan di atas ada dua aturan yang dihadapi
oleh manusia yaitu aturan bumi dan aturan langit.

Bicara tentang kebutuhan;
Aturan Bumi adalah segala yang sifatnya mekanis
biologis atau pada proses pengambilan keputusannya
dikatakan instingtif, misalnya: Makhluk hidup makan
untuk mempertahankan eksistensi dirinya secara fisik
(tetap hidup), membutuhkan rasa aman untuk menjauhkan
diri dari bahaya yang bisa melenyapkan eksistensi dia
secara fisik, membutuhkan kegiatan sex untuk
menggandakan sebagian dirinya sehingga sebagian
dirinya tetap eksis secara fisik. Jadi intinya saya
eksis secara fisik. Itulah aturan bumi.
Aturan Langit adalah penciptaan konsep oleh manusia
dengan tujuan munculnya anggapan bahwa hidupnya aman
dan dapat diramalkan prosesnya, di tengah
ketidakpastian dan konflik antar kepentingan individu
yang berusaha untuk terus eksis, misalnya: perlu
konsep, paradigma, sudutpandang, referensi, acuan,
sehingga perlu sekolah, agar dapat meramalkan setiap
tahap proses hidupnya, misalnya setelah lulus bekerja,
lalu menikah, lalu membesarkan anak, mendapatkan
pensiun, hingga mendapatkan pemakaman yang layak, lalu
butuh agama agar dapat tetap memprediksi eksistensi
diri setelah mati.

Manusia tidak sanggup mengajarkan hewan untuk
menciptakan aturan langitnya sendiri yang terus
berkembang, sehingga manusia berasumsi bahwa dia
berbeda dengan hewan hanya karena hewan tidak bisa
diajarkan untuk menciptakan dan mengembangkan aturan
langitnya secara mandiri (akal budi).

Kompatiologi dalam hal ini berperan untuk mengurangi
tekanan keinginan yang dialami oleh manusia dalam
kebutuhannya berkonsep untuk mengikuti dan
mengembangkan aturan langit.

Bagaimana cara kompatiologi bekerja?
Aturan langit bekerja dengan kebutuhan untuk membuat &
mengembangkan konsep-konsep dalam hal eksistensi diri
(berfilsafat) .
Aturan bumi adalah mekanisme dasar dalam eksistensi
diri secara fisik yang bekerja secara mekanis ragawi
(instingtif) .

Oleh karena itu kompatiologi bekerja dengan sampling
data sensor ragawi tanpa ceramah, pengarahan konsep,
dogma, dlsb sehingga untuk sesaat pengguna
kompatiologi sempat mengalami pengalaman untuk hidup
pada aturan bumi tanpa terpengaruh tekanan-tekanan
aturan langit. Sehingga tekanan dari aturan langit
bisa dikurangi dengan menyadari adanya aturan bumi
dengan melalui pengalaman dekonstruksi tsb, karena
setelah mengalami dekonstruksi manusia tsb menyadari
bahwa adaptasi pemposisisan diri manusia bisa
dilakukan menggunakan baik aturan bumi maupun aturan
langit, tidak ada yang lebih penting / berkuasa satu
terhadap yang lain.

Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Selasa, 22 Mei 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: