Pentingnya Analisa Indrawi dalam Menentukan Orientasi

ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian.

Dalam tulisan berjudul “Kompatiologi? (Siklus Zaman & Peran Kompatiologi)” saya membahas proses dari manusia yang instingtif seperti binatang, menjadi manusia yang mensibukkan diri di kegiatan bernalar ;dimulai ketika manusia mulai mencari rasa aman dari kondisi zaman animisme yang selalu di kondisi ketidakpastian seperti hukum
hutan rimba.

Anggapan soal pentingnya kegiatan bernalar untuk membuat labeling dan konsep-konsep dihasilkan karena ketakutan manusia akan kelangsungan hidupnya dalam hubungan antara masa lalu, masa kini dan masa depan,
sehingga merasa membutuhkan konsep tentang rasa aman yang diharapkan memberikan jaminan secara permanen.
Kegiatan bernalar membuat manusia kehilangan kemampuan untuk menganalisa input-input indrawi karena menganggap kemampuan bermain dengan nalar jauh lebih penting dibanding memperhatikan input indrawi.

Mengabaikan kemampuan menganalisa input indrawi memiliki akibat yang fatal, yaitu: si manusia semakin kehilangan tujuan tentang kondisi apa yang dianggap ideal (output apa yang paling diinginkan). Maka dari
itu seiring dengan pertumbuhan budaya bernalar, maka manusia semakin tidak tahu tujuan ideal semacam apa yang dicita-citakan. Sebagai akibatnya muncul idealisme-idealisme yang tidak seimbang, seperti
secara ekstrim ingin banyak uang saja, atau secara ekstrim ingin nyaman saja atau secara ekstrim ingin merasa aman saja, dan tetap tidak pernah merasa menemukan kondisi ideal yang sempurna.

Masalahnya pengertian tentang kwalitas hidup di dunia nyata (dialami secara langsung / subjective) tidak dipelajari dari kegiatan bernalar di alam pikiran (dilogikakan / objective). Manusia merasa nyaman
adalah akibat dari pengalaman mencicipi input indrawi yang disukai oleh judgement instingtif yang sifatnya indrawi pula. Misalnya: kita merasa nyaman kalau makan sampai kenyang dan merasa menderita kalau tidak mendapat makan yang cukup. Kita merasa nyaman kalau tinggal di rumah yang melindungi kita dari input indrawi lingkungan sekitar yang tidak membuat kita merasa nyaman. Kita merasa nyaman kalau tidur di kasur yang empuk dan tidak merasa nyaman tidur di lantai yang keras dan dingin.

Tanpa pengalaman indrawi dalam berinteraksi dengan dunia luar bisa berakibat fatal yaitu kehilangan orientasi, misalnya; Kalau seseorang untuk waktu yang panjang selalu di posisi tidur tanpa mempekerjakan
otot kakinya untuk berjalan, maka pada otot kaki tidak ada orientasi untuk tumbuh dan menjadi kuat sehingga bisa lumpuh atau tulang mudah patah. Pernah dilakukan percobaan pada tikus yang hamil dibawa ke ruang angkasa yang tanpa grafitasi lalu dibawa kembali ke bumi untuk melahirkan anaknya, maka anak tikus tsb tidak memiliki orientasi tentang atas dan bawah bila dimasukkan ke dalam air.

Selama enam bulan terakhir saya banyak memperhatikan anjing saya Blacky, berhubung saya sudah tidak masuk sekolah sehingga sehari-hari banyak tinggal bersama Blacky. Yang menarik adalah setiap kali setelah saya pulang bepergian dalam waktu cukup panjang, misalnya ketika mengerjakan proyek Kompatiologi cabang Bandung,cabang Yogyakarta, atau cabang Solo dengan budaya setempat tertentu yang spesifik. Maka ketika pulang ke rumah pemposisian jati diri anjing saya otomatis beradaptasi mulai dari sikap yang ditampilkan sampai bagaimana prilakunya dalam berkomunikasi dengan saya.
Saya sampai beranggapan bahwa untuk mempelajari proses pengalaman yang membawa perubahan-perubahan pada diri saya, saya harus banyak mengamati Blacky. Kemampuan menganalisa input indrawi Blacky membuat pertemuan dengan tuannya (saya) yang baru (di kondisi saat ini,
tiap pertemuan sepulang saya bepergian), membuat Blacky dapat dengan instant menentukan strateginya dalam menghadapi saya, untuk mencapai kondisi idealnya secara costumize dan selalu at the present time.

Pada populasi hewan liar sejenis yang hidup di lingkungan alamiah, analisa terhadap input indrawi dan pemposisian peran dalam lingkungan sekitar yang tidak banyak berubah mengakibatkan strategi-strategi yang
juga hampir seragam. Maka dari itu meski dianggap tidak memiliki akal budi, binatang apapun memiliki budaya prilaku (pemposisian diri) yang menjadi identitas jenis yang membedakan populasi jenisnya dengan jenis binatang yang lain.

Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Minggu, 6 Mei 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: