MENDATANGKAN HUJAN REJEKI

Oleh:Prof. Roy Sembel, (Smart_WISDOM@ yahoogroups. com),
Sandra Sembel, pemerhati dan praktisi pengembangan SDM
(ssembel@yahoo. com)

Belum lama berselang, sebagian Jakarta kebanjiran air. Tetapi, jika
banjir rejeki yang datang, pasti semua orang tidak akan menolak.
Beberapa hari lalu, penduduk Indonesia keturunan Tionghoa merayakan
tahun baru Imlek. Pusat-pusat perbelanjaan menghias diri dengan tema
Imlek. Di hari raya ini, hujan rejekipun turun melalui berbagai
jenis angpao yang disebarkan. Ang pao ini tentu saja membuat mereka
yang menerimanya tersenyum senang. Walaupun Imlek sudah berlalu,
jangan biarkan hujan rejeki juga berhenti. Simak yang berikut untuk
mengetahui lebih jauh tentang cara menciptakan hujan rejeki.

Sumber Rejeki. Jika kita tidak bisa mendapatkan sumber rejeki, yang
bisa kita lakukan adalah menciptakan sumber rejeki tersebut. Lalu,
bagaimana caranya? Yang perlu kita lakukan adalah melihat sekeliling
kita untuk peluang yang bisa dikembangkan menjadi sumber rejeki.
Setelah melahirkan seorang bayi, Julie Aigner Clark melihat peluang
untuk menciptakan video pendidikan untuk bayi karena video
pendidikan yang ada di pasar umumnya untuk balita. Ternyata
bisnisnya ini berkembang menjadi bisnis milyaran dolar. Seorang
pelukis melihat peluang untuk menjadi pelukis yang unik setelah ia
menemukan berbagai pelepah pisang yang kering di tumpukan sampah
dekat rumahnya. Sampah dari pelepah pisang ini ia olah untuk membuat
lukisan timbul yang unik dengan harga jutaan rupiah lebih mahal dari
lukisan biasa. Nah, kita bisa mencoba untuk melihat masalah ataupun
kebutuhan di sekitar kita. Masalah dan kebutuhan ini bisa kita
jadikan peluang untuk mendatangkan hujan rejeki.

Fokus pada Kemampuan. Setiap orang pasti memiliki kelemahan dan
kekuatan. Setiap orang juga memiliki kekurangan dan kekuatan. Ada
banyak orang yang kelemahan ataupun kekurangannya lebih banyak dari
kekuatan, tetapi mereka tetap dapat mendatangkan hujan rejeki. Apa
rahasianya? Mereka ternyata tidak terbutakan oleh kekurangan mereka,
tetapi mereka justru mengembangkan apa yang masih bisa mereka
lakukan untuk menciptakan maha karya yang mampu mendatangkan manfaat
bagi orang-orang disekitar mereka. Misalnya saja Julie Andrew, artis
the Sound of Music yang bersuara emas. Setelah ia diserang kanker
yang membuatnya tidak bisa bernyanyi lagi, ia tidak putus asa,
dengan fokus pada kemampuannya yang masih ia miliki: berakting, ia
berhasil bangkit kembali dan tetap eksis di dunia perfilman.
Berbagai film berhasil ia bintangi dan laris di pasar (antara lain:
Princes Diaries).

Ketulusan. Hujan Rejeki juga bisa kita datangkan dengan mendatangkan
hujan rejeki bagi orang lain. Jadi fokus kita jangan pada uangnya,
tetapi, terlebih utama adalah pada keinginan untuk membantu orang
lain untuk mengatasi masalah mereka. Hal ini telah dibuktikan oleh
M. Yunus dari Grameen Bank yang tahun lalu mendapatkan Nobel
Perdamaian. Dengan tulus, M. Yunus menyalurkan bantuan keuangan bagi
orang-orang miskin yang membutuhkan untuk membangun usaha kecil yang
dapat membuat mereka lebih independen secara keuangan. Mulai dari
membantu beberapa orang saja, ia akhirnya mampu membantu jutaan
warga miskin untuk membangun usaha yang bisa membuka pintu keluar
dari kemiskinan. Usahanya ini mengundang banyak perhatian dan
dukungan dari banyak orang (dukungan finansial dan non-finansial) .

Keyakinan. Jika kita sudah menetapkan hati untuk melangkah, pastikan
kita yakin bahwa apa yang kita putuskan itu memang bisa dijalankan.
Semakin tinggi keyakinan kita untuk sukses, semakin dekat kita pada
kesuksesan tersebut. Julie Aigner yang mempertaruhkan seluruh
tabungan yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun, yakin
sekali bahwa ide membuat video pendidikan untuk bayi yang
dicetuskannya akan berhasil. Selain itu, ia juga berkeyakinan bahwa
ia tidak boleh gagal, karena ia telah mempertaruhkan tabugnan
kehidupannya. Dengan keyakinan yang kuat ini, ia menembus berbagai
masalah dan hambatan. Berbagai ide kreatifpun muncul ketika kita
tetap fokus dan yakin akan keputusan yang telah kita ambil.

Modal. Sebuah usaha pasti memerlukan modal untuk memulai usaha
tersebut. Namun, modal awal dalam bentuk uang bukanlah yang utama.
Yang terpenting adalah modal keyakinan dan kepercayaan dari orang
lain. Jika kepercayaan sudah ditangan, maka akan lebih mudah untuk
mencari modal uang. Hal ini juga yang dialami oleh Wendy Kopp,
seorang mahasiswa yang berkeinginan untuk membantu anak-anak dari
keluarga tidak mampu untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Dengan keyakinan yang tinggi, serta ketulusan yang dalam ia membuat
proposal dan melakukan presentasi ke berbagai perusahaan,
universitas dan lembaga untuk mewujudkan mimpinya memberikan
pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga sederhana.
Akhirnya, mimpinya bisa terwujud. Banyak perusahaan, organisasi dan
lembaga sosial menyumbangkan dana untuk mewujudkan mimpinya. Banyak
mahasiswa lain yang berpartisipasi menyumbangkan tenaga untuk
berpartisipasi dalam proyek pendidikan Wendy.

Risiko. Dalam setiap usaha pasti ada risiko yang harus dihadapi:
risiko gagal ataupun risiko ditolak. Namun, jangan sampai berbagai
risiko ini menciutkan tekat kita untuk berhasil. Justru kita harus
mengidentifikasi berbagai risiko yang mungkin kita hadapi dalam
membangun usaha ini. Lalu, kita pikirkan strategi yang paling ampuh
untuk menghadapi risiko tersebut, ataupun untuk meniadakan risiko
tersebut. Misalnya: Untuk mengajukan proposal guna mendapatkan
modal, pasti ada risiko untuk ditolak. Untuk itu, kita perlu
mengidentifikasi dengan hati-hati organisasi atau perusahaan yang
memang memiliki visi yang sama ataupun kebutuhan yang sama agar
proposal kita bisa diterima. Atau, sebelum proposal kita ajukan,
cobalah membangun hubungan baik dengan berbagai pihak sehingga
mereka bisa lebih mengenal kita, dan sebaliknya kita bisa mengenal
mereka dengan baik. Dengan demikian akan lebih mudah bagi kita untuk
memilih yang terbaik dari mereka untuk menggalang kerjasama dengan
kita.

Tekun. Orang yang sukses adalah orang yang bangkit kembali setelah
mereka jatuh. Ya, kunci sukses untuk mendatangkan hujan rejeki
adalah ketekunan. Jika kita langsung putus asa ketika masalah
menjelang, sudah pasti sukses tak akan bisa kita raih. Misalnya saja
seperti apa yang dialami Delon, pemenang Indonesian Idol beberapa
tahun yang lalu. Selama perjuangannya mengikuti kompetisi nyanyi
tersebut, ia senantiasa mendapat kritik pedas dari para juri tentang
kemampuannya menyanyi. Sang Ibu yang sedih melihat anaknya dikritik
habis-habisan oleh para juri pernah menyarankan pada Delon untuk
menarik diri saja dari ajang kontes menyanyi tersebut. Tetapi Delon
tidak gentar. Justru kritik para juri tersebut ia jadikan pelajaran
berharga. Ia mulai berlatih tekun dan mengasah keterampilannya
bernyanyi dengan serius, sehingga modal tampang yang merupakan
anugerah yang maha kuasa bisa dilengkapi dengan kualitas suara yang
prima. Hasilnya? Delon berhasil merebut posisi terhormat dalam
kompetisi menyanyi tersebut. Tidak itu saja yang berhasil diraih
Delon. Berbagai order menyanyi, membuat album dan mengisi berbagai
acara, bahkan membuat film, membanjiri Delon. Saat ini Delon
merupakan salah satu penyanyi papan atas di negeri ini. Hujan
rejekipun berhasil didatangkannya. Coba bayangkan apa yang akan
terjadi jika ketika masih bertempur dalam kompetisi nyanyi Delon
mengundurkan diri? Sudah pasti hujan rejeki tidak datang.

Setelah hujan air menerjang, pasti ada peluang untuk mendatangkan
hujan rejeki. Yang penting kita jeli melihat peluang usaha, fokus
pada kemampuan yang masih kita miliki, tulus dalam menjalankan
usaha, tekun dan pandai mengelola risiko, maka modal akan datang,
dan hujan rejeki akan menjelang. Jadi jika masalah datang, jangan
takut, dibalik masalah pasti ada peluang untuk mendatangkan hujan
rejeki. Sukses untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: