CERDAS FINANSIAL

Prof. Roy Sembel

“Pengendalian diri dan emosi adalah kunci keberhasilan investasi.”
Demikian saduran kata bijak dari Warren Buffett, orang terkaya nomor
2 di dunia yang memiliki kekayaan bersih lebih dari US$ 50 milyar.
Wisdom dari Pak Warren Buffett ini tampaknya perlu sekali ditanamkan
di dalam benak masyarakat kita. Pasalnya, telah banyak kasus
penipuan investasi yang terjadi di negara ini. Belum reda ingatan
kita atas satu kasus penipuan, sudah muncul pula kasus lain.

Hati-hati virus 3 TA
Rupanya, selain virus flu burung, SARS, dan AIDS, ada virus
lain yang sulit diberantas dan sangat berbahaya bagi keputusan
investasi, yaitu virus 3 TA. Maksudnya bukan harTA, waniTA, dan
tahTA, namun 3 TA berikut ini. TA yang pertama adalah TAmak.
Terobsesi dengan keinginan untuk cepat kaya, manusia sering lupa
untuk waspada. Iming-iming hasil investasi yang menggiurkan pun
langsung diterkam. Pikirannya telah terpelintir sedemikian rupa
sehingga hanya alur pikir dan informasi yang mendukung mimpi di
siang hari bolong itu saja yang dipertimbangkan. Selebihnya dibuang.
Bahkan, banyak orang tanpa mengumpulkan informasi langsung terjun
memakan umpan iming-iming investasi semu tersebut. Akibatnya, mereka
seperti membeli kucing di dalam karung. Tanpa mengenal seluk-beluk
investasinya terlebih dahulu, mereka buru-buru membenamkan uang
mereka.
Tindakan terburu-buru ini sering terkait dengan emosi lain
yang sering dimanfaatkan oleh para penipu. Ini dia TA yang kedua,
yaitu TAkut. Ketakutan tentang masa depan yang tak terjamin,
kehilangan kesempatan sekali seumur hidup, kalah cepat dibanding
investor lain, dan masih banyak lagi ‘tombol emosi’ ketakutan lain
sering dimainkan oleh para penipu ulung. Kombinasi dari daya tarik
TAmak dan daya dorong TAkut ternyata sangat ampuh sebagai alat
manipulasi emosi para calon korban penipuan.
Trauma yang ditimbulkan akibat penipuan investasi bisa jadi
sangat mendalam. Betapa tidak, uang yang telah dikumpulkan bertahun-
tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun habis sia-sia. Akibatnya, banyak
korban penipuan menjadi apatis. Ini TA yang ketiga, yaitu TAmat atau
TAkluk! Ini berbahaya karena si korban akan sulit untuk keluar dari
kubangan kemiskinan akibat enggan berusaha lagi.
Lantas bagaimana caranya agar kita tidak mudah termakan
rayuan investasi tipuan dan bebas dari virus 3 TA? Kata kuncinya
adalah kecerdasan finansial! Memiliki kecerdasan finansial tidaklah
identik dengan menyelesaikan sekolah formal tingkat S1, S2, atau S3
di bidang keuangan. Kecerdasan finansial mengacu pada kemampuan
untuk menciptakan nilai tambah kemakmuran dan menikmati kemakmuran
itu dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
Ada banyak komponen yang mendukung kecerdasan finansial,
termasuk kemampuan untuk menghindari penipuan investasi. Agar mudah
diingat, konsepnya akan ditampilkan sebagai singkatan W.I.S.D.O.M.
Huruf W dari W.I.S.D.O.M mengacu pada Watak. Artinya, kenali situasi
diri kita saat ini, yaitu kekuatan, kelemahan, dan kebutuhan diri,
pilihan saran investasi, serta situasi lingkungan investasi. Dalam
bahasa manajemen, ini disebut SWOT (Strengths, Weaknesses,
Opportunities, Threats). Sebagai contoh, kita perlu mengenal
seberapa besar toleransi kita terhadap risiko (kemauan dan kemampuan
kita dalam menanggung risiko) dan perlu mengenal dengan baik produk
investasi sebelum kita berinvestasi. Dengan demikian kita tidak
sekadar membeli kucing dalam karung.
Setelah mengenal W, kita perlu menetapkan I atau Impian /
Ingin. Impian merupakan cita-cita besar yang merupakan tujuan hidup,
sementara Ingin bersifat lebih membumi diformulasikan dalam bentuk
tujuan investasi. Tujuan harus bersifat SMART, yaitu Specific,
Measurable, Achievable, Result-oriented, dan Time-bound. Specific
berarti khas untuk pribadi Anda, tidak sekadar copy cat meniru orang
lain. Measurable maksudnya terukur sehingga bisa dinyatakan secara
lebih akurat dan objektif.
Selanjutnya, tujuan yang Achievable adalah tujuan yang
membumi, tidak sekadar punguk merindukan bulan. Jadi, harus bisa
dicapai. Tujuan yang terlalu muluk justru akan membuat orang menjadi
diam di tempat dan tidak mulai melangkah. Result-oriented artinya
befokus pada pencapaian hasil, bukan sekadar proses. Ciri terakhir
adalah Time-bound, yaitu berbatas waktu. Tujuan yang baik perlu
dibuatkan tahapannya, untuk jangka pendek (1 tahun), menengah
(misalnya 5 tahun), panjang (misalnya 10 tahun), dan untuk jangka
sangat panjang (misalnya untuk pensiun).
Setelah mengetahui situasi sekarang (W) dan masa depan yang
diinginkan (I), kita perlu merancang S (Siasat atau Strategi) untuk
bertolak dari W menuju I. Dalam investasi, strategi berarti pilihan
portofolio atau bauran investasi yang cocok untuk merealisasikan
tujuan sesuai dengan ciri khas investor.
Dalam menjalankan strategi itu, investor perlu untuk selalu
meningkatkan knowledge, skills, dan attitude-nya (pengetahuan,
ketrampilan, dan sikap) dalam berinvestasi. Belajar adalah kuncinya.
Investor perlu terus belajar tentang peluang baru dan instrumen
investasi baru, belajar mempraktekkan ilmu barunya secara bertahap,
dan belajar dari keberhasilan maupun kegagalan diri sendiri dan
orang lain dalam berinvestasi.
Langkah berikutnya adalah implementasi rencana dengan kerja
cerdas dan kerja keras (Otak dan Otot). Kerja keras artinya kita
harus berdisiplin dan bertekun dalam menjalankan rencana investasi.
Kerja cerdas artinya berpikir kreatif, menggunakan sistem investasi
yang terbukti keefektivannya serta memanfaatkan teknologi yang
memungkinkan kita mencapai lebih banyak dengan sumber daya yang sama.
Terakhir, agar siklus prosesnya lengkap, perlu dilakukan
Meter (pengukuran) , Monitor (pemantauan kesesuaian realisasi hasil
dengan rencana: Apakah kita sudah berada di jalur yang benar, dan
seberapa jauh kita sudah berjalan dijalur yang benar). Bila terjadi
penyimpangan perlu dilakukan kajian dan penataan ulang (Manajemen).
Kalau kita telah mempraktekkan ilmu WISDOM ini maka peluang
kita untuk terjerumus menderita virus 3 TA yang berujung pada
bencana korban penipuan akibat emosi negatif akan berkurang secara
signifikan. Kalau toh kita sempat terjerumus, kita akan segera
menyadarinya dan melakukan cut loss sebelum situasi bertambah parah.
Melakukan kesalahan adalah manusiawi. Yang penting adalah bagaimana
kita belajar dari kesalahan dan bangkit sebagai pemenang, bukannya
tergeletak sebagai pecundang. Pepatah bijak berkata, bahwa orang
yang berhasil adalah orang yang bangkit satu kali lebih banyak
dibanding kejatuhannya. Bila orang yang jatuh sudah tidak mau
bangkit lagi, tamatlah hidupnya. Kekalahannya menjadi permanen!
Pilihan ada di tangan Anda: Mau jadi pemenang atau pecundang. Untuk
menjadi pemenang, waspadalah dalam berinvestasi, tingkatkan
kecerdasan finansial Anda, dan gunakan W.I.S.D.O.M! Masuk akal
kan !?! Selamat berinvestasi!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: