Paradigma Hirarkis dalam Pendidikan di Indonesia

Oleh: Audifax

Kalau anda cermat memperhatikan dunia olahraga di
Indonesia, anda akan menemukan sebuah fenomena
menarik. Apa itu? Dalam jenis-jenis olahraga yang
sifatnya perorangan, contoh: bulutangkis, tenis,
angkat besi, tinju, bowling, panahan, atletik, renang,
bridge, catur, dan sejenisnya, Indonesia selalu
memiliki atlet yang (meski tidak selalu juara dunia)
selalu masuk dalam jajaran atlet yang diperhitungkan
di papan atas kancah internasional. Sebaliknya dalam
jenis olahraga yang sifatnya team (dan membutuhkan
kerjasama tim dalam sebuah skema) seperti: sepakbola,
volley, basket, polo air, sepaktakraw dan sejenisnya,
justru Indonesia terpuruk dalam golongan yang
inferior.

Saya pernah membaca sebuah analisis menarik dari
(kalau tak salah) seorang sosiolog Jepang, yang kurang
lebih mengatakan: “Satu orang Indonesia melawan satu
orang Jepang, Indonesia akan menang. Satu orang
Indonesia melawan dua orang Jepang, belum tentu orang
Indonesia kalah, tapi Dua orang Indonesia melawan dua
orang Jepang, Indonesia mulai kalah. Tiga Orang
Indonesia melawan tiga orang Jepang, Indonesia tambah
kalah”. Nah, intinya yang mau disampaikan adalah,
semakin banyak orang Indonesia berada bersama-sama
untuk bekerjasama, semakin mereka tidak tahu apa yang
harus dilakukan.

Lalu, saya sedikit tersentak dengan berulangnya
peristiwa meninggalnya siswa IPDN. Kita bisa saja
menuding mengenai cara pendidikan berbasis kekerasan
yang salah dan tak manusiawi di sekolah tersebut,
namun saya pribadi bukan melihat pada sisi kekerasan
yang menjadi persoalan. Persoalannya adalah cara
pendidikan yang hirarkis (dan karenanya juga linier),
dan persoalan ini ada pada hampir semua pendidikan di
Indonesia. Apa yang terjadi di IPDN bukan kekerasan
intinya, tetapi hirarki. Senior merasa lebih dari
yunior sehingga merasa punya hak untuk melakukan apa
saja yang dianggapnya benar. Coba renungkan lagi,
tidakkah hal semacam ini juga familiar di tempat
pendidikan lain di luar IPDN/STPDN? Tidakkah ini dekat
dengan keseharian kita?

Pada dasarnya paradigma pendidikan kita mendasarkan
dirinya pada sebuah kepatuhan hirarkis yang
menciptakan realitas semu akan kapabilitas.
Seakan-akan yang memiliki hirarki lebih tinggi selalu
lebih baik dari yang di bawahnya. Maka itu, jangan
heran kalau dunia pendidikan kita (dan dalam banyak
hal berkembang luas menjadi dunia ilmu pengetahuan)
menjadi mirip agama. Atas nama sesuatu yang di atas,
maka orang bisa melakukan seenaknya pada apa yang di
bawah. Maka ketika terjadi perbedaan pendapat akibat
pengetahuan yang berbeda, alih-alih menyelesaikan
secara ilmiah untuk menguji kedua pendapat itu,
penyelesaian justru diletakkan pada hirarki. Seorang
mahasiswa yang mendebat pembimbing skripsinya
(misalnya) kerapkali akan menemui tembok tebal ketika
dihadapkan pada “Saya ini pembimbingmu” , “Saya ini
sudah dosen, kamu masih mahasiswa” atau langsung
menyebut pangkat misalnya “Saya ini doktor, kamu ini
S-1 saja belum selesai”. Sekilas argumen-argumen itu
tampak benar, namun sejatinya argumen itu adalah hal
tolol yang tak ada korelasinya untuk membenarkan diri
lebih tahu akan sesuatu.

Itu kalau kondisinya ada hirarki. Lalu bagaimana
suasana pendidikan kita di antara orang yang level
hirarkinya sama? Secara esensial tak ada bedanya
dengan apa yang saya katakan mirip agama. Dalam
pendidikan kita (dan sekali lagi ini menyebar juga
dalam sejumlah konteks perkembangan ilmu pengetahuan
kita) di ranah level hirarki yang sama berlaku pola
“kerukunan antar umat beragama”. Artinya, ilmuku
adalah agamaku, dan ilmumu adalah agamamu. Aku tak
perlu mempelajari ilmumu karena bukan agamaku, kamu
juga tak tahu ilmuku karena bukan agamamu. Lalu,
jangan coba-coba mengganggu ilmu yang menjadi agamaku,
karena akupun tak akan menggannggu ilmu yang menjadi
agamamu. Jadi, jangan pernah berharap akan bertemu
suasana yang menghadapkan tesis dengan antitesis. Itu
sebabnya banyak hal yang sudah tak dipersoalkan lagi
tapi begitu saja diterima sebagai kebenaran, seperti
misalnya: ESQ, NLP dan sejumlah hal lain yang diklaim
begitu saja memberi efek baik bagi manusia.

Lalu kita memang tak pernah bertemu dalam keberbedaan
di ruang yang sama. Kenapa? Karena satu sama lain
meletakkan sekat. Di antara yang selevel-hirarki
saling menyekat, dengan yang hirarkinya berbeda
apalagi. Maka, jelas sudah jawaban mengapa semakin
banyak orang Indonesia berada dalam satu tim untuk
bekerjasama, semakin mereka tidak tahu apa-apa.

Nah, mumpung masih hangat fenomena kekerasan di
pendidikan IPDN, maka saya melemparkan isyu ini. Agar
lebih fokus dan dapat saling memperkaya satu sama
lain, saya mengundang rekan-rekan untuk membahas isyu
ini di milis Psikologi Transformatif. Tentu saja anda
boleh melakukan cross posting dari milis Psikologi
Transformatif ke milis anda semula, kalau anda rasa
itu perlu. Pengkonsentrasian di milis Psikologi
Transformatif semata hanya agar semua pendapat, baik
yang pro maupun kontra berada di ruang yang sama.
Sama-sama dari member Psikologi Transformatif. Walau
kita berbeda, kita berada di ruang yang sama tanpa
sekat dan hirarki. Mungkin dari sinilah kita bisa
belajar lebih jauh apa itu pendidikan dan pluralitas

© Audifax – 8 April 2007

1 Komentar »

  1. Kukuh TW said

    aksi blogger berdemo membubarkan IPDN

    ayo prens…kita demo membubarkan IPDN, caranya kirimkan photo-photo
    demonstrasi dengan topik pembubaran IPDN, kirim dan lihat hasilnya di
    http://demo.kukuhtw.com/ipdn/

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: