HATI-HATI PERADANGAN HATI

Radang hati yang paling populer memang hepatitis A dan B. Namun belakangan
muncul jenis-jenis lain yang kemudian mendapat nama secara alfabetis sesuai
dengan urutan waktu penemuannya. Sampai saat ini jenisnya sudah sampai
hepatitis G. Masing-masing punya ciri, namun rata-rata gejalanya sama.
Umumnya bisa menjurus ke kondisi sirosis dan kanker hati jika tidak
ditangani secara tuntas. Apalagi pada para carrier (pembawa virus tanpa
menunjukkan gejala sakit). Sayangnya, vaksin yang ada baru bisa mencegah
terjangkitnya hepatitis B. Meski begitu, peluang untuk sembuh dari berbagai
penyakit ini masih terbuka, apalagi cangkok hati pun mulai
dimungkinkan. Gejala orang terkena penyakit hepatitis itu mirip sekali dengan
gejala flu. Simak saja keluhan Pak Hamid (51), badannya terasa lemas dan
letih, perut kembung, kurang nafsu makan karena mual, malah kadang kala
sampai muntah. Semula dokter mengira ia hanya menderita gangguan lambung
atau flu saja. Namun selang beberapa hari setelah diberi obat keluhannya
tidak juga berkurang – malah bola mata putihnya menjadi kekuningan dan air
seninya kemerahan.
Atas permintaan dokter, Hamid segera periksa darah ke laboratorium. Ternyata
hasilnya menunjukkan, ia terserang penyakit hepatitis (peradangan hati) akut
yang disebabkan oleh virus. Itu ditunjukkan dengan catatan hasil lab bahwa
kadar bilirubin total meningkat, padahal normalnya di bawah 1 mg%, serta
SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase) dan SGPT (serum glutamic
pyruvic transaminase) pun di atas normal. SGOT normal 17 – 20 IU, SGPT
normal 15 – 17 IU.
Bila hati meradang, organ itu tidak mampu mengeluarkan serta mengatur
bilirubin dengan baik, sehingga kadarnya dalam darah meningkat. Peningkatan
bilirubin ini yang membuat air kencing berwarna kemerahan (ada yang bilang
mirip air teh kental) dan bola mata serta kulit bersemu kekuningan.
Ternyata Hamid terinfeksi virus hepatitis B (VHB) karena dari hasil
pemeriksaan darah diketahui kadar HBs Ag (Hepatitis B surface antigen) dan
Igm antiHbc ternyata positif. Ya, sudah. Mau tak mau Hamid harus
mempertimbangkan mennjalani pengobatan dan istirahat total di rumah sakit
selama beberapa hari.
Berbahaya bila menjadi kronis
Pak Hamid bertanya-tanya, bagaimana dari mana ia bisa sampai terkena virus
hepatitis B?
Penularan hepatitis B bisa melalui bermacam-macam media atau cara. Bisa
lewat barang yang tercemar VHB sesudah digunakan para carrier positif atau
penderita hepatitis B, seperti jarum suntik yang tidak sekali pakai, pisau
cukur, jarum tato, jarum tusuk kuping, sikat gigi, bahkan jarum bor gigi.
Atau, yang terbanyak, akibat berhubungan seksual atau berciuman dengan
penderita dan akibat transfusi darah yang terkontaminasi VHB.
Cara penularan yang terakhir ini memasukkan para penderita kelainan darah
seperti hemofilia (kadar protein faktor VIII atau zat pembeku dalam darah
sangat rendah), thalasemia, leukemia, atau melakukan dialisis ginjal ke
dalam kelompok rawan atau berisiko tinggi terkena penyakit hepatitis B.
Sebab, mereka sering berurusan dengan transfusi darah.
Yang tergolong kelompok rawan lainnya yaitu mereka yang bekerja di
laboratorium atau ruang darurat rumah sakit, dan kamar mayat. VHB memang
tidak menular melalui singgungan kulit, namun kalau ada luka terbuka di
kulit lalu terkontaminasi darah yang mengandung VHB, penularan bisa terjadi.
Pikir punya pikir Pak Hamid ingat, tak lama sebelum jatuh sakit ia memang
iseng-iseng memasang tato nama pada salah satu lengannya. “Itukah biang
keladinya?” pikirnya.
Sekitar 40% penderita hepatitis, demikian hasil penelitian para ahli, tidak
tahu bagaimana atau kapan mereka terinfeksi virus ini. Sebab, gejala baru
muncul beberapa minggu atau bulan setelah kemasukan virus. Pada hepatitis
akut, gejalanya memang jelas. Tapi pada hepatitis kronis, gejalanya sangat
samar dan baru muncul jelas setelah organ hati dalam keadaan cukup parah.
Karena itu perlu dijaga agar hepatitis B jangan sampai menjadi kronis. Yang
sering kali terjadi, setelah 2 – 3 bulan mendapat serangan hepatitis B akut
dan kesehatan penderita tampak membaik, pemeriksaan kadar HBs Ag dalam darah
menunjukkan hasil negatif. Ia pun senang karena mengira sudah sembuh.
Padahal belum tentu. Karena itu cek darah seharusnya terus dilakukan sebab
sekitar 10% penyakit hepatitis B bisa menjadi menahun. Dalam hal ini, tubuh
tidak membentuk antibodi terhadap VHB. Virus tetap ngendon di dalam hati
sehingga penderita menjadi carrier positif.
Penderita baru dinyatakan sembuh total jika anti-HBs menjadi positif atau
reaktif. Kalau itu yang terjadi, penderita tidak akan mendapat lagi serangan
penyakit tersebut. Karena itu menjadi penting, jangan sampai penyakitnya
berkembang menjadi kronis. Sebab, penderita semacam ini berisiko tinggi
untuk menderita sirosis hati atau bahkan kanker hati di kemudian hari.
Sirosis bandel
Lalu apa yang terjadi kalau berkembang menjadi sirosis hati? Pada seluruh
bagian hati akan terbentuk jaringan-jaringan ikat serta tonjolan-tonjolan
regenerasi, sehingga struktur jaringan hati menjadi kacau. Komplikasi yang
bisa terjadi antara lain muntah darah karena terjadi varises di tenggorokan
(esofagus) atau lambung.
Bendungan aliran darah tidak ditimbulkan oleh tonus sekitar esofagus tapi
akibat terjadinya gangguan sirkulasi masuknya darah ke hati. Hati yang
mengalami sirosis sering memacetkan saluran interseluler yang berfungsi
menyaring darah yang mengalir ke sana. Akibatnya, aliran darah melalui hati
tidak lancar serta pembuluh vena melebar. Inilah yang menyebabkan
terbentuknya tonjolan-tonjolan pembuluh vena pada esofagus atau lambung.
Kalau pembuluh itu pecah, darah akan keluar melalui mulut atau dubur.
Dengan obat-obatan tertentu dokter selalu mengupayakan jangan sampai terjadi
varises, agar penderitaan tidak semakin parah. Walaupun fungsi hati
penderita sirosis bisa berangsur-angsur membaik kalau dirawat dengan baik,
tapi tidak lagi sempurna karena organ hati terlanjur mengkerut.
Pengalaman seperti itu dimiliki Pak Kifli (61) yang menderita sirosis sejak
April 1996. “Saya sudah tujuh kali muntah darah,” keluh Kifli yang pernah
mengidap hepatitis B akut pada 1970. Ia mengaku lengah memantau kesehatan
livernya lantaran selalu disibukkan oleh kegiatan bisnisnya. Akibatnya,
penyakitnya menjadi kronis. “Rasa mual dan kembung yang sering saya rasakan,
saya anggap hanya gangguan perut biasa,” ceritanya. Suatu saat tiba-tiba ia
muntah darah. Ternyata, ia menderita sirosis hati cukup serius.
“Sekarang saya tidak aktif bekerja lagi, karena harus banyak beristirahat, ”
tambahnya. Ia sangat mengurangi garam dan lemak dalam menu makanan
sehari-hari. Ia lebih banyak minum jus buah apel dicampur wortel serta air
rebusan temulawak. Dari pemeriksaan terakhir dinyatakan, tonjolan-tonjolan
pada hatinya sudah berkurang, hanya rasa kembungnya masih sering timbul.
Menurut para pakar penyakit hati, ada lebih dari satu juta carrier hepatitis
B (terutama ras Vietnam dan Cina) di AS. Sekitar 200.000 di antaranya
berlanjut menjadi kronis, sirosis, bahkan kanker hati. Penelitian lain
sekitar tiga tahun lalu menyatakan, lebih dari satu miliar penduduk dunia
terinfeksi VHB, dan 80% di antaranya tinggal di Asia Pasifik. Yang paling
banyak terserang adalah penduduk ras kulit kuning. Mengapa demikian, belum
bisa dijelaskan.
Hal ini diakui pula oleh Prof. dr. H. Ali Sulaiman Ph.D., pakar penyakit
hati dari RS Cipto Mangunkusumo, sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran UI,
Jakarta. “Penyakit ini memang kecenderungannya lebih banyak pada orang di
Asia, terutama Asia Tenggara, Korea, dan Cina serta Afrika,” katanya. “Namun
tentu tidak menutup kemungkinan terjadi pada ras kulit lain.”
Menurut Sulaiman, prevalensi pengidap VHB sekitar 5% – 15% di Jawa. Di
beberapa tempat di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, bahkan
mencapai 20% – 25%. Sedangkan di Indonesia diperkirakan terdapat pengidap
hepatitis B sekitar 10 – 15 juta atau sekitar 5 – 7,5% dari 200 juta
penduduk.
Carrier aktif dan nonaktif
Seperti sudah disebut di depan, hepatitis B bisa ditularkan oleh pembawa
virus (carrier, yakni orang yang menderita hepatitis namun tidak menunjukkan
gejala apa pun. Dalam darah seorang carrier biasanya telah terkandung VHB
lebih dari enam bulan. Anak yang pernah terinfeksi VHB pada masa balita,
25% – 50% akan menjadi carrier aktif seumur hidup. Kalau tidak terdeteksi
sejak awal, dikhawatirkan kelak si anak akan lebih mudah terkena sirosis
atau kanker hati. Bayi memang rentan terhadap VHB dari ibu carrier aktif,
karena penularannya bisa melalui plasenta atau saat persalinan.
Namun selain bersifat sehat atau asimtomatik (tak menunjukkan adanya
gejala), carrier atau pembawa virus itu ada yang bersifat aktif maupun
nonaktif. Untuk mengetahuinya, perlu pemeriksaan laboratorium. Kadar HBs Ag
seorang carrier pasti positif. Kalau kemudian setelah diteliti kadar HBe
Ag-nya negatif, berarti tidak menularkan VHB lagi, dan jika HBV DNA-nya
negatif, berarti tidak terjadi pengembangbiakan virus. Ini yang disebut
carrier sehat. Kendati begitu, seorang pengidap HBs Ag tidak diizinkan
menjadi donor darah serta donor plasma, organ tubuh, jaringan, ataupun
sperma.
Bukan barang asing lagi penularan hepatitis B kini bisa dicegah dengan
vaksinasi. Orang yang telah memperoleh vaksinasi hepatitis B, diharapkan
dalam darahnya terkandung anti-HBs sehingga tidak akan terkena penyakit ini.
Namun, bagi penderita hepatitis B, suntikan vaksin ini tidak ada gunanya.
Bayi yang lahir dari ibu carrier sementara si bayi bukan carrier, mutlak
harus diberi vaksinasi agar tidak tertular dari ibunya.
Pelaksanaan vaksinasi hepatitis B dilaksanakan dalam tiga tahap. Pertama,
diberikan segera setelah bayi dilahirkan. Kedua, setelah bayi berusia satu
bulan. Terakhir, ketika berusia 5 – 6 bulan. Efek sampingan suntikan vaksin
ini berupa sedikit demam. Kini vaksin hepatitis B (terutama untuk bayi) bisa
didapatkan di Puskesmas di seluruh pelosok tanah air.
Bagaimanapun, seorang carrier aktif tidak bisa hidup seenaknya tanpa terus
dipantau kesehatannya. Mengkonsumsi minuman beralkohol, rokok, serta obat
penenang atau bius, harus di bawah pengawasan dokter.
Hepatitis C lebih bandel
Ihwal penyakit peradangan hati, yang paling populer memang hepatitis B.
Namun dalam dunia medis sudah diketahui beberapa jenis hepatitis, yang
dinamai secara alfabetis yakni hepatitis A sampai dengan hepatitis G. Gejala
penyakit-penyakit tersebut mirip satu sama lain.
Hingga saat ini, baru hepatitis B yang dapat dicegah melalui vaksinasi.
Sementara hepatitis C, yang belakangan banyak dibicarakan karena
kebandelannya, belum. Padahal setelah seseorang dinyatakan sembuh dari
penyakit hepatitis C akut dan terbentuk antibodi positif C dalam tubuhnya,
kemungkinan penyakitnya menjadi kronis malah sangat besar. Rupanya, formasi
antibodi tubuh dalam merespons virus (seperti pada imunitas infeksi viral
lain) tidak berlaku pada VHC. Soalnya, tidak seperti virus hepatitis B, VHC
dalam tubuh berubah sifat dengan meninggalkan sifat aslinya. Agen hepatitis
C berupa virus dengan ukuran 50 nm (nano meter). Masa inkubasinya sangat
bervariasi, 2 – 26 minggu, bisa juga lebih.
Dua puluh tahun lalu, VHC lebih dikenal sebagai virus non-A, non-B
(penyakitnya pun lalu disebut hepatitis non-A, non-B). Baru pada tahun 1989
virus ini diidentifikasi dan pada tahun 1990 tes antibodi (anti-VHC) mulai
dilakukan di seluruh dunia guna membantu menyingkap penderita hepatitis C
ini.
Umumnya, virus hepatitis C terdeteksi dari hasil tes darah yang menunjukkan
kadar enzim hatinya tinggi. Atau, saat seseorang dites sebagai donor darah,
tampak adanya antibodi hepatitis C positif. Hepatitis C akut gejalanya sama
seperti hepatitis lain. Sedangkan yang kronis sangat samar, paling-paling
hanya seperti orang sakit maag ditambah kondisi badannya cepat letih.
Diprakirakan 85% dari 150.000 orang yang terinfeksi VHC setiap tahun di AS,
berkembang menjadi hepatitis C kronis. Sekitar 50% kasus yang terinfeksi
akan menjadi kronis dan 20% menjadi sirosis hati. Di Indonesia, menurut
Sulaiman, angka hepatitis C cenderung terus meningkat karena kini lebih
banyak dan cepat terdeteksi lewat pemeriksaan check up. “Darah transfusi
bagi penderita penyakit darah seperti demam berdarah, thalasemia atau untuk
kepentingan pembedahan, memang semula hanya diteliti pencemarannya oleh VHB
saja, belum VHC,” kata Sulaiman. “Kini kami harus lebih waspada.”
Penularan VHC pada dasarnya sama seperti VHB, tapi dalam kenyataan di negara
berkembang seperti Indonesia, VHC tidak hanya ditemukan di lingkungan
masyarakat dengan tingakt sosio- ekonomi lemah, tetapi di semua lapisan
masyarakat. “Selain faktor higienitas, tertukar atau saling pinjam barang
pribadi seperti pisau cukur, sikat gigi, dapat menjadi penyebab lain,
walaupun penularannya tidak semudah virus hepatitis B,” tambah Sulaiman.
Sementara itu di Jepang, di mana faktor higienitas sangat diperhatikan,
selain memang kecenderungan ras, faktor homoseksualitas (penularan melalui
luka pada anus), kebebasan seks (penularan melalui selaput lendir), morfinis
(suntikan), menjadi penyebab utama.
Kapan saat awal terkena hepatitis C, sulit ditentukan. Yang jelas, hepatitis
C kronis terus berkembang secara perlahan-lahan dalam kurun waktu cukup lama
(20 – 30 tahun sampai timbul gejala sirosis nyata). Di Indonesia, penyakit
ini mulai banyak diteliti awal tahun 1990-an.
Seperti juga hepatitis B, penderita hepatitis C juga berpotensi menderita
kanker hepatoseluler (kanker hati), yakni jenis kanker primer hati.
Munculnya kanker tidak bisa dipastikan, mungkin sampai 20 – 30 tahun setelah
terinfeksi virus tersebut. Penderita kanker hati karena VHC, biasanya
menderita hepatitis kronis atau sirosis hati sebelumnya.
Basmi dengan interferon
Seperti VHB, VHC juga dicoba dibasmi dengan interferon alfa-2b. Dokter
biasanya memberikannya seminggu tiga kali selama enam bulan. Setelah enam
bulan diobati, menurut ahli AS, 40% menunjukkan perbaikan kadar ALT (serum
alanine aminitransferase) . Namun dari angka tersebut, 60% kambuh kembali
setelah pemberian interferon dihentikan. Jadi, hanya sekitar 10 – 15% yang
benar-benar dikatakan sembuh. Mengutip penelitian Dr. L. Lesmana dkk. dari
RSCM, Sulaiman menyatakan, setelah pemberian dosis tiga juta unit interferon
rekombinan alfa-2b secara subkutan (di bawah kulit) selama 24 minggu (setiap
minggu diberikan tiga kali), diperoleh hasil pada 29 pasien sebagai berikut:
respons lengkap pada 15 kasus( 50%).
respons parsial pada 6 kasus (22%).
tak ada respons pada 6 kasus (22%).
4 kasus kambuh setelah 6 bulan (17%) dari yang responsif.
dari 25 kasus, 2 kasus( 8%) anti-VHC-nya bisa hilang.
Hasil itu cukup menggembirakan. Sedangkan penelitian Lino dkk. (1994)
memperlihatkan, dosis sampai 9 – 10 juta unit, diberikan setiap hari selama
2 – 4 minggu, dilanjutkan seminggu tiga kali, hasilnya semakin baik. Menurut
Sulaiman, memang masih sulit mengatakan dengan tepat hasil pengobatan dengan
interferon ini. Penderita hepatitis C yang harus disuntik sampai 144 kali
pun belum bisa dijamin kesembuhannya. Padahal, sekali injeksi menghabiskan
sekitar Rp 100.000,- atau lebih!
“Timing pemberian interferon harus tepat,” tegas Sulaiman. “Kalau virusnya
sedang ‘ngumpet’, akan percuma hasilnya. Jadi, sewaktu dites virusnya sedang
aktif (kadar SGOT-SGPT tinggi), bisa langsung ‘ditembak’ dengan interferon.
Dengan begitu hasilnya menjadi lebih responsif. Sebab, pada saat tepat ini
imun tubuh menyadari bahwa virus sebagai musuh, bukan teman.”
Penderita bisa saja diobati untuk kedua kalinya. Efek sampingan sementara
dari pemakaian interferon antara lain adanya rasa seperti sakit flu,
depresi, sakit kepala, dan nafsu makan berkurang. Efek sampingan seperti
gejala flu ini sebenarnya bisa dikurangi dengan minum obat penurun panas.
Interferon memang bukan tanpa efek sampingan lain karena, selain efek
sampingan sementara, dikhawatirkan dapat mendesak sumsum tulang sehingga
timbul masalah pada sel darah putih dan platelet (trombosit). Sebab itu,
selagi mendapat pengobatan interferon, jumlah sel darah putih, platelet, dan
enzim hati perlu terus dipantau. Sebenarnya, biopsi hati (pengambilan
jaringan hati tanpa pembedahan) perlu dilaksanakan sebelum pengobatan, agar
tingakt kerusakan hati diketahui dengan tepat.
Virus D sampai G
Belakangan, banyak ahli menyinggung munculnya virus-virus hepatitis lainnya
yakni D, E, F, dan G, walaupun prevalensi kejadiannya masih terbilang
langka. Seorang ahli AS menyatakan, perkembangbiakan VHD memerlukan dukungan
VHB. Artinya, hepatitis D baru dapat muncul akut bahkan menjadi sirosis pada
carrier hepatitis B. Sebab itu, kombinasi hepatitis B dan D dikatakan lebih
ganas. Di negara-negara maju, pengidap hepatitis D yang terbanyak di
kalangan pemakai obat bius (drugs).
Sedangkan hepatitis E masih lebih jarang penderitanya. Tapi sifat virusnya
seperti virus hepatitis A (lihat boks) yang gampang ditularkan melalui
makanan atau minuman tercemar. Di negara-negara sedang berkembang, banyak
wanita hamil terserang hepatitis E dan sulit disembuhkan.
Seperti hepatitis A, hepatitis E tergolong ringan dan dapat disembuhkan
secara total. Namun anehnya, pada wanita hamil sering kali hepatitis E
menjadi ganas. Livernya secara mendadak mengkerut seperti mengalami sirosis.
Di Indonesia VHE pernah mewabah di Sintang, Kalimantan Barat, pada 1987.
Akan halnya virus hepatitis F dan G, belum banyak diteliti dan masih sangat
jarang penderitanya di Indonesia. Tapi sifatnya mirip dengan VHB dan VHC,
yakni bisa menjadi kronis dan ganas.
Istirahat dan makan seimbang
Hepatitis tipe apa pun yang diidap, mensyaratkan penderitanya untuk
beristirahat cukup dan berobat secara teratur. Penderita juga dianjurkan
melakukan diet dengan gizi seimbang. Makanan berkarbohidrat tinggi,
berprotein atau berlemak tinggi memang tidak dilarang secara khusus, tapi
hendaknya dibatasi. Demikian juga garam. Pengurangan konsumsi garam
dimaksudkan untuk mencegah akumulasi cairan dalam rongga peritoneal serta
mencegah pembengkakan pergelangan kaki. Penderita juga tidak dilarang
mengkonsumsi suplemen vitamin dan mineral sepanjang belum terjadi kerusakan
hati. Untuk mengkonsumsi obat apa pun dan melakukan olahraga, hendaknya
dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter.
Sementara penderita sirosis hati perlu melakukan disiplin ketat dari segi
makanan, pengontrolan penyakit, maupun kegiatan sehari-hari. Olahraga yang
disarankan hanya sebatas jalan kaki. Dengan disiplin ketat ini diharapkan
keadaan hati akan membaik.
Penularan virus hepatitis huruf mana pun memang sulit dielakkan. Sebab itu,
pemeriksaan darah di lab secara periodik tidak ada salahnya dilakukan agar
virus yang diam-diam nyelonong cepat diketahui sedini mungkin. Penyakit
bukan untuk ditakuti tapi sedapat mungkin dicegah. Dengan hidup teratur dan
higienis, makan makanan seimbang, mudah-mudahan daya tahan tubuh mampu
menendang datangnya virus-virus bandel ini! (Nanny Selamihardja/ G.Sujayanto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: