Don’t Get Me Wrong!

Tak kenal maka taksayang. Mari mulai menumbuhkan
empati terhadap orang dengan gangguan jiwa di sekitar
kita, bersama Dewi Rokhmawati.

Menyaksikan serial komedi Monk bukan saja membuat saya
terhibur. Tokoh detektif Adrian Monk dengan gangguan
obsesif kompulsifnya membuat saya merasa tak
s e n d i r i . Walaupun tak seserius Monk, ada masa
saya merasa gemas hanya karena botol air minum tak
terisi penuh dan buru-buru mengisinya. Namun, biasanya
saya melihatnya sebagai kesiapsediaan dan ketelitian.
Seperti Monk, berkat perilaku uniknya ia berhasil
memecahkan berbagai kasus rumit.

Obsesif kompulsif hanyalah salah satu jenis gangguan
jiwa yang lazim ditemukan dalam masyarakat. Oke,
jangan buru-buru mengernyit dahi dulu. Kita memang
sering hanya mengetahui gangguan jiwa yang berat
seperti skizofrenia tapi jarang mengetahui berbagai
gangguan jiwa yang masih tergolong ringan. Masyarakat
tidak menganggap serius berbagai tekanan hidup dan
trauma yang membuat stres hingga depresi. Masyarakat
tidak menyadari bahwa seseorang tidak dengan tiba-tiba
menjadi seseorang yang terganggu jiwanya. Artinya,
sebelum ia tiba pada tingkat gangguan yang dianggap
cukup berat, sesungguhnya ada masa yang sebelumnya
dilewati.

Sayangnya, sudah terlanjur timbul persepsi keliru yang
menganggap penderita gangguan jiwa sebagai lucu, tidak
wajar, berbahaya, bodoh, aneh, menyeramkan, can tidak
bisa disembuhkan. Meski kini banyak bukti yang telah
menunjukkan hal sebaliknya, stempel negatif itu terus
melekat, sulit dihilangkan. Berita baiknya, belum
terlambat untuk memulai menghayati penderitaan mereka
yang hidup dengan gangguan jiwa di tengahtengah kita.
Sebagai permulaan, kita bisa “berkenalan” dengan
gangguan jlwa itu.

Memahami Gangguan Jiwa

Mungkin sedikit banyak kita sudah mengetahui apa
pengertian gangguan jiwa. Namun, tak ada salahnya kita
mengenalnya lebih dalam. Kesehatan jiwa merupakan
suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan badan,
jiwa, dan sosial yang mendorong perkembangan
intelektual dan emosional seseorang secara optimal
serta selaras dengan perkembangan orang lain. Dengan
kata lain, orang tersebut dapat hidup produktif secara
sosial dan ekonomis. Sementara, keadaan sebaliknya
adalah gangguan jiwa, yaitu suatu perubahan dalam
pikiran, perilaku, dan suasana perasaan yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan/atau
hambatan dalam melaksanakan fungsi psikososial
(pendidikan, pergaulan, pekerjaan, dan pemanfaatan
waktu senggang).

Ada beberapa jenis gangguan jiwa yang patut diketahui.
Ada gangguan depresi, yaitu gangguan jiwa yang
ditandai oleh perasaan sedih yang mendalam dan
hilangnya minat terhadap hal-hal yang biasanya
dinikmati. Sedangkan obsesif kompulsif yang sempat
disinggung termasuk jenis gangguan anxietas. Gangguan
anxietas sendiri yaitu gangguan jiwa yang ditandai
dengan adanya kecemasan yang berlebihan dan muncul
dalam berbagai gejala, seperti pikiran yang terus
berulang tanpa bisa dikendalikan (obsesif), tindakan
berulang yang tidak bisa dikendalikan untuk
menjalankan pikiran obsesif (kompulsif), dan rasa
takut yang berlebihan terhadap suatu obyek atau suatu
hal. dr. Feranindhya Agiananda dari Departemen
Psikiatri FKUI-RSCM menambahkan bahwa gangguan
penyalahgunaan alkohol, gangguan tidur, kelelahan
kronik, can gangguan somatoform juga sering ditemukan
di masyarakat.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Dalam situasi bercanda, kadang kita melontarkan kata
“gila”, “sarap”, “sinting”, “miring”, “parno”
(paranoid), atau “tidak waras”. Meski begitu, kita
patut waspada karena tanpa disadari ada orang-orang
yang menanggapinya dengan rasa malu, terhina, can
bersalah. Akibatnya, mereka cenderung menyembunyikan
keadaan dan menjauhkan diri. Kalau sudah begitu,
stigmatisasi itu akan menghambat usaha pemulihan,
mencetuskan diskriminasi, dan menciptakan penghalang
dalam menata kehidupan yang normal.

Sampai saat ini memang belum ditemukan istilah yang
tepat untuk menyebut orang dengan gangguan jiwa.
Diperlukan informasi yang benar tentang nama-nama
penyakit sehubungan dengan kesehatan jiwa, gejalanya,
can harapan penyakit itu dapat disembuhkan. Menurut
buku Menanti Empati Terhadap Orang Dengan Gangguan
Jiwa, istilah yang digunakan dalam konteks keluarga
dan masyarakat adalah penderita gangguan jiwa.

Diagnosis dini yang tepat dapat membawa seseorang
kepada kehidupan dengan kondisi kesehatan jiwa yang
membaik. Dengan pemahaman yang tepat tentang bagaimana
seharusnya bersikap dan memperlakukan orang dengan
gangguan jiwa dengan wajar dan manusiawi, berarti kita
berada di jalur yang tepat. Penting untuk menumbuhkan
empati atau sikap mengerti sepenuh hati permasalahan
dan penderitaan orang lain. Seorang yang berempati
berusaha menempatkan diri dalam posisi orang yang
diamati. Betapa butuhnya kesabaran, optimisme,
kesediaan untuk mendengar dan berbicara dengan si
penderita, menyediakan lingkungan yang kondusif can
perawatan yang berkesinambungan.

Cerita Sukses Tentang Harapan untuk Sembuh

Mg*, seorang lajang yang telah 15 tahun menghuni pusat
rehabilitasi khusus di luar negeri dengan diagnosis
skizofrenia. Ia sekamar dengan beberapa penderita lain
dan pernah saling berkelahi sehingga memperparah
kondisinya. Suatu saat, selama tiga bulan Mg* berlibur
ke Indonesia. Bersama keluarganya mereka menjalani
kehidupan sehari-hari layaknya orang normal. Adik-adik
Mg* sama sekali tidak memperlakukan Mg* sebagai pasien
skizofrenia. Pergi ke mal dan pasar, memasak bersama,
mengunjungi tempat kenangan masa kecil. Ketika Mg*
kembali ke luar negeri, beberapa minggu kemudian
keluarganya di Indonesia mendapat kabar bahwa kondisi
kesehatannya membaik. Adik-adiknya sendiri merasa
bingung, apa sebenarnya yang sudah mereka lakukan.
Mereka tidak menyadari bahwa dengan memperlakukan
saudara mereka seperti diri mereka, dengan penghargaan
dan cinta-kasih yang mereka curahkan, tidak merasa
harus malu berjalan dengan kakaknya di tempat umum,
kesehatan kakak mereka membaik. Kini, Mg* tinggal
dengan salah seorang adiknya dan hanya perlu
mengonsumsi obat bila ada gangguan.

dari majalah FEMALE edisi Maret 2007

Best regards,
Neysa Natalia

Iklan

1 Komentar »

  1. Ari said

    Saya terharu membaca cerita ini. Entah karena sayanya yang sedang sensi karena sedang merawat ibu saya yang mengalami gangguan bipolar yang sering kambuh dan menjengkelkan karena dia sangat mudah tersinggung dan marah-marah bahkan dengan perkataan yang halus sekalipun.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: