SESAL USAI MENUNDA NIKAH

Ibu Rieny sayang,
Saya 28 tahun, anak ketujuh dari delapan bersaudara, pacaran dengan V (29), masih kerabat, sulung dari 2 bersaudara. V lahir setelah orangtuanya berumah tangga 10 tahun, sehingga sangat dimanja. Sementara, saya sangat mandiri karena tempaan kehidupan sederhana dalam keluarga kami. Saya S-2 sedang V S-1. Saya sekarang bekerja di perusahaan asing pada posisi yang cukup baik dan mencintai pekerjaan saya, sedangkan V kadangkala melakukan bisnis dengan teman-temannya (tidak tetap) namun biaya hidupnya masih ditanggung oleh ibunya yang diwarisi banyak harta oleh ayah V.

Ketika pertama kali bertemu, status saya masih pacaran dengan P, yang telah berpacaran enam tahun. Sejak awal bertemu, V memang over protective. Misalnya, saya wajib SMS/telepon dia pada jam-jam tertentu, tidak membolehkan saya menumpang di mobil kawan pria, tidak boleh lagi berhubungan dengan semua teman yang saya kenal lewat mantan pacar, tidak dibolehkan melamar pekerjaan ke tempat lain.

KLIK - Detail Selain itu, sebelum pulang dari kantor saya wajib memberitahunya. Belum lagi permintaan lagi yang menurut saya ‘konyol’ tapi berusaha saya tolerir. Pernah V menanyakan jumlah tabungan saya yang memang habis karena banyak keperluan. V serta merta menuduh saya membiayai hidup mantan pacar saya. Padahal sejak pacaran dengan V saya tidak pernah berkomunikasi dengan P, karena saya sangat menghormati V.

Memang, sih, untuk beberapa hal yang diinginkannya, saya bisa bernegosiasi hingga kami mendapat jalan tengah walaupun saya harus berlinang air mata. Ini yang mendasari saya menerima lamarannya karena saya pikir hal-hal yang lain lambat laun juga akan bisa kami cari jalan tengahnya seiring dengan waktu.

Suatu hari, dua bulan sebelum hari H pernikahan kami, V marah sekali, hanya karena saya tidak telepon sampai jam 10 pagi, yaitu jam biasa saya meneleponnya. Dia bilang saya mulai seenaknya. Kejadian ini membuat mata hati saya terbuka, kalau selama ini saya sudah tidak realistis dengan menyanggupi permintaan-permintaannya.

Setiap saya ajukan argumentasi supaya dia yang telepon saya pada jam-jam yang ditetapkan, jawabnya, “Sebagai perempuan kamu memang harus kasih tahu saya, apa yang kamu kerjakan, kamu ada di mana, dan lain-lain, begitu juga nanti kalau kamu jadi istri saya.”

Jawaban tadi bagi saya sangat ‘merendahkan’ martabat saya sebagai perempuan, karena menurut saya, saya akan ceritakan ke V apa yang saya kerjakan bukan karena saya perempuan, tapi karena saya memang senang melakukannya. Karena kalau saya setuju dengan pendapatnya, itu artinya sebagai laki-laki V tidak wajib memberi tahu saya apa yang dia kerjakan.

Dalam rapat keluarga, saya ceritakan ganjalan di hati untuk menikah dengan dia dalam waktu dekat. Saya minta diundur untuk mencari kecocokan lagi dengan V karena saya tidak mau menikah dengan hati yang tertekan. Saya berusaha untuk tidak emosi dalam mengambil keputusan, itu sebabnya kami mendatangi konselor pernikahan sesuai dengan agama kami, yang kami anggap bisa melihat masalah kami dengan objektif. Saran mereka sama dengan apa yang saya pikirkan, pernikahan ini harus ditunda sampai kami dapat lebih saling menyesuaikan diri.

Saat saya minta pernikahan diundur, keluarga V sangat keberatan, karena uang muka catering, gedung akan hilang. Setelah saya tetap bersikeras, akhirnya mereka setuju untuk membatalkan, dan melarang V menghubungi saya lagi.

Sesungguhnya saya hanya ingin menunda pernikahan kami, bukan membatalkan. Saya sangat mencintai V, tapi saya juga tidak mau diperlakukan tidak adil dalam pernikahan saya nantinya. Saya seringkali menangis, gaun pengantin dan cincin kawin kami sudah jadi, belum lagi rasa malu karena hampir semua acara adat untuk persiapan pernikahan kami sudah dilaksanakan, nyatanya kami gagal kawin.

Sekarang saya mencoba untuk lebih realistis dan berdoa agar situasi membaik, kami lebih dewasa, sehingga kami bisa bersama lagi. Apakah keputusan yang saya ambil ini benar ? Dimana salah saya? Mengapa saya menyesali putusnya hubungan ini, dan mengapa beban emosinya tak kunjung hilang? Terima kasih atas jawaban Ibu.
AL- Somewhere

AL yth,
Sebelum saya lupa, saran pertama hentikanlah hubungan dengan V, karena dalam masa pemulihan yang sedang Anda jalani, dampaknya akan lebih banyak negatif bagi pengembangan pemantapan diri Anda untuk kembali seperti sedia kala.

Saat membaca surat Anda, saya berkhayal, kalau saja mayoritas perempuan bisa berpikir, dan mengambil keputusan seperti apa yang Anda lakukan, alangkah bahagianya kita jadi perempuan Indonesia. Mandiri, berani mengambil keputusan dengan memikirkan keperluan jangka panjang dan tak sekadar mengejar status sebagai istri belaka, didukung pula oleh orangtua tercinta.

Nikmat terbesar sebenarnya adalah ketika Anda punya kesempatan untuk memilih apa yang Anda anggap baik untuk diri Anda, dan menggunakannya. Banyak, lo, perempuan yang merasa demikian terpuruk hidupnya karena merasa tak punya banyak pilihan dalam hidup ini sehinga akhirnya menjalani hidup dengan beban penderitaan yang terasa demikian berat.

Saya tak hendak bicara benar atau salah dalam memandang masalah Anda, karena untuk saya yang lebih penting adalah bagaimana agar Anda bisa tetap merasa nyaman di periode tidak nyaman ini. Saya katakan periode tidak nyaman, karena sebenarnya secara rasional, atas nama penalaran atau kecerdasan sebenarnya Anda sudah menyelesaikan masalah Anda melalui serangkaian tahapan yang tuntas. Dimulai dari merasakan (tuntutan yang merupakan bias dari ketidakpercayaan V pada Anda), memahami (betapa tidak masuk akalnya harus melapor pada jam-jam tertentu), menilai (bahwa V merendahkan keperempuanan Anda), serta membuat keputusan dan berbuat (ini tak bisa dilanjutkan tunda dulu!), sampai tahap akhir be responsible, atau tetap menganggap ini adalah tanggung jawab pribadi. Dan harus saya katakan, tanpa kualitas kepribadian yang baik, tak mungkin Anda lalui tahap-tahap ini secara mulus dan berakhir dengan TIDAK menyalahkan orang lain atas keputusan yang Anda ambil!

Ketidaknyamanan tak terhindarkan karena keputusan yang Anda ambil adalah mengenai sebuah hubungan emosional yang tentu saja sarat dengan perasaan, harapan dan sekaligus upaya untuk membuat orang-orang yang Anda cintai (orang tua, saudara) juga bahagia bersama kebahagiaan yang Anda alami, dan bukan melulu sebuah peristiwa yang muatan emosinya minim. Saat seperti ini, pasti Anda tak bisa menemukan kepuasan dalam bentuk rasa nyaman yang utuh, karena kekecewaan pasti ada, walau secara nalar kita coba benar untuk menguat-nguatkan diri dengan mengatakan, “Benar kan aku?”

Nah, lihatlah dari celah lain, yaitu pada nilai-nilai kehidupan (value of life) yang Anda anut. Bicara tentang nilai, kita lalu bicara mengenai “what is good, trully good” dalam kehidupan kita. Apakah ia seorang laki-laki yang baik, artinya sesuai dengan nilai kebaikan yang Anda yakini perlu dimiliki oleh seorang laki-laki? Lebih lanjut lagi, akankah ia kelak menjadi suami yang baik, kalau kerjanya hanya mengekang, membatasi, mencurigai, membebani Anda dengan serangkain tuntutan yang tak berlaku pula atas dirinya?

Kalau pada bahasan tentang nilai kehidupan ini ternyata ia tidak fit, artinya tak masuk kriteria kebaikan yang Anda pahami dan yakini, bebaskanlah diri Anda untuk membuat keputusan yang hasilnya kelak tidak mengkhianati kepercayaan Anda atas nilai-nilai kebaikan tadi. Pada titik inilah biasanya perempuan membuat kesalahan dengan mengembangkan kebiasaan berharap pada suatu hari kelak (entah kapan), laki-laki ini akan berubah jadi baik sehingga mampu memenuhi tuntutan tentang nilai-nilai baik yang kita anut.

Gejala “bagaimana nanti” inilah yang akhirnya menjadi bumerang bagi perempuan karena yang lebih sering terjadi, kebiasaan buruk akan makin bermunculan saat kita sudah menjadi suami istri dibandingkan pada saat masih pacaran. Kok Bu Rieny nadanya pesimis dan sarkastis sih, mungki begitu kata Anda.Tidak AL, setelah saya hidup lebih dari setengah abad, harus saya katakan bahwa menumbuhkan hal-hal baik benar-benar butuh dukungan dan pemahaman istri yang amat besar, agar terus tumbuh dan berkembang pada diri suami di dalam menjalani sebuah perkawinan. Beban emosi akan hilang sejalan dengan berlalunya waktu serta keyakinan bahwa pilihan yang Anda ambil adalah hasil penalaran panjang yang dilandasi kadar intelektual yang juga memadai serta juga yang terbaik yang mungkin Anda ambil.

Saran terakhir saya, kini perkuatlah hubungan Anda dengan Tuhan, dengan meyakini bahwa cinta dalam arti sebenar-benarnya, tanpa limit dan benar-benar bebas tuntutan dan syarat (unconditioned love). Akan Anda rasakan aliran rahmat-Nya yang tak pernah terhenti, dalam kondisi dan situasi apapun yang sedang terjadi pada Anda!

Nah, bila Anda bisa meyakini ini, saya yakin Anda akan pulih 100 persen dalam waktu dekat dan dengan arif bisa mengambil jarak dari ‘kegagalan’ perkawinan dengan V untuk siap menjalin hubungan yang baru, bukan untuk menjadi trauma karenanya. Sarananya semua sudah Tuhan berikan pada Anda, kecerdasan, kejernihan berpikir dan melihat masalah, orangtua yang sangat memahami Anda, dan jangan lupa karier yang baik di pekerjaan. Semua ini adalah ‘tiket’ bagi aktualisasi diri secara penuh, bukan jerat untuk membuat Anda lalu masuk ke dalam sebuah ikatan yang ‘katanya’ bernama cinta, padahal sesungguhnya adalah belenggu yang diikatkan laki-laki yang ingin memuaskan egonya yang lemah dengan ‘menindas’ perempuan sehebat Anda. Ever onward AL, maju terus. Salama sayang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: