Dear Love

By: princess WG

Kadang-kadang aku bosan dengan keadaanku. Aku bosan dengan kehidupan sekolah,bosan dengan kehidupan sekitarku,bahkan bosan dengan diriku sendiri. Aku seperti sedang menonton film tentang diriku sendiri yang alurnya begitu lamban dan ceritanya sangat monoton. Ingin rasanya aku berteriak pada seisi dunia,kenapa hidup ini begitu membosankan?

Kata temanku,Emma, ada 2 hal yang membuatku cepat bosan.Pertama,katanya aku ini orangnya terlalu sibuk dan serius dalam pelajaran.Ah,tidak juga. Malah kadang menurutku aku ini masih lumayan santai dibandingin murid-murid yang lain. Prestasiku memang baik di semua mata pelajaran, tapi aku benar-benar bukan kutu buku.

Lalu kedua, kata Emma karena aku belum punya pacar. Yaa…aku memang belum pernah pacaran selama ini. Bukannya aku tidak mau atau tidak tertarik,tapi sebenarnya karena aku belum siap. Atau lebih tepatnya lagi…….karena aku belum bisa melupakan seseorang yang tidak boleh aku cintai.

Kriiinnnggg!!

Bel sekolah tanda pulang membuyarkan semua lamunan Ann. Pak Daniel memberi kata-kata penutup untuk pelajaran Biologi hari ini, tapi Ann sedikitpun tidak menyimak. Ia menyimpan semua buku-bukunya ke dalam tas.

Di hari Senin yang cerah ini Ann memutuskan untuk lebih banyak bersantai di rumah, sekedar refreshing. Pelajaran-pelajaran di sekolah benar-benar membosankan dan membuatnya hampir sinting. Yang ia mau sekarang hanya pulang,tidur siang,lalu…hm…lalu…

“Ann,tunggu!!”

Langkah Ann di koridor langsung terhenti. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang hanya karena mendengar suara itu. Oh no….itu dia…. Tapi Ann menoleh dengan cepat,menatap wajah si pemilik suara itu dengan senyum manis yang setengah mati dibuatnya sewajarnya mungkin, “Hai Josh.”

Sekedar catatan,Josh bukan cowo biasa.Ia luar biasa. Selain punya tampang cakep yang jauh di atas rata-rata, ia bintang basket sekolahan, punya senyum memikat yang secermelang iklan odol, dan juga tatapan mata 1000 watts. Ia tipikal cowo idola setiap cewe-cewe sekolahan. Ya, ia-lah Josh. Satu-satunya cowo yang mengisi hati Ann.

“Kau tidak lupa rencana kita malam ini,kan?”

“Hah? Rencana?” Ann keliatan ‘agak’ kaget.Mana mungkin aku lupa…

“Kau lupa? Kita kan mau belajar bareng di rumahmu. Kau sudah janji mau ngajarin aku kimia. Iya kan?”

“Ooh itu…Iya,iya, aku ingat. Jam 7 ya.”

Josh dan Ann tidak sekelas,tapi mereka sering belajar bareng di rumah Ann. Hanya saja…biasanya mereka bukan cuma berdua, masih ada yang satu lagi.

“Halo semuanya….” seorang gadis manis berpostur tubuh sintal menghampiri mereka. Dengan santai ia mengamit lengan Josh mesra, ” lagi ngomongin apaan nih?”

Oh yeah…kenalkan, inilah Emma, teman baik Ann sejak SD. Sekaligus pacar resmi Josh…

Kalau ada cowo paling favorit di sekolah, biasanya juga ada cewe paling favorit. Nah, Emma-lah cewe itu. Tidak sulit kan membayangkan seperti apa sosok seorang cewe favorit?

“Nanti malam aku mau ke rumah Ann. Biasalah, besok ada ulangan kimia.Kau mau ikut?”

“Hmmm…” Emma mencibir, “ya…daripada sendirian di rumah,mendingan ke rumah Ann sih. Tapi aku boleh kan bawa VCD? Bagaimana kalo abis belajar kita pergi dugem?”

Ann melotot ke arahnya.

“Kurasa itu artinya tidak setuju?” Emma tertawa ringan, “aduh,nyantai lah,Ann. Aku kan paling gak demen belajar. Ya sapa tau aja kita bisa seneng-seneng abis itu.”

Ann tersenyum kecil. Begitulah Emma, selalu menyuruhnya nyantai. Emma bukan tipe cewe yang suka dengan paham ‘bersusah-susah dulu baru bersenang-senang kemudian’, ia penganut setia paham ‘bersenang-senang dulu baru bersenang-senang lagi kemudian’. Tipe gadis manja, tapi tak ada seorang pun yang keberatan memanjakannya. Kadang Ann pun terlalu memanjakannya.

Emma dan Josh resmi pacaran sejak 2 minggu yang lalu. Ann masih ingat betul kapan. Tepatnya hari Minggu, pagi-pagi buta jam 4 Emma mengirim sms singkat : telp aku skrg jg.Penting!! Darurat!!

Ann langsung menyamber telepon kamarnya dengan was-was, takut kalau sesuatu menimpa teman baiknya. Tapi begitu Emma mengangkat teleponnya, yang pertama kali terdengar justru suara tawa disusul jeritan.”Josh datang ke rumahku semalam!!! Dia nembak aku,Ann!!! Josh nembak aku!!! JOSH!!!”

Saat itu Ann merasa tangan,kakinya, oh tidak..lebih tepatnya lagi seluruh tubuhnya, membeku. Suara tawa Emma rasanya semakin lama semakin menghilang. Lantai tempatnya berpijak seakan-akan berubah menjadi rawa yang siap membenamkannya hidup-hidup.

Saat itu Ann tahu, dunianya yang penuh dengan Josh sudah hancur. Cowo yang ia sukai malah jadian dengan sahabat baiknya sendiri. Adakah yang lebih mengerikan dari itu?

Jam 7.30 malam di rumah Ann.

Mereka semua terdiam di dalam kamar Ann. Ann sibuk membuat soal-soal kecil untuk Josh, sementara Josh konsentrasi menghafal rumus. Emma hanya tiduran di ranjang sambil nonton VCD sewaannya.

Beberapa kali Emma melirik mereka berdua, kemudian mendengus kesal.

“Duuuhhh….aku bosan neh.”

Tidak ada yang menjawab.

“Bosan oi…bosan! Josh, keluar yuuukk..”

“Nanti” jawab Josh singkat.

“Huh!”

Tiba-tiba telepon di kamar Ann berdering. Ann mengambil gagang telpon wireless-nya dan langsung keluar kamar.

“Halo.”

“Halo? Bisa bicara dengan…Ann?”

“Iya, sapa nih?”

“Oh..ini Ann ya? Hai,apa kabar?”

Ann mengeryit heran. Siapa sih nih?

“Oh ya, kau kan tidak kenal aku. Aku temannya Emma. Namaku Dennis. Sori nih ganggu, tadinya aku telpon ke rumah Emma, tapi kata mamanya dia lagi di rumahmu trus katanya Emma gak bawa HP.Lalu aku dikasih nomermu, Mamanya bilang telpon ke sini aja.”

Ann makin bingung.

“Boleh aku bicara dengan Emma?”

“Oh ya, tunggu bentar.” Ann menutup mulut gagang telponnya. Baru saja ia mau memanggil Emma, Emma sudah lebih dulu keluar dari kamarnya.

Wajahnya jutek,”Aku sumpek di dalam kamar terus! Apa tidak ada hiburan lain? Aku tahu Josh besok ada ujian dan kau lagi sibuk ngajarin dia. Tapi gimana kalo kita tinggalin dia bentar, kita bisa ke supermarket beli makanan.”

Ann menyodorkan gagang teleponnya, “Ada yang mencarimu.”

“Mamaku ya? Ya ampun!! Aku kan sudah bilang malem ini gak ngerayep ke mana-mana, masak gak percaya sih aku ke rumahmu?!! Pergi bentar langsung dicariin!”

“Bukan, dari temanmu.”

Emma tercengang, “Hah? Ini kan rumahmu?”

“Justru itu yang bingungin. Namanya Dennis.”

Tiba-tiba Emma membelalak. Kaget campur senang,”Astaga…Dennis? Sini cepat!” Secepat kilat Emma berlari ke arah Ann dan menyambar gagang telponnya, “Uhm…hallo? Sapa nih?”

“Dennis? Dennis yang mana ya?” Emma terkikik pelan menatap Ann.

“Ohhhh….Dennis yang itu? Yang ketemu di kampus itu ya? Iya…iya…aku ingat. Kok bisa telpon ke sini? Ohhh gitu. Iya, aku lagi di rumah temanku. Biasalah, belajar. Besok aku tidak ada ujian, tapi aku kan emang suka belajar bareng temen. Asah otak donk, biar tambah pinter.”

Ann tersenyum geli. Ia mulai penasaran siapa sih Dennis itu. Katanya ketemu di kampus…

Emma melirik sekilas pada Ann yang berdiri mematung , kemudian mengibas-ngibas tangannya. Sana pergi…nguping aja!

Ann beralih ke dapur, ia mengambil sekotak orange juice dingin dan menuangnya ke dalam gelas kosong. Sambil meneguk juice pelan-pelan, samar-samar ia mendengar suara percakapan Emma dan cowo bernama Dennis itu.

“Ah ganjen lo! Idih amit-amit deh. Enggak lah, aku mah belum punya pacar.”

Glek..Ann meneguk tetesan terakhir juice-nya dengan kaget.Reflek, ia pasang kuping tajem-tajem.

“Kau sendiri gimana? Udah punya pacar blom?” Emma terdiam sebentar,”eh…gimana ya….kayaknya juga belom punya deh.”

Lalu tertawa,”Tuh kan! Jahat ih….ngaku-ngakunya udah punya. Wah, berarti kita sama-sama gak ada pacar donk?”

Ann keluar dari dapur, ditatapnya Emma dengan pandangan penuh selidik. Emma langsung menyadarinya, ia mengecilkan suaranya,”Den, aku dipanggil temanku noh. Iya…mau mulai belajar lagi. Nanti malem kita sms-smsan aja ya.Iya…iya…aku senang kok ditelponin. He-eh…bye,Dennis.”

Begitu telepon ditutup, Emma menarik nafas panjang perlahan-lahan dan diam sesaat. Lalu tiba-tiba ia berjingkrak-jingkrak senang, berlari dan memeluk Ann sambil tertawa, “Dennis meneleponku!! Asiiikk!!!”

Ann melepaskan cengkraman Emma,” Dennis siapa sih?”

Emma mengintip ke pintu kamar Ann, memastikan Josh tidak ada di situ mendengar pembicaraan mereka. Lalu ia buru-buru menarik Ann ke ruang tamu yang sepi. Dengan gaya khas ABG lagi jatuh cinta dan dengan wajah yang berseri-seri Emma menjawab, “Dennis Lionardi. Cowo paling keren di kampus kakakku!”

“De..Dennis apa?”

“Kemarin aku iseng main ke kampus kakakku. Lagi asik-asik makan di kantin eh…tiba-tiba dia dateng nyamperin aku, ngajak kenalan. Kakakku sih tidak kenal dia, tapi katanya dia itu makhluk paling kece sekampus. Primus,primadona kampus. Semua cewe juga ngiler ama dia.”

“Lalu?”

“Lalu dia minta nomer telponku. Ya gengsi donk kalo langsung kasih nomer HP.Aku jual mahal dikit lah, kasih nomer telpon rumah dulu. Biasa lah….taktik biar gak dianggep naksir balik. Dan dia bener-bener telpon,Ann! Aku gak nyangka!”

“Aku tadi dengar..”

Emma memotong dengan pekikan pelan,”Kyaaa…Dennis telepon aku…aih..kayak mimpi aja. Kau belum liat dia sih, pokoknya ganteng banget!”

“Iya tapi..”

“Denger-denger dia bawa Mercy ke kampus. Bokapnya bos perusahaan apa gitu, trus nyokapnya sering keluar negri. Gimana cewe-cewe gak ngiler coba?”

“Tadi aku denger dikit, kau bilang ke dia kalau kau belum punya pacar.”

“So what?”

“Memangnya Josh itu bukan pacarmu?”

Emma tertawa sebentar,”Ya ampun, Ann. Memangnya aku harus bilang ke Dennis kalau aku sudah punya Josh? Bisa-bisa mundur donk dia? Aku memang sudah punya pacar, tapi boleh kan aku punya temen baru?”

“Maksudmu gebetan baru?” Ann menatapnya dengan gusar, “Kau ini dari dulu gak bisa berubah ya?! Udah punya cowo, tetep aja kegatelan ama cowo laen. Dulu kau putus sama Ario juga gara-gara naksir Eric kan? Terus pacar yang sebelumnya juga…siapa tuh, Ian ya? Kau putusin Ian gara-gara kepincut si playboy kampungan Richard kan?”

“Tapi aku jadian ama Josh bukan karena putusin cowo, inget itu!”

“Iya aku tau, kau bilang kau sudah berubah. Sudah gede, dewasa..apalah namanya. Tapi sekarang kok kumat lagi?!”

“Alah…aku kan cuma main-main. Cuma having fun! Aku masih suka Josh kok, masih cinta.”

“Segampang itu kau bilang cinta?”

“Gini aja deh. Aku masih pacarnya Josh, Josh juga masih pacarku. Aku dan Dennis cuma sebatas teman. Tidak kurang juga tidak lebih. Oke…Dennis memang menarik, keren, ganteng, tapi aku gak bakalan mutusin Josh demi dia. Oke?? Puas, nona Annie-ku sayang?” Emma mendengus kesal, “sudah bisa tenang sekarang?”

Baru saja Ann mau buka suara lagi, tiba-tiba entah dari mana Josh menampakkan diri di ruang tamu itu.

Wajahnya kelihatan kusut, “Ada apa nih? Aku dari tadi nungguin di kamar.”

“Oh tidak ada apa-apa,” Emma menghampirinya dan tersenyum manja, “yuk belajar lagi.”
***
Ann duduk semeja dengan Ria dan Priska, 2 teman sekelasnya, di meja kantin paling pojok kanan. Mereka sedang asik makan siang sambil bercanda menertawai guru BP mereka yang baru cuti hamil.

“Asik nih kita gak usah liat tampang Bu Dian lagi. Moga-moga abis lahirin anaknya, dia langsung pensiun deh!” celetuk Ria sambil mengigit bakso telurnya.

“Ih jahat amat! Kualat luh ngatain orang hamil!” Priska tertawa.

“Eh salah sendiri, lagian jadi guru BP kok galak banget! Masak pake rok pendek dikit aja langsung diomelin. Mana diomelinnya di depan kelas lagi, malu-maluin orang aja.”

Ann tertawa kencang menatap Priska,”Si Ria bisa malu juga ya? Makanya,Ria,pake rok tuh kira-kira dikit. Itu mah namanya bukan pendek lagi, gak usah pake aja sekalian. Jongkok dikit aja tuh rok udah kayak mau robek!”

“Emang udah robek,tau! Si Ria kan bawa jarum ama benang tiap hari, disuruh emaknya buat jaga-jaga.”

Ann dan Priska tertawa terpingkal-pingkal, Ria samasekali tidak menghiraukan mereka. Bakso uratnya ditusuk dengan garpu,”Ini bakso jangan sampe melayang ke muka kalian.”

“Eh, ada Josh tuh.” ujar Priska tiba-tiba.

Tawa Ann langsung mereda, ia menoleh ke belakang dan melihat Josh datang menghampiri meja mereka dengan senyum cerah.

“Hai, rame amat nih meja?”

“Hai Jooooosh….” sapa Ria dan Priska bersamaan.

“Mau kemana? Kok bawa tas?”

“Oh iya nih,” Josh menenteng tas sekolahnya sambil tersenyum bangga,”hari ini mau ke sekolah laen buat tanding basket persahabatan. Pemanasan, buat turnamen bulan depan. Yang masuk team inti hari ini boleh gak ikut pelajaran terakhir.”

“Wah, enak banget! Eh ngomong-ngomong team kalian butuh cheerleaders gak? Kalo ada aku mau ikut ya, enak bisa cabut sekolah.” Ria terkikik pelan.

Ann tersenyum ringan pada Josh,”Sukses ya buat tandingnya. Maennya jangan kasar!”

“Memangnya aku pernah maen kasar?” Josh mengacak rambut Ann dengan santai, Priska dan Ria langsung saling beradu pandang.” Udah ah, pergi dulu ya! Bye semuanya.”

“Byeee…..”

Priska mencolek Ann, “Mesra amat….ntar ada yang cemburu luh!”

“Iya….noh yang baru diomongin dateng tuh, panjang umur banget si Emma.” bisik Ria.

Emma menghampiri meja mereka beberapa detik setelah Josh pergi. Ia hanya tersenyum kecil pada Ria dan Priska tanpa menyapa sedikitpun.Kelihatannya sedang terburu-buru, “Ann, aku mau ngomong bentar nih. Penting.”

Wajah Ann menegang saat Emma mengutarakan maksudnya menculiknya ke wc.

“Apa kau bilang? Aku harus menemanimu kencan dengan Dennis?” Ann terdiam menahan marah saat dilihat wajah sahabatnya itu tersenyum-senyum penuh harap.

“Ayolaahhh,Ann. Josh kan hari ini pergi tanding, jadi dia gak bakalan tau kalo kita pergi ama Dennis dan Vincent.”

“Siapa lagi tuh Vincent!!”

“Temannya Dennis, katanya Dennis mau bawa temennya. Jadi kita sekalian aja double date.”

“Idih ogah deh! Ngapain sih kencan ama tuh cowo! Kau ini kalo bukan namanya kecentilan lalu apa? Aku kan sudah bilang kemarin,kau memang dari dulu gak pernah berubah!”

“Kalau kau tidak suka dengan istilah kencan, ya kita ganti aja deh namanya. Apa kek….pergi bareng temen. Dennis kemaren ngajak nonton abis pulang sekolah, katanya dia mau jemput aku di sini. Tapi karena ada Vincent….jadi kupikir lebih baik aku mengajakmu juga….kan gak enak pergi bertiga. Culun.”

“Lebih culun lagi kalau aku mau ikut! Emma…Emma….berapa kali aku bilang, kau jangan mengulang sifat jelekmu itu. Kalau cowo-mu yang sekarang ini bukan Josh, mungkin aku tidak akan peduli. Tapi ini Josh….dia itu kurang apalagi? Kau masih juga kegatelan ama cowo lain! Centil,tau!”

Emma mulai kelihatan kesal,”Susah deh punya pacar yang terlalu deket ama temen sendiri, bawaanya tuh temen jadi reseh!”

“Aku tidak akan setuju kau pergi dengan Dennis, meskipun kau bilang itu bukan kencan lah….cuma temen lah….Kau harus pikirin perasaan Josh. Sadar gak sih, kau ini ngelaba mulu kerjaannya! Katanya sudah berubah, sudah dewasa. Mana?!”

“Aduuuhhh, kau ini kuno amat sih pikirannya? Belajar mulu sih, gak bisa seneng-seneng dikit! Aku kan sudah bilang, aku ini masih suka ama Josh. Masak sih aku gak boleh punya banyak temen mentang-mentang aku udah pacaran ama dia? Yang bener aja!”

Ann membisu, ia hanya bisa menggeleng-geleng kepala.

“Aku dan Dennis benar-benar cuma teman. Dia cuma ngajak nonton aja kok! Kau mau kan nemenin aku? Pleasee…”

“Gak mau!”

“Gini nih ama temen?”

“Justru karena aku temanmu, aku tidak mau!”

“Aku janji ini yang terakhir, aku gak bakalan minta tolong yang aneh-aneh lagi deh. Dennis itu anaknya asik, rugi kalo gak temenan ama dia. Ini yang pertama dan yang terakhir deh aku pergi ama dia. Janji….suer…pleaseeeee…..”

Nafas Ann turun naik saking keselnya,” Apa untungnya kalo aku ikut? Buang-buang waktu aja.”

“Ya…setidaknya di situ nanti kau bisa liat sendiri kalo aku dan Dennis emang bener-bener cuma temenan. Setelah itu kau bisa bernafas lega. Bukannya itu menguntungkan?” Emma tersenyum penuh kemenangan.

Emma selalu menyusahkan Ann sejak pertama kali mereka berteman, biasanya Ann tidak pernah mengeluh karena Emma selalu bisa mencari akal untuk membuatnya mengalah. Tapi kali ini situasinya lain, ini ada sangkut pautnya dengan Josh. Ann memang menyukai Josh, tapi justru karena perasaannya itulah Ann tidak mau melihat Josh disakiti Emma seperti yang sudah dilakukan Emma pada pacar-pacar sebelumnya.

Benar juga….kalo aku ikut, setidaknya nanti aku bisa mengawasi Emma. Jangan sampe dia naksir beneran ama Dennis! Siapa tahu mereka memang cuma temenan….

“Ya udah,” jawab Ann terpaksa,” nanti abis pulang sekolah.”

“Asiiiiikkkkk………kau memang temanku yang paling baek sedunia!”
Begitu bel tanda pulang berdering, Ann langsung beranjak keluar dari kelas. Ia harus rela membatalkan janjinya menemani Priska cari kado sore ini.

Emma sudah menunggunya di depan pintu kelas, dengan gaya khas-nya ia bersungut-sungut,”Kok lama sih? Cepetan donk, si Dennis udah nungguin tuh dari tadi.”

“Iya…iya…”

Mereka janjian ketemu di depan lapangan basket sekolah. Ann benar-benar tidak mengerti mengapa Emma bisa memilih tempat itu, bukankah banyak anak-anak basket yang nongkrong di situ? Anak-anak basket itu semuanya temannya Josh. Apa Emma tidak takut akan ada yang melapor pada Josh nanti?

“Kok ketemuannya di sini sih? Mentang-mentang pada pergi tanding semua….tapi kan ada Rico tuh, ntar kalo dia ngadu ama Josh gimana?” bisik Ann.

Rico, teman basket Josh yang tidak ikut tanding hari ini, melambai-lambai ringan pada mereka berdua dari sudut lapangan.

“Yang takut itu seharusnya aku, kau ini tenang aja deh!” Emma membalas lambaian Rico dengan senyuman manis. Kemudian pandangannya menyapu ke seluruh pelosok tempat itu, mencari-cari sosok Dennis.

“Itu dia!!” seru Emma,wajahnya kelihatan senang.

Ann segera menoleh ke tempat yang ditunjukkan Emma. Ada 2 cowo di sana, kehadiran mereka tampak sangat mencolok di tengah-tengah keramaian anak sekolah karena mereka 1-1nya yang tidak pakai seragam sekolah.

Ann memicingkan matanya. Yang mana Dennis?

Kedua cowo itu sama-sama jangkung. Yang 1 penampilannya agak sangar dengan anting ditindik di kuping sebelah kanan dan di tengah-tengah bibir bawah. Kalo yang 1-nya lagi penampilannya lebih flamboyan, lebih rapi. Tapi wajahnya itu loh…cengar-cengir mulu dari tadi, matanya terus melirik cewe-cewe sekolah.

Emma melambai pada mereka berdua. Mereka langsung datang menghampiri.

“Halo,” sapa si cowo sangar.

“Halo,Dennis” Emma tersenyum sangat manis.

Glek…..ini yang namanya Dennis? Si manusia tindik ini? Ann mencuri pandang pada Emma,kok cowo model gini ditaksirin sih? Dibandingin ama Josh mah……JAUH!

Si manusia tindik,alias Dennis, menatap Ann dengan tatapan ingin tahu, “Ini ya yang namanya Ann? Yang waktu itu di telepon?”

“Iya, ini Ann. Kenalin ya. Ini Dennis, dan ini…”Emma melirik si cowok flamboyan.

“Vincent” ia tersenyum lebar sambil memamerkan deretan gigi silaunya. Kemudian menjabat tangan Ann dan Emma bergantian. Dari tadi nih anak senyam-senyum terus!

“Mau nonton kan nih? Abis itu pulangnya ke cafe yuk!”

“Boleh….boleh…..Mau kan, Ann?”bujuk Emma.

“Pulangnya gak bakalan malem kok, ntar kita anterin.Tenang aja.” Dennis tersenyum penuh arti, kemudian mengedip sebelah mata pada Ann.

Ann merinding,entah kenapa ia merasa ada yang tidak beres dengan cowo yang satu ini.

Mereka akhirnya berangkat juga naik mobil Vincent, Vincent juga yang menyetir . Dennis bilang mobilnya lagi masuk bengkel, tapi tampaknya Emma agak kecewa karena tadinya ia berharap bisa naik Mercy Dennis. Pertama-tama mereka mengantar Emma dan Ann pulang ke rumah masing-masing dulu, ganti seragam mereka dengan baju biasa. Lalu rencana tiba-tiba berubah, mereka tidak jadi ke bioskop. Langsung ke café tempat nongkrong Dennis.

Sepanjang perjalanan, Emma terus berceloteh dengan semua omong kosong yang membuat Ann muak. Misalnya, Emma mengaku baru pacaran 2 kali, putus ama yang pertama gara-gara long distance lalu yang kedua karena tidak disetujui orang tua. Jelas aja semuanya itu bohong. Tapi Ann tidak terlalu peduli, yang penting Emma sampai sejauh ini masih belum melampaui batas dengan Dennis.

Dennis benar-benar bukan tipe cowo yang bakal disukai Ann. Ia tipe cowo yang gencar menebar pesonanya. Sedari tadi terus membual tentang pekerjaan bokapnya, urusan-urusan nyokapnya di luar negri, tentang koleksi mobilnya, bahkan tidak segan-segan menunjukkan HP canggih keluaran terbaru miliknya. Emma terpesona dengan semua cerita si manusia tindik itu, ia tidak malu-malu meminta Dennis memotret wajahnya dengan kamera Hp-nya.

Rasa mual Ann hampir mencapai puncaknya kalau saja mereka tidak cepat-cepat sampai ke café. Vincent memarkir mobilnya di tempat parker reserved, tukang parkir tampaknya sudah sangat mengenal Vincent maupun Dennis. Wajah tuanya kelihatan senang saat Dennis turun dari mobil dan memberinya uang tips yang tidak kecil. Emma makin terpesona.

Disenggolnya pinggang Ann, “Eh liat tuh Dennis, dia kasih tips-nya gede banget.”

Ann mengibas-ngibas kerah bajunya,”Gerah nih!”

Mereka masuk ke dalam café. Alunan musik R&B yang berdentum kencang mengisi seisi ruangan. Saat itu café masih lumayan sepi, sofa-sofa empuk yang tersusun di sepanjang dinding masih terlihat kosong dan hanya ada beberapa meja yang ditempati sepasang anak ABG. Ann jarang ke café kecuali kalau ada acara khusus.Tapi ia akui tempat ini lumayan juga, suasananya nyaman. Kalau agak malam dikit mungkin bakal ramai.

Mereka mengambil tempat duduk di salah satu meja bulat yang paling dekat dengan stage. Emma kembali sibuk mengoceh-ngoceh dengan Dennis dan Vincent tentang apa saja yang menurutnya bisa menarik perhatian dua cowok itu, sementara Ann lebih suka membaca menu pesanan yang berisi makanan dan minuman yang diberi nama-nama aneh.

“Oi!” Dennis tiba-tiba menendang kaki Ann,”diem aja dari tadi.”

Ann mendengus kesal, “Itu memang hobiku.”

“Jangan gitu donk, kita ke sini kan buat senang-senang. Nyantai aja tuh kayak si Emma.”

Ann menoleh ke arah Emma yang sedang asik ngobrol dengan Vincent. Terus terang Ann sekarang malah merasa kehadirannya sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Ia merasa seperti orang tolol.

“Waktu itu kok gak ikut Emma ke kampus?”

”Buat apa? Mendingan tidur di rumah.” Ann berusaha bersikap sewajar mungkin di depan Dennis, tapi entah kenapa ia merasa tidak nyaman berada dekat-dekat si manusia tindik itu.

“Annie emang kerjaannya tidur di rumah,” timpal Emma tiba-tiba, ia merangkul pundak Ann sok manja,”dia itu sehari-hari kalo enggak tidur ya belajar. Makanya kalian cariin dia pacar donk, biar gak kesepian.”

“Nih, kita-kita juga masih single semua.” Dennis tersenyum sok cakep, “pilih mana,Ann, aku atau Vincent? Vincent itu playboy loh, kau jangan mau ya. Sama aku aja.”

Emma tercengang, “Ann tidak suka tipe cowo sepertimu! Iya kan,Ann? Iya kan?! Ama Vincent aja ya! “

“Iya…iya…aku tidak suka cowo yang mukanya isinya cincin semua. Kayak banci! Udah deh, pesen makanan kek, aku laper nih!” sahut Ann cuek.

Emma kelihatan lega. Vincent tertawa geli. Dennis memilin-milin tindikan di bibirnya dengan wajah kusut.

Setelah menghabiskan makanannya, Ann baru sadar kalau tas-nya ketinggalan di mobil Vincent. Padahal tadi ia bermaksud ingin cepat-cepat minta bon, langsung bayar masing-masing dan memaksa mereka segera mengantarnya dan Emma pulang. Ia benar-benar tidak betah berlama-lama di tempat itu dengan 2 cowo asing yang baru dikenalnya beberapa jam.

Dennis dengan gayanya yang sok keren terus membanjiri Emma dengan kata-kata manis penuh pujian. Emma kelihatan senang.

“Waktu pertama kali liat di kampus, kau ini kelihatan seperti mahasiswi. Sungguh, aku kira kau mahasiswi baru. Aku tidak pernah melihatmu di kampus sebelumnya, biasanya kan aku tidak akan lupa kalau ada cewe cakep di kampus.” Ujar Dennis.

Emma tersenyum imut,”Gombal…..”

“Eh ngomong-ngomong kau suka tipe cowo yang kayak gimana?”

“Hm….yang kayak gimana ya….” Emma pura-pura berpikir keras,”yang penting baek, kalo diajak ngomong bisa nyambung. Terus harus setia!”

Ann rasanya ingin menutup kuping mendengar jawaban Emma.

“Kau yakin belum punya pacar? Masak sih cakep-cakep gini gak ada pacar?”

“Bener! Aku masih jomblo, tau! Emang kenapa sih dari tadi nanyain itu mulu? Penasaran banget…..” Emma sepertinya lupa dengan kehadiran Ann, ia malah terang-terangan menunjukkan di depan mata Ann kalau ia memang tertarik pada Dennis. Ia lupa dengan semua ucapannya pada Ann tadi.

Pemandangan itu membuat Ann merasa seolah-olah ada deja-vu. Kisah lama bakal terulang kembali, kisah klasik di mana Emma tergila-gila dengan cowo yang hanya modal tampang doank, lalu membuang pacar lamanya tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Perut Ann melilit sewaktu membayangkan Emma memutuskan hubungannya dengan Josh.Ia membayangkan perasaan Josh, bagaimana sakit hatinya cowo itu nanti.

“Tasku ketinggalan di mobil.” Ann mencoba mengalihkan pembicaraan mereka berdua,ia menatap Vincent,”mana kunci mobilmu? Aku ambil bentar ntar balik lagi.”

“Aduh, ngapain sih cepet-cepet? Kan kita baru selesai makan.” Emma cemberut.

“Nih kunci mobilnya.”

Di luar dugaan, Dennis tiba-tiba menyambar kunci mobil itu dari tangan Vincent. Ia beranjak dari kursinya,”Ayo, kuantar ke mobil.”

Emma tercengang,”Loh? Loh? Mau kemana?”

“Cuma anterin dia ke mobil kok.” Lagi-lagi si manusia tindik itu mengedip matanya.

Ann berlari kecil ke mobil Vincent,sebisa mungkin menghindari rintik-rintik gerimis yang menghujaninya. Ann tidak terlalu memperdulikan kehadiran Dennis yang mengikutinya dengan santai dari belakang.

Dennis membukakan pintu mobil untuk Ann, “Mumpung cuma ada kita berdua, kuharap kau mau ramah sedikit padaku.”

Ann tidak mengerti maksud ucapannya, ia mengambil tasnya dari dalam mobil Vincent kemudian beralih menatapnya heran,”Maksudmu?”

“Kelihatannya kau tidak terlalu senang melihatku akrab dengan Emma.” kata-kata itu meluncur dengan ringan, disertai senyum genit, ” cemburu ya?”

“Aku? Cemburu?” rasanya Ann ingin tertawa,”sori ye! Aku memang tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan Emma. Aku tidak mau tahu kau ini serius atau tidak, tapi kuberitahu aja ya, Emma itu..”

“Sudah punya pacar?” potong Dennis cepat.

Ann tercenung diam.

“Itu mah aku sudah tau, aku sudah bisa menebak sendiri kok.”

”Lalu kenapa kau masih mengejarnya?!”

“Siapa bilang aku tidak boleh mengejarnya? Aku ini senang bergaul, apalagi ama yang namanya cewe cakep. Dia udah punya pacar atau belum itu bukan urusanku. Kalau kau tidak suka aku dengan Emma….ya…aku mengejarmu aja ya.”

Seumur hidup Ann belum pernah bertemu dengan cowo se-buaya Dennis. Ia merasa mual dan jijik dengan cowo itu. Apa ia kira dengan modal tampangnya itu bisa dengan mudah menggaet semua cewe yang ia mau?

“Aku becanda!!!” Dennis terpingkal-pingkal melihat wajah Ann yang pucat pasi menahan muntahan,”aku becanda. Jangan marah donk…..gitu aja marah. Aku baru sadar, sejak tadi siang sampai sekarang aku belum pernah melihatmu tersenyum.”

“Senyumku terlalu mahal untuk cowo sepertimu.” Ann melangkah pergi meninggalkan Dennis.

Dennis mencegatnya,”Eh tunggu dulu, aku ini cowo baik-baik loh…aku bisa membuktikannya.”

“Oh ya?” Ann menepis tangan Dennis dengan kasar,” kalau begitu buktikan sekarang juga! Kau sendiri kan,yang tadi bilang sudah tau Emma sudah punya pacar? Itu bukan aku yang bilang loh. Kalau kau memang sudah tahu, dan kalau kau memang cowo baik-baik, jauhi dia mulai detik ini juga! Jangan dekati dia lagi!”

Dennis malah tersenyum misterius. Matanya menatap Ann tajam seperti sedang menilai seperti apa Ann di matanya. Setelah diam beberapa saat akhirnya ia mau melepaskan Ann, membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya.

Ann berjalan masuk ke café. Entah kata-kata apalagi yang harus dipakainya untuk menggambarkan betapa kesalnya Ann pada manusia tindik itu. Ia tidak habis pikir kenapa Emma bisa-bisanya tergila-gila dengan model cowo seperti itu?! Apa Emma sudah kehilangan akal sehat, atau sudah buta? Dennis jelas bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Josh!

Begitu Ann kembali ke mejanya, tak lama kemudian Dennis menyusul dengan cepat. Cowo itu tersenyum-senyum puas. Ann bisa menangkap dengan jelas raut wajah Emma yang menatapnya dengan tidak senang. Seolah-olah Ann baru saja melakukan sesuatu yang ‘asik’ dengan Dennis di luar sana. Tapi Emma tidak menanyakannya, ia hanya diam menahan rasa kesalnya pada Ann.
Ann bisa mencium gelagat aneh Emma sejak mereka pulang dari cafe. Emma terus-menerus memasang muka cemberut untuk Ann, bahkan ia tidak mau bicara dengannya.

Ann tahu betul apa sebabnya, pasti Emma ngiri saat Dennis mengantarnya ke mobil sementara dia malah ditinggal berdua dengan Vincent. Sebenarnya Ann rada kesel juga dengan sikap Emma ini, buat apa sih dia iri dan cemburu? Dennis kan bukan pacarnya?! Kenapa sifatnya kekanak-kanakan sekali, bukannya ia sendiri yang memaksa Ann ikut ke café dengannya?

Di sekolah, Ann bertekad menemui Emma dan memintanya untuk menghentikan tingkah laku childish-nya itu. Emma baru bisa ditemui saat kelasnya sedang pergantian pelajaran olahraga, kebetulan kelas Ann juga lagi kosong. Ann mencegat Emma di depan toilet.

“Kau marah padaku ya?”

Dengan malas-malasan Emma menjawab, “Buat apa? Alasannya kan sudah jelas.”

“Pasti karena Dennis kan?”

“Bagus kalau kau tau diri.” jawabnya ketus.

“Berhentilah bersikap seperti ini, kau mulai membuatku kesal. Kemarin aku hanya mengambil tas dari mobil Vincent! Memangnya kau kira aku ngapain sama si cowo jelek itu?!”

Emma langsung beradu mata dengannya,”Tapi kemarin itu kau sudah keterlaluan! Masak aku ditinggalin berdua ama Vincent?! Cowo yang aku taksir itu Dennis, bukan Vincent! Tapi kau malah pergi dengannya!”

“Cuma ambil tas, itu pun cuma sebentar!”

“Alesan! Aku mana tau kalian sebenarnya ngapain di luar sana! Sejak saat itu Dennis jadi aneh padaku, jarang mengajakku bicara! Pasti kau bicara sesuatu padanya kan?”

”Bicara apa? Eh, asal tau aja ya, Dennis ternyata sudah tau kalau kau ini sudah punya pacar! Aku akui aku hampir keceplosan waktu itu, tapi dia duluan yang ngomong sebelum aku! Aku aja kaget ternyata dia sudah tau kau punya pacar.”

“Bilang aja kau memang tidak suka aku dengan Dennis!”

Ann menarik nafas panjang,”Aku kan memang sudah bilang itu dari dulu. Berapa kali aku harus bilang kau ini sudah punya Josh. Josh itu cowo yang baik, kau jangan sampai menyakiti hatinya. Apa kau sudah gila, menyia-nyiakan Josh demi cowo yang tidak karuan itu?! Kau sendiri bilang kemarin kalau kau tidak akan suka sama Dennis, tapi nyatanya kemarin kau malah centil-centilan di depan dia?!”

“Memangnya kenapa? Yang penting kan Josh tidak tahu! Memangnya aku tidak boleh senang-senang ama cowo laen? Ooh…..aku tahu sekarang,” Emma mengangguk-angguk kecil, belum pernah Ann melihat wajah Emma semarah ini ,”kau mau merebut Dennis dariku kan? Kau mau merebut dia supaya aku tetap dengan Josh!”

”Apa??!! Jangan menuduhku sembarangan!” Ann marah besar.Hei…..tapi ucapan Emma tadi……hm, boleh juga idenya!

Ann mengerut kening. Kalau saja Emma tidak mengucapkan kalimat yang menyakitkan tadi, ia tidak akan pernah kepikiran untuk melakukan hal gila itu. Benar juga kata Emma…..kalau Ann berhasil merebut Dennis, Emma tidak akan memutuskan Josh.

“Kau tidak akan bisa merebut Dennis, memangnya kelebihanmu apa sih?!” Emma memicing matanya, “kau tahu, Ann? Gara-gara peristiwa kemarin itu, aku semakin bertekad untuk mendekati Dennis. Kau lihat saja, kalau sampai aku mutusin Josh, semua itu secara tidak langsung adalah salahmu juga!”

Ann sudah berteman dengannya sejak kecil tapi ia baru tahu di detik ini juga, kalau Emma ternyata benar-benar teman yang menyebalkan. Ia bertanya-tanya kenapa selama ini ia bisa tahan menghadapi sifat jelek Emma. Ann tidak pernah mengeluh ataupun menyimpan dendam meskipun Emma pacaran dengan Josh, bahkan ia rela mengorbankan perasaannya pada Josh untuk Emma. Tapi kenapa Emma bisa dengan mudah meluncurkan kata-kata kasar padanya hanya demi 1 cowo semacam Dennis?

“Kalau sudah ada Dennis, aku akan putus dengan Josh. Titik!”

Ann tercekat kaget,”Kau tidak boleh begitu!”

“Suka-suka aku lah!” Emma tidak mau peduli lagi, ia pergi meninggalkan Ann yang terbengong-bengong sendiri.

Ann benar-benar tidak menyangka Emma akan sekejam itu, ia masih mengira Emma dan Dennis paling-paling hanya sebatas having fun, tapi ternyata Emma serius mau dengan cowo menjijikkan itu. Kalau begini Dennis memang harus segera dijauhkan dari Emma.

Hujan turun deras saat itu. Kalau saja Ann tidak ada eskul tambahan di sekolah, ia lebih memilih cepat-cepat pulang, tidur di rumah mumpung cuacanya dingin.

Dari kejauhan Josh berjalan mendekati tempat Ann, tidak ada Emma di sampingnya.

“Belum pulang? Ada eskul ya?”

Ann kaget, sekaligus gugup,” Eh….iya, ada eskul paduan suara.” Ann ingat betul apa reaksi Emma waktu dia mendaftar di paduan suara, Emma bilang itu eskul buat orang alim yang tidak tau cara menikmati masa muda. Lucu juga sih, tapi Ann memang suka bergabung dengan kegiatan ini.

“Di luar hujan loh, kau bawa payung kan?”

“Nih.” Ann menunjukkan payung warna biru langitnya yang sudah bulukan sana-sini. Ann agak malu, cepat-cepat disimpannya payung itu ke dalam tas.

Josh malah tertawa,” Kau masih simpen payung itu ya? Kan udah jelek, dibuang juga gak pa-pa kok.”

Tapi ini payung bersejarah….

Ann tidak akan tega membuangnya. Payung inilah yang pertama kali mempertemukannya dengan Josh.

Kira-kira 2 bulan yang lalu, sore-sore saat Ann tengah berdiri seorang diri di depan gerbang sekolah menanti hujan reda. Ann tidak bawa apa-apa saat itu, ia hanya menutupi kepalanya dengan file kecil miliknya. Tapi hujan semakin lama semakin deras.

Lalu saat ia mulai merasa putus asa, seseorang tiba-tiba datang dari belakang dan menaunginya dengan sebuah payung.

Ann masih ingat betul, saat ia menengadah kepalanya, yang pertama kali ia lihat adalah warna biru langit yang cerah menutupinya dan melindunginya dari hujan. Lalu ia menoleh untuk melihat siapa orang yang baik hati itu.

“Jangan sampai kehujanan, nanti sakit.” seru orang itu.

Ann terpaku menerima senyuman tulus dari cowo itu.

“Namaku Josh.”

“Ann” hatinya berdegup kencang saat itu.

“Kau murid sini ya? Aku baru mendaftar di sini, kelas 3 IPA. Pindahan mendadak dari sekolah lain.”

“Aku juga 3 IPA”

“Oh ya? Wah, semoga aja kita bisa sekelas ya.” Josh tersenyum lagi, lalu tiba-tiba ia menyodorkan payungnya, “pegang ini.”

“Hah?” tapi Ann menurutinya.

Lalu tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Josh berlari meninggalkannya sambil tertawa kecil. Ann kaget bukan main, ia nyaris tersedak memanggil-manggilnya. Josh berhenti sebentar, ia menoleh sambil menutupi kepalanya dengan telapak tangan lalu berseru kencang,”Payungnya untukmu saja! Cepat pulang ya! Sampai ketemu lagi besok!”

“Ta…tapi….” Ann bergerak maju hendak mengejarnya, tapi Josh berlari semakin cepat dan perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.

Ann menghela nafas panjang dan hatinya berdegup semakin kencang. Tanpa ia sadari perlahan-lahan bibirnya membentuk sebuah senyum untuk suatu alasan yang ia sendiri tidak mengerti.

*******
Ann memejam matanya, menyadarkan diri dari lamunan panjang.

Setiap kali hujan, aku selalu teringat dengan pertemuan pertama kita. Saat kau mengatakan ‘sampai ketemu lagi besok’,kita memang bertemu lagi keesokan harinya. Aku menunggumu di tempat yang sama di pagi hari itu, untuk mengembalikan payungmu. Tapi kau malah bilang payung itu untukku saja, aku boleh menyimpannya kalau aku mau.

Aku memang selalu menyimpannya. Tidak peduli meskipun payung ini semakin lama semakin rusak…

Sejak saat itu lah Ann berteman dengan Josh. Ann memang sudah lebih dulu akrab dengan Josh sebelum Josh dikenalkan pada Emma. Ann tidak pernah bilang pada Emma tentang perasaannya terhadap Josh. Sampai saat ini pun tidak ada seorang pun yang tahu. Ann hanya menyimpannya seorang diri.

“Kau kenapa belum pulang?” tanya Ann.

“Nungguin Emma, dia lagi ada urusan bentar di OSIS. Katanya buat mading besok.Oh iya! Valentine kan udah deket nih, kau sudah ada acara?”

Ann menggeleng.

“Eh menurutmu kira-kira aku harus bikin acara apa ya buat Emma? Aku mau booking café buat berdua. Tapi kayaknya udah kuno ya? Ada ide gak?”

“Yang penting tulus, Emma pasti senang.” Ann berusaha tersenyum wajar. Jauh di dalam hatinya,ia sakit.

“Aku takut tidak bisa membuat dia senang. Kau tau sendiri kan, aku ini beruntung sekali bisa jadi pacarnya, padahal kan banyak banget yang ngejar dia waktu itu. Akh,sekarang juga banyak.” Josh menerawang, “makanya, aku mau bikin dia seneng, bikin dia tambah sayang. Aku takut kehilangan dia.”

Ann hanya bisa membisu. Andaikan saja Josh punya perasaan seperti itu padanya, ia pasti bakal jadi cewe paling bahagia di seluruh dunia. Tapi apa dayanya? Perasaan Josh hanya untuk Emma seorang. Ann hanya seorang teman biasa bagi Josh, hanya tempat baginya untuk berkeluh-kesah. Tapi meskipun begitu Ann selalu ingin yang terbaik untuk mereka berdua.
Sudah 2 hari ini Ann dan Emma tidak saling bertegur sapa, peristiwa tempo hari yang tidak mengenakkan ternyata masih membekas di hati masing-masing. Setiap kali berpas-pasan di koridor sekolah, mereka hanya saling melewati seolah-olah tidak saling mengenal. Emma selalu bisa mencari alasan setiap kali Josh mengajak mereka pergi bertiga. Bahkan Ria dan Priska, 2 teman Ann pun, tidak tahu menahu tentang perang dingin antara mereka.

Ann merasa situasi seperti ini benar-benar menjengkelkan. Seumur-umur mereka belum pernah bertengkar hanya karena cowo. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengakhirinya, kalau ia bicara dengan Emma lagi bisa-bisa pertengkaran mereka malah tambah hebat.

Sewaktu pulang Josh mengejar langkah Ann di depan gerbang sekolah, “Eh tunggu!”

Padahal Ann sudah berusaha menghindar dari cowo ini.

“Kenapa sih, dari tadi kabur mulu? Aku tadi manggil-manggil di kantin gak kedengeran ya?” Josh menatapnya bingung, “ada apa sebenarnya? Kau kelihatan…….aneh.”

“Tidak ada apa-apa kok.”

“Nanti malam aku dan Emma mau pergi ke tempat biasa, kau mau ikut kan?”

“Aku sibuk malam ini.”

“Sibuk? Sibuk apa?”

“Hm….mau nemenin nyokap ke kondangan saudara.”

”Kau kan biasanya paling males kalau disuruh ke kondangan?”

“Tapi yang satu ini aku harus ikut.” Ann tersenyum palsu, “lagian kau ini juga aneh, masak pacaran ngajak-ngajak aku?”

”Kau ini kan teman baik aku dan Emma. Memangnya kenapa? Toh kami samasekali tidak merasa keganggu. Kalau kau tidak ikut, suasananya jadi kurang!”

Pandangan mata Ann tertuju pada map kuning yang sedari tadi ada di tangan Josh,” Apaan tuh?”

”Oh ini? Buat daftar kuliah. Udah pada buka kan? Aku mau daftar di tempat yang sama kayak Emma, enak kan kalau bisa satu kampus setiap hari?” Josh tersenyum bahagia membayangkan impiannya bersatu dengan Emma tersayang di tempat kuliah nanti, “kau sudah beli formulir pendaftarannya? Mau masuk jurusan apa?”

Ann tidak terlalu memusingkan kuliah. Buat apa pusing-pusing beli formulir pendaftaran di sini, toh orang tuanya bersikeras ingin mengirimnya kuliah di luar negri, mengikuti jejak kakak perempuannya yang sudah hampir lulus di Amrik sana. Tapi Ann juga berat meninggalkan semuanya.

Ah, tapi Josh kelihatannya tidak terlalu peduli aku mau kuliah di mana. Yang penting dia bisa sekampus dengan Emma.

Sebenarnya Ann juga berat berpisah dengan Emma. Waktu SD kelas 5, mereka pernah berjanji akan sekolah dan kuliah di satu tempat yang sama. Tidak terpisahkan.

“Aku kayaknya disuruh kuliah di luar.”

”Wah….enak donk? Emang susah jadi anak pinter apalagi kaya! Pasti buntut-buntutnya belajar di luar negri.” Josh tertawa tanpa beban, “jangan-jangan entar dapet pacar orang bule donk?”

“Ah itu mah mimpi!”

”Terus, bagaimana kalau dengan cowo yang itu?”

”Hah? Siapa?”

Josh menunjuk ke arah seorang cowo keren yang sedang berdiri jauh di depan mereka. Cowo berpakaian santai itu tiba-tiba melambai ke arah mereka. Ann melongo saking kagetnya. Itu Dennis! Mau apa dia ke sini? Mau cari Emma? Gawat….kan Josh ada di sini!

“Dari tadi dia liatin kita terus, kau kenal dia?”

“I…itu temanku.” Jawab Ann gugup.

“Teman apa teman? Teman special ya?”

“Yang bener aja!”

Josh tertawa, “Jangan sewot gitu donk. Tuh, dia manggil noh. Kau mau menemuinya kan? Kalo gitu aku pulang dulu ya, ntar malem kalau kau mau pergi telepon aku aja. Oke? Bye, Ann.”

”Bye.”

Ann mengamati kepergian Josh dengan hati was-was. Setelah yakin Josh sudah lenyap dari situ, ia buru-buru menghampiri Dennis. Ia langsung melabraknya, “Mau apa ke sini! Cari Emma? Dia sudah pulang!”

“Eh, itu tadi pacarmu ya?” Dennis tidak menghiraukan pertanyaan Ann.

“Bukan, itu pacar Emma. Nah, kau sudah liat kan? Emma punya pacar yang keren, kau tidak boleh mendekatinya lagi!”

“Oh jadi itu pacarnya Emma? Cakep juga. Dibandingin ama aku cakepan mana?”

“Jelas jauh lah! Dia itu cakep luar-dalam! Kau belum jawab buat apa kau datang ke sini? Kalau kau mau cari Emma, Emma udah gak ada di sini! Cepet pulang sana!”

“Siapa bilang aku ke sini buat cari Emma? Aku datang ke sini untuk mencarimu.”

Ann bengong. Dahinya berkerut, “Gak salah denger?”

“Aku datang ke sini untuk menemuimu,” ulang Dennis, “mungkin aku bisa mengantarmu pulang atau mengajakmu pergi? Kita bisa ngobrol-ngobrol lagi kayak hari itu.”

Konyol, bukankah hari itu mereka bukan ngobrol tapi bersilat lidah?

“Jangan becanda deh!”

“Aku serius.”

“Kau datang ke sini bukan untuk Emma?”

Dennis mengendik bahu, “Kenapa sih aku selalu dikaitkan dengan Emma? Aku ke sini untuk mencarimu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Emma.”

“Kau ini aneh ya! Buat apa dateng ke sekolah buat cari-cari aku?”

”Aduh….non, di mana-mana kalau ada cowo yang baru kenalan terus langsung dateng ke sekolah buat anterin pulang, cowo itu pasti ada tujuan tertentu. Itu namanya PDKT. Ngerti?” Dennis begitu to the point, “kuantar pulang ya? Jalan kaki kan capek. Naik bajaj kan banyak debu, ntar kalo jerawatan gak cakep lagi donk?”

“Aku tidak akan mau pulang denganmu!”

Tiba-tiba HP Dennis berdering kencang. Dennis memeriksa caller ID si penelepon lalu menerimanya,”Halo, Emma, kenapa?”

Ann membelalak kaget. Itu Emma! Jangan-jangan cewe itu benar-benar serius ingin mendekati Dennis. Ngapain dia telpon ke HP-nya?!

“Kenapa?” Dennis terdiam sebentar, lalu melirik Ann dengan tatapan serba salah. Ann langsung memberi isyarat supaya Dennis tidak memberitahu Emma kalau dia ada di situ bersamanya. Dennis mengangguk kecil, “Engak, aku lagi ama temen kampusku. Ada apa? Hm? Oh….begitu ya? Ketemu di café itu lagi? Jam tiga?”

Astaga……..Emma ngajak Dennis pergi?! Ternyata dia emang udah bener-bener nekad dengan ucapannya tempo hari! Jangan sampai Dennis mau! Aku harus mencegahnya!

Lalu tanpa diikuti akal sehatnya, Ann tiba-tiba merebut HP dari tangan Dennis secepat kilat. Dennis melongo tak mengerti. Dengan suara kecil Ann berbisik, “Jangan pergi dengannya. Kumohon….”

“Memangnya kenapa?” Dennis balas berbisik.

“Aku….uhm…aku…hei! Bukankah tadi kau bilang mau mengajakku pergi? Kita pergi aja sekarang! Oke?”

Dennis tersenyum nakal, tapi ia menggeleng. “Sini, balikkin handphone-ku.”

Ann mendesah kecewa lalu diserahkannya handphone itu pada si pemilik. Ia menunduk kesal, apa tidak ada cara lain untuk mencegah Emma melancarkan aksi gilanya? Melihat tipe cowo semacam Dennis keliatannya Dennis juga bakal ke-GR-an dengan aksi Emma.

“Halo, Emma? Iya sori tadi gak dapet sinyal, suaranya putus-putus. Tadi sampai mana? Ketemuan jem 3 ya? Hm…..boleh juga,” Dennis mencuri pandang ke arah Ann, “Eh, tunggu dulu. Oh iyaaa…. Aku baru inget, jam 3 nanti aku ada janji ama temen kampusku nih. Waduh sori banget ya, Ma! Lain kali mungkin?”

Ann mendongak tak percaya, ia tersenyum lega mendengar jawaban Dennis. Phew….

“Kau yakin tidak apa-apa? Oke deh, sori banget ya. Oke…oke….bye, Emma.” Dennis menutup flip HP-nya dengan penuh percaya diri,”Oke, aku sudah memenuhi permintaanmu. Hari ini, kau jadi milikku!”
***
Ann merasa agak rikuh berada di tengah-tengah kerumunan orang yang asik bergoyang di lantai disko. Cewe-cewe gaul dengan potongan baju minim berbaur dengan cowo-cowo yang asik mengerayangi tubuh mulus mereka, mereka menyatu dalam 1 irama musik yang berdentum kencang. Suasana itu membuat Ann merasa tidak nyaman, ia malah kelihatan culun berada di tengah-tengah mereka. Matanya berusaha mencari Dennis di tengah-tengah lampu disko yang meredup-redup dalam kegelapan. Belum apa-apa Dennis sudah ada di belakangnya, “Aku sudah dapat tempat, yuk ke sana!”

Dennis membawa Ann ke meja di depan bar yang masih tersisa 2 tempat. Ann mengencangkan suaranya melawan dentuman musik yang memecahkan gendang telinga, “Kenapa kau mengajakku ke sini?”

“APA???”

“KENAPA KAU MEMBAWAKU KE TEMPAT INI? AKU TIDAK SUKA!” teriak Ann.

Dennis tersenyum lebar, “KITA SENANG-SENANG AMPE MALEM! KAU PASTI AKAN SUKA!”

”SAMPAI MALEM? KAU TADI BILANG CUMA SAMPAI JAM 10!”

Dennis hanya tertawa keras, tak lama kemudian ia larut dalam suasana di dalam diskotik. Kepalanya dihentak-hentakkan mengikuti irama musik, badannya mulai ikut bergoyang. Seorang bartender yang berpenampilan cuek dengan bandana merah di kepalanya menyapa Dennis, “Hey coi, mau pesen minum apa?”

“Biasa.”

Bartender itu melirik Ann, “Cie….gebetan baru nih?”

Dennis merangkul pundak Ann sok akrab, “Namanya Ann, mulai sekarang dia ini pacarku!” kemudian tertawa, “gimana, oke kan?!”

Si bartender mengacung jempol, “Sip lah! Buaya kampung kayak lu emang paling mantep cari mangsa!”

Ann mendorong Dennis jauh-jauh, “Aku bukan pacarnya! Hey, jangan sentuh-sentuh aku!”

“Bener, cewe, jangan mau digrepe-grepe ama nih anak. Dia itu paling suka ngerayu cewe di sini, korban-korbannya udah banyak tuh! Kalo dikumpulin rame-rame mungkin si buaya ini bisa dikeroyok. Hati-hati ya!” bartender tertawa sambil memberi mereka 2 gelas minuman keras beralkohol.

“Aku tidak minum.”

“Ayolaaahh, minum segelas gak ada salahnya. Kau pasti lagi banyak pikiran ya? Aku tahu. Nah, ini minum sedikit aja udah bisa lega. Asik deh, bisa bikin kita lupa semuanya,” Dennis mengambil gelasnya dan menghabiskan minuman itu dengan sekali teguk, “AAHHH!!! Asik punya coi!”

Ann menatapnya jijik.

“Percaya deh, ayo coba diminum.”

“Tidak, aku tidak mau. Aku pesan yang lain saja.”

Tiba-tiba Dennis terkekeh.

“Kenapa ketawa?!”

“Bener juga kata Emma, kau ini anaknya terlalu kaku, kolot, kuno! Gak asik! Gak bisa nyantai dikit.”

“Emma bilang begitu?”

“He-eh. Dia pernah bilang padaku waktu kau lagi gak ada. Tadinya kupikir mungkin dia cuma sirik atau apalah, eehh…ternyata bener. Sadar donk, non, kita kan masih muda, seneng-seneng dikit gak ada salahnya. Aku berani taruhan, hidupmu selama ini pasti sangat membosankan kan? Kau punya hidup yang monoton, yang membuatmu ingin melakukan sesuatu yang gila sekali-kali.Kau ingin keluar dari lingkaran itu tapi kau tidak tahu caranya. Nah, aku akan membantumu keluar dari situ. Ayo kita senang-senang malam ini! Apa kau tidak mau tahu apa itu senang-senang? Kau tidak mau mencobanya? Apa kau tidak mau senang-senang melupakan segalanya?”

Ann meraih gelasnya, ragu.

“Untuk malam ini saja, kita lupakan semua unek-unek yang ada di hidup kita! Kita buang jauh-jauh semua beban kita! Malam ini kita bebas melakukan apa saja yang bisa membuat kita senang. Malam ini kita….terbang!!” teriak Dennis.

Terbang? Aku ingin terbang meninggalkan semua kepenatanku. Terbang meninggalkan semua masalahku!

Diteguknya minuman itu perlahan-lahan. Pahit…pedas…Ann tidak bisa membedakannya. Rasa panas membakar seluruh rongga dadanya, kepalanya berdenyut-denyut dan pusing. Pandangan matanya terasa linglung. Padahal ia baru minum 1 gelas kecil tapi rasanya…..

“Lagi!” Dennis menyodorkan gelas baru.

Lagi? Ya, apa salahnya?
“HAHAHAHAHAHA!!!!!!” tawa Ann meledak bersamaan dengan Dennis. Gelas demi gelas mulai memenuhi meja mereka.

Hingar-bingar di sekelilingnya semakin malam semakin tidak karuan. Sekeliling Ann terasa sangat sesak, sumpek, belum lagi ditambah dentuman musik yang semakin keras.

Setengah jam berlalu tapi Ann tidak merasa penat lagi. Kini ia merasa nyaman, seisi kepalanya terasa kosong tanpa beban, tubuhnya terasa ringan hingga seakan-akan ia bisa melakukan apa saja yang ia mau. Alkohol telah merasukinya. Ia sudah menghabiskan 5 gelas dan rasanya tidak masalah untuk menambah lagi.

Ia terbang….

“Wuiiingg…..” Ann terkikik sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, “benar katamu, minuman ajaib ini bisa memberiku sayap.”

Dennis tersenyum, “Asik kan? Nih, minum lagi. Tenang aja aku yang bayar semuanya.”

Ann merebut gelas itu dari Dennis dan langsung menghabiskannya. Ia membanting gelasnya ke atas meja sambil tertawa puas, “Emma salah besar kalau dia bilang aku ini anak baik-baik yang tidak tau cara senang-senang. Kuberitahu ya…..aku ini….” Ann mulai merasa perutnya seperti dikocok-kocok, rasa mual menyesak di dadanya, “aku ini sudah muak mengurusi semua masalah dia! Aku….tidak peduli lagi! Bodo amat dia mau ngapain kek!”

“Yeah…ini baru namanya menikmati hidup!”

“Aku tidak peduli dia hari ini mau kencan dengan Josh…..aku tidak peduli dia mau berpura-pura di depan Josh….aku tidak peduli dia mau menyakiti hati Josh….” Ann merasa pusing, “aku adalah aku….mulai sekarang aku bukan lagi dayang-dayangnya….aku mengurusi masalahku sendiri……..sebodo amat dengan semuanya………”

“Hey, Ann, kau sudah ‘terbang’ ya?”

“Terbang?” Ann bangkit berdiri dari kursinya, dengan langkah sempoyongan ia menghampiri kerumunan orang di lantai disko, ia mengamati mereka satu persatu sambil tertawa.

“Hey cantik, mau ikut?” seorang cowo berpenampilan urakan menarik pinggangnya.

Ann samasekali tidak mengelak, ia malah mengikuti cowo itu dan ikut bergoyang bersamanya. Hentakan musik membuatnya semakin tidak terkendali. Yang ada di pikirannya sekarang hanya senang-senang, ia mau melepaskan semua kepenatannya malam ini. Di tempat ini, saat ini juga. Ia tidak terlalu sadar apa yang sedang ia lakukan dan siapa saja yang ada di sekelilingnya. Ia membiarkan tubuhnya bergerak bebas.

Lalu tanpa ia sadari cowo itu mulai melancarkan aksinya, tangannya gerayangan di sekitar bahu Ann dan mulai turun ke pinggangnya. Tubuhnya mendekat menempel pada Ann yang masih saja bergerak mengikuti irama musik. Semakin kencang musik menghentak, semakin liar gerakannya.

Dennis mengamati dari kejauhan, matanya berkilat. Namun ia tersenyum menikmati….

Cowo itu membisikkan sesuatu tepat di telinga Ann. Ann tertawa. Kemudian ia menyibak rambut panjang Ann ke belakang, jari-jarinya mulai bergerak nakal di sekitar leher Ann. Perlahan-lahan namun pasti, ia mulai membuka kancing teratas dari kemeja Ann. Orang-orang di sekitarnya tidak ada yang peduli, mereka sibuk sendiri-sendiri tanpa memperdulikan pemandangan yang sudah wajar itu. Tapi Ann pun tidak peduli.

Kemudian kancing kedua……

Dennis meneguk minumannya dengan santai.

Lagi-lagi cowo itu berbisik menggoda, Ann tidak ambil pusing. Kancing ketiga………

Ann mulai merasa gerah, ditepisnya tangan cowo itu sambil terus bergoyang. Cowo itu malah semakin mendekat dan tangannya bergerak meraba pinggul Ann.

“Hey, bung.” seseorang tiba-tiba mengambil tangannya dan mencengkramnya dengan kasar, “jangan main-main dengan pacarku.” Entah dari mana Dennis muncul.

Ann belum sadar juga, ia malah mendorong Dennis jauh-jauh, “Minggiiirr…..aku lagi asik.”

“Ini pacar lu?” tanya si cowo urakan.

“Iya, kenapa?!” Dennis melotot padanya.

“Ya udah terserah, sono bawa pergi.” cowo urakan itu pergi meninggalkan mereka, mencari mangsa baru yang lebih sexy.

“Ayo kita pulang, kau sudah benar-benar mabuk berat malam ini.” Dennis menarik Ann dan membopongnya menerobos kerumunan orang yang berdesak-desakan di sana. Beberapa orang yang mengenal Dennis menyorakinya.

“Oi…mangsa baru nih? Mau dibawa ke mana woi? Hotel ya?”

“Bawa ke rumah aja.”

“Asik nih, barang baru. Tumben-tumbenan lu dapetin cewe yang masih ‘fresh’ , lu kasih minum apa dia ampe teler kayak gitu?”

“Asik deh lu malem ini! Dasar lu licik , maenin tuh cewe pas dia lagi teler!”

Dennis tersenyum kecil pada mereka.
Dennis membopong tubuh mungil Ann sampai ke luar diskotik. Ann terus menolak pulang dan berusaha melepaskan dirinya dari Dennis. Langkahnya sempoyongan, pandangan matanya kabur. Tapi ia tidak peduli.

“Ngapain nyuruh aku pulang………kau sendiri yang tadi bilang aku harus senang-senang….” Ann melepaskan pegangan Dennis. Dengan linglung ia kembali berjalan ke pintu masuk diskotik, “aku mau masuk lagiiii………”

“Eh eh…..jangan masuk lagi,” Dennis menariknya, “melihat keadaanmu seperti ini, dalam sekejap saja kau sudah bisa digerayangin habis-habisan.”

“Biariiiinnn…..aku tidak merasa apa-apa! Kenapa kau menarikku keluar?? Aku lagi ‘terbang’!”

“Terbangnya jangan jauh-jauh dariku donk. Aku kan takut kalau pacarku kenapa-napa.Boleh kan aku jadi pacarmu?” Dennis tersenyum menggoda.

Tapi yang digoda malah tertawa,”Kau bilang apa tadi? Gak kedengeraaannn” Ia menghampiri Dennis dan menatapnya dengan mata dibuka lebar-lebar,kemudian ia menepuk pipi Dennis. Pok…pok….pok….Ann tertawa, “Kenapa wajahmu ada 2 ?”

Dennis menyingkirkan tangannya, “Wajahku cuma ada satu. Itu karena kau sudah mabuk.”

“Apaaa??”

“Hey, Ann. Boleh aku jadi pacarmu?”

“Hmm…apa? Mau jadi pacarku? Copotin dulu tuh anting di bibir!” Ann tertawa lepas, kemudian mual,”aku mau muntah……….HOEEKKK!!”

Semua orang yang melewati mereka menutup hidung menyaksikan peristiwa itu. Ann muntah di mana-mana. Perutnya terasa melilit, seakan-akan ada sesuatu yang mengaduk-ngaduk isinya dan memaksanya keluar. Belum pernah Ann merasa mual sampai separah ini. Belum lagi kepalanya terus berdenyut-denyut seperti mau pecah.

“Tuh kan, udah muntah kayak gini masih mau masuk ke dalam lagi?” Dennis mengambil HP dari saku celananya, ia menekan nomor Vincent,”Halo, Vincent? Aku pinjem kondominium-mu malem ini ya!”

Kemudian ia menarik Ann sambil tersenyum misterius, “Ayo kita pergi dari sini, masih banyak tempat lain buat senang-senang.”
Ann tertidur saat Dennis menyetir mobilnya dalam keheningan malam. Berkali-kali Dennis mengintipnya. Ia tersenyum, Ann sebenarnya cantik. Rambut panjangnya yang hitam legam tergerai jatuh di pundaknya, wajahnya putih mulus, bibirnya mungil begitu juga hidungnya. Tatapan matanya selalu bersinar-sinar setiap kali ia bicara. Meskipun dia tidak secantik Emma, tapi ada sisi lain darinya yang bisa membuat orang penasaran.

Saat mobilnya berhenti di lampu merah, Dennis segera mengeluarkan saputangan dari sakunya. Perlahan-lahan ia mencondongkan tubuhnya ke tempat Ann, disekahnya sisa-sisa muntahan dari bibir Ann dengan lembut.

“Ergh….”

”Sudah bangun?” bisik Dennis pelan.

“Josh……..” ternyata Ann mengigau.

Dennis tertegun. Josh?

“Kau bodoh….bodoh sekali…..tapi aku tidak mau kau terluka.”

Tiiitt tiiitt………mobil-mobil di belakang membunyikan klaksonnya, memarahi Dennis yang tidak maju-maju meskipun lampu sudah hijau. Dennis masih memperhatikan Ann dengan seksama. Ia mendesah sebentar lalu kembali menyetir mobilnya.
***
Ann membuka kelopak matanya perlahan-lahan, matanya perih menangkap cahaya lampu yang kelewat terang di depan matanya. Ia memejam matanya beberapa menit sampai akhirnya ia mendengar suara Dennis.

“Sudah bangun ya?”

Ann membuka mata. Ia menatap sekelilingnya dengan mata terbelalak,”Di mana aku?!”

“Tenang aja, kau sekarang di tempatku.” Dennis menghampirinya dengan segelas teh hangat, “minum dulu.”

“Tidak mau.” Ann menatap dirinya sendiri di cermin besar yang ada di depan ranjang tempatnya berbaring sekarang. Keadaannya benar-benar tidak karuan. Muka pucat, rambut acak-acakan, dan….”HAH!?”

Ann tercengang melihat kancing kemejanya yang terbuka lebar. Cepat-cepat ia mengancingnya kembali sambil menghindar dari lirikan mata elang Dennis. Dennis hanya tersenyum ringan melihat tingkahnya.

“Ngapain dikancingin lagi? Tadi di diskotik kelihatannya kau tidak terlalu keberatan.”

”Tadi? Tadi aku ngapain saja? Aku….tidak ingat apa-apa.”

“Ngapain aja? Hm….seingatku, tadi kau asik sendiri dengan seorang cowo berpenampilan preman, kau mabuk berat dan melakukan hal-hal yang liar bersamanya. Karena lagi mabuk, kau tidak peduli meskipun dia nyaris melecehkanmu. Untung aku mencegahnya.” jawabnya mantap.

“Kok aku bisa ada di sini?! Ini di mana?”

“Di kondominium Vincent.”

Ann terhenyak, “Kenapa kau membawaku ke sini ! Aku mau pulang! Ini…..ini sudah jam berapa?!”

“Kira-kira sudah jam 1 pagi. Aku membawamu ke sini karena aku tidak mau mengantarmu pulang dalam keadaan mabuk berat, bisa-bisa aku dibunuh orang tuamu! Lagipula sudah lewat tengah malam.”

Ann langsung kalang kabut mendengarnya, ia memutar otak untuk mencari penjelasan yang tepat yang harus diberikan pada kedua orang tuanya nanti. Tapi rasa sakit di kepalanya itu semakin menjadi-jadi. Rasanya ia ingin muntah lagi.

“Sudah kubilang, minum ini dulu.” Dennis menyodorkan teh hangatnya lagi.

“Tidak mau!” Ann teringat dengan kisah-kisah tragis yang pernah dialami remaja putri seusianya sewaktu mereka diajak ke hotel, kondo atau apartemen dalam keadaan mabuk, ketika mereka sudah lumayan sadar mereka justru diberi minum yang sudah dicampur dengan obat tidur.

Dennis mengerti apa yang ada di pikiran Ann, “Kalau aku mau mencelakaimu, itu sudah kulakukan dari tadi sebelum kau bangun!”

Ann tetap tidak percaya, bagaimana pun ia belum mengenal betul cowo yang ada di hadapannya itu. Ia tetap harus berhati-hati.

“Tidak, aku tidak mau. Aku mau cuci muka dulu.” Ann beranjak dari tempatnya, dengan langkah sempoyongan ia masuk ke kamar kecil.

Dibukanya kran air besar-besar, kemudian ia membasuh wajahnya. Ia mendongak menatap cermin dengan wajahnya yang basah, tidak percaya melihat seperti apa dirinya sendiri saat ini. Aku memang mau senang-senang……..tapi bukan seperti ini caranya. Kenapa aku jadi kacau begini?

Hatinya gundah memikirkan apa yang akan dikatakan kedua orang tuanya kalau nanti ia pulang. Sekujur tubuhnya bau asap rokok dan mulutnya bau alkohol. Matilah aku kali ini!

Tiba-tiba pintu dibuka dari luar, Ann kaget setengah mati, lalu dengan wajah tanpa rasa bersalah Dennis muncul sambil membawa sebuah handuk kecil, “Pasti kau mau mandi ya? Nih handuknya. Ada baju kaos di lemari Vincent, mungkin agak kebesaran untuk ukuranmu tapi lebih baik ganti daripada tetap memakai bajumu itu. Kau tercium seperti sosis panggang.”

Ann membisu.

“Oh iya, lebih baik kau telepon ke rumah dulu. Bilang saja kau lagi nginap di rumah teman. Nanti pagi kuantar kau pulang.”

Dennis melempar handuk itu ke wajah kaget Ann, kemudian ia menutup pintu.

Dennis mendesah kecil saat HP di sakunya berdering. Caller ID menunjukkan nama Vincent, tanpa banyak bicara Dennis segera menjauh dari pintu WC, “Halo.”

“Dia ada di situ denganmu?” tanya Vincent.

“Iya, lagi mandi.”

“Gimana? Kau tetap mau menjalankan rencanamu?”

Dennis terdiam sesaat, menimbang-nimbang.

“Jangan ditunda-tunda lagi, Dennis. Kau tahu sendiri kan ini sudah tanggal berapa? Aku tidak bisa banyak membantumu lagi, memangnya kau kira orang tuaku tidak curiga aku minta-minta duit terus?! Gadis itu satu-satunya harapanmu! Memangnya kau punya ide lain apa? Merampok bank? Kepalamu bisa dipenggal kalau kau tidak bisa melunasi hutangmu!”

Dennis menelan ludah, “Aku mengerti. Aku tidak akan minta bantuanmu lagi.”

“Aku bukannya tidak mau membantu. Selama ini aku selalu membantumu kan? Berapa pun yang kau minta aku selalu bisa membantumu, tapi itu kan duit orang tuaku.Mereka lama-lama mulai curiga.”

Dennis menatap kalender yang tergantung di depan dinding kamar Vincent. Sudah tanggal 8, berarti 2 hari lagi. Ia menghela nafas panjang menahan semua amarah yang berkecamuk di dadanya, “Aku sudah punya rencana,Vincent. Kau tenang saja.”

“Yah, lebih baik begitu! Jangan sampai gadis itu lepas darimu! Ingat, Dennis, dia itu satu-satunya harapanmu!”

Dennis tidak menjawab, ia segera menutup flip HP-nya.
***

5 hari yang lalu……….

Di gang yang sempit itu Dennis berhadapan dengan segerombolan preman berbaju hitam dan berwajah garang. Masing-masing dari mereka memegang besi seukuran tongkat bisbol. Jumlah mereka ada 12 orang, sedangkan Dennis seorang diri. Tapi ia tidak gentar sedikitpun.

Pemimpin mereka yang berbadan besar dan sering dipanggil ‘Bos’ oleh anak buahnya, menghampiri Dennis sambil mengacungkan tongkat besinya, “Mana uangnya!”

“Cuma ada segini.” Dennis melempar setumpuk uang ke arahnya, “untuk sementara aku hanya bisa mengumpulkan 1 juta.”

”1 juta?!” Bos menempelkan tongkat besinya di wajah Dennis,”kau tahu berapa banyak uang yang dipinjam ayahmu? 5 juta! Kenapa kau hanya memberiku 1 juta? Mau main-main denganku?!”

“Aku akan memberi sisanya nanti.”

“Nanti? Aku sudah terlalu sabar pada kalian semua, aku memberi kalian waktu 2 minggu untuk melunasi hutang. Tapi dalam 2 minggu ini kau hanya bisa membayar segini! Ingat baik-baik, bocah tengik, kalau kau tidak bisa membayarnya….aku akan memenggal kepalamu!”

“Beri aku waktu 1 bulan.”

”1 bulan?” Bos menengok ke anak buahnya sambil tertawa terkekeh-kekeh, “kalian dengar? Dia minta waktu 1 bulan lagi.”

Mereka menertawai Dennis mentah-mentah.

Kemudian Bos membalik badannya menghadap Dennis, wajahnya mengeras karena marah. “1 minggu cukup untukmu! Ingat, kau harus memberiku 4 juta dalam waktu 1 minggu. Kalau tidak….”

BUK!!!! Sebuah tinju melayang keras di wajah Dennis. Dennis tersungkur jatuh di atas gundukan tanah basah. Belum puas dengan itu, Bos menendang perutnya dan menghantam tongkat besinya ke punggung Dennis. Dennis meringis menahan sakit, tapi ia tidak melawan.

“Phuih!” Bos meludah padanya, “kau akan kubuat lebih mampus daripada ini kalau minggu depan uang itu belum sampai di tanganku!”

Mereka menertawai Dennis sepuas-puasnya, beberapa bahkan ada yang ingin ikut menghajarnya. Tapi Bos menyeret kakinya meninggalkan tempat itu, anak buahnya segera mengikutinya dengan setengah hati.

Dennis hanya tersungkur di bawah, memegang perutnya dengan tetesan darah yang mengalir dari hidungnya. Ia meronta kesakitan, tapi tak berdaya melawan. 4 juta. Di mana ia harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu 1 minggu? Kalau saja keadaannya keluarganya masih sama seperti dulu…jangankan 4 juta, 10 juta pun bisa ia dapatkan dalam waktu 1 hari! Tapi keluarganya tidak seperti dulu lagi. Semuanya sudah hancur.

Tidak banyak yang tahu kemelut apa yang tengah melanda keluarga Dennis sekarang ini. Perusahaan yang dikelola ayah Dennis bangkrut total karena hutang-hutang yang berjumlah trilyunan rupiah yang tidak bisa dilunasi. Musibah ini datangnya begitu tiba-tiba, mereka harus menjual semua rumah dan tanah yang mereka miliki untuk melunasi hutang yang melilit. Semua barang-barang mewah pun ludes disita. Keluarga itu terpaksa pindah dan menelan kepahitan dicerca banyak pihak.Ayah Dennis tenggelam dalam kesedihannya dan ia perlahan-lahan terjerumus dengan minum-minuman keras dan perjudian. Siapa sangka, kebiasaan baru ayahnya itu justru membawa bencana baru. Ia kalah judi sampai 4 juta rupiah.

Semua hutang-hutang itu dilimpahkan pada Dennis, Dennis yang tidak terbiasa menjalani kehidupan keras mau tak mau harus berupaya melunasi semua hutang-hutang ayahnya. Tapi 4 juta dalam 1 minggu? Rasanya itu mustahil. Mobilnya sudah disita, semua barang-barang mewahnya tak ada yang tersisa. Bahkan handphone yang ada di tangannya saat ini pun bukanlah miliknya. Vincent sudah terlalu banyak membantu Dennis, tapi semua uang yang ia berikan pada Dennis adalah milik orang tuanya, Vincent tidak bisa banyak membantunya lagi sejak kedua orang tuanya sudah mulai curiga. Keluarganya dengan keluarga Dennis memang kurang harmonis sejak peristiwa itu.

Lalu entah dari mana muncullah ide gila dari Vincent….

“Kau lihat cewe itu?” ujar Vincent beberapa hari yang lalu saat mereka pertama kali bertemu Emma, “denger-denger bokapnya pengacara kaya. Dekati saja dia, siapa tahu kalau dia jadi pacarmu dia bisa banyak membantumu.”

Dennis menurut. Mulailah aksinya mendekati Emma. Emma dengan segala kepolosannya rupanya terlalu mudah ditaklukkan. Ia terpikat dengan penampilan, bujuk rayu dan semua omong kosong tentang kekayaan Dennis.

Lalu tak lama kemudian, Ann muncul.

Vincent nyaris tersedak waktu pertama kali melihat Ann dari kejauhan, “Itu temannya Emma? Gila, itu kan anak Presdir papaku!!”

Ia melotot pada Dennis, “Plan B, Dennis! Plan B! Percaya deh, tuh cewe hartanya berkelimpahan! Siapa namanya? Siapa?!”

Namanya adalah Ann.

Dennis berbaring di ranjangnya seorang diri, hatinya tidak bisa tenang, Ann saat ini mungkin sudah tidur berselimut mimpi di kamar sebelahnya. Dennis mendesah panjang, kata-kata Vincent terngiang-ngiang di telinganya dengan jelas.

Kau mau tahu jalan keluar dari masalahmu, Dennis? Gadis itu lah jalan keluarnya. Tidak ada yang tahu seperti apa kondisi keluargamu saat ini, termasuk dia. Kau butuh bantuannya, Dennis. Kenapa susah-susah? Pakai saja akalmu, jadikan dia pacarmu maka dia akan menyelesaikan semua masalahmu. Uang yang ada di brankas papanya jauh melebihi aku ataupun Emma. Ingat Dennis, aku tidak bisa membantumu lagi. Dalam seminggu ini kalau kau gagal mengumpulkan uang 4 juta, nyawamu bisa-bisa melayang!
***
Dennis memarkir mobilnya di depan sebuah rumah mewah bergaya yunani. Rumah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan rumahnya yang dulu. Beberapa mobil mewah terparkir di halaman depannya, mengingatkan Dennis seperti apa kehidupannya dulu. Lalu pandangannya tertuju pada pria setengah baya yang keluar dari pintu rumah sambil mengenakan dasinya. Pria itu melihat mereka dengan pandangan curiga.

Kemudian Dennis melirik Ann, gadis itu kelihatan serba salah. Pasti itu papanya.

Kebetulan….semua rencana Dennis berjalan lebih mulus di luar perkiraannya.

Ann cemas melihat Papa sudah berdiri di depan pintu, mengamati mereka dengan muka galak. Papa memang bukan tipe orang tua yang suka ngomel-ngomel, tapi orang tua macam apa yang tidak cemas melihat anak putrinya tidak pulang semalam,dan pagi-pagi malah diantar seorang cowo?!

Ann menoleh pada Dennis. “Sudah sampai, ini rumahku. Kau mau mampir sebentar?” Aduuh…please jangan mampir, aku cuma basa-basi

“Tidak, lain kali saja.”

“Kalau begitu aku masuk dulu ya.”

“Eh tunggu.” Dennis mencekal tangan Ann, “kita pacaran kan?”

Ann menganguk kecil, “Iya.” Terserah deh….yang penting kau tidak pacaran dengan Emma.

“Kalau gitu….sun dulu donk.” Dennis menyodorkan pipinya.

Ann tercengang tak percaya, mana mungkin ia mau memberi sun pada cowo ini! “Apa-apaan sih? Lain kali aja!” Tidak akan ada lain kali…..

Saat Ann membuka pintu mobilnya, lagi-lagi Dennis mencekal tangannya. Ia menarik Ann mendekat ke arahnya lalu tanpa aba-aba, diciumnya pipi Ann sekilas.

Wajah Ann merona merah dalam sekejap, cepat-cepat ia menghapus sisa-sisa kecupan Dennis di pipinya.

Papa melotot, menyaksikan pemandangan mesra di dalam mobil itu.

“Kau ini apa-apaan!!” Ann mengosok pipinya kuat-kuat. Ia merasa jijik sekaligus kesal.

“Itu artinya kita udah resmi pacaran. Baru pipi aja kok, entar bibir nyusul deh…” Dennis tersenyum geli.

Ann tidak mau berdebat panjang-panjang dengannya, lagipula ia juga tidak mau lama-lama di dalam mobil. Bisa tambah runyam masalahnya. Ia membuka pintu mobil dengan kasar dan langsung meninggalkan Dennis.

Langkahnya tergopoh-gopoh memasuki halaman rumah dan menghadap Papa yang sedari tadi terus berdiri mematung menatap mereka. Tapi apa yang terjadi? Dennis malah menyetir mobilnya ke depan gerbang pintu rumah, ia membuka kaca mobil dan berteriak lantang, “Bye, honey!!!! Nanti aku telepon ya!! Thanks buat semalam!!!”

Mulut Ann menganga, wajahnya pucat pasi menahan malu.

Papa menengok ke arahnya setelah mobil Dennis pergi, alisnya terpaut naik,”Kamu bilang semalam kamu nginap di rumah Priska, tapi kenapa anak laki itu yang mengantarmu pulang? Tadi itu…kenapa dia cium pipi kamu?”

Ann paling tidak bisa berbohong pada orang tuanya apalagi pada Papa yang tegas, tapi kali ini ia mau tak mau harus berbohong, “Aku kemarin memang nginap di rumah Priska, Pa. Priska tidak bisa antar aku pulang, nah kebetulan dia bisa. Jadi…. ya….gitu deh!”

Papa berkacak pinggang, “Lalu ciuman itu?”

“Itu….cuma sun pipi kok.”

“Tadi dia bilang ‘thanks buat semalam’, apa maksudnya?”

“Oh itu..” Ann tersenyum kikuk, “semalam aku traktir Priska makan-makan, dia juga ikut. Cuma itu kok,Pa.”

Papa mendekati wajahnya dan menatap Ann dalam-dalam, keningnya berkerut saat ia tahu putri bungsunya itu sedang berbohong. Tapi Papa tersenyum, “Jangan bohong, Svannie. Papa bisa lihat kok, kamu ini sama dengan kakakmu, paling gak bisa bohong. Nah, sekarang ngaku ama Papa ya….itu tadi pacarmu kan?”

Ann salah tingkah.

“Punya pacar kok gak cerita-cerita?” Papa tertawa lucu, “anak Papa udah gede ternyata….Ya udah, cepet sana masuk. Mama udah siapin sarapan tuh.”

Ann tersenyum lega.

Tapi setelah Ann masuk ke dalam rumah, senyum Papa memudar. Bagaimana mungkin anakku pacaran dengan anak muda berpenampilan urakan seperti itu? Apa benar ia kemarin nginap di rumah Priska?

—————

Dennis memegang stir mobilnya kencang-kencang hingga buku-buku jemarinya memutih. Otaknya bekerja keras menyusun rencana.

Aku harus mempengaruhi Ann sampai Papanya tidak suka Ann bergaul denganku. Aku akan membuat Papanya rela membayarku berapa saja asalkan aku mau menjauhi anaknya. Ya, aku harus tetap menjalankan rencanaku ini!
***

Ann masuk ke dalam kamarnya, ia melempar tasnya ke atas tempat tidur lalu berlari-lari kecil ke kamar mandi.

Ia mengaca, cemberut.

Nasibku memang sial….belum pernah pacaran tapi sekali pacaran malah ama cowo brengsek itu! Kenapa harus dia yang jadi pacar pertamaku?!

Ann teringat jaman-jamannya dia waktu kecil, ia selalu mengimpikan akan menjalin hubungan dengan seorang cowo baik-baik seperti sosok seorang pangeran tampan berkuda putih, pangeran tampan itu akan menjadi pacar pertamanya dan kemudian mereka akan memiliki kisah cinta yang indah. Semua itu diimpi-impikan Ann dengan begitu sempurna seperti cerita-cerita di dalam dongeng.

Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang. Yang menjadi pacar pertamanya justru adalah Dennis, cowo menjengkelkan yang baru dikenalinya selama 3 hari !

Ia tidak akan berbuat seperti itu kalau saja ia tidak ingat dengan Josh, dengan apa yang akan Emma lakukan pada Josh kalau ia sudah mendapatkan Dennis.

Ann tiba-tiba merasa sedikit takut. Takut kalau apa yang ia perbuat bukannya membuat suasana menjadi semakin baik, tapi malah membuat suasana menjadi semakin tidak karuan.

Apakah Emma akan benar-benar melepaskan Dennis?
***
Keesokkan harinya….

Dennis bangun dari tidurnya dengan hati was-was. Ia tahu betul sekarang tanggal berapa, sudah tanggal 10 Februari. Berarti sudah tiba batas waktunya untuk melunasi semua hutang.

Dennis mengamati sekelilingnya, kamar tidurnya yang sempit dan sumpek tanpa jendela, tembok yang kotor dan retak, baju-baju berserakan di sana-sini. Dennis mengeluh panjang meratapi nasibnya. Ia harus segera mencari jalan keluar untuk menyelamatkannya dari situasi ini. Tapi boro-boro ingin keluar dari keterpurukan ini, untuk membayar hutang saja ia terpaksa harus menipu.

GUBRAKK!! Terjadi keributan di luar kamarnya. Dennis segera keluar dari kamar. Hatinya sesak melihat ayahnya pulang ke rumah sambil membawa botol minuman keras, wajahnya merah karena mabuk dan ia bicara tidak menentu. Ibu berusaha membantunya, tapi dengan kasar didorongnya hingga jatuh.

“Jangan mengurusi aku!!! Aku bisa jalan sendiri!!” Ayah melempar botol itu ke dinding, pecah berserakan di lantai mengenai Ibu.

Dennis berlari menolong ibunya. Ibu menangis tanpa suara, menahan sakit hati akibat perlakuan Ayah.

“Ayah, hentikan semua ini!!” teriak Dennis, “berhentilah menyakiti Ibu!”

”Diam, anak tengik! Aku adalah ayahmu! Kau berani membentakku, hah?! Kalau kalian tidak suka, kalian boleh pergi dari sini! Sana pergi!”

Dennis naik pitam, “Lihatlah sekelilingmu, Yah! Kita hidup seperti ini semua gara-gara Ayah! Kalau Ayah tidak berbisnis kotor dan terseret banyak hutang, kita semua tidak akan menderita seperti ini! Belum puas Ayah menghancurkan keluarga ini, Ayah malah berjudi habis-habisan dan terus menyakiti Ibu! Apa Ayah kira yang menderita di sini cuma Ayah saja? Ibu juga menderita! Aku juga!! Lihat hutang-hutang Ayah, aku yang harus menebus semuanya!!! Aku!!! ”

Ibu menangis-nangis sambil menarik putra semata wayangnya itu, “Dennis….sudah,nak…sudah.”

“Biarkan saja, Bu! Aku sudah tidak tahan! Kalau ada orang yang harus pergi dari sini, dialah orangnya!!”

Ayah tertawa lantang, “Kau mau mengusirku pergi? Kalian bisa apa tanpa aku?”

”Justru kami bisa bertahan tanpa Ayah. Baik,kalau Ayah tidak mau pergi. Lihat saja nanti…..kalau aku sudah melunasi semua hutang, aku akan membawa Ibu pergi dari sini!!”

“Anak sepertimu bisa apa? Kau sudah terbiasa hidup enak, kerja keras dikit aja kau tidak bisa!!”

“Aku bisa. Setidaknya aku tidak akan terpuruk seperti Ayah.” Dennis membantu Ibunya berdiri, kemudian menuntunnya masuk ke dalam. “Jangan khawatir, Bu. Aku janji akan segera melunasi hutang-hutang Ayah, aku akan membawa Ibu pergi dari sini.”

————-

Vincent menguyah-nguyah tusuk giginya sambil mengamati Dennis. Wajah sahabatnya itu terlihat pucat, matanya memerah karena kurang tidur, rambutnya kusut dan penampilannya benar-benar berantakan. Kalau ada orang lain yang melihatnya seperti sekarang ini, mereka pasti mengira Dennis hanya berpura-pura. Tapi inilah Dennis yang sesungguhnya. Dia bukan lagi Dennis si anak orang kaya yang bisa terus membanggakan dirinya seperti dulu.

“Kau kelihatan kacau.”

Dennis mengacak rambutnya, kesal. “Sekarang sudah tanggal sepuluh.”

“Ya, aku tahu. Mereka tidak akan melepaskanmu.”

Keduanya terdiam sesaat. Sunyi….

Vincent membuang tusuk giginya, “Jalankan rencanamu, Dennis. Jangan ragu-ragu lagi.Ini kupinjamkan mobilku.”

Dennis mengangguk kecil, diambilnya kunci mobil Vincent.
***

Ann sarapan pagi di meja makan bersama kedua orang tuanya. Papa duduk sambil membaca surat kabar paginya, sedangkan Mama mengolesi roti panggang mereka dengan selai. Ann menanyai kabar Caroline,kakaknya yang kuliah di Amrik, dan Theodore tunangannya. Mama tersenyum menceritakan kisah-kisah lucu yang terjadi sewaktu Caroline mencoba gaun pengantin.

Papa mendelik menatap Ann, “Kamu mau nyusul ya? Masih kecil jangan main tunang-tunangan ya.”

“Idih Papa…” Ann ngeri membayangkan dirinya tunangan dengan Dennis.

“Oh ya….beberapa hari ini kenapa Emma sudah jarang ke rumah?”

“Mungkin dia lagi banyak kerjaan. Sekarang kan lagi musim ulangan, Ma.” hatinya sakit memikirkan pertengkaran mereka tempo hari.

“Kalian bertengkar ya?”

”Tidak!”

“Benar? Mama bisa liat loh. Kamu ini kan paling gak bisa boong.”

Tapi sudah beberapa hari ini aku berbohong…….. “Benar, aku dan Emma baik-baik saja, kan tadi aku sudah bilang sekarang ini lagi musim ulangan, Emma pasti lagi sibuk-sibuknya.”

“Ya sudah kalau begitu. Oh ya, Pa.” Mama menatap Papa, “gimana kuliahnya Svannie? Sudah diurusin semuanya?”

“Sudah beres. Anak kita ini tinggal nyantai-nyantai aja, abis lulus SMU udah bisa langsung kuliah di luar. Kamu pilih Inggris kan? Kenapa tidak mau ke Amrik? Kan ada Caroline di sana. Gak mau ketemu kakakmu?”

“Bukan begitu….tapi kan universitas yang cocok adanya di sana.”

“Kamu yakin mau ambil kedokteran? Gak mau ambil manajemen aja, nerusin usaha Papa?” Papa tertawa renyah, “kasian ya Papa, punya anak yang satu mau jadi pengacara, yang satunya lagi mau jadi dokter. Mana nih yang mau jadi pengusaha?”

“Ya nanti donk, tuh kak Caroline kan udah mau married. Sapa tau kak Theo bisa bantuin Papa nanti.”

Papa baru saja mau menimpalinya kalau saja Bi Sumi tidak datang terburu-buru memanggil Ann, “Non, ada yang dateng cariin tuh.”

“Pasti Priska.” Ann bangkit berdiri dari meja makannya, langsung berlari ke ruang tamu.

“Priskaaaa…..” Ann menari-nari menyambut Priska di ruang tamu, tapi ia tersentak kaget begitu sampai di ruang tamu yang ada di sana bukanlah Priska, “kau? Mau apa?”

Dennis tersenyum manis, “Pergi yuk.”

“Ke mana? Aku tidak mau ke tempat kemarin lagi! Itu bukan tempat buat senang-senang.”

“Aku cuma mau mengajakmu makan-makan. Itu aja kok. Pulangnya sore deh, gak bakalan malem lagi. Janji!”

“Awas kalau pulangnya malam-malam lagi! Ya udah, aku ganti baju dulu.”

————

Tanpa curiga sedikitpun, Ann mau diajak Dennis makan-makan di sebuah restoran sederhana yang suasananya tidak terlalu nyaman. Ann terpaksa pergi kalau Dennis mengajaknya, ia tidak mau Dennis tahu kalau ia mau pacaran dengannya cuma demi Josh. Tapi Ann sendiri pun tidak tahu kalau Dennis memacarinya juga demi sesuatu.

Ann memesan makanan sementara Dennis pergi meninggalkannya sebentar. Mau ke WC katanya.

Tapi Dennis sebenarnya pergi ke pintu belakang restoran itu, keluar menemui seseorang. “Mana bos?”

“Mau ngapain!” orang kurus yang lagi asik main domino dengan seorang temannya itu marah melihat kehadiran Dennis.

“Bilang ama Bos, uangnya belum bisa kukumpulkan.”

“Apa? Cari mati ya?!”

Dennis tetap tenang ,“Tapi aku akan membayarnya karena aku sudah punya aset.”

“Aset apaan lu?!”

“Aku punya teman yang bisa membayar semua hutangku. Tapi beri aku waktu 3 hari lagi, aku jamin aku akan mengembalikan semua hutang ayahku tanpa tersisa sepersen pun! Kalau perlu akan kulunasi beserta bunganya! Bilang itu sama Bos!”

“Eh…eh…tunggu!”

Dennis tidak mengacuhkan panggilannya, ia berjalan masuk ke dalam restoran. Begitu sampai di meja Ann, ia kembali memasang wajah cengengesan, “Udah pesen makanan belum? Restorannya emang rada butut, tapi makanan di sini enak-enak loh! Pesen aja sepuasnya, restoran ini punya Pamanku!”

15 menit kemudian……..

“Eh, aku boleh nanya sesuatu gak?” tanya Dennis sewaktu mereka sedang menyantap pesanan mereka.

“Tanya apa?”

“Josh itu siapa sih?”

“Hah?”

“Waktu kau mabuk kemarin malam kau menyebut-nyebut namanya. Josh….Josh….Wah, mesra banget deh pokoknya. Aku jadi iri.”

Ann tidak ingat ia pernah mengigau nama Josh di depan Dennis, tapi sedikitpun ia tidak mau menceritakan masalahnya pada cowo norak itu, “Josh itu nama temanku. Pacarnya Emma. Pasti waktu itu aku lagi mimpi buruk jadi ngigau yang aneh-aneh. Aku juga mengigau nama Emma kok. Kau tidak dengar ya?”

“Tidak.” Dennis tahu Ann berbohong, “tidak sama sekali.”

“Ya sudah. Aku ini kalau lagi mimpi buruk emang suka ngigau.”

“Kau pernah mimpiin aku gak?”

“Amit-amit deh!”

Dennis terkekeh, “Kau ini kenapa sih? Ama pacar sendiri kok kayak gitu? Eh iya aku baru ingat, Valentine nanti kita mau ngapain ya? Dugem lagi yuk!”

“Aku tidak mau.”

Aku mau valentine yang romantis seperti di film-film, di mana tokoh utama prianya datang di depan rumah sambil membawa bunga. Lalu pergi kencan di tempat yang special, pulang-pulangnya pria itu memberi kekasihnya ciuman pertama. Andaikan saja aku bisa punya valentine seperti itu dengan…. Ann berusaha menepis bayangan Josh yang mengusiknya.Tidak, Josh itu pacar Emma. Aku tidak boleh memikirkan yang bukan-bukan.

“MANA DIA !!! MANA ANAK TENGIK ITU!!!”

Lamunan Ann mengembun pergi saat suara kasar yang lantang itu memecahkan keheningan. Beberapa pengunjung restoran menjerit ketakutan melihat kedatangan segerombolan preman bersenjatakan tongkat besi. Jumlah mereka lebih dari sepuluh orang. Ann terhenyak kaget melihat mereka.

Dennis menahan nafas, keringat dingin mengucur dari keningnya.Tidak……ini di luar rencanaku!

Bos muncul dari balik kerumunan itu, wajahnya menahan marah sambil mengacungkan tongkat besinya ke arah Dennis, “KAU SUDAH BOSAN HIDUP RUPANYA!! “
Dennis melonjak kaget dari kursinya. Ann tercengang ketakutan, ada apa ini?

Gerombolan berandalan itu menendang meja dan mengusir semua pengunjung restoran, para pengunjung berhamburan kalang kabut. Satu persatu lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Hanya tinggal Ann dan Dennis. Pemilik restoran yang notabene adalah paman Dennis juga tidak terlalu berani ikut campur, ia memilih bersembunyi di dalam dapur dan berdoa semoga berandalan-berandalan itu tidak memporak-porandakan restorannya.

Bos menghampiri Dennis dengan wajah geram, dicengkramnya kerah baju Dennis, “Bocah tengik, mana uangnya!!”

Uang? Uang apa? Ann dilanda kebingungan dan ketakutan sekaligus.

“Sudah kubilang, beri aku waktu 3 hari lagi!” jawab Dennis.

“3 hari katamu? 3 hari?!!! KAU MAU MEMPERMAINKAN AKU, HAH!!?”

BUK! Bos meninju wajah Dennis. Ann memekik kaget.

“MATIIN AJA, BOS!!”

”KEROYOK RAME-RAME BIAR MAMPUS!!”

“BERI DIA PELAJARAN, BOS!”

Nafas Bos turun naik sambil terus mencengkram baju Dennis, “Aku sudah bilang waktumu cuma ada seminggu! Kau berani mempermainkan aku?!” Tangannya mengepal di depan wajah Dennis, “MANA UANGNYA!”

“Aku pasti akan membayarmu.”

“SIALAN!” Sebuah pukulan telak menghantam wajah Dennis! Dennis terhunyung mundur dengan darah menetes dari hidungnya. Belum puas melihat Dennis hanya ‘mimisan’ , Bos menariknya dengan kasar dan menendang perutnya. Dennis mengaduh kesakitan sambil memegang perutnya, darah terus menetes dari lubang hidungnya, ia mencoba bangkit berdiri tapi Bos datang lagi dengan pukulan bertubi-tubi yang melayang ke sekujur tubuhnya.

Bos menghajarnya seperti kesetanan, ia menendang, membanting, melampiaskan semua kemarahannya dengan sadis sampai puas. Anak buahnya bersorak-sorak melihat Dennis babak belur.

Beberapa ikut maju menghajar Dennis rame-rame, besi-besi yang ada di tangan mereka dihantam ke Dennis tanpa belas kasihan. Salah satu dari mereka mengambil botol minuman dan melemparkannya ke kepala Dennis. Botol-botol itu pecah berserakan.

“Hentikan!!” Ann menjerit ketakutan, “hentikan, kubilang!!” ia berusaha meraih tangan salah satu dari mereka untuk menolong Dennis. Tapi justru ia yang terdorong.

Ann bangkit berdiri, ia terus berteriak menyuruh mereka berhenti. Tapi suaranya tenggelam dalam keramaian dan aksi keroyokan itu terus berlangsung, Dennis bisa mati di tangan mereka! Lalu entah kenapa Ann memberanikan diri mendorong tubuh besar Bos.

“PERGI KAU PEREMPUAN TENGIK!!” Bos marah besar, ia mencengkram pergelangan tangan Ann dengan kasar, tapi Ann malah menggigitnya, “BANGSAT!!”

Dan sebuah tinju melayang di wajah Ann!

Telak…..

Ann menjerit kesakitan, tubuhnya jatuh lunglai ke bawah.

Sakit sekali…. Ann mengerang kesakitan dengan darah menetes dari sudut bibirnya.

Pandangan matanya mengabur. Suara-suara teriakan terdengar samar-samar…..Kepalanya berat sekali. Wajahnya sakit sekali…Ia merasa lemah.

Apakah aku akan mati………

Lalu ia merasa seseorang meneriaki namanya. Ada perkelahian di sana, ada yang ingin melindunginya.

“ANN!!”
***

Dennis terhenyak melihat Ann roboh dipukul Bos. Nafasnya tercekat, rasa bersalah dan ketakutan menghantui dirinya. Tiba-tiba saja ia tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tendangan itu….pukulan itu….pecahan beling yang bersarang di kepalanya….besi-besi yang menghantam sekujur tubuhnya….Dennis merasa beku, tidak sakit, seolah-olah pandangannya menghitam dan hanya ada Ann di depannya. Gadis itu dalam bahaya.

Kemarahannya pun bangkit.

Dengan seluruh sisa kekuatannya, Dennis bangun dan menerjang orang-orang yang sedang menghajarnya. Dengan cepat ia balas menghajar mereka satu persatu. Pembalasan!

“AKAN KUHAJAR KALIAN SEMUA!!!” entah dari mana kekuatan itu muncul, Dennis tidak peduli, ia membantai mereka satu-persatu tanpa pandang bulu.Kemarahannya benar-benar memuncak! Ia menyerang mereka dengan brutal.

Bos tertegun menyaksikan semua itu, ia melihat banyak anak buahnya yang berjatuhan.

“BERHENTI!!!! KUBILANG BERHENTI!!!” teriak Bos tiba-tiba.

Perkelahian itu berhenti mendadak. Mereka menatap Bos dengan kemarahan yang tertahan, mereka tak mengerti mengapa harus berhenti.

Nafas Dennis terengah-engah. Akan kubunuh kalian semua!

Ann menatap mereka dengan pandangan kabur. Sunyi senyap mengisi ruangan itu beberapa saat hingga ia berhasil mengumpulkan kembali semua kesadarannya. Ditatapnya Dennis dengan wajah memar.

Bos tiba-tiba menoleh ke tempat Ann. Cowo kurus kering yang tadi ditemui Dennis di luar restoran cepat-cepat menghampiri Bos dan membisikinya sesuatu. Bos mengangguk kecil, kemudian melempar pandangannya pada Ann. Ia mengerti sekarang. Aset……gadis inikah aset yang dimaksud Dennis?

Ia menghampiri Ann dengan wajah geram, “Kau tahu kenapa bangsat itu kuhajar?”

Ann mengernyit ketakutan.

“Dia hutang padaku 4 juta!”

Em…empat juta?? Ann melirik Dennis tak mengerti.

Besi dingin yang dipegangnya menempel di pipi Ann, “Baik, aku akan melepaskannya lagi kali ini. Tapi ini yang terakhir. Kalau uang itu masih belum sampai di tanganku, temanmu itu akan kubuat lebih mampus daripada sekarang! “

Ia mengacungkan tangannya ke Dennis, “Kau juga ingat baik-baik, bocah tengik, ini yang terakhir! Aku tidak peduli apa caramu untuk melunasiku, tapi kalau kau tidak bisa melunasinya……kau tahu sendiri, aku tidak akan segan-segan mengirimmu ke neraka!”

Dennis tidak peduli. Ia berani beradu pandang dengan Bos, menantangnya tanpa keraguan sedikitpun.

“Ayo pergi.”

“Tapi, Bos…”

“AYO PERGI!!”

Mereka geram, tapi terpaksa menuruti perkataan Bos. Satu persatu berjalan lunglai meninggalkan tempat itu.

Dennis menghampiri tempat Ann. Ann menatapnya dengan nafas tertahan, cowok itu babak belur.

Dennis segera berlutut, mengangkat kepala Ann dan tersenyum lemah padanya, “Lain kali jangan coba-coba menolongku. Dasar bodoh.”
***

“Kau mau tahu ceritaku yang sebenarnya? Inilah aku. Aku bukan Dennis si anak orang kaya. Aku tidak punya mobil, ayahku bukan pengusaha kaya dan ibuku tidak berpergian ke luar negri. Itu dulu. Dulu sekali. Sekarang keluargaku hidup melarat, kami hidup terkatung-katung dengan jumlah hutang yang tidak sedikit. Keluargaku sudah hancur, Ann.”

Ann menatapnya tak mengerti. Ada kesedihan yang dalam dari suara Dennis.

Dennis meraih tangan Ann, mengenggamnya erat-erat saat ia melihat gadis itu tercengang kaget melihat ‘rumah’ barunya. Oh tidak, lebih tepatnya lagi ‘gubuk’ barunya. Dennis bahkan tidak yakin apa tempat seburuk itu pantas disebut rumah.

Tapi entah kenapa ia ingin menunjukkannya pada Ann.

“Ayo,” Dennis membawanya masuk.

Ann tak bersuara saat memasuki rumah sempit itu. Beberapa perabotan bekas yang tampaknya sudah tidak layak pakai berserakan di mana-mana, lantainya kotor dan berdebu, tapi bukan itu yang membuat Ann bergidik ngeri. Ia ngeri melihat beberapa pecahan kaca di dekat pintu rumah akibat pertengkaran tadi pagi. Ann tidak terlalu membanggakan kondisi keluarganya yang serba mewah, tapi sungguh ia menganggap tempat tinggal ini benar-benar tidak layak dihuni. Ia tidak menyangka kebangkrutan ayah Dennis sudah sampai separah ini.

“Ibuku mungkin sedang tidur. Kesehatannya akhir-akhir ini menurun drastis. Semua kejadian ini terlalu memukulnya. Belum lagi sifat ayahku yang semakin tidak karuan, aku sering memergoki ayahku memarahi dan memperlakukan ibuku dengan kasar,” Dennis mengintip ke balik sebuah pintu reyot yang jendelanya ditutupi kain tipis. Ia tersenyum lemah melihat sosok ibunya yang memang tengah tertidur di dalam. Suaranya serak,”aku sudah janji padanya, setelah semua urusan ayahku kuselesaikan, aku akan membawa ibuku keluar dari tempat busuk ini! Dari ayahku terutama….”

Ann mengamatinya dengan perasaan tak enak. Tapi apa yang bisa ia katakan? Perkelahian di restoran tadi saja sudah hampir membuatnya mati ketakutan, dan kenyataan ini juga tak kalah menakutkannya. Ia samasekali tidak menyangka Dennis selama ini tidak seperti yang orang-orang kagumi. Tiba-tiba ia teringat dengan Emma, dengan betapa tergiurnya Emma saat mendengar cerita-cerita tentang kekayaan Dennis.

Tapi Ann juga tidak bisa menertawainya. Bukankah ini semua di luar kemauan Dennis?

Ann kaget tau-tau Dennis sudah berdiri lagi di depannya, “Wajahmu tidak apa-apa?”

Ann menggeleng, senyumnya benar-benar terpaksa. “Tidak apa-apa.” Pipiku seperti mati rasa………

Dennis mengamati lebam merah yang bersarang di sudut kiri bibir Ann akibat pukulan Bos, ia mendesah kecil,”Tunggu di sini, aku akan ambilkan obat.”

“Eh, tidak usah.”

Dennis tertegun.

“Lebih baik kau urusi dirimu sendiri. Lihat, kau sampai babak belur begini.” tiba-tiba Ann tertawa, “tampangmu benar-benar tidak karuan.”

Dennis tanpa sadar ikut tertawa.

Ann sekarang tahu semuanya, mobil dan semua barang mewah yang digunakan Dennis saat ini adalah milik Vincent. Ia samasekali tidak mengeluh, ia menduga semua itu dilakukan Dennis karena ia ingin tetap terlihat seperti anak orang kaya. Ann juga tahu kalau Dennis bukan tinggal di istana mewah seperti apa yang diceritakan banyak orang, keadaan memaksanya tinggal di tempat sempit ini. Lalu Ann kini juga tahu tentang keluarganya, tentang ibunya yang sedang sakit-sakitan dan tentang ayahnya yang berubah total menjadi pemabuk dan pemarah, juga tentang Dennis yang ingin segera membawa ibunya keluar dari tempat ini.

Tapi tetap saja ada satu hal yang tidak diketahui Ann.

Dennis masih menyimpannya dalam-dalam.
***

Pukul 18.30 Dennis mengantar Ann pulang. Bukan dengan mobil pinjamannya, tapi dengan bus.

Saat itu bus ber-AC yang ditumpangi mereka sepi. Hanya ada beberapa bangku yang diisi penumpang, selebihnya kosong.

Dennis menghela nafas dan membuang pandangannya keluar jendela.Rintik-rintik hujan di luar membasahi kaca jendela bus dan mengaburkan pandangannya. Dennis tetap mencoba menatap menembus kaca, tapi perasaannya membuat dia ingin menoleh ke samping, ke arah Ann.

Ia baru sadar ternyata gadis itu tengah tertidur. Sama persis seperti malam di mana ia tertidur dalam keadaan mabuk.

Tapi wajah itu begitu lelah……..

Dennis terpaku dalam keheningan yang damai, mengamati Ann yang terlelap seperti sesosok malaikat kecil tanpa sayap. Mungkin sayap itu kasat mata, atau mungkin Dennis tidak sadar ia telah melihatnya. Dennis tersenyum pahit, mampukah ia melukai malaikat ini?

Ia telah menyusun rencananya satu persatu dengan begitu rapi, dengan harapan pasti bahwa rencananya itu akan berjalan dengan mulus. Tapi apa yang terjadi pada mereka siang ini sama sekali tidak termasuk dalam salah satu rencananya. Sedikitpun ia tidak ingin ada yang menyakiti Ann, apalagi sampai memukulinya. Tapi bukankah ia sendiri saat ini tengah ‘memukulinya’ dengan satu rencana kotor?

Dennis membisu. Hatinya dilanda keraguan yang besar. Ia trenyuh melihat Ann yang mencoba melawan orang-orang yang mengeroyoknya tadi siang.

Ia mencoba menolongku tadi….padahal ia tidak tahu akulah orang yang akan mencelakainya.

Dennis menoleh saat tubuh Ann bergerak sedikit, gadis itu bersandar kelelahan di tempat duduknya yang berlobang-lobang. Dennis merasa iba, diraihnya kepala Ann pelan-pelan agar tidak membangunkan gadis itu, lalu disandarkannya di bahunya. Lengan Dennis yang penuh luka bergerak perlahan, gemetar, ingin rasanya ia merangkul Ann. Tapi ia mengurung niatnya, ia takut akan membangunkan Ann……..

Tapi terlebih-lebih lagi ia takut gadis itu akan menolaknya.

Saat Ann tertidur di bahunya, Dennis merasa dunianya berubah. Ada yang menyentuh hatinya meski ia terus menyangkal. Perasaan itu berkecamuk di dalam hati kecilnya, ia ingin melindungi gadis itu….ingin memberikan sesuatu yang mungkin sampai kapanpun juga tidak akan bisa diberinya….ia ingin membawanya terbang tinggi dengan sayap-sayapnya yang masih rapuh. Dan dari dalam lubuk hatinya ia ingin gadis itu suatu hari akan tersenyum untuknya. Hanya untuknya……

Dan tiba-tiba saja Dennis merasa takut akan kehilangan Ann.

Saat itu Dennis sadar, ia sudah jatuh cinta padanya. Pada malaikatnya yang sedang tertidur…..

Aku ingin menjadi seseorang yang berarti bagimu. Aku ingin menjadi bagian dari tawamu, dari mimpi-mimpimu. Aku tahu kau tidak akan pernah memimpikanku. Mungkin tidak hari ini, mungkin juga tidak untuk selamanya. Tapi aku akan berdoa semoga aku bisa selalu memberimu mimpi yang terindah, dan kuharap suatu hari nanti….ya,suatu hari nanti, kuharap kau akan memimpikanku……Dear Love.

Last night I watched you sleep as you lay there
I dropped down to my knees and said a prayer
I leaned over softly to kiss your beautiful face
But I could not cross the ocean of your grace
The moonlight held you a lot a picture of peace
The only song was the soft breeze from the east
My heart beat down in my chest
To the rhythm of your gentle breath
And the whole world calmed down
For this moment of rest

Now I ‘m standing above you,
trying so hard not to tell you I love you.
And all that I want in this world is you.
If you’d only wake up,
You’d know it was true…..

Oh baby ‘I love you’ can be so hard to say
Especially when it’s meant in this strong a way
But at this moment while you lie asleep
I am suddenly free
And my trembling arms reach out for you
As if you could see….

Now I’m standing above you
trying so hard not to tell you I love you,
And all that I want in this world is you
If you’d only wake up you’d know it was true

If you’d only wake up,
you’d know it was true………
***

“Bawa ini.” Ann mengeluarkan payung lipat dari dalam tasnya. Payung lipat berwarna biru langit kesayangannya, payung yang diberikan Josh padanya, “sebenrar lagi pasti hujan deras.”

Dennis mengambilnya.

Kemudian mereka saling bertatapan dalam keheningan, sama-sama membisu. Dennis ingin membuka mulutnya, mengucapkan apa yang ada di hatinya saat ini, tapi bibirnya malah terkatup rapat.

“Ya sudah kalau begitu,” Ann menekan bel di gerbang rumahnya, “aku masuk dulu ya. Sampai ketemu lagi besok.”

“Uhm…Ann..”

“Hm?”

Dennis menimbang-nimbang, ragu. “Tidak apa-apa. Sampai ketemu lagi besok.”

Ia tersenyum tak berdaya melihat Ann meninggalkannya masuk ke dalam rumah.

————–

Ann pulang ke rumah diam-diam, ia menyembunyikan wajahnya, terutama pada memar di sudut bibirnya. Kalau ada yang menanyakannya, ia berdalih kalau tadi dia tidak hati-hati jatuh di tangga dan membentur tiang.

Tapi Papa toh tetap bisa melihatnya. Papa menahan rasa cemasnya di dalam hati. Ia melihat jelas dengan siapa Ann pulang malam-malam begini, lagi-lagi dengan anak berandalan itu. Dan keadaan anak itu juga tidak kalah buruknya, bahkan lebih parah dibandingkan Ann. Orang paling tolol sekalipun pasti tahu kalau luka-luka itu diakibatkan dari perkelahian. Tapi pertanyaan yang berkecamuk di benak Papa adalah apakah putrinya juga terseret dalam perkelahian itu? Kenapa putrinya sekarang bergaul dengan berandalan itu? Kenapa sejak saat Ann tidak pulang semalaman, sekejap saja ia sudah menjelma menjadi sosok yang lain yang seolah-olah menyimpan sejuta rahasia?

Dan tiba-tiba saja Papa dilanda ketakutan. Ia tidak ingin Ann bergaul lagi dengan anak berandalan itu.
Keesokkan harinya di sekolah…

Emma meninggalkan ruangan OSIS dengan malas-malasan. Ia mengambil HP mungilnya dari dalam tas, mengamati puluhan delivery report yang masih berstatus pending sejak kemarin. Emma tidak percaya orang seperti Dennis tidak mengaktifkan HP selama seharian penuh. Lalu ia menekan nomor Dennis, segera memasang kuping baik-baik menanti suara jawaban Dennis. Tapi malah masuk mailbox.

Emma kesal bukan main. Ditendangnya sampah botol minuman yang tergeletak di depan sepatunya.

Lalu samar-samar ia mendengar suara canda tawa dari seberang sana. Suara tawa yang tidak asing baginya. Emma menoleh, ia melihat Ann bersama Ria dan Priska sedang asik bercanda di kelas mereka yang kosong. Emma agak terkejut melihat lebam merah di pipi kiri Ann. Diam-diam hati kecilnya tergerak untuk sekedar mencari tahu apa yang terjadi pada Ann sampai memar begitu. Tapi gengsinya kembali menguap-nguap, mengalahkan seluruh perasaannya.

Buat apa!! Dia mau jungkir balik kek, itu bukan urusanku!

Emma tersenyum pahit pada dirinya sendiri, aku tidak mau peduli lagi sama dia! Memang lebih baik begini, siapa suruh waktu itu dia nyolot!

“Emma.” Josh datang sambil membawa 2 helm motor, ia menyodorkan helm itu pada Emma, “Pulang yuk.”

“Yuk.”

Emma segera menarik Josh pergi dari situ, daripada nanti Josh melihat Ann dan malah memanggilnya ke tempat mereka. Josh tidak perlu tahu tentang masalah antara mereka berdua, Emma yakin betul Josh bisa kalang kabut kalau sampai ia tahu. Lagipula Emma tidak mau Josh tahu apa-apa tentang Dennis si gebetan barunya.

“Eh, ke kantin dulu yuk. Aku mau beli minum sebentar.”

Emma menyamperi salah satu stand di kantin sekolah dan membeli satu gelas air mineral dingin. Ia mengambil sedotan dari ujung meja, lalu tiba-tiba saja Josh datang terbirit-birit padanya.

“Hey, cowonya Ann dateng tuh!” seru Josh sambil tertawa.

“Apa??”

“Itu tuh…” Josh menunjuk ke depan tempat parkir motor, di situ berdiri seorang cowo yang tidak asing lagi bagi Emma.

Emma nyaris memuntahkan minumannya. Tersedak kaget melihat Dennis ada di sekolahannya sekarang. Ia senang karena menyangka Dennis datang kemari khusus untuk bertemu dengannya. Aih…senangnya….

Tapi kemudian kata-kata Josh tadi membuatnya kaku.

“Siapa tadi kau bilang? Pacar Ann?”

“Iya, waktu itu dia juga pernah datang ke sini buat ketemu Ann. Aku sempat ngintip bentar tuh, kayaknya dia mesra banget sama Ann. Terus abis itu Ann pergi sama dia. Aku tidak pernah tahu kalau Ann ternyata sudah punya pacar, kenapa dia tidak pernah cerita padaku?”

“Tidak, itu bukan pacar Ann.”

Tapi……tunggu sebentar………..

Emma tercekat saat melihat Ann tiba-tiba muncul di tempat itu. Ann memang tidak menyadari keberadaan Emma maupun Josh, tapi Emma bisa melihat dengan jelas dengan mata kepalanya sendiri saat Ann menghampiri Dennis. Raut wajah Dennis kelihatan bebeda, ia langsung tersenyum dan mengucapkan sesuatu pada Ann. Ann hanya mengangguk kecil, lalu mereka pergi. Bersama-sama……dan Dennis menggandeng tangan Ann…….

“Tuh kan…..itu memang pacarnya Ann. Wah….Ann harus diomelin nih, masak pacaran gak cerita-cerita?” Josh tertawa.

“………”

“Apa mungkin dia malu? Tapi pacarnya lumayan kok.”

“Josh, kita pulang yuk. Sekarang juga.”

Emma menyambar tasnya pergi dari tempat itu secepat mungkin, ia tidak mengacuhkan Josh yang memanggilnya dengan nada kebingungan.

Ia ingin segera pulang…..menghapus semua peristiwa tadi yang terekam dalam otaknya…ia ingin mencuci otaknya kalau perlu….ia ingin berteriak…ingin menjerit…ingin berlari mengejar mereka….ia ingin marah….

Ann, kenapa kau tega berbuat ini padaku ?!
***

Saat pertama kali melihat Dennis berdiri seorang diri menunggunya, Ann sempat tersenyum dalam hati. Ia sekuat tenaga menahan tawa sewaktu berhadapan muka dengan Dennis. Dennis, si manusia tindikan itu, secara ajaib sudah melepaskan semua atribut di wajahnya. Meskipun wajahnya sudah babak-belur sana-sini akibat perkelahian kemarin, tapi tindikan di wajahnya sudah ditanggalkan semua. Ia kelihatan lebih bersih, lebih fresh, lebih ganteng.

Ia kelihatan berbeda……….

“Kenapa senyum-senyum terus dari tadi?” tanya Dennis saat mereka berjalan keluar dari sekolah.

“Ta…tampangmu itu….HAHAHAHAHA” Ann tertawa lepas, “tindikannya dicopotin semua?”

“Kau sendiri yang bilang, kalau aku mau jadi pacarmu aku harus lepasin semuanya.”

“Kapan aku bilang begitu ??”

“Ada, waktu kau lagi mabuk. Mungkin kau sudah lupa ya?”

“Tapi begini memang jauh lebih baik. Kau kelihatan lebih rapi.”

“Tambah ganteng gak?”

Senyum Ann memudar, “Bisa gak, jangan ke-GR-an?” Ann tidak pernah mengerti kenapa banyak cewe, terutama Emma, tergila-gila pada Dennis. Padahal menurutnya Josh jauh lebih keren.

“Oh iya, ini payungmu.”

Ann membelalak tak percaya melihat payung yang disodorkan Dennis padanya. Itu bukan payung butut biru langit pemberian Josh! Payung lipat yang disodorkan Dennis berwarna merah, dan masih baru.

“Ini bukan payungku! Payungku warna biru langit.”

“Maksudmu payung butut itu? Aku sudah membuangnya. Ini kugantikan dengan yang baru, lebih bagus.”

”A…apa? Kau buang? Payungku kau buang?!” Ann panik, “itu payung kesayanganku! Itu payung yang sangat berarti bagiku, aku selalu menyimpannya meskipun sudah rusak!”

“Itu kan cuma payung yang sudah kuno…”

Ann tidak bereaksi, perutnya melilit membayangkan payung pemberian Josh sudah bergabung dengan sampah-sampah lain di tempat pembuangan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Kenapa kemarin aku harus meminjamkan payung itu padanya !? Tiba-tiba saja Ann merasa menyesal.

“Baiklah….baiklah….aku salah, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau payung butut itu, maksudku payung unik itu, ternyata sangat berarti bagimu. Aku benar-benar tidak tahu. Ini aku gantikan dengan yang baru. Aku mohon jangan marah lagi.”

Ann tetap tidak bereaksi. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Sebagian hatinya jengkel setengah mati pada Dennis, sebagian lagi sedih karena kehilangan barang pemberian Josh. Ia tidak bergeming meskipun Dennis terus membujuknya dengan kata-kata manis.

Hingga akhirnya Dennis mau berjanji, “Baik, gini aja deh…aku janji pulang nanti aku akan mengobrak-abrik tempat sampah untuk mencari payung itu. Kalau perlu aku akan mengendus-ngendus ke semua tempat pembuangan sampah untuk mencarinya.” Dennis menggerak-gerakkan lubang hidungnya, lucu. “Aku pasti akan menemukan payungmu. Nanti kukembalikan.”

“Kau harus menemukannya, apapun caranya aku tidak peduli.”

“Iya…aku janji.”

Akhirnya setelah dipaksa, Ann mau juga tersenyum cemberut. Dennis lega.

Ia menggengam erat tangan Ann sambil tersenyum, “Jangan marah lagi ya, aku mau membawamu ke suatu tempat. Kau pasti akan suka.”
***

Ann susah payah memanjat tembok tinggi pembatas yang memisahkan taman itu dengan tanah kosong tempatnya berpijak. Ia tidak mengerti kenapa Dennis bersikeras mau mengajaknya masuk ke dalam. Ini namanya bukan masuk, tapi menerobos. Taman itu sudah ditutup sejak pertengahan bulan lalu, Ann sendiri tidak pernah datang ke sini sewaktu masih dibuka, ia juga tidak tahu kenapa harus ditutup. Sejak taman itu ditutup, tidak ada seorang pun yang diperkenankan masuk dan tidak ada seorang pun yang mau merawatnya.

Buukk….Ann mendarat tidak terlalu mulus di atas dedaunan kering. Ia bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk bajunya yang kotor. Beberapa saat kemudian Dennis sudah menyusulnya. Ia melompat santai di depan Ann sambil tertawa.

“Kenapa kita harus masuk ke sini? Tempat ini kan sudah ditutup!”

“Aku tahu, tapi aku akan membawamu keliling.”

“Kau ini……kenapa sih selalu membawaku ke tempat yang aneh-aneh? Pertama ke diskotik, lalu ke restoran sarang mafia itu, sekarang malah ke sini! Tolong bawa aku ke tempat yang normal sekali-kali!”

“Tapi tempat ini bagus, yaaa….dulunya sih.” Dennis menatap sekelilingnya, “tapi aku jamin kau pasti akan suka. Ayo, aku akan membawamu melihat-lihat.”

Dennis meraih tangannya dan mulai membawanya menelusuri taman kosong itu.

Keadaan taman ini tidak terlalu bagus, juga tidak terlalu jelek. Mungkin karena sudah tidak terawat lagi maka taman itu jadi berkesan semerawut. Tapi pohon-pohon rindang masih menaungi sekeliling taman, kokoh tak tergoyahkan seakan-akan mereka akan selalu hidup untuk mengisi kekosongan tempat itu. Cahaya matahari sore menembus pepohonan, samar-samar menampakkan rona merahnya yang indah.

Ann mengamati beberapa bangku kayu yang kondisinya sudah benar-benar tidak terurus, tertutup ranting dan dedaunan kering. Tapi Ann sempat tersenyum saat melihat ukiran-ukiran yang pernah digoreskan beberapa pasangan yang kasmaran saat mereka duduk di bangku itu dulu.

Tiba-tiba saja Ann merasa damai. Dihirupnya udara sejuk dalam-dalam, dinikmatinya suara kicauan-kicauan burung yang merdu bak nyanyian sore abadi.

“Aku sering sekali ke taman ini waktu kecil, biasanya aku hanya sekedar duduk-duduk saja sambil melamun. Di sana ada danau, kalau sore-sore pasti indah sekali. Aku tidak pernah menyadari betapa indahnya tempat ini sebelum tempat ini ditutup, heran ya.” Dennis membawanya ke depan danau yang kondisinya tidak terlalu baik. Tapi suasananya begitu damai.

“Kau tahu? Dulu orang-orang bilang kalau kita melempar koin ke danau ini dan meminta permohonan apa saja, pasti akan terkabulkan.”

Ann menoleh padanya, “Dan kau percaya?”

“Tidak.”

Keduanya membisu, tenggelam dalam lamunan masing-masing.

“Bagaimana kalau kita coba saja?” cetus Dennis tiba-tiba, ia jongkok ke bawah dan mengambil 2 batu kerikil kecil untuk mereka, “tidak ada koin, batu pun jadi. Ayo, mintalah apa saja, tidak ada salahnya kan?”

Ann tersenyum-senyum sendiri mengambil kerikil itu. Ia menimbang-nimbang apa permintaannya.

Hoop! Tanpa aba-aba Dennis melempar kerikil itu jauh-jauh hingga tercemplung ke dalam air danau. Ia tersenyum.

Aku ingin dia mengetahui perasaanku…

Sedetik kemudian Ann menyusul.

“Apa permintaanmu?” tanya Dennis ragu.

Ann tersenyum misterius, “Rahasia. Siapa tahu nanti kalau aku beritahu jadi tidak bisa terkabulkan lagi.” Lagi-lagi ia tersenyum, Aku ingin semua masalahku dengan Emma selesai, aku ingin Josh selalu bahagia, aku ingin segera lulus sekolah dan kuliah di luar.

“Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?”

“Perjanjian apa?” Ann menatapnya heran.

“Tempat ini akan menjadi tempat pertemuan kita setiap kali kita saling merindukan. Kalau kau merindukanku, datanglah ke tempat ini. Dan kalau ternyata kita bertemu di sini, berarti ternyata hati kita memang sedang saling merindukan.”

“Baik.” tapi Ann ragu apa ia akan pernah merindukan cowo itu.
Tak lama kemudian Dennis menoleh padanya, “Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. “ Dennis tiba-tiba berlari kecil meninggalkannya, kemudian menghilang sebentar.

Ann menunggunya dengan sabar meskipun ia lebih senang kalau tidak sendirian di tempat sepi ini. Diamatinya riak-riak air danau yang tenang hampir tidak bergerak, kemudian mendongak menatap gumpalan awan kemerahan yang menutupi langit sore. Angin sepoi-sepoi menerpa memainkan rambutnya. Ia tersenyum penuh arti, berharap bisa selalu menikmati sore seperti ini.

Lalu ia mendengar derap langkah kaki, ia menoleh dan melihat Dennis kembali padanya sambil membawa setangkai mawar merah liar yang hampir layu. Ann benar-benar tidak menyangka, tapi ia senang. Tanpa sadar ia tersenyum melihat bunga itu.

Dennis mendekati Ann sambil membawa mawar itu padanya.

“Sudah hampir layu, tapi tadi aku sudah menelusuri seisi taman ini dan ternyata bunga inilah satu-satunya yang masih hidup. Kuharap kau mau menerimanya.”

Ann menutup bibirnya dengan tangan, setengah mati menahan senyum.

“Aku tahu aku memang bukan pacar yang baik, juga bukan yang seperti kau idam-idamkan. Tapi aku sungguh beruntung bisa bersama denganmu saat ini.” aku memang si tolol yang beruntung………sangat beruntung…..

“Kau ini kenapa sih?” Ann terkikik, berusaha sekuat tenaga agar tidak tersenyum terlalu banyak. Mulutnya ditutup lagi sebelum tawanya nanti meledak.

“Kejadian kemarin membuatku sadar sebenarnya kau ini sangat berarti bagiku. Aku tahu mungkin kau tidak merasakan yang sama padaku. Mungkin sekarang kau ada di sini bersamaku tapi hatimu sedang bersama yang lain. Aku benar-benar menyesal sudah menyeretmu ke dalam banyak masalah, maafkan aku untuk semuanya tapi aku tidak pernah bermaksud membuatmu terluka. Aku ingin selalu menjagamu..”

Ann membisu diam. Ia baru sadar Dennis ternyata serius. Entah mengapa tiba-tiba saja saat ia bertatapan mata dengan Dennis, ia baru menyadari hal-hal kecil dari cowo itu yang selama ini yang tidak ia perhatikan, sepasang matanya yang teduh, lekuk wajahnya yang sempurna, hidungnya yang mancung, rambut berantakannya yang tidak terurus….

“Svannie Celestine, bolehkah aku selalu bersamamu?”

Ia menyerahkan mawar itu pada Ann, meski ragu tapi Ann mau menerimanya. Meskipun sudah hampir layu tapi Ann terharu, ia belum pernah diberi mawar oleh siapapun. Ia lebih terharu lagi karena Dennis sampai menjelajahi seisi taman ini hanya untuk mencarikannya satu-satunya mawar yang masih hidup.

Saat itu tiba-tiba saja Ann melupakan semua masalahnya, lenyap tak berbekas meski hanya untuk sementara. Ia lupa masalahnya dengan Emma, ia lupa traumanya akan perkelahian kemarin, ia lupa tentang payung pemberian Josh yang dihilangkan Dennis, ia lupa dengan betapa menyebalkannya Dennis itu. Yang menari-nari di pikirannya hanyalah detik ini, saat ia meresapi semua keheningan milik mereka.

Entah kenapa Ann merasa ada yang lain di dadanya, ia tidak mengerti mengapa jantungnya berdegup kencang saat ini. Kemudian ia tersenyum.

Saat itulah saat yang tidak akan dilupakan Dennis. Ann tersenyum padanya untuk pertama kali. Hanya untuknya.
***

Dennis mengantar Ann pulang sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Ann menekan bel dan menunggu pembantu rumahnya datang membukakan pintu.

“Payungmu pasti akan kutemukan. Nanti besok kukembalikan, kalau perlu malam ini juga.”

Meskipun Ann masih merasa sayang pada payung pemberian Josh, tapi dalam hati ia sebenarnya tidak terlalu memusingkan masalah itu lagi.

Ann berdiri salah tingkah di depan Dennis, tidak tahu harus bersikap bagaimana padanya. Sejak ia tahu isi hati Dennis, ia jadi merasa serba salah, tidak enak, tidak nyaman, tidak tenang….Ia terus bertanya-tanya kenapa Dennis bisa jatuh cinta padanya? Bukankah selama ini baik dia maupun Ann terkesan hanya main-main? Bukankah tujuan utama Ann pacaran dengannya semata-mata hanya untuk melindungi Josh dari kekejaman Emma? Kenapa semuanya jadi kacau begini? pikir Ann.

Tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri . Sebenarnya tanpa ia sadari, ia mulai merasa senang berada di dekat Dennis. Cepat-cepat Ann menyangkal perasaannya itu karena bayangan Josh masih tetap menari-nari dalam pikirannya. Selama masih ada Josh di hatinya, ia akan sulit menerima cinta yang baru dari siapapun juga.

“Oh iya….tentang hutang 4 jutamu itu….aku akan meminjamkan uangku untuk sementara.”

Dennis tertegun sejenak, “Tidak usah, aku bisa mencari jalan keluar lain.”

“Aku bukannya bermaksud menyinggungmu, tapi kalau besok kau tidak bisa melunasi hutang ayahmu itu, orang-orang itu tidak akan melepaskanmu. Mereka mungkin akan bertindak lebih jauh lagi padamu. Mereka itu mengerikan sekali. Orang kasar itu bilang padaku…..”

“Ann!”

Ann tersentak.

“Sudah kubilang, aku akan mencari jalan keluar lain. Aku akan baik-baik saja, janji.”

“Tapi….bagaimana caranya?”

Dennis mendengar langkah kaki pembantu rumah Ann yang tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk Ann. Dennis lalu mengangguk sambil tersenyum padanya, “Kau tidak perlu khawatir tentang masalahku. Masuklah ke dalam, sampai jumpa lagi besok.”

“Tapi Dennis….” Ann tidak berdaya melihat kepergian Dennis dari tempatnya.
***

Dennis memasuki rumah kumuhnya dengan perasaan tidak enak, perasaannya mengatakan ada yang baru saja terjadi di situ. Sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia terkejut melihat Vincent sudah berada di dalam rumahnya, sedang menanti kepulangannya. Lalu ada Ayah yang duduk di sana sambil terus tersenyum-senyum memegang secarik kertas.

“Ada apa ini?”

Vincent bangkit berdiri begitu melihatnya datang, ia tertawa-tawa girang, “Lihat apa yang baru saja didapat ayahmu. Kau bebas, Dennis! Kalian sekeluarga sudah bebas dari preman-preman itu!”

“Apa maksudmu?”

Ayah mengacung-ngacungkan kertas di tangannya, “Kita baru saja mendapat cek!”

“Cek? Cek apa?!” sedikitpun Dennis tidak merasa tenang, ada yang tidak beres di sini! Ia merebut cek itu dari tangan Ayahnya. Sebuah blank check, cek kosong yang bebas diisi dengan berapapun jumlah yang mereka inginkan. Tangannya bergetar saat ia melihat tanda tangan si pemberi cek, dan namanya.

Dennis terperangah, sekujur tubuhnya gemetar menahan marah.

“Bagaimana Ayah bisa mendapat cek ini!!” teriaknya selantang mungkin.

Vincent menghampirinya sambil tersenyum, “Waktu kau pergi tadi, Papa-nya Ann datang ke sini. Gak nyangka, ternyata dari kemarin dia sudah menyuruh orang-orangnya membuntutimu. “

Ayah Dennis melanjutkan, “Aku benar-benar tidak mengerti apa maunya si konglomerat itu, tapi dia terus menanyakan tentangmu.”

“Rencanamu berhasil,” Vincent berbisik tepat di telinga Dennis, “papanya Ann ketakutan setengah mati melihat putrinya dirusak olehmu! Dia membujuk ayahmu untuk coba bicara padamu , supaya kau mau sedikit memperlakukan putrinya dengan baik dan jangan sampai terjadi sesuatu padanya. Tapi ayahmu itu ternyata selicik kau..”

Dennis langsung reflek mendorong tubuh kerempeng Vincent dengan kasar hingga ia terhunyung hingga jatuh. Vincent termangu tak mengerti, dilihatnya Dennis menghampiri ayahnya sendiri dengan wajah marah.

“Apa yang Ayah bilang pada orang itu!! Apa?!” bentak Dennis tak sabar.

Ayah malah tertawa lagi, “Orang itu menyuruh aku bicara baik-baik padamu, agar kau mau menjaga putrinya. Cih! Memangnya aku ini apa? Aku tidak mau mengurusi kisah cintamu, tidak akan! Lalu kubohongi dia, aku membanggakan kau di depannya. Kuceritakan semua tentang masa lalumu, tentang semua teman-teman wanitamu yang kau campakkan satu-persatu.”

“Hahaha.” Ayah tertawa sadis, “seharusnya kau lihat tampang pucat orang itu, dia sampai keringat dingin mendengar semua ceritaku. Lalu tiba-tiba saja otak cerdasku ini berfungsi, aku mengajukan syarat padanya.”

“Syarat? Syarat apa!!”

“Aku bilang……….”
——————————————————————————————
Aku tidak jamin putraku itu bisa memperlakukan putrimu dengan baik. Bukan salahku….dia memang dari dulu tidak pernah berubah, hobi gonta-ganti pacar lalu mencampakkan mereka satu-persatu sesuka hatinya. Dasar anak muda….Aku bahkan pernah dengar dia bicara dengan temannya, dia itu sepertinya memacari putrimu hanya demi uang. Tapi kalau kau memang peduli pada putrimu, yaaa…..rasanya tidak berat bagimu untuk keluar uang sedikit…”

Papa Ann menunduk, kecewa mendengar semua cerita tadi. Hatinya sakit mencemaskan Ann. “Berapa uang yang kau mau?”

“Aku? Aku mah tidak mau, aku ini orang baik-baik. Tapi putraku itu memang kurang ajar, dia baru bisa berhenti menemui anakmu kalau tujuannya sudah tercapai. Yaaa…untuk ukuran orang seperti dia sih…rasanya 10 juta sudah cukup.”

Papa mengeluarkan selembar cek dari balik jas mahalnya.

“Ehhh…. tunggu, aku tiba-tiba tidak yakin dia mau 10 juta. Rasanya itu tidak bisa memuaskan dia. Tambahkan lagi jadi 15 juta! Tidak….tidak….20 juta mungkin lebih baik! Kau tahu anak muda zaman sekarang kan? Paling suka berfoya-foya, uang sebanyak itu bisa habis dalam waktu yang singkat.”

“Aku mengerti.” Papa tidak memasukkan jumlah uang yang dimintanya ke dalam lembaran cek itu, ia malah mengosongkannya. Ia membubuhkan tanda tangan dan kemudian menyerahkannya pada Ayah Dennis.

Ayah Dennis tercengang tak percaya melihat blank check yang disodorkan padanya, cepat-cepat ia menyambarnya.

“Kau memang orang yang murah hati! Putrimu pasti sangat beruntung! Baik…baik…aku jamin dengan uang sebanyak ini pasti Dennis tidak akan lagi mendekati putrimu. Kau boleh tenang sekarang.”

———————————————————————————————————–

“A…apa? KENAPA AYAH BILANG ITU PADANYA!!!” Dennis naik pitam, ia kalap dan menyerbu ke arahnya. Direngutnya kerah baju Ayah dengan kasar, “Kenapa ayah berbuat ini padaku!!”

“Dennis! Kau ini apa-apaan!! Dennis, lepaskan!” Vincent meraih tubuh sahabatnya dan menariknya sekuat tenaga, “Kau sudah gila ya? Lepaskan ayahmu!!”

Ayah Dennis mengap-mengap mencoba menghirup udara dengan rakus saat Vincent berhasil menarik Dennis jauh-jauh. Ia melotot marah pada putranya, “ANAK BRENGSEK! KAU MAU MEMBUNUH AYAHMU SENDIRI ?”

Dennis mendorong Vincent kemudian kembali menerjang Ayahnya. Lalu secepat kilat direbutnya blank check itu dari tangan Ayah. Ia merobek-robek lembaran cek berharga itu dan membuang serpihan-serpihannya hingga terbang berjatuhan di depan mata Ayahnya.

“Kau….APA YANG KAU LAKUKAN?!!!”

“Aku tidak mau cek ini, dan aku tidak mau menerima apa-apa dari siapapun juga kalau hanya untuk menyuruhku menjauhi Ann!”

“APA MAKSUDMU?!! KAU SUDAH GILA! SINTING!!!” Ayah berlutut dan memungut-mungut serpihan kertasnya sambil terus mengutuk nama Dennis.

Dennis terengah-engah, bahunya turun-naik melihat kegilaan ayahnya yang begitu diperbudak oleh uang. Darah seakan-akan naik ke kepalanya saat ia mengetahui apa yang sudah dikatakan ayahnya pada Papa Ann. Semuanya hancur berantakan! Ia benar-benar tidak tahan lagi! Rasanya ia ingin berteriak atau bahkan kalau perlu menghantam kepalanya ke tembok.

Tiba-tiba Dennis berlari keluar meninggalkan mereka semua.

Berlari ke mana pun ia mau, hingga nafasnya habis pun ia tidak peduli…biar mampus sekalian….

Vincent berlari kencang mengejar Dennis sambil terus meneriaki namanya. Ia baru berhasil menangkapnya saat Dennis jatuh tersungkur kehabisan tenaga.

“Kenapa kau lakukan itu, Dennis? Kenapa? Kenapa kau merobek cek itu? Cek itu bisa menolongmu dari semua hutang!” Vincent menguncang-guncang bahu Dennis.

“Pergi!!! Aku tidak mau mendengar semua kata-katamu lagi!!” Dennis mendorongnya.

“Apa-apaan kau ini?! Aku tidak mengerti, bukankah semua rencanamu sudah tercapai? Bahkan jauh lebih sempurna dari yang kita mau!”

“Rencana….” Dennis mengerut keningnya kemudian tertawa pahit sekeras-kerasnya. Rencananya memang sudah berjalan mulus. Terlalu mulus malahan. Ia tidak pernah mengikutsertakan ayahnya dalam rencana itu, tapi siapa sangka justru ayahnya-lah yang paling berjasa mewujudkan semua rencananya. Ironis, itu semua terjadi justru saat Dennis tidak berniat lagi. Ia tidak mau menipu Ann lagi atau pun merampok uang keluarganya dengan cara kotor.

“Dennis?”

“Aku tidak mau menjalankan semua rencanaku itu, Vincent. Aku tidak mau! Aku tidak mau….”

“Tapi kenapa?”

Tatapan Dennis terlihat kosong. Wajahnya menandai betapa terluka hatinya saat ini.

“Kau…..kau jatuh cinta pada gadis itu?” Vincent menelan ludah, “astaga.”

“Aku tidak mau menyakitinya, Vincent. Aku benar-benar tidak mau….”

“Tapi….tapi kalau hutang itu tidak lunas, kau…kau bisa dihabisi mereka.”

“Aku tidak peduli! Mati pun aku tidak peduli!”

Vincent kembali menelan ludahnya, perih. Perlahan-lahan ia menghampiri Dennis dan duduk lemah di sampingnya. Untuk pertama kalinya ia menatap sosok seorang Dennis yang berbeda, ia bukan lagi Dennis yang dulu, yang bisa dengan santai menyakiti siapapun yang ia mau. Yang begitu arogan, tanpa perasaan dan bisa melepaskan diri dari semua kesalahannya hanya dengan uang dan kekuasaannya.

Tapi Dennis yang ada di hadapannya ini sudah menjadi sosok yang lemah, yang rela mengorbankan dirinya sendiri hanya demi perasaannya pada seorang gadis.

“Kenapa kau jadi begini, Dennis? Kenapa kau harus jatuh cinta pada gadis itu? Kenapa?”

Ann sudah meruntuhkan tembok-tembok keangkuhannya.
***
Jam 23.46 malam……..

Ann merasa ada yang bergetar di dekat bantalnya saat ia tertidur lelap. Dengan mata sayup-sayup ia mencoba meraih handphone-nya, ia mengeluh panjang saat melihat di layar HPnya tertera nama DëNn¡S (“,) yang berkedip-kedip. Itu nomor telepon dari wartel, Dennis tadi memasukkannya ke phonebook Ann karena dia bilang dia akan sering-sering telepon dari wartel itu.

“Hmm???” jawab Ann ngantuk berat.

“Kau sudah tidur?”

“Hm…..” Ann mengucek-ngucek matanya, “ada apa malam-malam begini…”

“Aku akan datang sebentar ke rumahmu. Sebentar saja.”

“Jam 11 malam begini? Orang-orang di rumahku sudah tidur.”

“Jangan bangunkan siapa-siapa. Aku hanya mau menemuimu sebentar saja. “

“Tapi Dennis….malam-malam begini….” Ann memeluk gulingnya erat-erat, mencoba melawan hawa AC yang terlampau dingin di kamarnya, “aku sudah tidur. Aku ngantuk sekali. Kau juga sebaiknya tidur saja, kenapa jam segini masih berkeliaran di wartel?”

“Aku kan tidak punya HP, ya telponnya lewat wartel donk. Aku ke rumahmu sekarang juga ya. Kau tunggu di depan gerbang rumahmu setengah jam lagi.”

”Dennis….tunggu…eh, tunggu!”

Setengah jam kemudian tepatnya pukul 00.24, Ann berdiri mematung di depan gerbang rumahnya yang gelap. Ia menyusupkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jaket yang menutupi piyama tidurnya, udara malam begini tidak terlalu bersahabat. Tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki, ia menoleh dan melihat Dennis datang terburu-buru padanya. Akhirnya….

“Ada apa malam-malam begini? Aku bisa diomeli.”

“Aku hanya mau mengembalikan ini.”

Ann mengerut kening melihat payung biru-nya yang sudah ditemukan Dennis, “Tengah malam datang ke sini hanya untuk mengembalikan payung? Kau sudah gila ya?”

“Katanya ini payung kesayanganmu. Aku tadi sudah mati-matian mengorek tempat-tempah sampah di sekitar rumahku hanya untuk mencarinya. Ini sudah kubersihkan.”

“Iya, tapi kan….” Ann kehilangan kata-kata yang tepat untuk mencela kebodohan Dennis, tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam ia sebenarnya merasa terharu, “tapi kau tidak perlu sampai tengah malam begini mengembalikan payungku. Apa kau tahu kau ini sudah mengganggu tidurku? Aku bisa masuk angin karena menunggumu di sini. Kau juga tolol, kenapa bukan besok aja kembaliinnya?”

“Besok tidak bisa, karena aku kan harus pergi ke taman itu.”

”Buat apa?”

“Karena aku pasti merindukanmu. Kau lupa? Kita sudah buat perjanjian, kalau di antara kita ada yang merasa rindu kita harus pergi ke taman itu. Besok kau sekolah sampai sore kan? Aku pasti jadi rindu setengah mati.” Dennis tertawa geli.

Ann mengambil payung itu dari tangan Dennis, lalu tersenyum kecil melihat payung kenangannya itu. Andaikan saja Dennis tahu kenapa Ann begitu menyayangi payung itu, apakah dia juga akan tetap susah payah mencarinya? Ann mencermati pakaian Dennis yang lusuh dan penuh keringat, juga pada sepatunya yang kotor karena lumpur, tampaknya cowo itu memang sudah benar-benar ngotot mencari payung itu.

“Sori ya, aku jadi mengganggu tidurmu. Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu.”

“Eh Dennis, tunggu.”

“Hm? Ada apa lagi?”

”Thank you ya,” Ann mengibas-ngibas payung itu di depan wajah Dennis sambil tersenyum, “lain kali jangan ulangi lagi, aku memang marah besar tadi siang , tapi kau tidak perlu buang-buang energi hanya untuk mencari barang yang…” Ann menunduk menatap payung itu. Payung Josh…payung bersejarahnya….”barang yang tinggal kenangan ini…Mungkin aku tidak terlalu membutuhkannya lagi.”

Dennis mendekatinya, “Tapi ini kan barang kesayanganmu. Aku tidak mengerti kenapa payung butut ini bisa sangat berharga bagimu, tapi aku pasti akan selalu menjaga semua yang berharga itu.”

“Oh begitu ya?” Ann salah tingkah. Angin tengah malam menghembus wajahnya kencang.

“Sebelum aku datang, tadi kau tidur memimpikan siapa?”

“Tidak mimpi apa-apa…” Tadi aku mimpi dikejar-kejar seekor babi raksasa.

“Kalau begitu nanti tidurnya mimpiin aku ya.” Dennis membungkuk sedikit dan mengecup kening Ann, “selamat malam, jangan lupa nanti mimpi yang indah ya. Aku pulang dulu.”

Setelah Dennis pergi, Ann mengendap-ngendap masuk ke dalam kamarnya lagi. Ia meletakkan payung biru Josh itu di sebuah kotak yang dibungkus kertas kado lucu, kotak kadus ukuran besar itu dipenuhi barang-barang Ann yang sudah dikumpulkannya sejak kecil. Ada foto-fotonya waktu masih bayi, buku curhat zaman SMP-nya, beberapa boneka lucunya yang sudah usang, dan kertas-kertas penuh tulisan lainnya. Ann meletakkan payung itu di dalam kotak, kemudian menutupnya.

Ia menghela nafas panjang merasa berat dan lega sekaligus. Payung Josh tidak pernah masuk ke dalam kotak ini sebelumnya.

Kemudian ia menatap tulisan ‘Barang-Barang Kenangan’ yang tertera dengan jelas di atas tutupan kotak itu. Ia tersenyum getir dalam hatinya, berharap payung itu dan juga Josh mulai saat ini bisa selalu ada di dalam kenangannya. Hanya di dalam kenangannya saja….

Payung merah Dennis ada di atas mejanya.
***

Pagi yang cerah menaungi seisi sekolahan, seolah-olah menyemangati para panitia OSIS yang tengah sibuk mempersiapkan panggung untuk acara pelepasan Ketua OSIS yang akan dilaksanakan siang ini. Acara ini dibarengi classmeeting dan acara-acara bazaar kecil-kecilan. Murid-murid tentu saja sangat antusias menyambutnya, lumayan untuk sekedar refreshing dari kepenatan mereka di sekolah.

Emma, ketua OSIS yang masa jabatannya tinggal beberapa menit lagi, hanya duduk diam tanpa menghiraukan teman-temannya yang sibuk menata panggung. Ia juga tidak peduli saat hitungan akhir dari pemilihan suara sudah sampai di tangan panitia. Hanya ada 4 calon, dan pemenangnya adalah siswi kelas 2-C yang bernama Elva Indriani. Tapi Emma peduli amat….

“Emma, kau sudah menyusun pidatomu kan?” tanya Yasmin, “kau keliatan tidak bergairah…kenapa? Sedih ya udah mau lepasin jabatan ketua?”

“Aahh…itu mah bukan apa-apa.” Emma membuang pandangan matanya ke tempat lain. Sekilas ia melihat Ann sedang membantu teman sekelasnya mendirikan stand minuman. Tiba-tiba hatinya terbakar.

“Loh, Emma, mau kemana?” Yasmin kebingungan melihat Emma tiba-tiba pergi dari tempatnya.

Dengan langkah terburu-buru Emma menghampiri tempat Ann dan temannya. Ann kelihatan kaget, lebih kaget lagi saat Emma tiba-tiba dengan kasar menarik lengannya dan membawanya pergi dari situ.

Emma mendorong Ann masuk ke dalam kelas yang kosong, kemudian ia menutup pintu kelas dengan satu bantingan keras. Ann mengelus-ngelus lengan kirinya yang sakit akibat tarikan Emma.

“Emma, ada apa?” ini pertama kalinya Ann bicara padanya, tapi sepertinya situasinya tidak terlalu mendukung.

“Aku sudah tahu semuanya!”

Ann terlonjak kaget , “Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura lagi!!! Singkirkan wajah innocent-mu itu dari depan mataku! Aku sudah tahu semuanya, Ann! Kau pacaran dengan Dennis! Kau merebutnya dariku!!” teriak Emma histeris.

Ternyata dia sudah tahu… Ann merasa ciut, seolah-olah ia telah melakukan sesuatu yang hina pada teman baiknya sendiri. Tapi ia baru ingat apa tujuan utamanya. “Aku memang pacaran dengannya.”

“Kenapa kau lakukan itu padaku, Ann? Kenapa kau tega? Kau adalah teman baikku, tapi di belakangku ternyata kau seperti serigala berbulu domba, kau menusukku dari belakang!! Kau….kau benar-benar brengsek!!”

“Aku terpaksa melakukannya, Emma…”

“Apa katamu? Terpaksa? Terpaksa apaan!! Dasar munafik, bilang aja kalau dari dulu kau sebenarnya juga naksir Dennis!! Kau memang licik, di depanku kau terang-terangan bilang kau tidak suka Dennis, tapi di belakangku kau genit-genitan sama dia!! Setelah sekian lama berteman denganmu, aku baru tahu kalau kau ternyata cewe murahan!!”

Kalau saja Ann tidak menganggap Emma temannya, mungkin ia sudah menamparnya sejak tadi.

“Aku murahan? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau merayu Dennis padahal kau sudah punya Josh sekarang!”

—-

Sementara itu di lapangan basket…

“Hey Josh, three on three nanti kita lawan anak kelas 2-A dulu. Gampang banget tuh, yang jago paling cuma si Edi doank!” seru Rico pada Josh di pinggir lapangan.

Josh sedang melakukan pemanasan untuk classmeeting siang ini, “Kau lihat Emma?”

“Paling lagi siapin pidato pelepasannya. Kenapa?”

“Ya mau nyuruh dia dateng donk, kasih semangat. Aku kan baru bisa jago maennya kalau ada dia yang nonton.”

“Alaaahhh….gombal!”

Josh tertawa kecil, lalu berlari-lari meninggalkan lapangan. Ia langsung mendatangi ruang OSIS dan menyapa Yasmin, “Min, Emma mana?”

“Wah….gak tau deh, tadi dia kabur ke depan tuh. Kalau ketemu dia suruh ke sini ya, pidatonya belum selesai!”

Josh mendatangi stand salah satu teman sekelas Ann dan menanyakan apa dia melihat Emma. Teman Ann langsung menjawab kalau Emma baru saja masuk ke kelas 3 IPA yang kosong bersama dengan Ann. Josh tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya. Kemudian sambil bersiul-siul kecil ia mendatangi kelas yang pintunya tertutup itu.

Baru saja ia mau membuka pintu, tiba-tiba ia mendengar ada suara pertengkaran di dalam sana. Suara Emma dan Ann…..

————-

“Alesan! Kau selalu menyeret-nyeret Josh ke dalam masalah ini! Memangnya kenapa kalau aku bergaul sama cowo lain, bilang aja kau ini sirik! Aku selalu punya banyak pacar sedangkan kau tidak pernah! Kau tidak suka kan? Lalu kau rebut Dennis dariku! Kau ini benar-benar memalukan….”

”Bukan itu alasanku! Kalau bicara pake otak! Apa kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan tadi? Kau yang seharusnya malu pada dirimu sendiri. Kau sudah punya pacar tapi masih saja kegatelan cari cowo lain! Apa kau tidak malu pada Josh? Dia itu terlalu baik untukmu! Kau malah mau membuangnya demi cowo lain. Kalau kau bilang aku murahan, lalu kau itu apa?!”

“Memang kenapa kalau aku bosan dengan Josh?!! Suka-suka aku!” nafas Emma turun naik menahan marah, tiba-tiba saja otaknya bekerja keras dan ia menemukan alasan yang masuk akal untuk menyerang Ann, “aku mengerti sekarang. Kau….kau suka Josh kan? Dari dulu kau memang selalu menyukai Josh! Sekarang aku mengerti kenapa kau selalu membelanya, melindunginya dan mati-matian menyuruhku tetap bersamanya. Kau memang menyukainya!”

Ann hanya bisa terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana menimpali ucapan Emma. Serangan Emma tadi terlalu telak.

“Dan Dennis…..kau tidak mau aku dekat-dekat dengan Dennis karena kau takut aku bakal memutusi Josh demi dia. Lalu kau merebut Dennis dariku, kau pacaran dengannya agar aku bisa terus bersama Josh! Kau pacaran dengan Dennis hanya untuk melindungi Josh?!”

Emma tercekat dengan pemikirannya sendiri. Kini ia baru mengerti maksud Ann yang sesungguhnya. Ia tidak tahu harus marah atau malu saat ini.

“Katakan padaku, apa semua itu benar? Ann! Apa semua itu benar!” jerit Emma.

“Ya, benar.” Ann menatapnya pilu, “terserah bagaimana kau mau membenciku, tapi sedikitpun aku tidak mau menyakitimu. Aku juga tidak mau kau menyakiti Josh. Aku tahu kau akan memutusinya demi Dennis, maka aku bertekad mencegah semua itu dengan cara..”

”CUKUP!!”

Ann dan Emma sama-sama terlonjak kaget mendengar suara itu. Mereka kontan menoleh ke arah pintu kelas yang ternyata sejak tadi sudah terbuka.

Josh berdiri di sana. Wajah tampannya menampakkan rasa sakit dan marah yang memuncak di saat bersamaan. Ia menatap mereka satu persatu dengan mata memerah, nafasnya memburu seolah-olah ia ingin melampiaskan kemarahannya dengan apapun yang ada di dekatnya sekarang. Tangannya mengepal keras.

“Josh…” Emma bergidik ngeri, “percakapan tadi….aku…aku dan Ann cuma…”

“Diam!! Aku sudah cukup mendengar semuanya….”

“Josh, dengarkan aku…”

“Kau juga diam, Ann!!!”

Ann terpaku di tempatnya , tak berkutik. Baru kali ini ia melihat Josh marah besar. Cowo itu seolah-olah menjelma menjadi orang asing yang tidak dikenalnya.

Tiba-tiba Josh menatap Ann tajam, “Tolong tinggalkan kami, Ann.”

Emma menoleh pada Ann, berharap ia tidak menuruti perintah Josh.

“Tolong, Ann….aku mohon tinggalkan kami berdua sekarang.”

Ann menunduk tidak berdaya, “Baik.”

Ia tidak menghiraukan wajah Emma yang pucat pasi menatapnya. Ann berjalan lunglai meninggalkan kelas kosong itu, meninggalkan kedua sahabatnya di dalam sana. Sebenarnya ia ingin berusaha menyakinkan Josh kalau apa yang baru saja didengarnya tidaklah seburuk perkiraannya, tapi tampaknya semua itu sudah tidak ada gunanya.

Josh sudah tahu semuanya, dan Emma terpaksa menghadapinya seorang diri.

Ann tidak tega, tapi apa yang bisa ia perbuat?

Aku ingin mencegah Josh sakit hati, tapi ternyata tanpa kucegah pun ia sudah sakit hati. Bahkan lebih dalam…. Tiba-tiba saja ia dihantui rasa bersalah. Apakah semua ini salahku? Seandainya aku tidak mencampuri hubungan Emma dan Dennis, apakah semua ini mungkin saja tidak akan terjadi?

Ia ragu, kalau ia tidak pacaran dengan Dennis, Emma akan mendapatkan cowo itu dan menyakiti Josh. Tapi nyatanya setelah Emma kehilangan Dennis pun, Josh tetap saja harus sakit hati karena mendengar pertengkaran mereka tadi. Bahkan mngkin sakit hati yang dideritanya jauh lebih dalam….

Ann merasa sekujur tubuhnya kaku, ia tidak lagi bergairah mengikuti acara sekolahnya itu. Gerombolan orang yang memadati sudut panggung, orang-orang penjaga stand yang sibuk, murid-murid yang asik memberi dukungan pada calon ketua pilihan mereka……kepala Ann rasanya mau pecah. Ia mau pulang saja.
Peristiwa barusan memang membuat Ann pulang sekolah lebih awal. Dalam perjalanan pulangnya Ann baru sadar hari ini tanggal 14 Februari, hari Valentine. Seharusnya menjadi hari yang istimewa. Setiap tahun ia selalu tukeran coklat dengan Emma tapi sekarang jangankan coklat, tukeran senyum pun rasanya sudah sangat tidak mungkin.

Ann pulang ke rumahnya dengan gontai. Ia tidak menghiraukan pertanyaan Papa kenapa ia pulang lebih awal, ia langsung masuk ke kamar tanpa basa-basi.

Kira-kira apa yang terjadi pada Emma dan Josh? Aku benar-benar tidak mau mereka putus, Josh pasti akan sedih sekali..

Tiba-tiba HPnya bergetar. Ann mengamati layar HPnya, nama DëNn¡S (“,) berkedip-kedip di sana.

Lagi-lagi dia….

“Halo?”

“Halo, Ann. Selamat hari valentine ya…”

“Telat, ini sudah jam 11 siang. Seharusnya kau ucapin dari jam 12 malam kemarin.”

“Loh? Bukannya kemaren aku ke rumahmu tengah malam? Kau lupa, itu berarti sudah tanggal 14. Akulah orang pertama yang memberimu ciuman mesraaaaa……HAHAHAHA.” Dennis tertawa terbahak-bahak, “maunya sih cium di bibir….…”

“Dasar maniak!” tapi diam-diam Ann tersenyum. Benar juga, kemarin malam saat Dennis datang ke rumahnya itu sebenarnya sudah tanggal 14. Dennis sudah memberinya satu ciuman di kening.

“Hari ini aku dapat coklat tidak?”

Ann baru ingat ia sama sekali tidak menyiapkan coklat atau hadiah apapun untuk Dennis di hari Valentine ini. Cepat-cepat ia mengingat isi kulkasnya, apa masih ada coklat yang tersisa? Oh ya, masih ada!

“Ada…ada….nanti kukasih deh.”

“Wah asik!!!!” Dennis bersorak girang di sana, “Hey, kau mau aku melakukan apa untukmu di hari valentine ini? Nanti aku akan memenuhi semua kemauanmu.”

“Hm….aku mau…” Ann berpikir sebentar, “aku mau dikasih mawar, tapi kali ini jangan yang sudah hampir layu!”

”Lalu?”

”Lalu…..aku mau liat matahari terbenam.”

Dennis terkekeh, “Oke….oke…lalu?”

”Hm….lalu….lalu apa ya?” tiba-tiba Ann teringat sesuatu, “oh ya, Dennis, itu…hm…”

”Ada apa?”

”Hutang ayahmu itu….apa sudah dilunasi?”

Dennis tidak bersuara. Ann harus menunggu sebentar sampai terdengar suara Dennis menjawabnya dengan mantap , “Sudah beres, kau jangan khawatir.”

“Bagaimana caranya?”

”Aku pinjam pada seseorang.”

“Oh begitu….syukurlah.”

“………………..”

“Dennis..”

“Ya?”

“Apa kau hari ini benar-benar pergi ke taman itu?”

“Tentu, aku kan sudah bilang, hari ini kau sekolah jadi aku pasti akan merindukanmu. Makanya aku pergi ke sana.”

“Tapi sekarang aku sudah pulang sekolah. Hari ini cuma ada classmeeting.”

“Oh…..asik donk?”

“Iya.” Ann mengigit bibirnya, ragu-ragu sejenak. “jadi aku hari ini gak ada kerjaan…..”

“Memangnya teman-temanmu tidak ada acara? Biasanya kan anak sekolahan paling getol rayain Valentine. Hari keramat katanya!”

“Tidak juga, hari ini aku benar-benar tidak ada acara.” Ann menegaskan kalimat terakhirnya. Hatinya dongkol karena Dennis tidak mengerti juga, “kau dengar? Aku tidak ada acara.”

“Terus gimana donk? Bete banget kalo di rumah.”

“Yaaa…..mau gimana lagi…”

“Pergi ke taman itu lagi yuk!”

Akhirnya……..dari tadi kek!

“Kau mau liat matahari terbenam kan? Kita ke danau itu lagi ya! Nanti aku akan membelikan mawar yang masih mekar-mekar untukmu!”

“Hm…ya sudah, terserah deh. Kita ketemuan di sana aja ya, jam setengah lima.” Jawab Ann sok cool.

“Oke.”

Ann mematikan HP-nya. Diam beberapa detik, kemudian tertawa terkikik-kikik. Hatinya girang bukan main.

———-

Jam 3….

Ann mengobrak-abrik seisi lemari bajunya, panik mencari baju yang paling pas untuk menemui Dennis nanti. Padahal sebelumnya ia tidak pernah peduli, jangankan memusingkan soal baju apa yang harus dipakai…..soal pergi kemana pun ia tidak pernah peduli. Tapi kenapa sekarang ia mau repot-repot berdandan yang rapi untuk Dennis? Dan kenapa juga ia ingin sekali Dennis mengajaknya pergi ke tempat itu lagi?

Ann mengaca, tersenyum-senyum sendiri melihat dirinya mencoba-coba baju. Setelah mendapat baju yang paling pas (butuh setengah jam untuk menyakinkan dirinya sendiri), ia cepat-cepat lari ke dalam kamar mandinya.

Harus cepat-cepat mandi, aku tidak boleh terlambat

“Duuhh, anak Papa rapi amat. Mau ke mana?” Papa meletakkan koran sorenya saat ia melihat Ann turun dari tangga.

“Mau pergi sama teman.”

“Sama Ria dan Priska ya? Pasti mau ke mal, mentang-mentang hari Valentine” Papa tersenyum lagi.

“Bukan.”

“Sama Emma?”

“Bukan.” Ann tersenyum manis.

“Lalu?”

“Sama pacar aku, namanya Dennis, Pa. Kapan-kapan aku suruh ke sini ya, nanti aku kenalin.”

Papa langsung diam tak bergeming. Wajahnya yang cerah tiba-tiba saja berubah masam. Ia bangkit berdiri dari sofa empuknya dan datang menghampiri Ann. Entah apa yang harus ia katakan pada putrinya itu.

“Ann, kamu masih berhubungan dengan anak bernama Dennis itu?”

“Memangnya kenapa, Pa?”

“Papa…..”

”Pa, ada apa? Kenapa bingung begitu? Bukankah Papa sudah tahu? Itu loh….cowo yang waktu itu anterin aku pulang.”

“Iya, Papa tahu. Papa sudah tanya Priska, malam itu…kamu tidak menginap di rumah Priska kan?”

Ann tersentak kaget, merasa malu karena Papa sudah tahu semuanya tapi tetap diam. Ann benar-benar merasa bersalah sudah membohonginya.

“Papa tidak bermaksud menyelidikimu. Papa tahu kamu anak yang baik, meskipun kamu membohongi Papa nginap di rumah Priska padahal kamu nginap di tempat lain…Papa tetap percaya sama kamu. Papa yakin kamu tidak melakukan hal yang buruk malam itu. Tapi anak yang bernama Dennis itu…..” Papa menatapnya, berharap putrinya bisa tabah saat menerima semua penjelasannya. Bagaimanapun juga ia harus tahu. “ada yang tidak beres dengannya. Papa mau kamu berhenti menemui dia.”

“Kenapa?”

“Dia itu bukan anak baik-baik.”

“Iya, aku tahu. Tapi dia sebenarnya baik, Papa harus mencoba mengenalnya dulu.”

“Papa sudah coba mengenalnya, Ann. Kemarin malam….Papa datang ke rumahnya.”

“A….apa?” Ann semakin tidak mengerti, “kenapa tidak bilang-bilang aku?”

“Papa tahu mungkin ini kedengarannya konyol, tapi Papa melakukan semua ini karena tidak mau melihatmu terluka. Sejak kamu berhubungan dengan anak bernama Dennis itu, kamu tiba-tiba saja berubah menjadi sosok lain yang tidak bisa dimengerti. Seolah-olah kamu menyimpan banyak rahasia dari Papa. Kamu jadi suka pulang malam, bahkan tidak jelas menginap di mana. Bahkan wajahmu pernah terluka.”

“Pa, wajahku itu..”

“Jatuh di tangga dan membentur tiang? Ayo lah, Ann….Papa tidak sebodoh itu. Luka itu karena perkelahian kan”

Ann menunduk diam.

“Maafkan Papa, Ann, tapi kemarin itu Papa datang ke rumah Dennis hanya untuk menemuinya dan berbicara dengannya. Mungkin saja dia memang anak yang baik, mungkin saja Papa yang salah. Tapi waktu itu dia tidak ada di rumah, yang ada justru ayahnya.”

Ann mendengarnya baik-baik. Ia merasa tidak enak, seolah-olah sesuatu yang buruk telah terjadi. Tapi apa?

“Ayahnya menceritakan semua masa lalu Dennis, tidak ada satupun yang bisa dibanggakan.”

“Maksud Papa?”

Papa memegang kedua pundak Ann erat-erat, seakan-akan itu bisa menguatkan putrinya, “Papa juga tidak suka menyampaikan ini padamu, tapi kamu harus tahu semuanya sebelum kamu semakin disakiti nantinya. Ann, anak itu menjalin hubungan denganmu hanya karena ingin memanfaatkanmu. Memanfaatkan uangmu terutama….”

“Apa? Itu tidak mungkin, Pa. Dennis bukan orang seperti itu.”

”Tapi ayahnya sendiri yang bilang. Dia bahkan pernah mendengar Dennis bicara seperti itu pada teman-temannya. Dia hanya mengincar uangmu…”

Nafas Ann tercekat. Meskipun ia bersikeras tidak mau mempercayai semua itu mentah-mentah, tapi hatinya sekonyong-konyong membawanya kembali untuk melihat dengan jelas semua permasalahan Dennis. Bukankah dia memang sedang terjerat hutang? Bukankah percakapan mereka tadi, Dennis bilang dia sudah mendapat uang untuk melunasi hutangnya? Samar-samar Ann teringat dengan percakapan mereka….

”Hutang ayahmu itu….apa sudah dilunasi?”

“Sudah beres, kau jangan khawatir.”

“Bagaimana caranya?”

”Aku pinjam pada seseorang.”

Aku pinjam seseorang….aku pinjam seseorang……AKU PINJAM SESEORANG…….. kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Ann. Berulang-ulang, menampar Ann dengan keras agar tersadar dari semua ketololannya.

Ann merasa sekujur tubuhnya dalam sekejap terasa dingin, membeku. Jantungnya rasanya berhenti berdetak. Ia berdiri kaku di tempatnya, siap untuk hancur.

“Benarkah itu?” suaranya bergetar.

“Ayahnya Dennis menceritakan pada Papa, Ann, Dennis itu memacarimu hanya demi uang. Ia tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Bahkan…” Papa tidak tahu apa dia harus melanjutkan ucapannya.

“Bahkan apa…?”

“Bahkan….dia meminta uang dari Papa. Katanya kalau uang itu sudah ada di tangannya, semua akan beres, Dennis tidak akan mendekatimu lagi karena tujuannya sudah tercapai. Papa memberinya uang…”

“Jutaan?” Ann merasa jantungnya semakin sakit.

“Iya …ayahnya minta…minta 10 juta, lalu dinaikkan. Papa tidak mengerti, Papa hanya memberinya blank check. Lalu ayahnya bilang itu sudah lebih dari cukup, ia berani jamin anaknya tidak akan lagi mendekatimu lagi.”

“Tidak….tidak mungkin….”

“Ann, kamu harus mengerti, Papa melakukan semua ini demi kebaikanmu. Papa tidak bermaksud mencampuri urusanmu, Papa hanya…”

Bukan, bukan perbuatan Papa yang memukul Ann dengan telak.

Tapi kenyataan yang menyakitkan tentang Dennis. Kebenaran tentang Dennis.

Dia hanya mendekatiku demi uang. Dia hanya mengincar uangku…..Dia sudah merencanakan semua ini sejak awal, sejak pertemuan pertama kami. Di diskotik itu, di restoran itu…..semua adalah bagian dari rencana besarnya. Aku hanyalah bagian kecil dari rencananya. Hutang-hutang itu hanya bualannya………semua sikap baiknya hanya kedok untuk menipuku. Ia tidak pernah mencintaiku. Sedikit pun tidak pernah….

Ada yang hancur, hancur berkeping-keping dan menimbulkan luka yang dalam di sana. Ann sadar, bukan hanya hatinya yang hancur. Tapi seluruh dirinya…

Butuh waktu yang cukup lama untuk membuat Ann sadar kalau ia sudah mulai jatuh cinta pada Dennis, tapi butuh waktu yang sangat singkat untuk merenggut kebahagiannya itu……. dan mencampakkannya ke jurang yang paling dalam.

***

Dennis memanjat tembok tinggi yang menutupi sekeliling taman itu. Lalu ia melompat turun, berguling sambil menahan sakit.

Sial!! ia menyingkirkan ranting-ranting pohon yang menusuk lengannya. Darah merembes dari lukanya tapi sedikitpun ia tidak merasa sakit. Cepat-cepat ia menyekah darahnya dengan sapu tangan, kemudian mengambil sebuket mawar merah yang tadi sudah dilemparnya masuk, ia menepuk-nepuk debu yang mengotori kelopak mawar yang indah itu dengan lembut. Dennis tersenyum kecil. Ini sempurna, Ann pasti suka!

Ia berlari kecil menuju ke danau. Sampai di sana ia tidak melihat Ann. Aneh, biasanya Ann paling tidak suka telat

Tapi Dennis duduk menunggu di tepi danau itu, sambil sesekali tersenyum membayangkan reaksi Ann saat menerima mawarnya. Ia juga membayangkan saat-saat indah di mana mereka akan bersama-sama menikmati matahari terbenam di danau ini. Rasanya Dennis ingin melompat saat itu juga, menari-nari saking senangnya.

Sedikitpun ia tidak peduli meskipun nanti malam ia harus menghadapi amukan Bos lagi, mungkin yang terparah dan mungkin yang terakhir. Mungkin juga ia tidak akan selamat dihabisi mereka. Tapi Dennis tidak peduli, yang penting sore ini bisa ia habiskan bersama Ann.

Dennis memang belum menemukan jalan keluar untuk melunasi hutangnya. Ia sudah merobek cek pemberian Papa Ann, ia juga tidak mau mengemis-ngemis pada orang lain untuk meminjaminya uang. Ia tidak punya uang untuk melunasi hutang ayahnya.

Ia tidak peduli. Sedikitpun tidak peduli….

Aku tidak akan takut menghadapi apapun, aku akan lebih takut kalau aku tidak bisa bersama Ann lagi.

Dan Dennis duduk setia menunggunya……….

Setengah jam berlalu….

Hatinya mulai gundah, kenapa Ann belum datang juga? Apa mungkin ia terlambat sebentar? Ia yakin Ann pasti datang.

Setengah jam lagi……….

Dennis duduk membisu. Pemandangan yang indah sudah mulai membentang di depan matanya. Matahari terbenam menampakkan sinar merahnya yang menyapu seisi danau dengan begitu indah. Luar biasa. Dennis belum pernah menikmati matahari terbenam dengan sungguh-sungguh seperti yang ia lakukan saat ini. Sejak bersama Ann ia mulai belajar menikmati hal-hal kecil seperti itu.

Tapi di mana Ann?

Setengah jam pun kembali menemaninya……

Langit mulai gelap, menutupi taman yang sepi itu dengan suasana yang kelam. Dennis bangun dari duduknya dengan kecewa, buket mawar yang terus digengamnya itu tidak lagi menarik hatinya. Ia terus bertanya dalam hati, kenapa Ann tidak datang? Apa ia lupa? Apa ia tiba-tiba punya rencana lain? Atau mungkin dia ada keperluan mendadak?

Bagaimana pun juga Dennis tidak bisa merasa tenang. Ia segera meninggalkan tempat itu untuk mencari Ann.
Pertama-tama ia pergi ke wartel tempatnya biasa menelepon Ann. Ia menanti dengan tidak sabaran. HP Ann aktif, tapi tidak ada yang mengangkatnya. Kemudian meskipun agak ragu tapi Dennis memberanikan diri menelepon ke rumahnya. Pembantunya bilang Ann sedang tidak ada di rumah, ia keluar dengan seorang temannya. Pembantu rumah itu bahkan memberitahu ke mana Ann pergi. Ke sebuah tempat makan yang dikenal Dennis.

Dennis agak heran. Mungkinkah Ann sedang ada kepentingan mendadak dengan temannya itu, sampai-sampai ia melupakan janji mereka sore ini?

Tanpa perlu berpikir panjang lagi, Dennis mendatangi tempat itu. Ia berdiri ragu mengamati tempat itu hanya dari luar, ia tidak mungkin masuk ke dalam hanya untuk mengeledah seisi tempat makan mencari Ann. Maka ia pun menunggu di luar, menunggu dengan sabar.

20 menit kemudian, pandangan mata Dennis menangkap sosok Ann keluar dari tempat makan itu bersama seorang pemuda. Mereka mendatangi tempat parkir dan berhenti sebentar untuk bicara. Dennis berusaha mengingat-ingat sebentar, rasanya ia pernah melihat pemuda itu. Tak lama kemudian ia baru ingat pemuda itu pastilah Josh, pacar Emma yang waktu itu diceritakan Ann. Tapi kenapa Ann lebih memilih pergi dengan Josh daripada dengannya?

“Thanks ya, Ann, kau sudah mau menemaniku di saat-saat seperti ini. Aku benar-benar kacau dan butuh teman bicara. Kejadian tadi pagi antara aku dan Emma…”

Wajah Ann tanpa ekspresi, ia samasekali tidak menyimak setiap ucapan Josh. Ada hal yang lebih menyakitkan yang menggerogoti hatinya, yang membuatnya tidak bersemangat lagi mendengar semua ocehan Josh tentang hubungannya dengan Emma yang sudah putus tadi pagi. Sedikitpun ia tidak sanggup lagi bersimpati pada Josh ataupun Emma, meskipun ia sangat peduli pada mereka berdua.

Ditatapnya Josh yang terus bicara tanpa benar-benar mencerna kalimatnya. Kemudian ia termangu sesaat, sepertinya ia melihat ada yang datang menghampiri mereka dari belakang Josh. Ann menajamkan pandangan matanya. Kemudian ia membelalak saat menyadari siapa orang yang mendatangi mereka itu.

Wajahnya memucat seketika, “Dennis.”

Josh bingung, kemudian membalik badannya menengok Dennis. Ia tak kalah kagetnya dengan Ann.

“Hai,” Dennis serba salah menyapa mereka berdua. Kemudian ia menatap Ann, “kenapa kau tidak datang ke tempat itu? Aku menunggumu terus.”

Ann tidak menjawab, ia menarik tangan Josh untuk segera masuk ke dalam mobil, “Josh, kita pulang saja.”

“Hey Ann, tunggu dulu.” Dennis berusaha mencegahnya pergi.

Di luar dugaan Ann mendorong Dennis dengan kasar, “Pergi!!”

Dennis tersentak, “Ann? Kau kenapa?”

”Pergi kataku !! Aku tidak mau lagi melihatmu!!!”

“Ann…”

“Untuk apa kau mencariku sampai ke sini? Untuk minta uang?”

”Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura bodoh, Dennis! Aku sudah tahu semuanya! Aku sudah tahu semua kelicikanmu dan semua rencana busukmu! Kau pasti sudah senang ya, mendapat uang banyak dari Papaku? Kau sudah puas mempermainkan aku, Dennis?”

Dennis langsung terpaku di tempatnya. Tubuh itu bergidik ngeri melihat kemarahan Ann. Tapi ia lebih ngeri lagi karena Ann sudah tahu semuanya.

“Ann, dengarkan aku…”

”Tidak ada yang perlu kudengar lagi! Semua ucapanmu selama ini hanya omong kosong! Kau pura-pura baik padaku karena kau tahu aku bisa membantumu mendapatkan uang. Kau berusaha mempengaruhiku, lalu menipuku habis-habisan. Itu kan rencanamu selama ini!!!”

Josh menatap mereka bergantian dengan bingung, “Ann, benarkah itu?”

“Ann, kau tidak mengerti. Dengarkan aku dulu, aku akan menjelaskan semuanya padamu!!”

“Aku tidak mau!” Ann berlari meninggalkan mereka semua.

Dennis segera mengejarnya, tapi tiba-tiba saja Josh menarik tangannya dengan marah, “Benarkah itu?! Kau selama ini hanya menipu dia? Kau hanya mempermainkan dia?”

“Kau tidak usah ikut campur!!”

“Ann itu temanku, brengsek!! Aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan dia!”

“Sudah kubilang jangan ikut campur! Minggir!” Dennis menepis Josh menyingkir dari hadapannya. Ia bergegas berlari mengejar Ann.

“Ann, tunggu aku! Aku akan menjelaskan semuanya!”

“Pergi! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa-apa darimu!”

Dennis tidak menghiraukan semua teriakan Ann, ia berhasil mencekal tangan Ann dan menariknya. “Kau harus dengar aku!”

“AKU TIDAK MAU!!!” Ann menutup kedua telinganya, ia menggeleng kuat-kuat agar tidak mendengar suara Dennis.

“ANN!” Dennis mengguncang bahunya, “DENGARKAN AKU! KAU HARUS DENGARKAN AKU!! AKU TIDAK BERMAKSUD MEMPERMAINKANMU SAMA SEKALI! KAU HARUS PERCAYA PADAKU!!”

Ann terus menutup telinganya, memejamkan mata dan menggeleng sekuat tenaga. Ia tidak mendengarkan Dennis.

“Lepaskan dia, brengsek!” Josh datang lagi, ia melepaskan Ann dari cengkraman Dennis. “KUBILANG LEPASKAN DIA!”

Dennis hilang kesabarannya dengan Josh, sedikitpun ia tidak mau melepaskan Ann. Lalu terjadi aksi tarik-menarik antar keduanya, Josh berusaha menarik Ann dan melepaskannya dari Dennis, tapi Dennis berusaha mempertahankannya.

Wajah Josh mengeras marah, langsung dihajarnya Dennis tanpa basa-basi.

Pukulan Josh lumayan keras hingga membuat Dennis terhunyung mundur dan Ann akhirnya terlepas.

“KAU JANGAN IKUT CAMPUR!” emosi Dennis meletup-letup.

Josh tidak peduli, ia kembali menyerang Dennis dengan tinjunya. Tapi Dennis berhasil mengelak, kali ini ia yang gantian memukul cowo itu telak di wajahnya.

Ann menjerit tertahan saat melihat Josh jatuh ke bawah. “Dennis, jangan pukul dia lagi!”

Ann menarik-narik tangan Dennis berusaha memisahkan perkelahian itu. Tapi apa yang terjadi setelah itu sungguh di luar kemauan Dennis…..

Saat itu Dennis menepis cengkraman tangan Ann dengan kencang, hingga gadis itu terdorong jatuh ke atas jalan raya beraspal yang sepi.

Dennis segera menghentikan perkelahiannya dengan Josh. Ia kaget bukan main melihat Ann jatuh di sana dan susah payah bangkit berdiri. Tiba-tiba matanya menangkap cahaya yang sangat menyilaukan. Dennis menutup matanya perih.

Itu adalah cahaya lampu mobil.

Jantung Dennis terasa berhenti berdetak saat ia menyadari Ann dalam bahaya. Cepat-cepat ia melesat untuk menolong Ann. Tapi laju mobil itu semakin kencang mengalahkan kedua kakinya.

Dennis melihat Ann berusaha melawan rasa sakit dari kakinya yang terkilir, gadis itu mati-matian berusaha bangkit. Saat ia berhasil bangkit, Dennis mendengar bunyi klakson yang memekakkan telinga.

Ann menoleh dengan cepat……sorot lampu sangat menyilaukan matanya, kemudian ia mendengar suara decit ban yang berderit mendekatinya……..semakin mendekat sebelum ia berpikir….sebelum ia sempat menyelamatkan diri……….mendekat dan semakin mendekat seperti malaikat pencabut nyawa yang siap membawanya pergi……….

Lalu tiba-tiba saja Ann merasa tubuhnya dihantam keras, ia merasa tubuhnya melayang jauh……..ia merasa sakit saat tubuhnya kembali terbanting ke bawah……..terbanting menghantam jalanan……….

Lampu itu begitu menyilaukan…….suara-suara di sekitarnya begitu menyesakkan………….darah yang merembes dari bagian tubuhnya terasa begitu kental………dingin……….

Ann merasa sakit luar biasa………..

Ia merasa dingin yang menyelimuti dan menyusup ke seluruh tulang-tulangnya………

Ia merasa gelap……………semuanya berubah hitam.

“ANN !!!!!!!!!!!!!!!!!”
***

Unit Gawat Darurat.

Dennis mematung dalam keheningan di ruang tunggu Unit Gawat Darurat. Tubuhnya berkeringat, kemeja putihnya dipenuhi darah.

Ia tidak tahu harus mati atau apa saat ia melihat mobil minibus itu menabrak Ann dengan keras. Ia melihat Ann pingsan di tempatnya dengan darah yang terus mengucur dari kepalanya. Dalam sekejap orang-orang berkerumunan di sana, Dennis menerobos mereka dan segera mengangkat tubuh Ann. Josh membantunya membawa Ann ke rumah sakit.

Semua ini adalah salahku……

“Dennis.” Emma baru saja datang ke tempat ini, ia terus menghibur kedua orang tua Ann sejak tadi. Lalu ia menghampiri Dennis, “kau tak apa-apa?”

Dennis hanya menggeleng kecil.

“Kenapa semua ini bisa terjadi? Ann baru saja bicara denganku kemarin…..lalu tiba-tiba ini semua menimpanya. Rasanya seperti mimpi buruk..”

Dennis diam.

Emma mengamati Dennis dengan seksama, “Dennis, apa benar kata Josh….kau hanya mempermainkan Ann? Kenapa kau sampai hati berbuat itu padanya? Aku…meskipun hubunganku dengan Ann tidak baik akhir-akhir ini, tapi aku tidak mau dia dipermainkan oleh siapapun. Aku samasekali tidak menyangka, kau pacaran dengannya hanya demi…”

Emma tidak tega untuk melanjutkannya, ia melihat Dennis sepertinya juga terpukul dengan peristiwa ini.

“Aku tidak tahu apa kau sungguh-sungguh mencintai dia atau kau memang hanya bermaksud memanfaatkan dia. Tapi kurasa setelah semua peristiwa ini, kau harus lebih bisa berhati-hati menjaga perasaan Ann.” Emma pergi meninggalkannya.

Lamunan Dennis membuyar saat Papa Ann tak lama kemudian datang menghampirinya.

Dennis siap menerima amukan dari siapapun saat ini, ia tidak peduli lagi. Bahkan kalau bisa, ia mau menanggung rasa sakit apapun untuk menggantikan penderitaan Ann.

“Aku mohon padamu………jauhi Ann mulai sekarang,” suara Papa terputus-putus menahan kemarahan dan kesedian yang melandanya di saat bersamaan, “apa setelah melihat dia menderita seperti ini, kau baru mau menjauhinya? Apa anakku harus tertabrak dulu, kau baru bisa sadar?!!”

Dennis merasa lidahnya kaku tak mampu menjawab. Suara tangis Mama Ann di ujung ruangan ikut menyayat-nyayat hatinya.

“Kenapa kau tega berbuat seperti ini pada putriku? Bukankah uang sudah ada di tanganmu, kau bebas melakukan apa saja yang kau mau! Tapi jauhi Ann, kumohon! Sejak bertemu denganmu, yang ia alami hanyalah kemalangan. Kau sudah meracuni pikirannya, membuatnya menjadi orang lain yang bukan dirinya. Kau tidak berbuat apapun padanya selain menyesatkannya!!”

“Tapi aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku sungguh-sungguh ingin membuatnya bahagia.”

”Bahagia? Bahagia seperti apa yang bisa kau janjikan padanya?! Apa kau sadar, hubungan kalian itu tidak ada masa depannya, sampai kapanpun juga kau tidak akan bisa membahagiakan dia. Apa menyeret dia dalam masalahmu dan membuat dia terluka dalam perkelahian yang kau namakan bahagia? Yang kau lakukan justru membuatnya menderita seperti saat ini! Coba kau lihat dirimu, apa pemuda seperti bisa membuatnya bahagia?! Masa depanmu, keadaan keluargamu, hutang-hutangmu, teror-teror dari berandalan itu….apa keadaanmu yang seperti itu bisa membahagiakan anakku? Ann pantas menerima lebih dari itu!”

Dennis termangu. Ucapan Papa memukulnya telak, menamparnya hingga ia terbangun dari semua mimpi-mimpi yang ia rajut diam-diam untuk Ann. Papa Ann benar, kondisinya saat ini benar-benar tidak memungkinkannya untuk bersama dengan Ann. Gadis itu terlalu baik untuknya. Ann pantas menerima semua kebahagiaan yang terbentang di hadapannya, bukannya bersama dengan dirinya yang tidak jelas ini.

Sejak bersama dengan Dennis, Ann justru mengalami semua hal yang tidak menyenangkan secara beruntun. Dennis merasa dirinya betul-betul pantas dikutuk, ia sudah menyesatkan Ann dan membawanya ke dalam berbagai masalah, tapi masih juga membuatnya tertimpa bencana ini.

Dennis bertanya-tanya dalam hati, seandainya Ann tidak perlu bertemu dengannya sejak awal, mungkin saja Ann sekarang sedang bersama dengan teman-temannya di suatu tempat, bersenang-senang tanpa perlu tertabrak mobil apapun.

“Maafkan aku…” hanya itu yang meluncur dari bibir Dennis.

“Aku rela berbuat apapun….apapun yang kau mau…aku juga rela mengorbankan apapun yang kau minta, tapi aku hanya minta satu darimu. Tolong jangan dekati putriku lagi, aku mohon lepaskanlah dia. Kalau kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi, tentang keinginanmu melihatnya senang, maka jauhilah dia. Hanya dengan terlepas darimu-lah putriku bisa bahagia. Buatlah agar dia melupakanmu kalau kau memang ingin melihat dia bahagia.”

“Aku mengerti….”

Dennis memang benar-benar mengerti. Dengan hati berat ia melanjutkan ucapannya, “Jangan khawatir, aku akan melepaskan Ann, kalau memang itu yang bisa membuatnya bahagia.”
Percakapan mereka terhenti saat ruangan UGD itu terbuka dan seorang dokter keluar dari sana.

Dokter yang memeriksa Ann membawakan berita baik. Ann sungguh beruntung karena hanya menderita gegar otak yang tidak terlalu parah, tidak ada tulang yang patah tapi meskipun begitu kepalanya yang bocor harus menerima beberapa jahitan. Dokter juga menyakinkan mereka kalau Ann tidak akan apa-apa, semuanya sudah bisa diatasi. Ia hanya perlu istirahat dan akan pulih secepatnya.

Semua bernafas lega setelah mendengarnya.

“Aku ada satu permintaan.” ujar Dennis pelan, “izinkan aku menemuinya saat ini. Yang terakhir. Aku janji padamu, setelah ini aku akan memegang janjiku tidak akan lagi menampakkan diriku di depan kalian semua. Tidak juga pada Ann.”

Dengan berat hati Papa menyanggupinya.

Ann dipindahkan ke kamar rawat inapnya. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan menjenguknya karena ia masih dalam kondisi tidak sadar. Tapi Papa berhasil membujuk dokter untuk memperbolehkan Dennis masuk ke dalam untuk melihatnya.

Maka berdirilah Dennis di situ dengan hati yang hancur, di depan Ann yang terbaring tak sadarkan diri dengan perban yang membalut kepalanya dan luka-luka lain di tubuhnya.

Dennis menarik kursi dan duduk di samping Ann berbaring. Perlahan-lahan diraihnya tangan mungil Ann dan digenggamnya dengan erat. Dennis memandanginya dengan pilu. Hatinya teriris-iris menahan diri untuk tidak menangis.

Tak ada satu katapun yang sanggup keluar dari bibirnya yang kelu. Ia hanya mampu mengutuk dirinya sendiri.

——-

Dennis tertidur di sampingnya, seharian menjaganya. Saat pagi-pagi sekali, Josh dan Emma memasuki kamar Ann. Josh kaget bukan main melihat Dennis tertidur di sana. Ia segera menarik Dennis, mengajaknya ribut.

“Apa yang kau lakukan di sini! Kau mau apa, hah!?”

“Josh, sudahlah, jangan tambah-tambah masalah lagi di sini.” Emma meleraikan mereka.

Josh menarik Dennis keluar dari kamar. Emma tidak mengikuti mereka, ia menutup pintu dan menghampiri Ann. Matanya menatap sayu pada Ann, bagaimanapun juga ia sangat menyayangi temannya itu. Ia menyesal dengan semua pertengkaran yang harus mereka lalui beberapa hari ini. Ia malu pada dirinya sendiri, pada semua perbuatannya yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa sekalipun memikirkan perasaan Ann. Ia sudah sadar ternyata sejak dulu Ann menyukai Josh, tapi Ann selalu menyimpan perasaannya dalam-dalam, ia bahkan rela memberikan Josh pada Emma, tapi Emma malah menyia-nyiakan pengorbanan Ann dengan menyukai cowo lain. Emma menyesal tidak menyadarinya dari dulu, lebih menyesal lagi karena akibat perbuatannya itulah Ann harus berurusan dengan Dennis.

Emma menghapus semua lamunannya saat suara berisik Josh dan Dennis di luar kamar membuat Ann siuman perlahan-lahan. Tapi Emma merasa lega, ia lekas mendekatinya,
“Ann….kau sudah sadar?”

“Di mana aku..” jawab Ann serak.

“Kau ada di rumah sakit sekarang. Jangan banyak bergerak dulu, dokter bilang kau harus banyak-banyak istirahat.” Emma tersenyum lembut, “kau sangat beruntung, meskipun kepalamu harus banyak menerima jahitan tapi nyawamu selamat.”

Ann berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ia hanya ingat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya dan menabraknya. Lalu ia tidak ingat apa-apa lagi. Semakin ia memutar otaknya, kepalanya semakin berdenyut-denyut sakit.

Kemudian suara Dennis menyadarkannya, ia menoleh ke samping, ke arah jendela kamarnya dan melihat Dennis tengah bertengkar dengn Josh di luar. Ia baru teringat dengan semuanya. Semua yang menyakitkan………..

“Kau jangan muncul di depan kami lagi! Aku sudah dengar semuanya dari Papa Ann, kau bajingan brengsek! Hanya memacari Ann demi uangnya!!” Josh membentur Dennis ke tembok.

Dennis terhenyak saat ia melihat dari balik kaca, Ann sudah siuman. Hatinya merasa lega, tapi juga sakit karena di saat inilah ia harus semakin menghancurkan Ann. Tapi untuk yang terakhir kalinya.

“Memangnya kenapa kalau aku butuh uangnya?” Dennis tertawa renyah, sebisa mungkin membunuh perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Ia ingin menerobos masuk ke dalam sana dan bilang pada Ann kalau ia sangat mencintainya, tapi ia tahu bagaimana pun ia sudah berjanji akan melepaskan Ann.

“Salah dia sendiri kenapa bisa sebodoh itu, mau aja ditipu. Sialan, kalau saja rencanaku ini tidak cepat terbongkar, aku bisa meraup keuntungan lebih banyak darinya!!”

“Kau!!” Josh marah besar melihat senyum Dennis yang tanpa rasa bersalah.

“Dia terlalu naif, mungkin selama ini dia kira aku benar-benar menyukai dia, yang aku sukai itu hanya uangnya! Tidak masalah kalau dia tidak menyukaiku juga, toh aku berhasil memeras papanya habis-habisan.”

Ann membekap mulutnya dengan tangan, menangis mendengar semua itu.

“Kenapa kau sangat peduli dengan Ann? Kau suka dia? Ya sudah, ambil saja sana. Aku tidak butuh dia lagi, yang penting kan aku sudah dapat uang banyak dari papanya.” Dennis menertawai Josh.

Emma keluar dari kamar, “Josh, bawa dia pergi dari sini! Ann tidak harus mendengar semuanya kan?! Cepat bawa dia pergi!”

“A..apa?” Josh terperangah melihat ke dalam, Ann ternyata sudah mendengar pertengkaran mereka sejak tadi. Ia segera menarik kerah baju Dennis untuk menyeretnya pergi dari situ, tapi Dennis malah masuk ke dalam kamar, berdiri menantang di depan Ann.

“Ann, aku tidak bermaksud membuatmu sampai masuk rumah sakit begini. Tapi kuharap kau tidak terlalu dendam padaku, aku juga berharap kau bisa melupakan semuanya. Di antara kita tidak perlu ada yang disesali karena hubungan kita hanya dilandasi kebohongan belaka. Toh aku juga tidak pernah serius padamu, apalagi sampai mencintaimu, semua ucapanku itu hanya bohong. Sekarang kau sudah tahu semuanya kan? Lupakan saja, anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Begitu lebih baik. Kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing.”

Dennis bisa melihat dengan jelas air mata Ann yang mengalir karena semua ucapan kasarnya. Tapi ia mencoba berpura-pura tidak peduli. Tanpa perlu ditarik oleh Josh, Dennis segera mengangkat kakinya pergi dari situ.

Langkahnya terlihat mantap di koridor rumah sakit itu, meninggalkan mereka semua yang menatapnya dengan marah.

Tapi bukan tatapan orang-orang itu yang mengoyakkan hati Dennis, melainkan tatapan mata Ann saat ia mengucapkan semua kata-kata kejam itu. Gadis itu menangis.

Ia berharap lebih baik ia buta sehingga tidak perlu melihat Ann menderita…….lebih baik ia tuli sehingga tidak perlu mendengarnya menangis….lebih baik ia mati daripada membuatnya sedih……….

Lalu di tempat yang sepi itu, saat tak ada yang melihatnya lagi…..Dennis jatuh berlutut di bawah.

Ia tak tahan lagi, ia pun meneteskan air mata. Menangis tanpa ada yang melihatnya.

Hatinya menjerit-jerit penuh kesakitan.

Maafkan aku,…..aku telah melukaimu. Aku terlalu bersalah padamu, tidak seharusnya aku membawamu masuk ke dalam kehidupanku, dan aku pun tidak seharusnya masuk ke dalam kehidupanmu. Aku telah membohongimu, menyakitimu dan membuatmu jadi begini. Percayalah, sedikitpun aku tidak bermaksud melukaimu. Aku rela menanggung apapun seandainya itu bisa membuatmu lepas dari penderitaan ini. Seandainya saja kau tahu perasaanku. Aku tidak pura-pura baik padamu, aku memang mencintaimu.

Aku tidak tahu apa kau juga mencintaiku, tapi kau selalu baik padaku, kau selalu ada di sampingku meskipun kau sudah tahu keadaanku yang sebenarnya, dan aku dengan bodohnya menghancurkan hatimu………seharusnya aku tidak melakukan itu. Tapi aku terpaksa. Aku harus membuatmu melupakanku, aku harus melepaskanmu. Orang sepertiku tidak pantas bersamamu sedetikpun……..Orang seperti aku hanya akan membuatmu menderita seperti ini. Papamu benar, semua orang benar, aku memang tidak pantas untukmu. Aku akan menjauh darimu, Ann , sebisa mungkin akan menghilang dari hidupmu hingga kau tidak perlu lagi sakit hati. Kuharap kau bisa mengerti. Kuharap kau tahu, aku memang mencintaimu.

Dennis menangis di sana.

Tidak ada seorang pun yang tahu betapa hancur hatinya saat ini……

Kalau ada orang yang paling menderita dalam semua kejadian ini, Dennis-lah orangnya.
I would die for you
I would die for you
I’ve been dying just to feel you by my side
To know that you’re mine

I will cry for you
I will cry for you
I will wash away your pain with all my tears
And drown your fear

I will pray for you
I will pray for you
I will sell my soul for something pure and true
Someone like you

See your face every place that I walk in
Hear your voice every time I am talking
You will believe in me
And I will never be ignored

I will burn for you
Feel pain for you
I will twist the knife and bleed my aching heart
I’ll tear it apart

I will lie for you
I can steal for you
I will crawl on hands and knees until you see
You’re just like me

Violate all my love that I’m missing
Throw away all the pain that I’m living
You will believe in me
And I can never be ignored

I would die for you
I would kill for you
I will steal for you
I’d do time for you
I would wait for you
I’d make room for you
I’d sail ships for you
To be close to you
To be a part of you
‘Cause I believe in you
I believe in you
I would die for you

Come up to meet you, tell you I’m sorry
You don’t know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
And tell you I set you apart
Tell me your secrets, and nurse me your questions
Oh lets go back to the start
Running in circles, coming in tails
Heads on a science apart
Nobody said it was easy
It’s such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh take me back to the start

***
Priska dan Ria langsung pergi menjenguk Ann begitu mereka pulang dari sekolah. Mereka hanya tahu Ann semalam ketabrak mobil, selebihnya mereka tidak tahu apa-apa. Sesampai di kamar inap Ann, hanya ada Emma dan Josh yang menjenguk di sana.

Priska langsung memeluk Ann, “Ann….kau baik-baik saja kan? Aku hampir mati ketakutan mendengar kau ketabrak mobil.”

Ria meletakkan kantung plastiknya yang penuh dengan buah apel ke bawah ranjang, ia tersenyum malu-malu, “Aku tidak tahu harus bawa apa ke sini, kata Priska lebih baik bawa apel…..tapi kurasa itu ide tolol, masak abis ketabrak mobil makan apel?”

“Tidak usah repot-repot begitu,” Ann terharu ,”kalian habis pulang sekolah ya? Gimana sekolah hari ini?”

”Tidak ada kejadian seru apa-apa, tuh si ketua Osis baru bikin peraturan aneh, tiap hari Jum’at-Sabtu kita boleh pake baju bebas sesuka hati kita. Si Ria kesenengan tuh!”

“Iya, Ann, jadi aku bisa bebas mau pake apa aja.” Ria terkikik lucu, “gak ada lagi deh yang larang-larang aku pake rok pendek.”

Mereka tertawa bersamaan. Emma melirik Josh, membisikkan sesuatu dan kemudian mereka berdua meninggalkan ruangan itu.

Josh berjalan di depan Emma, kemudian berhenti sebentar menoleh ke belakang, “Mau bicara apa lagi?”

“Kau masih marah padaku ya?”

“Kau mau membicarakannya di saat-saat begini? Ayolah Emma, aku sama sekali tidak berselera.” Josh terlihat jengkel.

“Aku tahu kau masih marah. Aku tidak menyalahkanmu.”

“Lalu maumu apa?”

”Sekarang kau sudah tahu kan, Ann itu dari dulu selalu menyukaimu. Dia menyimpan semuanya demi aku.”

“Ya, aku tahu.”

”Lalu apa kau…”

”Emma!” Josh memotongnya cepat, “sebenarnya apa inti dari pembicaraan ini? Tolong jangan bertele-tele.”

”Apa kau juga punya perasaan yang sama pada Ann? Maksudku, setelah semua yang terjadi semalam….kau kelihatannya sangat terpukul. Tadi saja kau sampai bertengkar hebat dengan Dennis. Aku pikir….mungkin saja kau juga punya perasaan khusus pada Ann.”

Josh menatapnya tak percaya, ia tersenyum getir, “Dia itu temanku, kalau ada sesuatu yang terjadi padanya tentu saja aku akan khawatir. Dan kalau dia sampai sakit hati gara-gara ulah cowo bajingan itu, tentu saja aku akan mencari perhitungan padanya! Kau ini kenapa sih? Memangnya kau tidak sedih melihat Ann disakiti seperti itu? Kalau kau jadi aku, kau pasti juga akan melakukan hal yang sama bukan ?!”

“Aku bukannya tidak sedih dengan keadaan Ann. Bagaimana mungkin aku bisa tidak sedih, Ann itu temanku sejak kecil! Apa yang kami miliki jauh lebih banyak dibandingkan kau dan Ann!”

”Lalu apa intinya!!”

”Intinya, aku rasa kau sebenarnya menyukai Ann!!” bentak Emma keras, bahunya turun-naik menahan emosi.

Josh menatapnya tajam, Emma tidak mampu mengartikan arti dari tatapannya itu. Ia merasa tidak berkutik, takut untuk mendengar jawaban Josh yang sesungguhnya.

“Akui saja, Josh. Sungguh aku tidak keberatan kalau kau bersama dengan Ann, aku hanya mau memastikan apa yang aku rasakan ini adalah benar.”

“Memangnya apa yang kau rasakan?”

“Aku merasa……kau-lah satu-satunya orang yang bisa menghapus luka di hatinya.”

“Itu yang kau rasakan?”

“Ya.”

“Sungguh itu yang kau rasakan, Emma? Hanya itu?”

Emma tidak menjawab. Kemudian Josh mengangguk kecil di hadapannya, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam, “Baik, kau mau tahu apa yang kurasakan, Emma? Aku memang menyukai Ann, aku bahkan menyayangi dia melebihi diriku sendiri. Tapi orang yang aku cintai bukan dia!”

Emma memejam mata saat Josh melangkah pergi meninggalkannya.

Lagi-lagi aku telah membuatnya kecewa….
***

Sore itu Ann mengamati butiran-butiran hujan yang membasahi jendela kamar rumah sakitnya. Ia menerawang, melamun sambil menahan rasa sakit yang masih sedikit bersarang di kepalanya.

Ia mendengar bunyi ketukan pintu dan tersenyum saat Emma masuk.

“Kenapa masih ada di sini? Kau belum pulang sejak tadi pagi?”

Emma duduk di sampingnya, menggerak-gerakkan tulang punggungnya, “Iya nih capek, abis ini aku sudah mau pulang kok. Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Tidak mungkin kan, aku menjawab ‘aku sudah baikan’ ?” Ann menunduk sedih.

“Kau masih sedih ya?”

“Kau tahu, Emma? Lebih baik kita terluka secara fisik daripada hati kita yang terluka, sakitnya tak akan hilang sampai kapanpun juga.”

“Tapi Ann, kau harus melupakan dia.”

“Bagaimana caranya? Bisakah kau beri tahu aku, bagaimana cara melupakan orang yang kita sayangi dan kita benci sekaligus? Orang yang telah membawa kita terbang tinggi, tapi juga mematahkan sayap kita dan menghempaskan kita ke tempat yang paling dalam? Orang yang telah menoreh cinta dan luka di hati kita di saat bersamaan?”

Emma memeluk Ann sebelum gadis itu menangis lagi. Ia membelai pundaknya dengan lembut, “Aku mengerti apa yang kau rasakan, Ann. Aku mengerti…..Ini semua salahku, secara tidak langsung aku-lah yang telah menyeretmu pada Dennis.”

“Ini bukan salahmu.”

“Ann, aku menyesal atas semua perbuatan dan ucapanku tempo hari. Aku memang bukan teman yang baik. Kau pantas marah padaku. Kau memang benar, Josh terlalu baik untuk orang semacam aku, dia sepantasnya denganmu.”

Ann melepaskan pelukannya, mengamatinya tajam, “Apa maksudmu?”

“Pasti berat bagimu untuk selalu menyimpan perasaan pada Josh selama ini. Aku memang tolol, baru sadar di saat-saat terakhir, pasti selama ini perbuatanku sudah banyak membuatmu kecewa. Seandainya aku tahu sejak dulu……Kau selalu baik dan perhatian pada Josh bahkan melebihi rasa sayangku sendiri padanya. Sebenarnya kau-lah yang paling pantas mendampingi Josh.”

“Emma?”

“Ann, aku dan Josh memang sudah putus, semua karena salahku, tapi aku tidak berharap apa-apa lagi dari hubungan kami. Aku mau merelakannya untukmu.”

“Emma, kau salah….aku…”

“Aku sama sekali tidak keberatan, Ann. Kalau memang Josh bisa menyembuhkan semua luka di hatimu..”

”Emma, aku tidak lagi mencintai Josh.” jawab Ann tegas, “dan aku tidak mau merusak hubungan kalian. Apa kau tidak sadar, meskipun kalian sudah putus tapi Josh masih sangat mencintaimu. Aku juga tidak mengerti bagaimana caranya aku bisa melupakan perasaanku pada Josh, itu semua terjadi tanpa aku sadari.”

“Karena Dennis?”

Meski sakit tapi Ann mengangguk, “Aku terlambat menyadarinya. Sekarang aku malah berharap aku tidak perlu menyadarinya sama sekali, agar aku tidak perlu menanggung semua ini. Bahkan kalau perlu aku tidak usah selamat dari kecelakaan ini, biar aku membawa mati semua luka ini. Aku memang bodoh, bodoh karena bisa jatuh cinta pada orang seperti itu, yang jelas-jelas hanya bermaksud memanfaatkanku.”

“Kita semua bodoh, Ann. Tak ada satupun dari kita yang terlalu pintar untuk menghindar dari cinta, karena pada akhirnya kita semua terluka.”
***

Butuh waktu sebulan bagi Ann untuk benar-benar memulihkan dirinya dari musibah ini. Perban yang membalut di kepalanya sudah boleh dilepas, dan dia pun sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Setiap orang menyambutnya gembira.

Tapi tidak bagi Ann. Dia tidak merasakan apa untungnya bisa sembuh dari luka fisik, karena sampai kapanpun juga ia tidak yakin apa luka di hatinya bisa disembuhkan. Meski ia sudah bisa pulang ke rumah dan menjalani semua aktivitas sehari-harinya dengan normal kembali, tapi tetap saja ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ada yang pergi dan meninggalkan kekosongan dalam hatinya.

Ia merasa apa yang ada di sekelilingnya tidak sama lagi seperti dulu. Bahkan tawa dan senyumnya pun tidak sama lagi. Begitu banyak orang yang tanpa putus asa terus mencoba menghiburnya, menariknya keluar dari kesedihan itu. Tapi sia-sia saja, bukankah semua itu malah mebuat Ann semakin terpuruk? Ia tidak perlu perhatian extra dari mereka semua, juga tidak perlu dikasihani.

Yang ia perlukan hanya waktu. Mungkin dengan waktu itu-lah, ia sanggup menyembuhkan lukanya sendiri.

Dan mungkin, hanya dengan waktulah ia bisa melupakan Dennis.

Dia telah membuatku hidup, tapi dia juga lah yang membuatku mati seketika. Dia yang telah membuka hatiku untuk cinta yang baru, tapi dia jugalah yang menutup pintu hatiku untuk kebahagiaan lain yang bisa kuraih. Aku tak akan bisa melupakan semua kenanganku bersamanya, tapi aku pun tak bisa melupakan sakit hati ini. Aku tak tahu salahku di mana, mungkin aku memang terlalu naïf….atau mungkin kesalahanku hanya satu, yaitu mencintai orang yang salah

Ann tidak pernah menyadari, saat hari pertamanya kembali ke rumah, seseorang mengamatinya dari kejauhan. Saat ia turun dari mobil dan perlahan-lahan dibantu oleh Papanya masuk ke dalam rumah, ada seseorang yang berdiri di kejauhan sana, menahan diri untuk tidak menghampirinya. Menahan diri untuk tidak mencintainya lagi.
****

Beberapa hari menjelang ujian akhir………….

Ann mengamati brosur-brosur perguruan tinggi yang berjejer rapi di meja depan ruang BP. Murid-murid kelas 3 berbondong-bondong mengambilnya sambil terus berdebat universitas mana yang paling bagus. Ada yang sudah mantap dengan pilihannya, ada yang masih bingung dan berkonsultasi dengan guru, ada juga yang cuek bebek.

Josh tersenyum melihat Ann datang, “Buat apa liat-liat? Kan sudah pasti mau ke Inggris.”

“Kau sendiri buat apa liat-liat? Bukannya waktu itu sudah beli formulir?”

”Aku berubah pikiran. Aku ingin kuliah di tempat yang aku mau, bukannya semata-mata pengen satu kampus lagi dengan Emma.”

Ternyata Josh sudah tidak berniat lagi satu kampus dengan Emma. Sejak putus, hubungan mereka memang jadi agak dingin, ada kesan Josh selalu menjauhi Emma dan begitu pun sebaliknya. Karena kedua-duanya makhluk paling popular di sekolah ini, maka kabar putusnya mereka tentu saja langsung menyebar dengan versi yang berbeda-beda.

“Kau jadi kuliah di Inggris?”

“Tidak ada sesuatu yang membuatku harus membatalkannya.” Ann tersenyum kecil.

“Aku akan kehilanganmu.”

“Aku juga.”

Josh mengerut kening sesaat, memberanikan diri untuk bertanya, “Bagaimana keadaanmu sekarang, Ann?”

”Aku? Aku sudah pulih total, kau bisa lihat sendiri kan?”

“Iya,” Josh tertawa kaku.

“Kalau yang kau maksud itu hatiku, kau tahu sendiri aku tidak semudah itu pulih.”

Josh diam.

“Ah tapi sudah lah, aku tidak mau memikirkannya lagi. Sebentar lagi kan ujian, lebih baik aku konsentrasi belajar. Iya kan, Josh?”

“I..iya…”

“Hey, bagaimana dengan kau sendiri? Sejak putus dengan Emma..”

”Aku baik-baik saja, Ann. Sungguh. Yaaa..memang masih ada sakit hati sedikit, tapi aku bisa melewatinya.”

”Aku ingin sepertimu.”

”Kau pasti bisa. Aku pasti akan membantumu. Pasti.”
***
Plok….plok….plok…..

Seluruh hadirin yang memadati hall dalam acara pelepasan murid kelas 3 berdiri serentak, memberikan tepuk tangan terhangat mereka untuk 210 murid yang telah dinyatakan lulus. 210 murid itu berbaris rapi di depan, berjejer dan tersenyum bangga sambil memegang surat ijazah mereka. Tepuk tangan meriah terus mengumandang di seantero ruang tertutup itu, tak henti-hentinya memberi pujian pada mereka semua. Kelas mereka satu persatu diabadikan oleh juru kamera, mulai dari kelas IPA, IPS maupun Bahasa.

Kepala sekolah maju ke depan, memberikan pidato pelepasannya penuh dengan rasa bangga. Tepuk tangan semakin meriah saat 10 lulusan terbaik, Ann salah satunya, ikut maju dan diabadikan oleh juru foto bersama dengan guru-guru mereka.

Tak terasa inilah momen yang sangat ditunggu-tunggu, momen terakhir mereka setelah 3 tahun mengarungi masa SMA. Banyak yang tak kuasa menahan rasa haru dan menangis bersama teman dan keluarga masing-masing. Banyak pula yang terus merangkul gurunya dan mengucapkan terima kasih. Apa yang terus mereka keluhkan saat masih sekolah rasanya bukan apa-apa lagi saat mereka sadar mereka akan berpisah dengannya. Di saat-saat inilah semuanya terasa sangat berharga.

Mungkin setelah lulus, mereka akan berpencar dan tidak pernah bertemu lagi. Mungkin lulusan terbaik akan menjadi orang yang paling melarat, mungkin murid yang nilainya terjelek justru akan menjadi pengusaha sukses. Mungkin mereka yang popular akan menjadi ibu rumah tangga biasa, sedangkan mereka yang di-cap kutu buku malah menjadi orang tenar.

Tapi setidaknya untuk saat ini mereka belum berubah, mereka tetaplah 210 murid itu.

Dua ratus satu murid, satu kebahagiaan.

Malam dilanjutkan dengan pesta promnite di salah satu hotel berbintang 5. Semua tampil dengan gaun dan setelan jas terbaik masing-masing. Sesuai tradisi, malam ini juga diadakan acara penobatan cewe-cowo tercakep, terheboh, terjaim, terpintar, terbaik, dll. Yang jadi tercakep sudah pasti Emma dan Josh, tidak ada yang heran. Hanya saja Josh tidak mendampingi Emma yang dinobatkan jadi Prom Queen, di luar dugaan yang menjadi Prom King justru Rico.

Prom nite baru bubar sekitar jam 11 malam lebih.

Ann nyaris tertidur di mobil saat Josh mengantarnya pulang bersama Emma. Emma terus heboh berceloteh tentang mahkota Prom Queen miliknya yang katanya kurang bagus, mutiaranya kurang banyak, kurang mengkilap, dan lain-lain. Baik Ann maupun Josh tidak begitu serius menyimaknya.

Saat Ann tengah melamun di tempat duduknya, ia merasa ada mobil lain yang terus menempel di sebelah mobil Josh. Kecepatannya sengaja menyamai laju mobil Josh. Ann semakin bingung saat mobil itu semakin lama semakin merapat.

Josh juga menyadarinya, “Mobil siapa sih tuh?! Reseh banget nempel-nempel!”

Ann menyipitkan matanya berusaha menembus kegelapan kaca mobil Josh untuk mengintip siapa si pengemudi misterius itu. Tapi sebelum ia bisa mengintip, Josh sudah keburu hilang kesabarannya. Ia menepi mobilnya di pinggir jalan raya yang sepi.

Mobil itu mengikutinya, berhenti di belakang mobil Josh.

Josh mengintip dari balik kaca spion, “Hei, kalian kenal orang itu?”

Baik Ann maupun Emma sama-sama tercengang melihat siapa si pengemudi misterius yang baru saja keluar dari mobil dan tergopoh-gopoh mendatangi tempat mereka.

“Vincent…” Emma reflek menatap Ann, “Itu Vincent.”

Ann menelan ludah.

“Vincent siapa?” tanya Josh heran.

“Vincent…..teman Dennis.”

“Apa?!”

Ann tidak bersuara saat Vincent menghampiri mobil mereka dan mengetuk-ngetuk kaca mobil di tempat duduknya. Ann nyaris membuang muka kalau saja Josh tidak cepat keluar dari mobil.

“Hei, mau apa kau!”

Vincent terus mengetuk kaca jendela Ann, “Ann, keluar sebentar, aku harus bicara padamu.”

“Bicara apa? Soal temanmu yang bernama Dennis itu? Sudah tidak ada yang harus dibicarakan! Ann tidak mau berurusan lagi dengan bajingan-bajingan macam kalian!”

“Tapi ini penting! Ann harus tahu semuanya, dia harus tahu kalau Dennis…”

“Hey, jangan sebut-sebut nama orang itu lagi di depanku!” Josh naik pitam, “suruh orangnya datang ke sini kalau berani!”

Emma ikut keluar dari mobil, serba salah mencoba membujuk Vincent pergi. Tapi Vincent tidak mau, “Susah payah aku mencari Ann, kau suruh aku pergi?! Aku tidak akan pergi sebelum Ann mau mendengar semua penjelasanku!”

“Ann tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti kalian lagi!” hardik Josh.

“Vincent….kau jangan membawa-bawa masalah Dennis lagi, keadaannya sudah membaik sejak sebulan ini, tapi kalau kau mengungkit-ungkit nama Dennis lagi di depannya…”

“Tapi, Emma…”

Mereka bertiga tertegun diam saat pintu tempat duduk Ann tiba-tiba terbuka, gadis itu keluar dari dalam mobil dengan begitu tenang. Namun kerisauan di dalam hatinya tidak bisa disembunyikan, “Emma benar, Vincent, keadaanku sudah membaik sejak sebulan ini. Tolong jangan kau kacaukan lagi.”

“Tidak, kau harus tahu yang sebenarnya tentang Dennis! Ann, apa kau tahu Dennis juga menderita sejak peristiwa itu?! Dia sengaja berbuat seperti itu semuanya demi kau! Jangan kau kira dia selama ini hanya memanfaatkanmu, Dennis itu sebenarnya benar-benar menyukaimu! Dan jangan kau kira dia mendekatimu hanya karena uang! Memang benar Papamu memberinya cek kosong, tapi Dennis tidak mau menerimanya, cek itu bahkan dirobek olehnya!”

Ann menatapnya tanpa ekspresi. Semua itu hanya omong kosong baginya.

“Kau harus percaya padaku, Ann! Dennis itu tidak bermaksud menyakitimu. Dia sengaja berbuat seperti itu karena…”

”Karena apa, hah!” bentak Josh tak sabar, “buang semua omong kosongmu itu jauh-jauh!! Ann tidak akan semudah itu percaya padamu!”

Vincent memelas menatap Ann, “Ann, kau harus percaya..”

Ann tidak bersuara.

“Ann, kumohon…..percayalah. Semua yang kuucapkan itu benar! Kau harus percaya….”

“Mulai detik itu, aku tidak tahu lagi harus percaya pada siapa.”

Sunyi……..

“Aku tidak tahu apa ceritamu itu benar atau hanya omong kosong belaka. Aku juga tidak tahu apa maksudmu menjelaskan semua itu padaku. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak peduli lagi dengan semuanya. Maafkan aku, Vincent, tapi kumohon berhentilah mencariku. Kau tidak perlu capek-capek mengejarku sampai ke sini hanya untuk menjelaskan masalah itu, karena itu benar-benar tidak ada pengaruhnya lagi bagiku.”

“Aku tidak percaya kau bilang begitu…..apa kau tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Dennis? Sedikit pun kau tidak mau peduli lagi padanya?”

Ann tidak menjawabnya.

“Aku tidak percaya kau benar-benar tidak peduli padanya.”

“Kalau begitu mulai saat ini kau harus percaya,” jawab Ann tajam, “dia bukan apa-apa lagi bagiku. Aku bisa saja mendengar semua penjelasanmu itu kalau aku memang masih punya perasaan padanya, tapi aku tidak mau. Kau, juga Dennis, harus tahu kalau aku tidak sebodoh dulu lagi. Entah apa yang bisa membuatku memaafkannya.”

“Tapi Ann, aku tadi sudah bilang…semua itu…”

Ann tidak menghiraukannya, ia masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Emma menyusulnya meski ia masih ragu.

“Ann, kau harus percaya!! Ann!!”

Josh menatapnya garang, “Kau sudah dengar kan? Dia sudah tidak mau lagi berurusan dengan bajingan itu. Jadi jangan sekali-kali lagi kau mencari Ann!”

Vincent tak bersuara. Ia tak berdaya saat Josh masuk ke dalam dan langsung membawa kabur mobilnya beserta Ann. Ia hanya bisa berdiri lemas di sana.
***
Ann berkemas-kemas sehari sebelum keberangkatannya. 2 koper ukuran besar sudah berjejer rapi di kamarnya. Ia hanya perlu memasukkan beberapa baju tebal lagi, setelah itu selesai. Ann mengambil bingkai foto kesayangannya yang berisi foto teman-temannya. Ia tersenyum geli melihat pose jenaka mereka di dalam foto itu. Melamun sejenak, lalu memasukkan bingkai itu ke dalam kopernya.

Ia mendesah kecil, rasanya berat sekali meninggalkan semua ini. Keluarganya…..saudaranya….teman-temannya…..Sepertinya baru kemarin mereka berkumpul bersama tapi besok ia sudah harus berpisah dengan mereka. Ann menebak kira-kira perubahan apa yang akan mereka alami selama beberapa tahun ke depan.

Tapi mungkin ini lebih baik, siapa tahu dengan begini Ann bisa melupakan semua kejadian buruk yang pernah terjadi di sini.

Pintu kamar diketuk dari luar, tak lama kemudian Papa masuk ke dalam. Ia tersenyum kecil melihat koper-koper Ann, “Baru kemas-kemas nih? Besok kan sudah mau berangkat. Cepat ya, rasanya baru kemarin kamu pakai seragam putih abu-abu….sekarang malah sudah mau kuliah.”

Ann tersenyum menimpalinya.

“Gimana perasaan kamu sekarang?”

“Maksud Papa?”

Papa duduk di tepi ranjangnya, “Yaa…perasaan kamu karena sudah mau pergi ke Inggris. Waktunya tidak singkat loh.”

”Aku bakal kangen sama teman-teman.”

”Sama Papa enggak kangen?”

”Ya kangen donk!” Ann tertawa sambil merangkul Papanya, “Sama Papa, sama Mama, sama Bi Sumi juga kangen!”

“Papa lega kamu sudah bisa tertawa. Baguslah….”

“Memangnya kenapa kalau aku tertawa?”

“Papa kira….kamu masih trauma sama peristiwa itu.”

Ann tersenyum simpul, “Aku sudah melupakannya, Pa. Aku sama sekali tidak memikirkannya lagi.”

”Sungguh?”

Ann melepaskan rangkulannya, kembali sibuk berkemas-kemas, “Sungguh. Aku memang tidak memikirkannya lagi.”

—————

Sore itu saat Vincent sedang berjalan seorang diri di kampusnya, ia mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh mencari-cari si pemanggil, lalu terkejut melihat siapa orang itu.

Emma berlari kecil menghampirinya dengan nafas tersengal-sengal, “Hh…hh…Aku sudah mencarimu ke mana-mana di kampus ini…ada yang harus kita bicarakan…..”

“Tentang apa?”

“Tentang semuanya, Vincent, tentang semuanya.”

Vincent kontan tersenyum lebar padanya.

Di meja kantin itu Vincent menceritakan semuanya pada Emma dari awal. Semuanya. Tentang awal perkenalan mereka dengan Emma, saat mereka pertama kali mereka bertemu Ann, kemudian tentang niat mereka untuk menjebak Ann agar Papanya mau mengeluarkan uang buat Dennis, lalu tentang perubahan rencana mereka yang semata-mata karena Dennis jatuh cinta beneran pada Ann, dan yang terakhir saat Dennis terpaksa melukai Ann demi kebaikan Ann sendiri.

Emma tercengang mendengarnya. Meskipun ia agak tersinggung mendengar mereka pernah berniat memanfaatkan dirinya, tapi Emma lebih terkejut lagi karena Dennis sebenarnya mencintai Ann. Sebenarnya ia ragu untuk mempercayai semua ucapan Vincent, tapi sepertinya ia tidak punya alasan untuk tidak percaya.

“Apa ceritamu bisa dipercaya?”

“Coba pikir, Emma, apa untungnya bagiku mengarang-ngarang cerita seperti itu? Aku tidak berbohong sedikitpun! Dennis memang benar terjerat hutang ayahnya, dia memang butuh uang, tapi cek dari Papa Ann itu sama sekali tidak disentuhnya! Ia sedikitpun tidak mau memakai cek itu!”

“Tapi kenapa di rumah sakit itu…”

“Kan sudah kubilang, Dennis pikir dia tidak pantas mendampingi Ann. Dia berbuat itu semata-mata agar Ann bisa melupakannya! Lagipula itu permintaan Papa Ann. Dennis pikir benar juga, mungkin Ann memang tidak semestinya bersama dengannya, dia tipe cowo yang tidak punya masa depan.”

Emma mengerut kening, berpikir keras untuk memecahkan semua kesalahpahaman ini.

“Sampai sekarang pun Dennis masih belum bisa melunasi hutang-hutang ayahnya. Dia terpaksa bersembunyi selama sebulan ini.”

“Apa keadaannya baik-baik saja?”

“Tidak terlalu baik. Kau tahu, kadang saat kita melukai orang yang kita cintai, luka yang kita tanggung jauh lebih sakit daripada orang itu.”

“Apa Dennis tahu besok Ann sudah mau berangkat ke Inggris?”

Vincent mematung diam sebagai jawabannya.

“Aku tak akan membiarkan Ann pergi begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya.”

“Kau mau membantunya?”

“Tentu.” Jawab Emma mantap.

Ann mengadakan acara perpisahan dengan beberapa teman akrabnya di salah satu restoran Jepang. Mereka berkumpul di sana memberi ucapan perpisahan terakhir buat Ann. Semua teman akrabnya hadir di sana kecuali Emma. Tapi sedikitpun Ann tidak curiga karena ia sudah menerima telepon dari Emma yang katanya bakal telat dikit.

“Ann harus sering-sering balik ke Indo ya, jangan mentang-mentang udah keasikan kuliah di sana.”

”Iya, terus jangan lupa bawa oleh-oleh buat kita.”

Semuanya tertawa.

“Eh, aku kan ke sana buat kuliah!”

“Tapi enak juga ya jadi Ann. Bisa kuliah ampe ke Inggris segala, mana kuliahnya ambil jurusan kedokteran lagi!”

“Kan lulusnya lama, Ann.”

”Tidak masalah, itu kan cita-citaku sejak dulu.”

“Bagaimana pun juga kita semua salut, mungkin di angkatan kita ini cuma ada satu orang yang ambil kedokteran sampai ke Inggris.”

”Dan kita semua bakal kehilangan kau, Ann….”

“Ayo kita tos,” Josh bangkit berdiri sambil mengangkat gelas minumannya, “buat teman kita yang sebentar lagi bakal pergi lamaaaaa banget.”

“Buat Ann!!”

Ann mengikuti semua teman-temannya yang sudah berdiri sambil mengangkat gelas. Ia tertawa kikuk melihat pandangan mata semua pengunjung restoran yang tertuju pada mereka.

“TOOOSS !!!”

Kira-kira 30 menit kemudian akhirnya Emma datang juga, baru acara makan-makan itu bisa dimulai.

“Kasih kata-kata perpisahan donk, Ann….” desak mereka pada Ann di sela-sela acara.

“Aduh malu-maluin aja. Kalian dulu donk.”

“Oke…oke…biar aku dulu.” Ria mengajukan diri, “buat temanku, Ann. Semoga dia tidak lupa sama kita-kita semua. Semoga dia sukses dengan kuliahnya dan cepat-cepat bawa pulang cowo bule!”

“Huuuhhh……” semua menyorakinya.

“Aku! Aku!” giliran Priska, “aku cuma mau bilang, Ann itu teman yang paling baik, paling sabar sedunia, paling imut, paling kalem, paling pinter, paling rajin bikinin PR buat kita semua, pokoknya paling semuanya deh! Aku pasti bakal kehilangan dia selama beberapa tahun mendatang. Semoga dia tidak pernah melupakan kita semua, termasuk aku. Kalau sudah jadi dokter, aku setiap hari boleh check up gratis ya!!”

“Yeeehhh!! Maunya!”

“Aku juga mau,” giliran Josh yang buka suara sembari menatap Ann dalam, “aku baru mengenal Ann tidak lama, tapi rasanya aku sudah mengenal dia selama bertahun-tahun. Ann itu temanku yang paling baik, yang paling sabar mendengar semua ocehanku kalau aku lagi kesal. Dia juga yang selalu mendampingiku setiap kali aku sedih. Pokoknya Ann itu bukan cuma teman yang ada di saat kita senang saja, tapi dia juga selalu ada di saat kita susah. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya dan menjadi temannya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaiknya untuknya.”

Mereka semua serius mendengarnya.

Lalu tiba saatnya bagi Emma, “Ini sebenarnya bukan perpisahan untuk selamanya, tapi meskipun begitu aku tetap akan merindukan Ann. Kami sudah berteman sejak kecil, dulu kami pernah membuat perjanjian aneh kalau kami akan sekolah dan kuliah di satu tempat yang sama agar tidak terpisahkan. Ya…meskipun janji itu tidak bisa terwujud,tapi aku tetap merasa sampai kapanpun juga aku dan Ann memang tidak akan terpisahkan. Kami sudah melalui semuanya bersama-sama, mulai dari kejadian yang menyenangkan, pertengkaran-pertengkaran kecil sampai kejadian yang menyedihkan, tapi justru karena semua itulah aku bisa belajar bagaimana cara menghargai persahabatan kami. Dan aku bangga karena sampai detik ini aku masih bisa menjadi temannya.”

Ann tersentuh mendengar semua itu.

Setelah itu yang lainnya tak mau ketinggalan bergantian mengucapkan salam perpisahan mereka pada Ann.

Ann tersenyum haru mengucapkan terima kasih, “Thanks ya. Kalian memang teman-temanku yang baik. Aku pasti tidak akan melupakan kalian semua…Thank you banget…Kalian juga, meskipun kita semua bakal terpencar-pencar setelah lulus, kita harus sering-sering contact satu sama lain. Jangan sampai persahabatan kita cuma sampai di sini saja.”

“Duhh…jadi mau nangis.” Ria mengusap matanya cepat-cepat.

Mereka tersenyum menatap Ria, sedikitpun tidak mengolok-oloknya karena sebenarnya dalam hati mereka masing-masing pun merasa sedih.

Acara makan-makan itu baru selesai sekitar jam 9 malam.

Ann memberi pelukan hangat pada semua teman-temannya untuk terakhir kali, besok mereka tidak bisa mengantarnya sampai ke airport. Mereka kemudian bubar satu per satu. Tapi mereka semua berjanji akan sering contact sesibuk apapun nantinya. Bahkan sudah ada yang mengusulkan 2 tahun lagi harus diadakan acara reuni.

Emma memaksa ingin mengantar Ann pulang. Josh akhirnya mau mengalah pulang sendiri.

“Wow….sudah punya SIM nih ye,” celetuk Ann di mobil saat Emma mengendarai mobilnya dengan tegang, “nyetirnya masih culun tuh. SIM nembak ya?”

”Bawel. Ini udah yang paling nyantai nih. Aku kan belum pernah bawa mobil malam-malam.”

“Lagian siapa suruh bawa mobil segala, kan ada Josh.”

“Aku mau bicara, penting. Makanya tadi Josh kusuruh pulang sendiri.”

“Mau bicara apa? Tumben-tumbenan kau serius seperti ini.”
***

“Ann, kau harus dengar aku baik-baik ya.”

“Dengar apa?”

“Tadi sore aku menemui Vincent. Aku terlambat datang karena menemuinya.”

Ann menatapnya tegang, “Buat apa?”

”Ini masalah Dennis, Ann.”

”Emma, tolong jangan bahas soal itu lagi! Jangan sebut-sebut namanya lagi.”

“Tapi kau harus dengar aku.”

“Sejak kapan kau jadi memihak padanya?! Aku sudah bilang, aku tidak mau lagi berurusan dengannya!”

“Iya, tapi kau harus tahu yang sebenarnya! Kau akan menyesal kalau sampai tidak tahu! Dennis itu benar-benar mencintaimu, kau harus tahu itu! Dia berbuat seperti itu karena dia merasa tidak pantas menjadi pacarmu. Lihat dirimu, anak baik-baik, dari keluarga kaya, punya otak cerdas, masa depan cerah, kuliah di Inggris, kalau aku jadi Dennis aku juga bakal merasa tidak pantas mendampingimu!”

“Semua ucapanmu itu konyol sekali.”

“Aku tidak berbohong. Kau tahu? Cek yang diberi Papamu itu dirobek Dennis, dia sama sekali tidak mau memakainya!”

Ann menutup kupingnya, “Aku tidak mau dengar!! Apapun yang mau kau katakan, aku tidak akan terpengaruh!”

Emma membanting setir, “Kalau begitu aku akan membawamu langsung ke orangnya!”

“Apa? Apa yang kaulakukan, Emma?”

“Kau harus mendengar sendiri darinya.”

”Aku tidak mau! Hentikan mobilmu!”

Emma mengunci seluruh pintu mobilnya automatis, ia langsung mengencangkan laju mobilnya tanpa menghiraukan permohonan Ann.
Mobil berkecepatan tinggi itu direm mendadak di depan mobil Vincent yang kosong. Emma turun dari mobil, lalu membuka pintu Ann dan menarik temannya itu untuk keluar. Ia tidak peduli meskipun Ann berulang kali meronta-ronta ingin melepaskan diri. Ann ditariknya sampai ke sebuah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Mereka menyelinap masuk ke dalam sana dan menemukan Vincent seorang diri.

Hanya Vincent.

“Mana Dennis? Dia harus menjelaskan semuanya pada Ann sekarang!” Emma mendorong Ann pada Vincent.

Vincent menatapnya getir, “Dennis sudah pergi….”

”Apa katamu!? Itu tidak mungkin, bukankah kau sudah bilang malam ini kita harus mempertemukan Dennis dengan Ann!”

“Aku tahu! Tapi….dia sudah pergi.”

”Kalau begitu cepat beritahu aku ke mana dia pergi!”

“Aku tidak tahu, Emma..” Vincent menunduk, “aku tidak tahu….”

Ann mendesah sinis, “Sudah kubilang, untuk apa memperpanjang masalah ini lagi? Aku tidak akan terpengaruh meskipun dia ada di sini sekarang. Aku sudah tidak peduli lagi. Untuk apa kalian repot-repot mengarang cerita untuk membelanya? Dia saja tidak mau pusing-pusing!”

“Tapi aku sama sekali tidak mengarang cerita! Semua yang kukatakan itu benar!”

Emma membela Vincent, “Dia benar, Ann.”

”Kenapa kau begitu yakin dengan semua ucapannya? Kau lebih memihak dia daripada aku?! Apa kau tidak tahu aku sudah cukup menanggung semua sakit hati yang dia buat padaku?! Aku sudah capek, Emma! Berhentilah menyeretku ke masalah ini lagi. Tolong biarkan aku lepas dari semua masa lalu itu. Lupakan semua yang sudah usai!”

”Dennis pergi bukan karena dia tidak mau bertemu denganmu. Dia pernah bilang kan? Suatu hari nanti dia akan membawa ibunya pergi meninggalkan ayahnya. Sekarang dia sudah benar-benar pergi…”

Kalimat itu berhasil membungkam Ann.

“Aku terlambat datang untuk menyakinkan dia. Tapi sebelum itu dia pernah bilang, dia ingin sekali bertemu denganmu di tempat yang hanya kalian berdua tahu sebelum kau pergi ke Inggris. Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya…”

Tapi Ann mengerti apa maksudnya. Tempat itu adalah taman tertutup di mana mereka pernah saling berjanji untuk pergi ke sana setiap kali merasa rindu dengan yang lain. Ann menggeleng, untuk kesekian kalinya ia menyakinkan dirinya untuk tidak mempercayai semua itu.

“Kenapa sulit sekali bagimu untuk mempercayai Dennis? Apa yang harus dia lakukan baru kau mau percaya, Ann?”

“Tidak ada. Aku hanya mau dia benar-benar pergi dari kehidupanku. Semua sudah terlambat, Vincent, sudah terlambat untuk memaafkannya.”

“Aku mengenal Dennis luar dalam, aku tahu masa lalunya memang tidak terlalu baik….tapi belum pernah aku melihat dia mencintai seseorang sebesar perasaannya padamu. Aku belum pernah melihat dia mau berkorban sampai seperti ini hanya demi seseorang. Kau harus percaya, Ann. Sebenarnya aku pun sudah pasrah bagaimana kau mau membenci Dennis, aku hanya mau kau menyisihkan sedikit perasaanmu padanya untuk memberinya kesempatan sekali lagi. Karena aku yakin kau sebenarnya masih peduli.”

Tapi tak ada yang mampu mencegah kepergian Ann.

“Ann, sebelum kau pergi ke Inggris…..cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat…” ujar Emma.

Ann tidak menghiraukan bujukan Emma. Ia pergi begitu saja.

Keesokkan harinya..

Ann duduk diam di mobilnya dalam perjalanannya ke airport. Ia hanya membisu tanpa mendengar semua nasehat dari Papa dan Mamanya seputar Inggris. Ia merasa tidak bergairah lagi pergi ke Inggris. Ada yang menyesakkan, seakan-akan mendesaknya untuk menyelesaikan suatu masalah yang masih menggantung. Ia tidak akan merasa tenang sebelum menyelesaikannya hingga akhir.

“Sebelum kau pergi ke Inggris…..cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat…”

Kata-kata Emma terngiang-ngiang lagi dalam benaknya……

Tidak, aku tidak mau!

Ann memejam matanya kuat-kuat, setengah mati menghapus semua keraguan yang ada di dalam pikirannya. Hatinya terombang-ambing tak menentu. Tapi semakin ia menghindar, kata-kata dari Vincent dan Emma semakin menghantuinya. Datang menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun.

“kau akan menyesal kalau sampai tidak tahu! Dennis itu benar-benar mencintaimu, kau harus tahu itu! Dia berbuat seperti itu karena dia merasa tidak pantas menjadi pacarmu.”

“cek yang diberi Papamu itu dirobek Dennis, dia sama sekali tidak mau memakainya!”

“aku hanya mau kau menyisihkan sedikit perasaanmu padanya untuk memberinya kesempatan sekali lagi. Karena aku yakin kau sebenarnya masih peduli”

“sebelum kau pergi ke Inggris…..cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat…”

“cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat…”

“mungkin semuanya belum terlambat…”

“…belum terlambat…”

Ann meremas tangannya. Nuraninya berperang hebat di dalam sana. Ia terus mencoba untuk tidak terpengaruh sedikitpun, tapi justru hati kecilnya sendiri yang terus mendesaknya untuk percaya. Bagaimana kalau ternyata Vincent dan Emma tidak membohonginya? Bagaimana kalau Dennis ternyata memang tidak seperti yang ia kira? Akankah ia menyesal karena tidak mau mendengar kata hatinya?

“Waduh…..kok di sini malah macet? Seharusnya kita tadi pergi lewat jalan lain,” keluh Mama saat supir menghentikan laju mobilnya di tengah-tengah kemacetan.

“Setidaknya kita sudah berangkat pagi-pagi, kita tidak akan ketinggalan pesawat. Iya kan, Ann?”

Ann melamun. Masih bergelut dengan kerisauannya.

“Ann?”

Aku akan menyesal nantinya kalau ternyata Emma dan Vincent benar…

”Ann, kamu kenapa?” Mama menatapnya bingung.

“Ann?”

Ann mendongak, menatap wajah kedua orang tuanya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia akan mengambil resiko apapun yang nanti akan menimpanya.

Lalu tiba-tiba saja, Ann membuka pintu mobil dan langsung meloncat keluar.

Mama memekik, “Ann! Apa yang kamu lakukan!”

“Ann!!” teriak Papa, “kembali ke sini!”

Ann tidak menuruti mereka. Ia tidak sempat berpikir panjang, yang ia mau hanyalah berlari ke tempat di mana ia bisa menemui Dennis sebelum terlambat. Kakinya berlari mengikuti kata hatinya, berlari menerobos kemacetan lalu lintas yang mengepung mobil keluarganya.

Ann tidak peduli Papa dan Mama terus berteriak ketakutan memanggilnya. Tapi ia tidak takut sedikitpun.

Aku harus ke sana!

Ia terus berlari dan berlari. Berharap keputusannya ini sudah tepat.

Berharap ia bisa memiliki akhir yang bahagia.

—-

Di taman itu Ann menunggu seorang diri. Tak ada yang sanggup menggambarkan seperti apa suasana hatinya saat ini. Ia menunggu dan terus menunggu, berharap Dennis akan muncul di depan matanya. Meskipun ia merasa sebenarnya ia sedang menunggu ketidakpastian yang takkan kunjung datang.

Ia tahu harapanya sangat tipis.

Tapi ia terus menunggu.

Ann berdiri di tepi danau itu dan mengenang kembali saat-saat ia dan Dennis mengucapkan permohonan. Lalu saat Dennis pergi menelusuri taman itu untuk mencarikannya mawar. Mungkin Ann tidak pernah menyadari bahwa saat itulah ia pertama kali membuka hatinya untuk Dennis hingga akhirnya jatuh cinta padanya.

Ann meringkuk di sana. Menahan semua kenangan manis itu agar tak menyeruak keluar dan membuat luka di hatinya semakin dalam. Tapi memori itu terus berputar di dalam pikirannya, tertanam dalam jiwanya. Dan Ann tak kuasa menipu dirinya sendiri bahwa ia sebenarnya menginginkan saat-saat indah itu bisa kembali padanya.

Maka ia pun terus menunggu…..

Berjam-jam ia meringkuk di tepi danau itu. Menunggu dan terus menunggu….

Hingga pada akhirnya Ann justru tidak tahu kenapa ia mau datang ke tempat ini. Kenapa ia masih juga memberi kesempatan pada Dennis meskipun ia tahu akhir yang bahagia seperti yang ia inginkan tidak akan pernah terjadi.

Kini ia menyesal…

Menyesal telah datang kemari. Sampai kapanpun juga Dennis tidak akan datang. Ia merasa yang ia tunggu-tunggu hanyalah kepalsuan, hanya khayalan yang terlalu tinggi. Ia sudah cukup merasa sakitnya jatuh, dan kini ia harus merasakannya lagi. Tiba-tiba saja ia lelah terus berharap seperti ini. Ia bosan menangis. Sudah cukup. Semuanya sudah lebih dari cukup.

Dennis tidak akan datang.

Sampai kapanpun juga ia tidak akan datang. Di tempat ini aku hanya menunggu khayalanku sendiri. Mungkin begini lebih baik, aku bisa terbangun dari tidurku. Aku bisa membuang jauh-jauh semua mimpiku karena kini aku sudah tahu pasti, Dennis memang tidak pernah bersungguh-sungguh mencintaiku. Di tempat ini aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan melepaskan diriku sendiri dari bayangannya. Dengan cara inilah aku akan bangkit.

Ann bangkit berdiri, memandang seisi taman kosong itu untuk terakhir kalinya.

Ia tersenyum tanpa arti, sedikitpun ia tidak menyesal telah datang ke sini. Karena dengan begini ia akhirnya bisa dengan rela mengucapkan selamat tinggal pada semuanya. Selamat tinggal pada tempat itu, juga pada Dennis.

Di taman itulah ia berjanji akan melupakan Dennis dengan seluruh hatinya.

Ann tidak pernah tahu……..10 menit setelah ia pergi…..ya,hanya 10 menit….Dennis berlari menuju taman itu. Susah payah menerobos masuk untuk pergi ke tepi danau itu. Nafasnya tersengal-sengal, memandang sekeliling untuk mencari Ann. Tapi Ann sudah tidak ada.

Hanya 10 menit setelah Ann pergi…..

Betapa waktu 10 menit itu sanggup mengubur cinta sedalam apapun….
***
5 tahun kemudian.

“Bagaimana? Sudah beres belum?”

Dennis keluar dari pintu dapur sambil menepuk-nepuk tangannya yang kotor ke baju. Ia tersenyum,” Sudah beres kok, Tante. Kulkasnya tidak apa-apa, mungkin sudah agak kuno jadi sudah harus diganti alat-alat dalamnya.“

Ibu rumah tangga itu tersenyum puas melihat hasil kerja Dennis. Ia memberi tips yang cukup besar untuk pemuda itu. Tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih saat Dennis sudah mau pamit pulang.

Dennis, 25 tahun, tidak banyak berubah dalam rentang waktu ini. Hanya saja tubuhnya menjadi lebih tegap, wajahnya kian dewasa dengan garis-garis kematangan di sana. Sepertinya ia sudah banyak menempuh kesusahan dan kesulitan dalam hidup ini hingga ia tumbuh menjadi sosok yang dewasa.

Banyak hal yang terjadi selama 5 tahun ini. Dennis pergi dengan ibunya meninggalkan ayahnya ke sebuah kota kecil. Di sana ia memulai segalanya dari awal. Segala pekerjaan, mulai dari pelayan di restoran kecil sampai tukang antar barang, sudah pernah dijalaninya. Susah payah ia banting tulang dan baru bisa mengumpulkan uang untuk melunasi semua hutang ayahnya di masa lalu. Dan tiba-tiba saja 2 tahun yang lalu ibunya meninggal dunia karena sakit keras.

Begitu tiba-tiba hingga membuat Dennis sangat terpukul, ia sempat pulang mengunjungi ayahnya untuk menyampaikan berita dukacita ini. Tapi reaksi yang diterimanya tidak terlalu baik, meskipun awalnya ia kelihatan sedih tapi keesokkan harinya malah minta uang pada Dennis. Dennis memberikan semua uang yang ada padanya, setelah itu ia meninggalkannya dan tidak pernah mengunjunginya lagi.

Hidupnya boleh dibilang sangat menggenaskan selama 2 tahun belakangan ini. Begitu terpuruk hingga akhirnya ia bertemu dengan Om Hartono, pemilik sebuah pusat service/reparasi yang menawarinya ikut kerja di sana. Meski pengalamannya sangat minim, tapi kemauan Dennis untuk belajar sangat keras dan pekerjaannya nyaris selalu memuaskan. Dalam sekejap saja ia sudah menjadi bawahan kesayangan Om Hartono. Usaha kecil-kecilan itu perlahan-lahan mulai maju dan setahun kemudian sudah bisa membuka cabang baru di kota tempat tinggal Dennis dulu. Om Hartono beserta keluarganya ikut pindah dan memboyong Dennis ikut serta. Mau tak mau Dennis menurut. Akhirnya ia pulang.

Kehidupannya perlahan-lahan mulai membaik. Meskipun ia tidak mungkin membalik keadaan menjadi seperti dulu lagi, tapi ia kini sudah bisa belajar hidup susah dan menghargai setiap uang yang ia peroleh dari hasil kerja kerasnya.

Ia sudah menjadi Dennis yang baru.

—–

Dennis menaiki motor bututnya kembali ke tempat kerjanya, sebuah service centre resmi yang baru saja membuka cabang di kota ini.

Ia mendatangi kantor Om Hartono, melaporkan hasil pekerjaannya. Seperti biasa, ia selalu mendapat pujian dari pimpinannya itu.

“Kalau kerjamu sebagus ini terus, lama-lama aku tidak butuh tukang servis yang lain lagi di sini,” Om Hartono yang berperawakan gemuk-pendek menghampiri Dennis dan menepuk-nepuk pundaknya, “apa kau mau mengambil gajimu sekarang?”

Dennis membelalak kaget, “Wah…benar nih, Om?”

”Aku tahu kau sedang mengumpulkan uang untuk membeli motor baru. Motormu itu sudah butut sekali, memang sudah seharusnya diganti. Aku tidak mau karyawan terbaikku terlambat datang ke rumah pelanggan gara-gara motornya mogok.” Ia tertawa sampai perut buncitnya kembang-kempis. Lalu ia menyerahkan amplop coklat berisi uang gaji pada Dennis.

Dennis menerimanya dengan senang hati.

“Aku belum pernah melihat anak muda sepertimu. Banting tulang siang-malam seperti tidak punya kehidupan lain saja…” Om Hartono tersenyum, “mungkin sudah saatnya kau cari pacar yang baik, yang bisa merawatmu.”

”Tidak usah …aku bisa merawat diri sendiri kok.” jawab Dennis tanpa beban.

“Apanya yang bisa? Kalau kau sakit, siapa coba yang mau mengurusimu? Makanya…cari pacar.”

”Iya deh…iya….” Dennis tertawa menimpalinya ,”kalau perlu sekarang juga habis pulang aku langsung cari. Besok aku bawa ke sini.”

Mereka tertawa bersama-sama.

Dennis menyimpan amplop tebal itu ke dalam saku jaketnya baik-baik, takut jatuh. Lalu mengendarai motor bututnya sambil bersiul-siul kecil. Sudah malam, ia harus cari makan.

Makan apa ya? Aku bosan makan nasi rames melulu. Mumpung baru gajian….makan yang lebih enak dikit ah! Dennis tersenyum-senyum sendiri saat menghentikan motornya di depan lampu merah. Otaknya sibuk memikirkan menu makanan yang bakal disantapnya malam ini. Rasanya sudah lama sekali ia tidak makan enak.

Lalu tiba-tiba saja sebuah mobil sedan mungil melaju kencang di belakangnya. Tampaknya si pengemudi di dalam mobil itu terburu-buru sekali hingga tidak menyadari lampu lalu lintas yang sedang merah menyala. Tiba-tiba mobil itu direm. Mobil itu tidak sempat berhenti mulus hingga akhirnya menyerempet motor butut Dennis.

Tabrakannya tidak keras, tapi motor Dennis sampai terdorong ke depan.

Pengemudi mobil itu keluar dengan panik.

Seorang wanita rupanya. Elegan dengan pakaian bermereknya yang mahal. Sepintas ia kelihatan sangat cantik.

Tapi bukan itu yang jadi pusat perhatian Dennis. Ia turun dari motornya dan melihat lampu belakangnya pecah.

“Aduh….sori…sori….aku tadi nyetir sambil pegang handphone. Aku tidak tahu lagi lampu merah, jalanannya kan sempit, jadi aku ngebut saja. Aku tidak sempat rem makanya nabrak. Sori ya…sori…aku pasti akan mengganti kerugian ini.”

Dennis mengamati kondisi motornya. Tidak perlu….lagian motor butut ini memang sudah saatnya pensiun…

“Aduh….. tolong ya jangan bawa-bawa ke polisi segala. Ini pertama kalinya aku bawa mobil sampai nabrak. Aku benar-benar tidak sengaja. Berapa ganti rugi yang Anda mau? Saya punya kartu nama, kalau Anda mau Anda tinggal…” suaranya tiba-tiba berhenti.

Dennis mendongak menatapnya, bingung kenapa orang itu berhenti ngoceh-ngoceh.

“Sepertinya aku mengenalmu…..”

Dennis menggeleng, “Sudahlah, tidak perlu sampai begitu kok. Aku tidak menuntut ganti rugi apa-apa, cuma lampu belakang saja yang pecah….lagipula besok motor ini juga sudah bakal mau disimpan di museum.”

”Bukan…bukan….aku memang sepertinya mengenalmu! Benar, aku tidak bohong!”

Dennis diam dan tersenyum, membiarkan gadis cantik itu terus mengamatinya dengan kening berkerut. Sedikitpun Dennis tidak merasa pernah mengenalnya.

“Kau…..Astaga!!” si cantik nan elegan itu membekap mulutnya, melotot, “kau Dennis kan?”

Dennis termangu, “Kita pernah bertemu?”

”Ya ampun! Ternyata kau memang benar-benar Dennis! Astaga, aku sama sekali tidak menyangka!! Ini aku, Dennis! Masak sudah lupa?!”

“Hm….”

“Ini aku, Emma!! Emma…..”

Emma tertawa renyah melihat Dennis terkejut saat menyadarinya.
***

Dennis memasuki restoran itu bersama Emma. Emma bersikeras memaksanya makan malam bersama di tempat itu. Reuni katanya.

“Wah….sudah lama sekali ya! Aku tidak menyangka bakal bertemu denganmu di sana!” Emma duduk di hadapan Dennis dan tidak henti-hentinya mengamati Dennis dari rambut sampai jempol kaki. Ia tersenyum dan mengagumi Dennis dalam hati. Meskipun ia hanya memakai kaos oblong dan jeans belel dengan sepatu bekas, tapi Dennis tetap kelihatan istimewa di mata Emma. Dulu udah cakep, sekarang tambah cakep!

“Iya, sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu?”

”Hm…berapa ya?” Emma menghitung-hitung dengan jarinya, “empat ya? Eh bukan, lima tahun kayaknya!”

“Lumayan lama juga ya..”

“Lumayan? Gila, lima tahun itu lama sekali, Dennis. Tapi kau tidak banyak berubah ya!” makin ganteng aja…dari cowo cengengesan berubah jadi pria dewasa yang macho…. Emma cekikikan sendiri mendengar bisikan hatinya.

“Justru kau yang tidak berubah.” gantian Dennis yang meninjau Emma, “kok aku bisa sampai lupa ya?”

Emma masih sangat cantik. Ia tampil sangat menawan dengan rambut keritingnya yang dicat coklat kemerah-merahan dan setelan pakaian hitamnya yang sangat ketat, minim dan sexy. Dandanannya nyaris membuat semua mata pria di restoran itu melotot padanya.

Seorang pelayan mendatangi meja mereka. Terus terang Dennis tidak terlalu berminat dengan menu makanan restoran yang mahal-mahal itu, tapi Emma ngotot ingin mentraktirnya malam ini. Dengan syarat Dennis harus menceritakan apa saja yang menarik yang sudah terjadi padanya selama 5 tahun ini.

“Ayo ceritakan semuanya! Kapan kau balik ke kota ini?”

”Aku sudah pulang setahun. Ibuku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena sakit, waktu itu aku sempat pulang untuk menjenguk ayahku sebentar. Lalu aku dapat pekerjaan yang cocok dan akhirnya baru benar-benar kembali ke kota ini untuk mengikuti bosku.”

“Aku turut sedih mendengar tentang ibumu.”

”Tidak apa-apa. Kehidupanku sudah semakin baik belakangan ini.”

”Sepertinya memang begitu. Kau jadi kelihatan gimana…gitu.. Oh ya, apa pekerjaanmu?”

”Aku kerja di pusat service, aku ini tukang servis…..tukang reparasi lah intinya.”

”Reparasi TV, AC, kulkas?”

”Apa saja. Aku bisa membetuli apa saja yang punya mesin!” Dennis tertawa.

“Wah…kedengarannya asik juga ya.”

”Kau sendiri bagaimana? Sampai punya kartu nama segala…”

”Oh itu…” Emma jadi malu, “begitu lulus kuliah aku langsung kerja di perusahaan pamanku. Lumayan lah…setidaknya aku jadi lebih mandiri sekarang.”

“Sepertinya memang begitu.”

Makanan pesanan mereka datang juga akhirnya. Sambil makan mereka terus bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing. Dennis bercerita tentang Vincent yang sekarang sudah buka usaha sendiri. Lalu Emma menceritakan tentang teman-teman sekolahnya yang dulu, sudah ada yang jadi bos, sudah ada yang punya 3 anak, tapi ada juga yang hidupnya melarat. Rasanya aneh juga memikirkan semua perubahan itu. Emma jadi sadar tenyata waktu 5 tahun itu memang sangat lama.

Terlalu lama hingga ia akhirnya ingat satu hal saat bertanya pada Dennis, “Apa kau sudah punya pacar? Jangan-jangan malah sudah berkeluarga!”

”Tidak,” Dennis tertawa kencang, “aku hidup sendiri kok. Mana ada sih…yang mau sama tukang servis seperti aku. Hidupnya pas-pasan. Motorku yang kautabrak itu saja kubeli dengan cicilan!”

”Apa kau pernah bertemu dengan Svannie? Maksudku Ann.” tanya Emma ringan. Sedikitpun ia tidak merasa risih menanyakan hal itu pada Dennis.

Dennis hanya menggeleng kecil.

“Aku dengar dia sudah pulang dari Inggris, baru seminggu yang lalu kalau tidak salah. Kuliahnya masih lama, dia pulang hanya untuk berlibur. Dia kan tidak pernah pulang selama 5 tahun ini.”

“Oh ya?” Dennis tersenyum kecil, kemudian meneguk minuman ringannya.

Begitu selesai makan dan keluar dari restoran itu, Emma langsung menanyai alamat Dennis, “Boleh aku minta alamatmu? Siapa tahu nanti kita bisa kumpul-kumpul lagi.”

Dennis memberi alamatnya pada Emma, lalu balas menanyai alamat gadis itu. Emma memberi kartu namanya.

“Nah Dennis, aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Lucu juga ya, rasanya kita sudah berubah jadi orang yang culun-culun..” Emma tertawa, “tapi bagaimana pun juga aku bersyukur kita bisa bertemu lagi. Moga-moga saja kita bisa berkumpul lagi dengan yang lainnya.”

“Iya, moga-moga saja.”

—–

Kaki itu terasa berat saat Dennis melangkah masuk ke dalam rumah kecilnya yang sederhana. Terlalu sederhana untuk ukuran pria dewasa sepertinya. Segala perkakas reparasi berserakan di sekitar kamar. Kamar tidur dan dapur jadi satu, tidak ada istilah ruang tamu. Meskipun sempit tapi setidaknya ia tinggal sendiri di sana, jadi rasanya tidak terlalu menyesakkan.

Ia melempar tas kerjanya ke atas lantai kamar yang kotor. Lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang tergeletak begitu saja di lantai. Dipejamnya kedua mata itu untuk kembali mengenang semua kejadian 5 tahun yang lalu.

Rasanya tidak terlalu sulit untuk mengingat semuanya. Mengingat detik-detik terakhir di mana ia menyesal dan langsung berlari ke taman itu untuk mencari Ann. Entah kenapa ia merasa Ann akan pergi ke tempat itu sebelum ia berangkat ke Inggris, tapi ternyata ditunggu sampai malam pun Ann tidak datang. Gadis itu sudah meninggalkannya ke Inggris.

Lalu sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi.

Perlahan-lahan Dennis mencoba bangkit dari rasa bersalah dan penyesalan yang terus menghantuinya. Ia terus memaksa diri untuk bekerja tanpa kenal lelah. Persis seperti kata Om Hartono, banting tulang siang-malam.

Tapi setelah malam ini ia bertemu dengan Emma dan mendengar ceritanya tentang kembalinya Ann dari Inggris….Dennis sadar, sampai detik ini pun ternyata ia masih belum bisa menghapus Ann dari kehidupannya.
***

Keesokkan harinya di tempat kerja..

Dennis melamun, tidak terlalu berselera menyantap bekal makan siangnya. Ia sendiri tidak jelas apa yang ada di kepalanya saat ini.

“Hey Dennis, makan siangmu tidak disentuh?” Heru mengintip dengan penuh harapan, “buat aku aja ya!”

Ia langsung menyambar bekal makan siang Dennis, sedikitpun Dennis tidak mencegahnya.

Tiba-tiba Dennis beranjak dari tempatnya.

“Loh? Mau ke mana?”

“Jalan-jalan sebentar.”

“Jalan-jalan ke mana? Udah mau kerja nih!”

Dennis acuh tak acuh.

Jalan-jalan yang dimaksud Dennis ternyata berakhir di satu tempat yang tidak terlalu asing baginya. Dulu tempat itu adalah taman. Dan kini sudah menjelma menjadi…taman pula. Dennis tidak tahu kapan tepatnya taman yang sudah ditutup itu kembali dibuka. Ada yang bilang taman ini kembali dibuka karena dibiayai seorang jutawan pecinta lingkungan.

Dennis tidak terlalu peduli. Tapi yang pasti taman ini sudah dirombak menjadi jauh lebih indah. Seolah-olah taman itu terbuka kembali karena menanti kedatangan seseorang.

Tidak banyak yang berubah. Pohon-pohon tua yang menjulang tinggi masih berdiri kokoh di sana, sekan-akan tidak akan roboh karena merupakan saksi bisu dari banyak kejadian di tempat itu. Rerumputan begitu rapi dengan berbagai macam bunga yang bermekaran di sekitar taman. Tapi tidak seperti dulu, kini taman itu sudah ramai dikunjungi orang.

Dennis sendiri jarang mendatangi taman ini. Ia merasa tidak ada alasan baginya untuk datang ke sana. Bukankah yang tersimpan di tempat itu hanya kenangan pahit?

Sepasang remaja duduk di bangku taman,mengukir nama mereka di sana sambil tertawa-tawa senang. Dennis mengamatinya, tanpa sadar ikut tersenyum.

Lalu ditatapnya bunga-bunga mawar yang bermekaran di sudut taman. Sudah banyak mawar di sini….dulu aku sampai mati-matian mencarinya dan cuma dapat satu tangkai yang sudah hampir layu…. Tapi ia ingat betul saat itulah Ann pertama kali tersenyum untuknya.

Kakinya terus melangkah hingga sampai di tepi danau itu. Masih sama seperti dulu. Rentang waktu 5 tahun tidak mampu mengikis keindahannya.

Danau ini……….

Danau penuh kenangan. Ia pernah mengikuti tradisi konyol melempar kerikil dan meminta permohonan agar Ann tahu semua isi hatinya. Dennis tersenyum. Seandainya sekarang ia diminta untuk membuat permohonan lagi….Dennis tidak tahu apa yang akan ia minta. Segala-galanya sudah tidak berarti.

GUK!! Seekor anjing golden retriever menggonggongi Dennis dan mengibas-ngibas ekornya saat ia memutar-mutar di sekitar kaki Dennis. Anjing yang bagus. Tapi kenapa ia mendekati Dennis?

“Speedy!”

Dennis mendengar ada suara memanggil-mangil si golden retriever jantan ini. Dennis mendongak menatap siapa gerangan si pemiliknya.

Kemudian ia tercekat, bergegas bangkit berdiri dengan nafas tertahan.

Gadis itu berlari-lari kecil mendapati anjingnya tengah melingkar-lingkar di sekitar kaki Dennis, “Speed, hentikan! Jangan bandel ya! Hey, Speed!”

Dennis seperti mati rasa, sekelilingnya terasa berputar-putar saat mendengar suara itu dan melihat sosok itu dari dekat. Dekat sekali hingga Dennis merasa seolah-olah ia tengah bermimpi. Atau mungkin ini memang hanya mimpi?

Tapi gadis itu berada sangat dekat dengannya, ini bukan mimpi!! Hampir-hampir Dennis merasa jantungnya berhenti berdetak.

“Ann..”

Gadis itu berhenti mengejar anjingnya. Ia menoleh pada Dennis.

Sunyi……..kesunyian yang mematikan.

“…..Dennis..”

Akhirnya, dalam waktu lima tahun perpisahan mereka, inilah pertama kalinya kedua mata mereka saling bertatapan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Dennis kaku.

Diamatinya Ann dengan sungguh-sungguh. Rasanya ia masih belum percaya Ann ada di depan matanya. Ann!

Dia benar-benar Ann…

Ann tampak jauh lebih dewasa dibandingkan dulu. Rambutnya jadi panjang, dan wajahnya tetap cantik meski ia jadi lebih kurus dibandingkan saat terakhir Dennis melihatnya. Tapi di balik penampilan yang sederhana itu, ada karisma di dalamnya yang membuat Dennis tak berkutik. Sesuatu dalam diri Ann yang selalu membuatnya mabuk kepayang.

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam diri Dennis. Apa dia sudah melupakanku? Apa dia sudah memaafkanku? Apa dia akan membenciku lagi seperti dulu? Apa dia merasa terbenani dengan pertemuan ini?

“Aku baik-baik saja.” ia tersenyum, menarik kalung leher Speedy, anjingnya.

Hati Dennis bergetar hebat saat Ann menatapnya lagi, “Kau sendiri bagaimana?”

”Aku? Aku juga baik-baik saja.”

Kemudian suasana menjadi kaku.

“Aneh ya, kita bisa bertemu lagi di sini.”

“Aku juga kaget. Setahuku taman ini ditutup kan? Kebetulan tadi saat aku membawa Speed jalan-jalan, aku melewati tempat ini. Sampai kaget, ternyata taman ini sudah dibuka lagi.”

“Ada yang membukanya lagi, taman ini dirombak jadi lebih bagus. Dengar-dengar sih orang yang membuka taman ini seorang pecinta lingkungan. Mungkin dia sama-sama merasa sayang kalau taman ini ditutup. Ada juga ya, yang suka dengan tempat ini selain kita.”

Dennis tersenyum kaku. ’Kita’? Kenapa aku bisa mengucapkan kalimat konyol itu?

“Bagaimana kabar Vincent?”

”Dia baik-baik saja, dia sudah buka usaha sendiri dan akhir-akhir sering keluar kota.”

“Kedengarannya sangat menarik.”

“Kemarin aku bertemu Emma.” Aduh…5 tahun aku tidak bertemu dengannya, tapi dari tadi malah terus membicarakan orang lain!!?

“Iya, begitu pulang dari Inggris aku langsung mencari Emma. Dia makin cantik saja ya?”

“Hm..bagaimana kuliahmu di sana?”

”Lulusnya masih lama. Tapi aku betah tinggal di sana. Sudah lima tahun aku tidak pulang ke sini. Apa kau tahu, keluargaku semuanya juga sudah pindah ke sana? Kakakku sudah menikah juga menetap di sana.”

“Oh ya? Baguslah kalau begitu.”

Ann mengangguk kecil.

“Jadi sekarang rumahmu tidak ada yang menempati?”

“Tidak ada, tapi ada yang merawatnya setiap hari.”

Speedy mengibas-ngibas ekornya manja pada Dennis. Mau tak mau Ann tertawa, “Speed memang anjing yang sangat aktif. Dia suka mendatangi siapapun yang tidak dikenalinya.”

Untung dia mendatangiku…. Dennis jongkok ke bawah dan mengelus-elus anjing itu dengan lembut. Ia dapat merasakan Ann sedang menatapnya.

Lalu ia memberanikan diri menengadah, “Bagaimana kalau kita duduk-duduk sebentar sambil minum kopi? Rasanya banyak sekali cerita yang masih ingin kudengar darimu.”

“Baiklah.” jawab Ann enteng.
***

Di kedai kopi yang mungil itu Ann menceritakan semua pengalaman-pengalaman menariknya selama di Inggris. Tentang kebudayaannya, tempat-tempatnya yang indah dan eksotik, tentang mata kuliah kedokterannya yang berat namun menantang, tentang pola hidupnya yang amburadul pada awalnya karena tidak bisa beradaptasi, dan masih banyak lagi.

Suasana di antara mereka agak mencair setelah itu. Mereka sudah bisa tertawa lepas layaknya dua orang yang saling melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Tapi sedikit pun tidak ada yang menyinggung tentang masa lalu di antara mereka berdua.

Tampaknya baik Dennis maupun Ann lebih memilih tidak mengorek kembali masa lalu itu.

“Dari tadi aku yang cerita, sekarang giliranmu.” Ann meneguk minumannya.

“Aku sudah dapat kerjaan yang cocok. Meskipun cuma tukang servis peralatan elektronik, tapi kehidupanku jauh lebih baik.”

”Baguslah kalau begitu.”

“Rasanya tidak ada yang bisa kuceritakan. Kehidupanku semuanya biasa-biasa saja.”

“Aku hampir lupa. Besok kau bisa datang ke pesta ulang tahunku?”

Dennis agak terkejut.

“Bukan aku yang rencanain, aku samasekali tidak pernah berniat merayakan ultah,” Ann tertawa, “teman-temanku yang merencanakan semuanya. Katanya selagi aku sudah pulang, jadi sekalian saja.”

“Oh…begitu..”

”Kau bisa datang kan?” Ann mengambil sesuatu dari tas kecilnya, secarik kertas dan pen. Ia menulis alamat tempat dilangsungkannya pesta ultah itu, kemudian menyerahkannya pada Dennis, “ini alamatnya. Aku harap kau bisa datang.”

”Besok ya? Kebetulan aku memang tidak lagi banyak kerjaan.” Dennis tersenyum lebar padanya, “pestanya pasti ramai ya?”

“Ya begitulah…”

Dennis tahu apa inti dari pertanyaan selanjutnya, “Kau pasti mengundang pacarmu ya.”

Ann terdiam sesaat.

Kemudian ia tersenyum sangat manis pada Dennis sembari mengangkat tangan sebelah kirinya, sebuah cincin perak berlian melingkar di jari manisnya, “Aku sudah tunangan.”
“aku sudah tunangan”

Bagaimana mungkin aku tidak melihat cincin di jarinya itu? Ann sudah bertunangan….

“Sudah dua bulan. Dia teman kuliahku di London, sama-sama ambil kedokteran. Tapi dia juga orang sini kok. Keluarganya sudah kenal baik dengan keluargaku, jadi semuanya berjalan sangat lancar.”

Tentu saja….bagaimana mungkin aku berpikir dia akan tetap menungguku, setelah semua perbuatanku padanya di masa lalu? Dia ternyata sudah benar-benar melupakanku. Dia sudah bahagia

Ann menatap Dennis penuh selidik, “Kau pasti juga sudah punya pasangan kan? Bawa saja dia ke pestaku besok.”

“Uhm…iya, baiklah.”

“Kalau begitu sampai jumpa lagi besok. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Dennis.” Ann bangkit dari kursinya sambil menarik kalung anjingnya, “ayo, Speed.”

Lalu mereka pergi meninggalkan Dennis merenung sendirian.

Aku hanya masa lalu baginya….tidak lebih. Seharusnya aku rela melihatnya bahagia seperti sekarang ini, tapi aku tidak bisa. Terkutuklah aku akibat dari semua perbuatanku padanya….
***

Jam tujuh malam hujan turun deras. Dennis berlari-lari kecil memasuki hotel berbintang 5 itu sambil menutupi kepalanya dari rintik hujan. Beberapa pandangan mata yang tertuju padanya menatapnya sinis. Mungkin dikira mereka Dennis salah masuk hotel. Untuk sesaat Dennis memang jadi ragu, tapi setelah dipikir-pikir ia tetap yakin harus datang ke pesta ulang tahun Ann.

Maka ia menyeret kakinya masuk ke dalam sana. Ia terperangah melihat pesta ulang tahun yang digelar di depan matanya itu. Begitu meriah, begitu mewah. Semua yang hadir di sana mengenakan pakaian formal mereka. Yang wanita memakai gaun, yang pria memakai jas. Dennis merasa ciut, ia hanya memakai kemeja dan celana biasa. Itupun sudah agak basah karena tadi kehujanan. Ia sama sekali tidak menyangka pesta ulang tahun Ann ini bakal dilangsungkan sangat formal layaknya sebuah perjamuan makan malam. Tadinya ia menyangka hanya pesta kecil-kecilan dan hanya dihadiri beberapa teman dekat saja. Tapi sejauh mata memandang, banyak orang-orang penting yang hadir di sana. Orang-orang yang Dennis yakin sama sekali tidak dikenal Ann. Mungkin rekan bisnis Papanya, mungkin kerabat jauh…..Ah bodo amat!!

Sial….kenapa aku bisa muncul di sini dengan dandanan lusuh begini?!! Aku seperti orang tolol saja!!

Dennis mencoba tetap cuek, tidak memperdulikan tatapan mata orang-orang di sekitarnya. Ia mencoba mengalihkan pandangannya menyapu seisi ruangan itu untuk mencari Ann. Yang ia temukan justru Emma.

Emma melambai pada Dennis dari kejauhan. Seperti biasa, penampilan Emma sangat luar biasa malam ini. Menjerat mata setiap pria yang melihatnya. Ia tidak pernah kehilangan pesonanya.

Dennis membalas lambaiannya. Kikuk.

Lalu ia kembali mengedarkan pandangannya mencari Ann. Yang dicari ternyata ada di ujung ruangan, memegang segelas anggur dan tengah bercakap-cakap dengan seorang pria paruh baya yang wajahnya kerap muncul di sampul majalah bisnis. Pria tua itu mengucapkan selamat ulang tahun pada Ann. Ann berterima kasih dan sedikit bercakap-cakap dengannya, lalu ia menoleh ke arah lain dan tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan Dennis.

Ann tersenyum kecil pada Dennis. Lalu ia dengan sopan berpamitan pada pengusaha gaek itu, ia menghampiri tempat Dennis.

Langkahnya begitu anggun dengan rambut yang tergerai indah dan postur tubuh yang proposional dengan balutan gaun hitam yang dirancang khusus untuknya. Beberapa orang tersenyum padanya dan membukakan jalan untuknya. Ann tersenyum pada mereka satu persatu. Sangat anggun, sangat karismatik.

Hingga ia sampai di depan Dennis, beberapa pasang mata terheran-heran. Dennis tak sanggup menahan debaran jantungnya, penampilan Ann membuatnya merasa kagum campur tegang.

“Kau datang juga akhirnya,” sapa Ann.

“Iya.”

“Apa di luar sedang hujan?” Ann mengamati kemeja biru Dennis yang agak basah.

“Iya, deras sekali. Untung saja aku tidak basah semuanya. Pestamu kelihatannya sangat meriah.”

Ann mengendik bahu, “Aku cuma terima jadi. Temanku yang mengurus semuanya, ada beberapa undangan yang bahkan tidak kukenal. Ya apa boleh buat.” Ia tertawa, “ini resiko kalau semuanya diatur orang lain. Oh ya, kau datang sendiri?”

“Iya, aku sendiri.”

Untung Ann tidak menanyai kenapa Dennis tidak punya pasangan. Ann hanya mengangkat gelas anggur merahnya, “Kau mau kuambilkan minum?”

”Oh tidak, terima kasih. Nanti aku bisa ambil sendiri.”

Seorang undangan permisi lewat, Ann memberinya jalan. Harum parfum lembut Ann membius Dennis saat gadis itu mendekat padanya. Untuk pertama kalinya mereka nyaris bersentuhan. Tapi Dennis segera mundur.

“Ann,” seorang pria muda tampan dengan setelan jas mahalnya tiba-tiba datang dari belakang. Tampan dan rapi, wajahnya masih muda, mungkin hanya tua setahun di atas Ann. Ia menghampiri Ann dengan wajah cemas, “kau di sini rupanya. Ayo, sudah saatnya kau potong kue. Semuanya sudah hampir mati kelaparan, termasuk aku.”

Pemuda itu mengambil gelas minuman Ann dan menyerahkannya pada Dennis, “Tolong pegang ini.”

Dikiranya Dennis itu pelayan!!

Dennis tercengang memegang gelas itu, sepenuhnya merasa dipermalukan. Separah itukah penampilannya hingga sampai-sampai ada yang menduganya pelayan?

Kontan saja Ann menatap Dennis dengan penuh rasa bersalah, cepat-cepat ia merebut kembali gelas minumannya dari tangan Dennis. Ia menoleh pada pemuda tadi, “Calvin, dia ini tamuku.”

Pria bernama Calvin itu termangu, lalu berbalik menatap Dennis, “Waduh, aku minta maaf!! Aku benar-benar minta maaf. Tadi aku kira…”

”Tidak apa-apa.” potong Dennis sambil tersenyum. Sial….malu-maluin aku saja..

“Aku Calvin.”

”Dennis.”

Mereka saling berjabat tangan.

Kemudian Ann menatap Calvin dan tersenyum kecil pada Dennis, “Calvin ini tunanganku.”

Dennis terpaku di tempatnya. Jadi ini dia tunangan Ann… Tiba-tiba saja Dennis merasa kecil dan tidak ada apa-apanya di depan Calvin.

Pria muda itu begitu rapi dan berwibawa. Tipe pria yang pantas berdiri di samping Ann. Tipe menantu idaman semua orang tua. Muda, tampan, dan tentu saja kaya. Benar-benar fantastik, nyaris sempurna meskipun dipandang dari berbagai sudut. Dennis merasa seolah-olah pria ini terlalu bersinar di depan matanya hingga menyilaukan dan membuatnya nyaris seperti sebongkah batu tak berharga. Sungguh kontras perbedaan di antara mereka.

Bagaimana mungkin aku bisa bersaing dengan pria seperti itu? Dia calon dokter, aku cuma si tukang servis bau oli. Kasian benar….

Calvin pun tidak mau kalah mengamati Dennis dari balik kacamata tipisnya, “Teman sekolahmu? Kenapa aku belum pernah melihatnya?”

”Bukan teman sekolah. Dia..” Ann kehilangan kata-kata, “dia teman lama.”

Dennis baru mengerti, ternyata Ann tidak pernah menceritakan apa-apa tentang dia pada tunangannya.

Calvin mengangguk, kemudian sambil merangkul pinggang Ann ia mencoba berbasa-basi pada Dennis, “Teman lama? Kalau begitu aku senang sekali bisa bertemu dengan teman lama Ann. Aku mewakili Ann mengucapkan terima kasih karena kau sudah mau datang di pesta ini. Kau suka pestanya?”

“Ya, tentu saja. Pesta yang sangat menarik.” Terlalu menarik hingga aku dikira pelayan olehmu…

“Kau kerja di mana?” tanya Calvin lagi.

Nah, ini dia….pertanyaan yang paling tepat untuk menyerangku! Tapi Dennis tetap kelihatan cool, “Aku kerja jadi di pusat reparasi peralatan elektronik.”

”Tukang servis maksudnya?” serang Calvin tanpa sadar, “bukankah itu pekerjaan yang tidak menjanjikan? Pasti berat juga ya kerja seperti itu? Salah sedikit saja pelanggan bisa complaint. Sudah capek-capek kerja tapi gaji juga tidak terlalu memuaskan. Apa kau tidak berminat cari kerja di tempat lain? Kau kelihatannya sangat berbakat, mungkin masih banyak pekerjaan lain yang lebih cocok untukmu.”

”Tapi aku menyukai pekerjaanku.” jawab Dennis tegas.

“Apa yang biasanya kauperbaiki?”

”Apa saja, dari yang ringan sampai yang berat-berat.”

Calvin menengok Ann, “Kalau begitu….sepertinya dia bisa memperbaiki Selina.”

Dennis mengernyit. Apa itu?

Tapi Ann kelihatannya tidak setuju dengan ide Calvin. Baru saja ia mau mencegahnya, tapi Calvin sudah keburu menjelaskannya pada Dennis, “Kau bisa memperbaiki sebuah jam tua? Aku baru saja memboyongnya dari London. Jam itu sudah tua sekali, bahkan hampir dimasukkan ke museum barang-barang seni, tapi bentuknya masih sangat indah dan klasik. Aku tahu Ann menyukainya, jadi aku membelinya untuk Ann. Jam itu sudah kuno dan tidak bisa berfungsi lagi, tapi kata pemiliknya masih bisa diperbaiki. Mungkin dengan sedikit sentuhan orang sepertimu…Kau tahu kan, aku calon dokter, aku tidak mengerti apa-apa tentang mekanik.”

”Tidak masalah, aku akan mencobanya.”

”Sungguh?! Bagus lah kalau begitu. Datanglah ke rumah Ann besok, terserah mau jam berapa saja.”

Ann kelihatan tidak senang namun tak mampu mencegah ide Calvin.

“Ann, rasanya semua undanganmu sudah tidak sabar lagi ingin melihatmu potong kue.”

“Oh iya, aku hampir lupa.”

“Dennis, kalau kau tidak keberatan aku mau membawa Ann ke sana sebentar.”

”Tentu. Aku tidak keberatan.”

Calvin mengandeng tangan Ann meninggalkan Dennis. Sedikitpun Ann tidak menoleh padanya. Ia maju ke depan bersama Calvin dan dalam sekejap saja semua undangan bertepuk tangan riuh menyambutnya.

Ann mengedarkan senyumnya ke seluruh tamu undangan, diikuti Calvin. Sungguh pasangan yang serasi. Siapa pun akan berpendapat yang sama.

Setelah memotong kue ulang tahunnya, seorang teman Ann berseru agar Calvin memberikan hadiah ulang tahunnya di depan sana agar mereka bisa menyaksikannya bersama-sama. Kemudian Calvin mengeluarkan kado ultahnya untuk Ann. Sebuah kalung berlian yang berkilau indah. Seluruh undangan ikut terpukau melihat kalung pemberian Calvin itu. Beberapa undangan wanita jadi merasa iri karena Ann begitu beruntung bisa memperoleh kalung seindah itu. Sedangkan yang pria merasa salut pada Calvin yang sanggup memberi hadiah semahal itu untuk pacarnya.

Calvin memakaikan kalung itu di leher Ann dengan lembut, kemudian mengecup keningnya. Seluruh undangan kembali bertepuk tangan.

Entah mengapa Dennis merasa hatinya terbakar. Ia tidak bisa menikmati pemandangan semacam itu dan berakting seakan-akan ia baik-baik saja.

Calvin belum selesai rupanya, “Aku mau mengumumkan sesuatu pada kalian semua, para undangan yang terhormat. Mungkin ada beberapa orang yang sudah tahu, tapi aku rasa aku ingin membuatnya menjadi lebih resmi. Aku ingin semua tahu betapa beruntungnya aku ini, karena bisa mendampingi sosok sesempurna Ann. Aku pertama kali bertemu dengannya dua tahun yang lalu. Waktu itu aku berkata pada diriku sendiri, ‘Calvin, wanita inilah yang tepat untukmu’. Dan aku ternyata memang benar. Tidak ada satu haripun yang kulewati tanpa memikirkan bahwa akulah pria yang seharusnya mendampingi Ann. Melewati hari-hariku bersamanya membuatku merasa semakin membutuhkannya. Mungkin kedengarannya terlalu melankolis, tapi percayalah suatu saat nanti kalian pun akan merasakannya yang sama kalau kalian sudah menemukan sosok yang tepat itu.”

Semuanya tersenyum.

Dennis tidak tersenyum sedikitpun. Hatinya menahan perih. Haruskah ia menyaksikan semua itu? Menyaksikan ada pria lain yang mengisi kehidupan Ann selain dia? Sanggupkah ia menerima kenyataan bahwa dirinya memang sudah lenyap dari hidup Ann?

“Intinya,” lanjut Calvin, “setelah sekian lama kami pacaran, akhirnya dua bulan yang lalu aku memberanikan diri untuk melamarnya. Dan aku sungguh beruntung….karena dia menerima lamaranku. Kini kami resmi bertunangan.”

Calvin menatap Ann lama, Ann tersenyum kemudian mereka berpelukan singkat.

Beberapa hadirin berseru kaget mendengar pengumuman pertunangan itu, tapi tak lama kemudian gemuruh tepuk tangan kembali mewarnai setiap sudut ruangan mewah itu.

Satu persatu undangan menghampiri kedua pasangan itu dan menyalami mereka.

Calvin dan Ann tersenyum dan tak henti-hentinya menerima ucapan selamat.

Dennis mendesah panjang, kemudian langsung beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Tidak ada gunanya ia terus berlama-lama di sini, rasanya ia tidak perlu menyaksikan semuanya lebih jauh lagi. Itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini. Datang ke pesta ulang tahun ini rasanya benar-benar kesalahan besar bagi Dennis.

Ann menerima ucapan selamat dari kerabat dekat Calvin sambil terus mengamati pintu keluar di ruangan itu. Ia melihat Dennis berjalan seorang diri meninggalkan pestanya.

Di luar hotel itu..

“Dennis, tunggu!!”

Dennis berhenti, menoleh ke belakang dan kaget melihat Ann berlari-lari kecil sambil mengangkat ujung gaunnya. Ia berlari menyusul Dennis tanpa menghiraukan gerimis yang masih turun sejak tadi.

“Kenapa kau sudah mau pergi? Pestanya baru saja dimulai.”

Meskipun Dennis tidak mengerti mengapa Ann mau repot-repot mencegah tamunya pulang, tapi ia terpaksa mengarang cerita, “Tadi aku baru ingat ada pekerjaan mendadak dari Bosku. Aku harus segera kembali ke sana. Maaf aku tidak bisa berlama-lama di pestamu.”

Ann terlihat maklum, “Kau pulang bukan karena ucapan Calvin tentang pekerjaanmu tadi kan?”

”Apa? Tentu saja bukan,” jawab Dennis, berusaha terdengar wajar, “aku samasekali tidak tersinggung.” aku pergi karena tidak mau melihat perlakuan manis pria itu padamu. Aku merasa tidak berdaya, aku cemburu.

“Syukurlah….aku kira kau tersinggung karena ucapan Calvin tadi.”

Dennis memandang jauh ke dalam matanya, kemudian berpaling. “Aku ucapkan selamat padamu, untuk pertunangan itu.”

“Terima kasih.”

”Apa dia benar-benar pilihanmu yang paling tepat?” suara Dennis hanya sedikit lebih keras dari sebuah bisikan.

“Apa maksudmu?”

”Maksudku……sejujurnya aku berat menerima semua ini. Aku kaget. Kita berpisah selama bertahun-tahun , lalu kemarin kita bertemu untuk pertama kalinya, dan tiba-tiba saja kau bilang kau sudah bertunangan. Semuanya itu terlalu ganjil bagiku.”

”Jadi ini alasanmu meninggalkan pesta itu kan?” Ann tertawa pahit, “memangnya kenapa kalau aku sudah bertunangan? Apa aku salah kalau dalam waktu lima tahun itu ternyata aku sudah berhasil membangun kembali hidupku? Apa aku salah dan tidak seharusnya memberitahumu kalau aku sudah punya kekasih baru?”

“Bukan itu maksudku. Aku hanya…sulit menerimanya.”

”Jangan konyol, Dennis….kau tentunya tidak berharap aku terus hidup dalam kenangan pahit darimu kan?”

Dennis termangu kaget, ia menangkap sorot mata yang menyakitkan dari gadis itu. Tapi hatinya juga ikut menanggung rasanya.

“Aku bisa melanjutkan hidupku kembali, apa yang terjadi di antara kita lima tahun yang lalu sedikitpun tidak bisa menghalangiku untuk kembali meraih kebahagiaan itu. Kau jangan berpura-pura….sebenarnya kau juga kan? Lalu kenapa kau harus merisaukan masalah pertunanganku itu?”

“Kau benar.” Dennis tak mampu menumpahkan seluruh isi hatinya saat itu, ia hanya sanggup berpura-pura tak peduli, “apa yang terjadi di antara kita memang hanya masa lalu. Kalau kau bisa melupakannya, kenapa aku tidak?”

Ann tersenyum lagi, kali ini senyum yang dirasakan Dennis sengaja untuk menyerangnya. “Lima tahun yang lalu kau bilang padaku di rumah sakit itu, bahwa kau tidak bersungguh-sungguh mencintaiku, aku harus melupakanmu dan masing-masing dari kita harus melanjutkan hidup kita kembali. Aku memang rapuh saat itu, tapi setelah berpisah denganmu aku perlahan-lahan bisa menjadi lebih kuat. Dan akhirnya aku bisa melupakanmu. Kau jangan salah paham, Dennis, jangan kau kira aku bertunangan dengan Calvin hanya untuk balas dendam atau pelarian, aku bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengannya.”

Dennis membisu.

“Sekarang di antara kita tidak apa-apa lagi kan? Masing-masing dari kita sudah dewasa, aku harap kau bisa mengerti kalau aku berhak mempunyai hidup yang baru.”

”Tentu saja kau berhak, dan aku tidak akan menghalangimu.” Dennis mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya, “kau benar, di antara kita memang tidak ada apa-apa lagi. Aku akan mendoakan kebahagiaanmu dengan Calvin. Ini kado ulang tahunmu. Meskipun aku tidak bisa memberimu kalung berlian seperti itu, tapi kuharap kau akan suka.”

Ann menerima kado mungil itu tanpa suara.

“Selamat ulang tahun, Ann.” Dennis tersenyum tulus padanya, kemudian beranjak pergi dengan hati yang hancur.

Ann berdiri di sana seorang diri. Ia perlahan-lahan membuka kotak di tangannya itu. Sebuah gelang perak mungil yang berhiaskan hati dan bintang-bintang. Indah sekali.
***

Selina yang dimaksud oleh Calvin adalah sebuah jam tua yang besar berdiri di ruang tamu Ann. Konon usianya sudah sangat tua hingga hampir dimasukkan ke museum barang-barang seni. Tapi benar kata Calvin, meski usianya sudah sangat tua tapi kondisinya masih bagus seolah-olah tidak termakan usia. Jam antik ini dibeli oleh Calvin di London khusus dihadiahkan untuk Ann.

Dennis menyentuh setiap bagian dari jam tua itu dengan hati-hati. Ia mengagumi setiap detailnya. Benar-benar barang klasik yang sayang kalau sampai dimasukkan ke museum. Tapi yang pasti, tidak gampang untuk memperbaikinya.

Dennis mendesah kecil sambil membuka kotak peralatannya. Sekilas ia mengintip Ann dari pantulan kaca di jam antik itu. Dilihatnya Ann sedang duduk di sofanya sambil mengerjakan sesuatu dengan komputer laptopnya. Penampilannya kelihatan segar dengan pakaian santai dan rambut yang dijepit ke atas. Namun wajahnya sangat serius.

Tiba-tiba Ann mendongak, dan dalam sekejap tatapan mereka saling bertabrakan.

Dennis segera memalingkan wajahnya. Mungkin datang ke rumah ini bukan ide yang baik. Seharusnya aku menolak tawaran Calvin kemarin. Kalau begini suasananya jadi tidak enak.

Ann kembali menekuni laptopnya. Tapi beberapa menit kemudian ia pindah ke ruangan yang lain. Dennis menghela nafas lega.

“Hey Speed, kau dari tadi tetap di sini terus, mau melihatku bekerja ya?” Dennis mulai membongkar jam antik itu sambil mengajak ngobrol Speedy yang sejak tadi terus tiduran di dekatnya, “tolong beritahu aku satu alasan, mengapa aku bisa dengan tololnya datang ke rumah ini? Bukannya serius kerja malah lihat-lihat orangnya. Tuh, kau saja sudah tidak tahan mau menertawai aku kan? Kuberitahu ya, jadi anjing peliharaan itu sebenarnya jauh lebih enak daripada jadi manusia. Rumah ada, makanan selalu disediakan, kotoran selalu dibersihkan…kurang apalagi? Aku saja harus kerja keras baru dapat makan. Lagipula jadi anjing tidak perlu repot-repot pusingin urusan cinta.”

Dennis tertawa sambil mengelus-ngelus anjing itu. Speedy bergelut manja di pahanya.

Tak lama kemudian Calvin mendadak muncul dari pintu masuk rumah. Ia terlihat agak terkejut melihat kehadiran Dennis di sana,”Oh sudah datang rupanya. Pagi-pagi sekali?”

”Iya, mumpung masih belum banyak orderan.”

”Mana Ann ?”

”Tadi ada di sini, tapi sudah pergi ke dalam sana.”

Calvin mengintip ke atas tangga,”Mungkin sedang ganti baju di kamarnya…”

Kemudian pemuda itu menghempaskan dirinya di atas sofa empuk. Ia menyilangkan sebelah kakinya, duduk mengamati pekerjaan Dennis tanpa suara. Lalu Speedy datang menghampirinya.

“Speed! Jangan kotori pakaianku!” Calvin mengusirnya, “dasar anjing manja.”

Dengan berat hati Speedy meninggalkannya dan beralih kembali ke tempat Dennis.

“Bagaimana jamnya? Bisa diperbaiki?”

”Aku belum begitu yakin, tapi akan kucoba.”

”Ayolah…aku yakin tukang sepertimu pasti bisa memperbaikinya. Jam antik itu sayang kalau sampai tidak bisa jalan.”

Dennis tidak menjawabnya, sibuk.

“Pesta kemarin meriah sekali ya, aku sangat senang malam itu. Akhirnya aku bisa mengumumkan pertunanganku secara resmi pada semua orang.”

”Aku lupa mengucapkan selamat.”

Ann memasuki ruang tamu itu, menatap Calvin, “Kau sudah datang. Kenapa tidak memanggilku?”

”Aku kira kau lagi ganti baju. Loh? Kenapa belum ganti baju?” Calvin melirik arlojinya, “satu jam lagi loh.”

“Aku tadi keasikan bikin tugas,” jawab Ann sambil memasuki ruang makan keluarga. Calvin mengikutinya.

Sekedar informasi, ruang tamu dan ruang makan hanya bersebelahan dan tanpa sengaja pun Dennis bisa mendengar semua percakapan mereka.

“Kau kenapa? Sepertinya tidak terlalu niat pergi? Kau tidak mau menemui orang tuaku?”

“Bukan begitu. Aku tadi cuma kelupaan.”

“Kalau begitu…” Ann dipeluknya dari belakang, “kuharap kau bisa segera ganti baju…lalu kita berangkat menemui ayah-ibuku. Mereka semua sudah tidak sabar menemuimu, Ann. Kalian kan cuma pernah ketemu 3 kali waktu di London itu. Ibuku bilang dia sudah kangen dengan calon menantunya. Nah, lalu sehabis menemui mereka….aku akan membawamu makan-makan di restoran Italy yang kau bilang enak itu.”

Ann tersenyum kecil ,”Iya…iya…aku ganti baju dulu.”

”Nah,gitu donk. Yang cepat ya, aku tunggu.” Calvin melepaskan pelukannya, “jangan kelamaan ya.”

Setelah Ann naik ke atas, Calvin kembali ke ruang tamu dengan wajah berseri-seri. Ia mengamati Dennis yang sedari tadi terus jongkok memperbaiki jam itu, “Kau tidak keberatan kan, kerja sendirian? Nanti aku dan Ann mau pergi ke rumah orang tuaku. Kalau pekerjaanmu belum selesai dan kau sudah mau pulang, pulang saja. Ah…rasanya aku sudah tidak sabar membawa Ann pada kedua orang tuaku. Ann itu benar-benar tipe yang disukai mereka. Mereka ingin kami segera menikah.”

Dennis terus berkutat dengan peralatannya.

“Siapa namamu kemarin? Aku lupa.”

”Dennis.”

”Oh iya….Dennis. Hey, ngomong-ngomong apa sekarang kau tengah menjalin hubungan spesial dengan seseorang?”

”Tidak. Kenapa?”

”Kenapa tidak ada? Setahuku pekerjaanmu itu tidak terlalu menyita waktu. Sekali-kali ambil cuti saja, bekerja terlalu keras tidak baik bagi kehidupan sosialmu.”

Dennis tersenyum simpul, “Aku tidak sepertimu. Kalau aku tidak kerja, dari mana aku makan?”

”Hm…susah juga ya. Seperti yang kukatakan kemarin, mungkin ada baiknya kau cari pekerjaan yang lain saja. Jadi tukang servis itu tidak ada untungnya. Apa kau menyelesaikan kuliahmu ?”

”Tidak, putus tengah jalan.”

”Kenapa? Tidak cukup biaya? Sayang sekali. Padahal dengan kuliah tinggi kita baru bisa dapat gelar dan mencari pekerjaan yang layak.”

Apa maksudnya?! Apa pekerjaanku ini tidak layak?!!

“Oh ya…kata Ann kau teman lamanya. Apa kau bisa sedikit menceritakan tentang Ann di masa-masa remajanya? Aku yakin kau pasti sangat mengenalnya.”

”Kau ini kan tunangannya. Kau pasti jauh lebih mengenalnya.”

”Entahlah…” wajah Calvin sedikit berubah, “kadang Ann dari luar memang kelihatan adem ayem saja…tapi aku tidak terlalu yakin apa selama ini dia memang sudah terbuka padaku. Dia itu misterius, aku merasa masih banyak rahasia yang ia sembunyikan dariku. Aneh juga ya, apa mungkin aku yang terlalu banyak pikiran?”

“Seharusnya kau tidak memikirkan yang bukan-bukan. Dia itu tunanganmu, sudah pasti dia akan terbuka padamu. Beri dia kesempatan karena semuanya tidak bisa instan. Kadang kita tidak bisa memaksa seseorang untuk selalu terbuka pada kita, karena dalam diri seseorang pasti ada sesuatu yang lebih baik disimpan sendiri.” Dennis melamun meresapi ucapannya sendiri.

Calvin menatapnya tajam.

“Ah sudahlah, aku memang tidak pandai memberi nasehat.”

Di saat yang bersamaan Ann muncul di tengah-tengah mereka. Ia tersenyum ringan pada Calvin, “Yuk, berangkat.”

Calvin mengandeng tangannya, “Ayo.”

Ann pergi begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan Dennis.

Setelah keduanya pergi, Dennis melempar peralatannya ke lantai. Ia tidak capek, tapi hatinya yang capek.

“Aku harus benar-benar melupakan majikanmu,” ia kembali mengelus Speedy, “kau lihat sendiri kan? Dia samasekali sudah melupakanku. Kalau dia bisa, kenapa aku tidak? Kadang aku pikir…lebih baik pertemuan kami yang kemarin lusa itu tidak perlu terjadi sama sekali. Memang aku yang salah, tidak seharusnya aku melepaskan dia begitu saja lima tahun yang lalu. Manusia memang bodoh, Speed. Sebodoh aku yang melepaskan cinta tanpa berusaha mempertahankannya. Kadang manusia harus kehilangan dulu, baru bisa merasakan betapa berartinya cinta itu.”

Speed menatapnya bingung.
***

Kira-kira pukul 2 siang Dennis baru pulang dari rumah Ann. Jam yang diberi nama Selina itu belum bisa diperbaiki sampai selesai, mungkin besok baru bisa dilanjutkan lagi. Karena Ann belum pulang, Dennis hanya berpamitan dengan pembantu rumah tangganya. Pembantu itu membukakan pintu pagar untuk Dennis.

Tapi sungguh di luar dugaan, tepat di depan pintu pagar yang tinggi menjulang itu, Dennis berpas-pasan dengan seorang pemuda yang rasanya masih segar di ingatannya.

Pemuda itu melotot marah melihat Dennis, “Kau?! Apa yang kau lakukan di sini!”

Dennis menyilang kedua tangannya di depan dada, “Oh…rupanya kau, bocah reseh. Sudah lima tahun akhirnya kita bertemu lagi.”

Pemuda itu tidak lain lagi adalah Josh. Mungkin ia yang paling tidak banyak berubah di antara mereka semua, masih dengan rambut cepak dan wajah tampannya yang babyface, “Hey brengsek, ngapain di rumah Ann?! Sudah lima tahun kenapa kau bisa tiba-tiba muncul di depan mataku?! Kukira kau sudah mati!”

“Lalu maumu apa? Berantem lagi kayak dulu!?”

”Jawab pertanyaanku dulu! Kenapa kau bisa ada di sini!”

Dengan santai Dennis mengangkat kotak peralatannya tinggi-tinggi, “Selamat berkenalan dengan tukang reparasi.”

”Apa-apaan ini…”

”Aku datang ke sini untuk memperbaiki jam. Memangnya kau kira aku maling?”

“Memperbaiki jam?” Josh tertawa mengejek, “Kenapa bisa serba kebetulan begitu ya? Selama lima tahun kau lenyap dari kehidupan Ann, lalu di siang bolong begini tiba-tiba kau muncul di rumahnya untuk memperbaiki jam. Dasar tidak punya harga diri.”

”Apanya yang tidak punya harga diri? Aku heran…kenapa di dunia ini ada orang sepertimu yang selalu sok ikut campur urusan orang lain. Urusan yang lalu itu hanya di antara aku dan Ann, jangan sok tau!!”

“Aku sok tau?!”

“Seperti anak kecil saja….Minggir,” Dennis menepis Josh menyingkir dari jalannya.

Josh merasa tidak senang, ia menarik kemeja Dennis dan menyeretnya ke hadapannya.

Di saat yang bersamaan datang mobil sedan milik Calvin. Calvin membunyikan klakson kecil memanggil mereka. Sementara Ann menatap Dennis dan Josh dengan cemas. Ia segera turun dari mobil dan menghampiri mereka sebelum terjadi perkelahian lagi seperti dulu.

“Josh, kenapa kau bisa di sini?”

”Seharusnya aku yang tanya, kenapa bajingan ini bisa ada di rumahmu!”

”Dia datang untuk memperbaiki jam kuno pemberian Calvin.”

”Memangnya tukang reparasi di kota ini sudah mati semuanya!? Kenapa harus manggil dia!”

”Bukan aku, tapi Calvin yang memintanya.”

Josh menoleh ke arah mobil Calvin. Calvin ikut keluar, ia memandang mereka dengan tatapan bingung.

“Tolong jangan bikin keributan di sini.” Ann memelas.

Josh melepaskan cengkramannya, dengan sangat terpaksa ia akhirnya mau membebaskan Dennis. Tapi kedua pemuda itu masih terlibat adu mata yang sengit. Wajah keduanya terlihat penuh amarah.

Mau tak mau Ann terpaksa menarik Dennis menjauh dari Josh, “Dennis, pulanglah. Aku tidak mau kalian bertengkar lagi seperti dulu.”

”Aku memang sudah mau pulang. Pekerjaanku belum selesai tapi aku akan menyelesaikannya besok,” Dennis melotot pada Josh, “bilang ke temanmu itu, lain kali jangan suka reseh!”

Tanpa curiga sedikitpun, Calvin menghampiri Josh, “Ada apa? Kenapa tegang begini?”

”Tegang apaan?! Kau ini bodoh sekali, kalau aku jadi kau…aku akan sewa tukang servis lain! Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menginjak kakinya lagi di rumah Ann!”

”Memangnya kenapa?”

“Ya ampun…dia itu kan pacar pertamanya Ann! Masak kau tidak tahu sama sekali?! Ann pernah punya kenangan yang pahit dengannya! Aku tahu dia pasti masih mengincar Ann!”

Calvin terperangah, “A…apa kau bilang?”

“Kau tidak tuli kan? Awasi orang itu baik-baik, jangan sampai dia dekat-dekat dengan tunanganmu! Ann itu pernah punya cerita dengannya, dan kujamin kau akan menyesal kalau cerita itu sampai terulang lagi.”

Calvin memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, matanya tajam mengamati Ann yang sejak tadi terus berada di situ membujuk Dennis untuk pergi. Tiba-tiba saja ia sadar sesungguhnya ia belum mengenal Ann dengan jelas. Matanya lalu bergantian mengawasi Dennis.

Ada apa sebenarnya antara kau dan tunanganku ?!

***

Josh berkacak pinggang menatap Ann di ruang tamu yang sepi itu, “Aku tidak mengerti kenapa kau tidak mau menceritakan tentang Dennis pada Calvin.”

”Buat apa? Tidak ada yang perlu diceritakan.”

”Tapi dia itu kan tunanganmu. Apa kau tidak merasa aneh telah merahasiakan sesuatu padanya?”

”Josh, aku tidak merahasiakan apapun pada Calvin. Aku tidak memberitahu dia karena aku rasa semua itu hanya kejadian kecil di masa laluku, tidak ada yang istimewa sampai harus diceritakan padanya. Memangnya aku harus cerita semua kejadian masa laluku sampai sedetail-detailnya? Lagipula aku tidak pernah menganggap antara aku dan Dennis pernah punya hubungan khusus, karena kuanggap semua itu palsu.”

”Tapi kau….kau tentunya tidak berpikiran ingin kembali lagi pada Dennis kan?”

Ann menoleh kaget, “Tentu saja tidak!”

“Syukurlah…aku tidak bisa membayangkan kalau kau sampai punya pikiran seperti itu.” Josh mengaruk kepalanya.

“Oh ya, buat apa kau datang ke rumahku?”

”Cuma mau minta maaf kemarin aku tidak bisa datang ke pesta ulang tahunmu. Aku lagi banyak kerjaan.”

Ann tersenyum penuh selidik, “Banyak kerjaan atau banyak acara? Sama Sherly kan?”

Sherly adalah nama pacar Josh. Mereka berkenalan setengah tahun yang lalu di kantor tempat kerja Josh, lalu mulai pacaran serius sejak seminggu ini. Tentu saja Josh sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Emma, perasaan itu sudah sirna sejak mereka sama-sama dewasa. Ia bahkan nyaris kehilangan kontak dengan Emma.

“Kapan nih nyusul?” Ann memamerkan cincin tunangannya sambil tertawa.

”Waduh….aku kan tidak seperti Calvin, harus kumpulin duit dulu baru berani married. Jadi Calvin sih enak….segala-galanya udah punya. Ayahnya saja pejabat….Oh ya, kalian kapan nih marriednya? Di sini atau di London?”

Ann mengendik bahu, “Tidak tahu.”

“Kelihatannya kau tidak terlalu berminat…”

”Bukan begitu. Aku ini cuma terima apa maunya dia. Katanya sih bulan depan, mungkin di London.”

”Selamat ya….aku senang akhirnya kau bisa menemukan pasangan seperti Calvin. Dia itu tipe pria yang tidak akan mengecewakanmu. Kau sangat beruntung.”

“Kau benar. Aku memang sangat beruntung.” Ann tersenyum simpul.

Sangat beruntung…

***

Calvin duduk tenang di ruang tamu dalam apartemen mewahnya. Semua keterangan yang diberikan oleh pegawai ayahnya didengarnya baik-baik. Setelah pegawai itu selesai membeberkan semua hasil penyelidikannya, Calvin mengangguk kecil dan memintanya pergi.

Kemudian ia merenung sendiri.

Dennis Lionardi…..aku sudah tahu semuanya…

————
Keesokkan harinya…

“Dennis, ada yang mencarimu di luar,” teriak salah satu teman kerja Dennis.

Dennis yang sedang bersama dengan Heru memperbaiki pesanan seorang pelanggan, langsung membersihkan tangannya dan tergopoh-gopoh berlari keluar. Ia terkejut melihat Calvin tengah berdiri di sana menantinya. Kehadiran pria itu terlihat paling mencolok di tengah-tengah para karyawan. Tapi setelah melihat Dennis, Calvin langsung memberi isyarat padanya untuk bicara di luar. Dennis hanya mengikutinya saja sampai di tempat parkir Calvin.

“Wah, ada perlu apa nih kau sampai datang kemari? Aku baru saja mau berangkat ke rumah Ann.” Dennis menghampiri Calvin yang menunggu tepat di depan mobilnya.

Tapi entah kenapa Calvin mengeluarkan sejumlah uang dari balik jas mahalnya, “Berapa semua biaya pekerjaanmu?”

”Maksudmu?”

”Aku akan bayar tunai, hari ini tidak perlu datang lagi ke rumah Ann.”

”Kenapa? Jam itu kan belum selesai kuperbaiki.”

”Tidak masalah, lagipula tadi aku sudah terlanjur menyewa tukang lain dari rekomendasi temanku. Tukang itu yang akan melanjutkan sisa pekerjaanmu.”

Dennis memiringkan kepalanya, menatap Calvin samar, “Kenapa kau tidak mengizinkan aku mengerjakan pekerjaanku sampai selesai? Apa kau kira aku tidak sanggup?”

”Aku tidak ragu pada kemampuanmu. Seperti yang sudah kubilang tadi, aku sudah menyewa tukang lain. Ini, ambil saja bayaranmu.”

Tapi dengan sopan Dennis menepis uang itu, “Pekerjaan belum kuselesaikan, mana boleh aku terima bayaran? Simpan saja untuk tukang servis baru itu.”

Calvin mengangguk kecil. Kemudian ia menyimpan uang itu kembali ke dalam saku jasnya dan langsung menatap Dennis dengan dingin, “Kelak aku harap kau tidak perlu datang ke rumah Ann lagi.”

“Hah?”

“Kau dengar kataku tadi kan?”

Dennis terdiam sesaat.

“Jangan kau kira aku tidak tahu apa-apa tentang hubungan kalian ini. Aku sudah menyelidikimu baik-baik, Dennis. Aku tahu semuanya. Kau pernah punya hubungan khusus dengan Ann lima tahun yang lalu, tapi kau mencampakkannya demi uang.”

“Aku tidak tahu cerita versi mana yang kau dengar, tapi yang pasti aku tidak mencampakkan Ann, apalagi demi uang.”

”Silahkan berdalih, tapi fakta kalau kau mendekati Ann karena ingin melunasi hutang ayahmu adalah benar kan?”

Dennis malas menjelaskan setiap kali ada orang yang menyalahkan dirinya karena itu, “Awalnya memang begitu, tapi setelah aku benar-benar menyukainya, sedikitpun aku tidak berniat menyakitinya.” Dijelaskan sampai berapa kali pun tidak akan ada yang percaya..

“Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu pada Ann, tapi yang jelas sekarang Ann itu tunanganku. Aku tidak suka melihat kau mondar-mondir dalam kehidupannya setelah sekian lama menghilang.”

”Tidak ada yang menghilang. Bukankah Ann sendiri yang kuliah di Inggris selama lima tahun ini dan tidak pernah pulang? Aku sama sekali tidak bermaksud menampakkan diri di depannya begitu saja, pertemuan kami terjadi secara kebetulan. Kalau kau keberatan, aku maklum. Percayalah, aku sendiri tidak berharap bisa bertemu lagi dengannya.”

Calvin melepaskan kacamata tipisnya, wajah tampannya menyiratkan kebencian yang dalam, “Dengarkan aku baik-baik, tukang servis. Aku tidak mau tahu apa-apa saat ini, aku hanya mau menegaskan padamu sekali lagi, jangan sampai kau berani dekati tunanganku itu, karena sebenarnya aku tidak yakin baik kau maupun Ann sudah saling melupakan atau belum. Aku tidak mau ambil resiko kehilangan Ann karena kau. Asal kau tahu saja, aku bisa saja berubah menjadi orang yang sangat jahat kalau aku ingin mempertahankan sesuatu.”

“Apa maksudmu?”

”Kalau kau berani mendekati Ann lagi..”

”Tunggu, siapa bilang aku mau mendekati Ann lagi?”

”Tidak usah pura-pura, aku bisa membaca semua yang ada di kepalamu itu. Kau mungkin tidak pernah kepikiran ingin merebut Ann dariku, tapi tentunya kau berharap bukan? Aku yakin kau juga sadar kau ini bukan apa-apa jika dibandingkan denganku. Apa dengan keadaanmu yang seperti ini kau bisa merebut Ann kembali ke sisimu? Jangan mimpi di siang bolong. Memandangmu saja Ann sudah tidak sudi.”

Dennis naik pitam, tapi ditahannya, “Lalu apa maumu?”

”Aku mau kau tahu diri sedikit. Jangan dekati Ann lagi, kalau tidak aku akan memastikan kau akan menyesal seumur hidupmu. Sudah kubilang tadi, aku bisa berubah menjadi orang yang jahat kalau aku ingin mempertahankan sesuatu. Aku tahu semua latar belakang kehidupan masa lalumu yang suram, tentunya kau tidak ingin semua itu terulang lagi kan? Kalau kau masih berani merebut milikku yang paling berharga, aku pun akan berbuat hal yang sama.”

”Jangan bertele-tele! Apa maksudmu!”

”Akan kubuat kau kehilangan pekerjaanmu. Segalanya. Orang-orang yang ada di sekitarmu pun akan kubuat menanggung akibatnya. Kau mengerti?”

”Keparat…”

”Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Ingat baik-baik, Dennis, aku bisa saja menjadi orang jahat. Kau tentunya tidak mau kehilangan segalanya kan?”

Dengan marah Dennis menarik kerah kemeja Calvin, tangannya mengepal marah siap meninju wajah angkuh itu, “Tadinya kukira kau orang baik-baik, kukira kau memang pantas mendampingi Ann. Tapi ternyata kau cuma orang licik yang menghalalkan segala cara untuk menekan orang lain! Apa istimewanya menjadi orang kaya yang punya kekuasaan?! Aku tidak takut padamu!!”

“Oh ya? Sekali saja kau memukulku, aku jamin kau akan menyesal seumur hidup.” Calvin menyeringai licik.

Tadinya Dennis sudah setengah mati menahan diri untuk tidak menghajar Calvin, tapi pria itu malah mencondongkan wajahnya menantang Dennis.

“Kenapa? Bukankah tadi kau bilang tidak takut padaku? Lalu kenapa kau tidak berani menghajarku?” Calvin tertawa sinis, “orang-orang pinggiran sepertimu memang paling pengecut, gampang ditekan.”

”Keparat!!”

Dennis tidak kuat menahan emosinya, dihajarnya wajah sombong itu sampai telak.

Calvin terhuyung jatuh, tapi dalam sekejap ia sudah bangkit lagi. Darah menetes sedikit dari bibirnya, “Hanya segini kemampuanmu, tukang servis? Kenapa? Kurang makan jadi tidak kuat menghajar orang?! Rakyat jelata sepertimu memang memalukan. Tukang pukulku saja bisa memukul anjing lebih baik darimu!”

Dennis semakin kalap, lagi-lagi ia mengayunkan tinjunya ke wajah Calvin. Kali ini sangat keras, Calvin sampai tersungkur di bawah dan butuh waktu yang lama untuk bangkit.

Nafas Dennis turun naik. Tapi kemudian ia meredakan emosinya, otaknya berpacu keras untuk berpikir. Ada yang aneh…kenapa aku punya perasaan kalau si brengsek ini memang sengaja minta dihajar? Seakan-akan ia yang menawarkan diri?

Belum sempat Dennis memecahkan teka-teki itu, semuanya sudah terlambat.

Tiba-tiba entah dari mana sebuah taxi berhenti di depan mereka. Ann turun dari taxi itu dan tergesa-gesa menghampiri tempat mereka dengan wajah ketakutan.

Dennis terperanjat menahan nafas, bagaimana mungkin Ann bisa tiba-tiba muncul?! Berbagai kemungkinan skenario yang dirancang Calvin semuanya berterbangan di dalam benaknya. Saat Dennis menyadari kehadiran Ann yang begitu di luar dugaan, ia baru bisa menebak apa maunya Calvin itu.

Sial….orang licik ini pasti sudah mengatur semuanya!!!!

Benar dugaan Dennis, begitu melihat Ann datang, tiba-tiba saja Calvin berakting meronta-ronta kesakitan sembari memegang luka di wajahnya. Ann memeganginya dengan cemas, “Calvin, kau tidak apa-apa?”

“Kenapa kau lakukan ini!!” Ann mengangkat wajahnya dan membentak Dennis dengan suara tinggi, “kenapa kau memukuli Calvin?!”

Dennis tercekat, “Ann, dengar aku baik-baik, aku tidak…..” astaga, bagaimana aku menjelaskannya!! “dia duluan yang mencari masalah!!”

Calvin bangkit berdiri dengan susah payah. Wajahnya tidak ada luka yang berarti, tapi tingkah lakunya dibuatnya seolah-olah ia sangat kesakitan. Ia menatap Dennis dengan akting pura-pura ketakutan, ”Aku menemuinya di sini karena aku memintanya tidak perlu datang ke rumahmu lagi untuk memperbaiki jam, tapi entah kenapa dia marah sekali dan langsung menghajarku.”.

“Pembohong!! Ann, jangan dengarkan dia!!! Makhluk ini lebih licik daripada yang kau kira!!”

“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau memang menghajarnya, Dennis!!! Bisa-bisanya kau malah balik menuduh Calvin?! Orang sepertimu mana bisa kupercaya!”

“A…apa..” Dennis semakin terpojok.

“Ann, sudahlah….jangan cari masalah lagi dengannya.” Calvin pura-pura prihatin, “kita pergi saja.”

Dennis mencekal tangan Ann, “Ann, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kaulihat! Dia sengaja memancing emosiku…”

Ann dengan kasar melepaskan tangan Dennis, “Keterlaluan kau, Dennis! Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi karena aku sudah melihat semuanya!”

“Tapi dia dulu yang mengancamku!! Dia sengaja mengatur semua ini supaya kau datang dan melihat semuanya! Dia berbuat seperti ini supaya kau semakin membenciku!!”

”Bicara apa kau?” Ann menatapnya dengan sinis, “aku tidak mau mendengar apa-apa lagi darimu! Cepat pergi dari hadapanku.”

”Ann, tunggu dulu!”

Ann berlari masuk ke dalam mobil Calvin, sedikitpun ia tidak menghiraukan teriakan-teriakan Dennis dari luar. Calvin menoleh ke tempatnya, tersenyum kecil kemudian langsung mengemudikan mobil itu kencang-kencang.
***
Di dalam apartemen Calvin…..

“Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu cemas. Seharusnya kau tidak perlu datang ke sana.” ujar Calvin sewaktu Ann mengompres luka di bibirnya.

“Aku langsung datang ke sana setelah kau telepon. Tadinya kukira ada apa, kau bilang di telepon kalau kau ingin aku ikut bicara pada Dennis. Tapi begitu sampai di sana, aku malah melihat dia sedang memukulimu.”

”Maaf….seharusnya aku tidak menyuruhmu datang. Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa berbuat seperti ini. Dia menghajarku seperti orang gila saja!”

Ann meletakkan kantung kompresannya, wajahnya terlihat lesu.

“Aku tidak mengerti kenapa Dennis bisa semarah itu. Aku bilang baik-baik padanya kalau dia tidak perlu datang lagi tapi dia langsung…”

”Calvin,” potong Ann, “ada yang harus kuceritakan padamu.”

“Tentang apa?”

“Tentang Dennis dan aku. Dennis itu sebenarnya…”

”Mantan pacarmu?”

Ann mendongak kaget, “Kau sudah tahu?”

”Josh yang memberitahuku kemarin. Aku tidak marah padamu, Ann. Lagipula itu hanya masa lalu, kau memang tidak perlu memberitahuku semuanya.”

”Tapi sebenarnya di antara kami tidak bisa dianggap punya hubungan khusus.”

”Aku percaya padamu, Ann. Sejujurnya aku memang takut setelah mendengar semuanya. Makanya aku tiba-tiba ingin menggantikan Dennis dengan pekerja lain, karena aku khawatir dia akan mendekatimu lagi. Aku tahu kekhawatiranku itu tidak beralasan…seharusnya aku tidak perlu berbuat begitu. Aku tidak menyangka dia akan marah besar sampai menghajarku segala…”

”Calvin…kau perlu tahu satu hal, antara aku dan Dennis benar-benar tidak ada apa-apa lagi. Itu hanya masa lalu.”

“Kau sungguh tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya?”

Ann tertawa kaku, “Kau becanda? Tentu saja tidak. Setelah semua yang ia lakukan padaku, mana mungkin aku masih menyimpan perasaan padanya. Lagipula….setelah melihat perbuatan dia padamu hari ini…aku jadi tahu dia memang tidak pernah berubah, tetap saja suka berbuat seenak hatinya. Dia tidak pernah berhenti membuatku kesal.”

Calvin meraih tangan Ann dan meremasnya lembut, “Tadinya aku kira kehadiran Dennis bakal mengancam hubungan kita, tapi kini aku percaya sepenuhnya padamu. Berjanjilah padaku mulai sekarang kau tidak akan menyembunyikan apa pun lagi dariku.”

”Baiklah.”
***

Malam harinya saat Ann sedang sibuk menyelesaikan tugas kuliahnya yang menumpuk, pembantu rumah datang memberitahu Ann bahwa ada seorang pria yang ingin menemuinya. Ann menyuruh pembantu rumah membukakan pintu dan bilang pada orang itu ia akan segera turun. Tapi tak lama kemudian pembantu itu datang lagi , katanya tamu itu tidak mau masuk ke dalam. Ia hanya mau menunggu Ann di luar rumah.

Dengan malas-malasan Ann mematikan laptopnya dan segera keluar dari rumah. Tamu macam apa yang lebih memilih bertemu di depan rumah daripada diundang masuk?

Sesampai di depan pagar, ia kaget melihat tamu itu ternyata Dennis.

“Mau apa kau ke sini?! Aku tidak mau bicara apa-apa lagi.” Ann segera mengambil langkah seribu meninggalkan Dennis. Tapi kali ini Dennis tidak akan melepaskannya. Ia dengan gesit menyambar pergelangan tangan Ann, memaksanya tetap berdiri di sana.

”Aku tidak rela selalu menjadi pihak yang disalahkan! Kau tenang saja, aku juga tidak akan berlama-lama di sini.” Dennis mengendurkan pegangannya, “mungkin apa pun yang kujelaskan padamu tidak akan bermanfaat, aku tahu sedikitpun kau tidak akan mempercayaiku. Tapi aku minta kali ini kau harus percaya padaku! Kejadian tadi pagi sungguh di luar kemauanku.”

”Kau memang selalu memakai alasan itu, Dennis. Apa pun yang kau lakukan selalu kau bilang di luar kemauanmu!”

“Calvin tidak seperti yang kau puja-puja selama ini! Dia datang ke tempatku, mengancamku agar tidak menemuimu lagi atau aku akan dibuatnya menyesal seumur hidup. Dia memang memiliki segalanya, uang dan kekuasaan yang aku tidak punya. Tapi aku tidak akan mau menjadi bulan-bulanannya! Terserah kau mau percaya padaku atau tidak, aku hanya mau kau tahu yang sebenarnya! Aku tidak mau kelak kau menikah dengan orang yang salah.”

”Calvin bukan orang seperti itu. Aku tidak akan percaya padamu, Dennis. Sejujurnya kukatakan padamu, aku menyesal kita bertemu lagi di taman itu. Apa kau tahu, sebenarnya aku berharap tidak pernah melihatmu lagi!” Ann menatapnya kosong, “lima tahun adalah waktu yang lama, aku baru bisa sembuh dari semua luka yang kau buat padaku itu selama lima tahun! Aku sekarang sudah punya hidup yang baru, aku bahkan sudah mulai bahagia dengan pertunanganku. Tapi tiba-tiba saja kau muncul di depan mataku dan merusak semuanya! Apa kau tidak merasa bersalah padaku, setelah aku bisa pulih kembali dari semua lukaku lalu kau mau buat luka yang baru lagi?”

Dennis diam.

“Apa hakmu menuduh Calvin orang yang salah? Aku tidak menyesal bertunangan dengannya, setidaknya aku tidak merasa tertekan setiap kali berhadapan dengannya, aku punya jaminan dia tidak akan menyakitiku dan setidaknya aku tahu dia sungguh-sungguh mencintaiku!”

”Apa bersamaku tidak ada perasaan itu?”

”Jika aku bersamamu yang akan kurasakan hanyalah kesengsaraan! Apa kau tahu, berdiri di sini menatapmu saja aku sudah sangat menderita ?!”

Dennis terpukul sekali, “Sedalam itukah kebencianmu padaku?”

”Seharusnya kau sudah sadar sejak pertama kali kau menyakitiku. Aku tidak mengerti apa maumu sebenarnya, dulu kau bilang aku harus melupakanmu, lalu setelah aku berhasil melupakanmu kau malah memaksaku agar tidak membencimu. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memaafkanmu! Jadi aku mohon Dennis, pergilah dari kehidupanku. Jangan kau ganggu aku dan Calvin lagi, biarkan aku hidup lepas dari bayang-bayangmu. Tolong jangan rusak kebahagiaanku.”

”Begitu ya?” Dennis mengangguk kecil, kemudian perlahan-lahan melepaskan pegangan tangannya dari Ann, “aku hanya mau kau tahu satu hal. Aku tidak pernah ingin menyakitimu sedikitpun. Mungkin sudah terlambat bagiku untuk mengatakannya, tapi aku memang mencintaimu. Mudah bagimu untuk melupakanku, tapi aku tidak bisa melupakanmu meskipun kau beri aku waktu selama 5 tahun atau lebih! Aku tidak akan bisa! Aku menyesal atas semua perbuatanku dulu. Aku tidak menyalahkanmu kalau kau memang sangat membenciku, aku memang bodoh telah melepaskanmu begitu saja. Kupikir itu semua demi kebaikanmu, tapi ternyata semuanya hanya akan membuatmu salah paham dan terus membenciku. Sampai kapan pun kau tidak akan percaya kalau aku sungguh mencintaimu, semua yang kulakukan, semua yang kukatakan untuk menyakitimu waktu itu, kulakukan karena terpaksa!”

Ann tercengang diam, “Kau…kau bilang apa?” Ia kaget mendengar semuanya.

“Aku tahu semua yang terjadi di antara kita tidak bisa dirubah lagi, tapi kalau saja aku bisa memutar balik waktu….aku tidak akan sekalipun menyakiti hatimu, aku tidak akan melepaskanmu hanya karena aku merasa tidak pantas mendampingimu. Tapi waktu itu aku tidak bisa berpikir panjang, aku malah melepaskanmu begitu saja dan sekarang semuanya sudah terlambat. Aku juga menyesal kenapa kita harus bertemu lagi. Bukan hanya kau yang menderita, Ann, aku bahkan lebih menderita tapi aku selalu menyimpannya dalam hati dan sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah bisa pulih sepertimu! Tapi aku janji tidak akan merusak kebahagiaanmu dengan Calvin. Aku juga tidak akan mengganggumu lagi kalau memang itu maumu. Kalau kau meminta aku pergi……..aku akan pergi.”

Dennis menatapnya untuk yang terakhir kali, kemudian melangkah pergi, meninggalkan Ann seorang diri berdiri di sana.

Tinggal Ann di sana, berusaha membunuh semua keraguan yang kini mulai merasuki hatinya. Semakin ia mencoba untuk tidak percaya, semakin ia tenggelam dalam keraguan itu.
***

Dalam ruang kerja yang gelap itu Ann menekan nomor telepon rumahnya di Inggris, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Papa, “Papa…maaf meneleponmu malam-malam begini.”

Di ujung sana Papa tertawa, “Tidak apa-apa, sayang. Ada apa sebenarnya, sampai interlokal begini? Kamu kedengarannya sedang ada masalah.”

“Ada yang ingin kutanyakan pada Papa.”

”Ya? Tanyakan saja.”

”Lima tahun yang lalu….Papa pernah memberi cek kosong pada Dennis. Apa Papa masih ingat?”

Papa terdiam. Ada jeda panjang di antara mereka.

“Papa….tolong jawab aku yang jujur. Cek kosong itu apa pernah dicairkan oleh Dennis?”

“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal ini?”

”Tolong, Papa. Jawab aku.”

Papa diam lagi. Yang ada hanya suara nafasnya.

“Ann, sebelum Papa mengatakan yang sejujurnya padamu. Papa mau kamu mengerti satu hal, apa yang Papa lakukan ini semuanya demi kebaikanmu. Papa takut pemuda itu akan merenggut semua kebahagiaanmu, jadi Papa…”

”Pa, tolong jawab saja pertanyaanku itu.”

“Ann……”

Jantung Ann rasanya mau copot, ia seolah-olah mati rasa. Dicengkramnya gagang telepon itu kuat-kuat, air matanya siap menetes, “Cek itu….cek itu ternyata tidak dicairkan Dennis, bukan? Ternyata dia tidak pernah memakainya…Benarkah?”

“Ann…Papa…Papa sungguh tidak bermaksud membohongimu, waktu itu Papa benar-benar mengira dia sudah memakai cek itu. Maafkan Papa, Ann, Papa tidak memberitahumu karena Papa tidak mau kamu terjerumus lebih dalam lagi dengan pemuda itu, selain itu Papa kira antara kamu dan pemuda itu semuanya sudah berakhir, jadi tidak ada yang perlu diungkit-ungkit lagi. Apa kamu sadar, Papa terpaksa melakukan ini semua demi masa depanmu? Lihatlah dirimu sekarang….kamu sudah punya segalanya, tidak kekurangan apapun juga, bukankah itu lebih baik ketimbang hidup luntang-lantung dengan pemuda itu?”

Jadi benar Dennis tidak mencairkan cek itu….

Pegangannya pada gagang telepon itu terlepas begitu saja, sekujur tubuhnya membeku kebingungan.

Ann sudah mencoba untuk tidak menangis, tapi air mata itu terus menetes tanpa ia sadari. Ia tidak perlu mempertanyakan hal-hal yang lainnya lagi, hanya perlu tahu satu kebenaran itu saja sudah cukup untuk mengetuk hatinya, menamparnya keras-keras hingga ia sadar apa yang sebenarnya terjadi lima tahun yang lalu.

Ia lalu meringkuk di bawah seorang diri. Menahan penyesalan yang sangat amat dalam. Menyesal kenapa ia tidak mau menghiraukan kata-kata Emma dan Vincent waktu itu, menyesal mengapa ia tidak pernah mau mempercayai ucapan Dennis, tapi lebih menyesal lagi karena ia tidak pernah mau mendengar kata hatinya sendiri.

Bukankah sekarang semuanya sudah terlambat?

Kini Ann tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap semuanya. Ia sudah terlambat menyadari kebenaran yang selama ini tersimpan rapat darinya. Ia tidak menyalahkan Papa sama sekali, ia bisa memaklumi semuanya. Tapi Calvin? Bagaimana Ann harus menghadapi Calvin setelah ia tahu semuanya? Apa benar yang diucapkan Dennis tadi, kalau Calvin sengaja mengatur perkelahian itu agar dirinya semakin membenci Dennis? Perasaan Ann kini terombang-ambing tak menentu, ia benar-benar kehilangan arah.

Butuh waktu lima tahun baginya untuk menyusun kembali kepingan-kepingan hatinya yang hancur karena Dennis, dan butuh waktu lima tahun baginya untuk melupakan sosok pemuda itu. Tapi rentang waktu yang begitu lama itu pupus semuanya hanya dalam waktu satu malam. Dan dalam waktu satu malam itu ia kembali hancur oleh perasaannya sendiri, oleh kenyataan bahwa sesungguhnya Dennis masih ada di dalam hatinya. Sesungguhnya ia tidak bisa melupakan pemuda itu. Dan sesungguhnya selama ini ia hanya berpura-pura kuat, pada kenyataannya ia masih sangat rapuh.

Ia tidak pernah bisa melupakan Dennis.

Ini semua tidak perlu terjadi kalau saja ia mau mendengar semua penjelasan teman-temannya.

Kalau saja ia mau menunggu lebih lama sedikit di taman itu sebelum keberangkatannya ke Inggris.

Sekarang semua yang sudah susah payah dibangunnya selama ini hancur berantakan. Perasaannya pada Calvin lenyap tak berbekas. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan dirinya sudah bertunangan dengan pria itu. Bagaimana ia nanti akan menikah dengan orang yang tidak ia cintai?

Aku tidak boleh mengkhianati Calvin………tapi bagaimana aku bisa mengingkari perasaanku yang sesungguhnya pada Dennis?
***

Keesokkan harinya…..

Calvin bisa mencium gelagat tidak baik dari tingkah laku Ann yang serba aneh pagi ini. Walaupun mereka sarapan pagi bersama-sama di ruang tamu Ann, tapi Ann hanya diam saja dan tidak menatapnya sejak tadi. Gadis itu hanya sibuk memainkan sarapannya dengan garpu, sedikitpun ia tidak menyentuh makanan itu.

“Kemarin aku bertemu dengan keluargaku. Coba tebak apa hasil percakapan kami semalam? Ayah dan Ibuku minta pernikahan kita dimajukan saja, mungkin 2 minggu lagi, jadi tidak perlu menunggu kita balik ke London lagi. Ibuku bersikeras mau menyiapkan segalanya sendiri, katanya pernikahan itu dilangsungkan di sini saja, di gereja tempat orang tuaku menikah dulu. Kau tidak keberatan kan? Maaf ya…semuanya jadi tiba-tiba begini. Aku juga sebenarnya tidak mau terburu-buru, tapi mereka terus mendesak.”

Orang yang diajak bicara malah diam.

“Ada apa? Wajahmu kelihatan murung sekali.” tanya Calvin padanya.

Ann meletakkan garpunya di atas piring, ia termenung sebentar. Kedua tangannya disembunyikan di balik meja, tangan sebelah kanannya memainkan cincin yang melingkar di jari manis kirinya dengan penuh perasaan cemas. Ia mengigit bibirnya. Aku harus jujur pada Calvin, aku tidak mau ia terluka di saat terakhir.

Ann ragu lagi, tapi kalau aku menceritakan yang sejujurnya pada Calvin sekarang, bukankah sama saja? Ia tetap bakal terluka..

“Ann, aku mohon….ada apa sebenarnya? Apa ada yang ingin kau katakan padaku?” Calvin menatapnya semakin tajam.

“Calvin, aku tidak bisa menikah denganmu.”

Calvin terhenyak kaget, roman mukanya langsung berubah drastis begitu mendengar kalimat tadi.

“Aku tidak bermaksud melukaimu…aku tahu ini kejam sekali dan kau pasti tidak bisa menerimanya, tapi aku tidak boleh terus menipu diriku sendiri, terlebih-lebih menipu dirimu. Aku tidak sanggup menikah denganmu, Calvin..”

“Tapi kenapa ?!”

“Aku tidak pantas menikah denganmu….selama ini kau terlalu baik, percayalah kau akan menyesal bila menikah dengan..”

”Itukah alasanmu yang sebenarnya? Atau kau punya alasan yang lainnya lagi ?!” bentak Calvin tiba-tiba.

Ann mengangkat wajahnya, menatap Calvin dengan perasaan bersalah campur kaget. Baru kali ini ia mendengar Calvin membentak dirinya.

“Jawab aku, Ann! Aku tidak bisa terima kalau memang cuma itu alasanmu! Sama sekali tidak masuk akal! Setelah bertunangan selama dua bulan kenapa baru sekarang kau membatalkan pernikahan kita, hah?!”

“Aku…” Ann berusaha mencari akal bagaimana sebaiknya ia harus menjelaskan semuanya pada Calvin, “itu karena selama 2 bulan ini aku tidak tahu apa-apa tentang rahasia itu, aku tidak tahu apa-apa tentang kejadian yang sebenarnya antara aku dan Dennis lima tahun yang lalu…”

”Apa kau bilang?” Calvin membanting peralatan makannya ke atas meja. Ia beranjak cepat dari meja makan itu dan menarik Ann. Wajahnya memerah karena menahan marah, “apa kau bilang tadi?! Dennis katamu?!”

Ann benar-benar kaget, ia melepaskan tangannya dari Calvin, “Aku harus jujur padamu. Antara aku dan Dennis memang terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan lima tahun yang lalu, tapi ternyata semua itu hanya kesalahpahaman yang sengaja ditutup-tutupi dariku. Aku baru tahu semuanya tadi malam, dan aku menyesal padamu…karena saat itu aku sadar aku masih menyimpan perasaan padanya.”

”Jangan kau lanjutkan lagi, Ann.” Calvin membuang muka, “hentikan semua ucapanmu itu, aku tidak mau dengar lagi.”

”Calvin, kau bebas memarahiku karena aku memang salah. Tapi bukankah lebih baik aku menceritakan semuanya padamu sebelum kita menikah dan semuanya menjadi tidak karuan?”

Tapi Calvin diam, wajahnya mengeras dan matanya menyorotkan kebencian yang mendalam.

“Calvin, aku mohon bicaralah padaku. Katakan sesuatu. Apa saja.” Ann menatapnya pilu. Aku telah menyakiti hatinya…tapi aku harus bagaimana lagi?
“Kenapa, Ann? Kenapa kau bersedia mengorbankan semua kebahagiaan yang bisa kuberikan padamu demi orang itu? Kenapa kau rela melepaskan semuanya hanya untuk menyelamatkan hubunganmu dengannya?!! Apa kau tidak bisa berpikir dengan akal sehatmu, apa yang bisa kaudapatkan dari pria itu, hah?! Dia tidak punya apa-apa untuk membuatmu bahagia, dia tidak memiliki semua yang aku miliki! Bersama dengannya hanya akan membuat hidupmu hancur berantakan!”

Ann memejam matanya, sedih.

“Pikir itu baik-baik, Ann! Apa kau mau mengorbankan segalanya demi dia?!”

”Tapi aku mencintainya, Calvin.” jawab Ann tak berdaya, “semua yang kau ucapkan itu benar. Aku tidak memiliki jaminan dia bisa membuatku bahagia seperti yang bisa kaulakukan padaku. Dia juga tidak memiliki semua yang kaumiliki. Tapi aku tidak mengkhawatirkan apa-apa karena aku mencintainya. Aku tidak bisa membuang perasaan ini jauh-jauh hanya karena aku takut melihat masa depanku dengannya. Aku punya harapan meskipun itu cuma sedikit, tapi aku tidak peduli.”

”Cinta katamu? Berpikirlah secara logika, Ann! Kau tidak bisa hidup hanya dengan modal cinta! Aku bisa memberimu cinta sebanyak yang kau mau, bahkan lebih!”

Cinta itu buta, ia akan menutup semua pikiranmu hingga kau tidak bisa berpikir panjang lagi tentang realita. Aku tidak mau munafik, aku tahu betul dengan Dennis aku tidak punya masa depan yang cerah dibandingkan aku bersamamu. Tapi bagaimana mungkin aku hidup dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai? Bukankah itu hanya akan menyiksaku dan malah membuatku tidak bahagia? Tidak bahagia sama saja membunuh diri kita sendiri… sedikit demi sedikit…. hingga apa yang bisa kita lakukan selanjutnya hanyalah menyesali diri. Aku pernah sekali tidak percaya dengan apa kata hatiku, dan aku mengingkarinya hingga aku sangat menyesal sekarang. Sekarang aku tidak mau lagi berbuat hal yang sama, aku tidak mau lagi menyesal. Kali ini aku ingin mempercayai kata hatiku.

Melihat Ann tidak bisa menjawab, Calvin hanya menatapnya dengan dingin. Suaranya terdengar penuh ancaman, “Aku akan menunjukkan padamu seberapa besar cinta yang bisa kuberikan. Kau pasti akan menikah denganku. Percayalah.”

Ia mengeluarkan handphone-nya dari saku, menekan nomor seseorang dan berbicara sangat singkat, “Kau masih ingat orang yang kemarin kutunjukkan padamu? Kumpulkan orang-orangmu dan terserah mau kau apakan dia.”

Ann tercengang tak mengerti, “A..apa maksudmu?”

Calvin mematikan HP-nya, diam.

“Kau…kau menyuruh orang-orangmu menghabisi Dennis?!”

”Aku tidak pernah rela kalau ada orang yang sampai berani merebut sesuatu yang berharga dariku.”

”Jadi benar kata Dennis, perkelahian kemarin kau yang mengatur semuanya!! Kau sengaja menyuruhku datang supaya aku melihat semuanya! Kau…kenapa kau bisa berbuat seperti itu! Kau kejam sekali!”

”Semua orang bisa berubah, Ann. Semua orang bisa berubah kalau ia takut kehilangan sesuatu. Itu naluri dasar seorang manusia.”

———————————–

Dennis berjalan kaki menuju tempat kerjanya sendirian. Ia sama sekali tidak menduga sudah ada segerombolan preman yang menguntitnya sejak tadi. Saat Dennis berbelok ke jalanan yang sepi, mereka tiba-tiba menyerbu ke arahnya dan menghajarnya ramai-ramai.

Dennis kaget bukan main. Semua itu hanya terjadi beberapa menit setelah mereka mendapat perintah dari Calvin.

Dennis berusaha melawan tapi jumlah mereka terlalu banyak. Meskipun ia berhasil memberi perlawanan yang sengit pada mereka, tapi tetap saja mereka berhasil menjatuhkannya.

————————————————————–

“Aku tidak bisa memastikan apa yang diperbuat orang-orang itu pada Dennis. Tapi kau tahu kan, orang-orang seperti itu sangat haus uang, mereka akan berbuat semau mereka kalau aku sudah mengiming-imingkan uang. Kalau Dennis sampai mati, kau tidak perlu lagi repot-repot memberikan cintamu pada orang lain.”

Ann bergidik ngeri mendengar kata-kata penuh ancaman itu. Dipandanginya Calvin dengan ketakutan, tunangannya itu sudah berubah menjadi sosok yang mengerikan tanpa ia sadari! Ada sesuatu yang mengerikan di balik sifatnya yang begitu tenang dan kalem.
“Kau tega, Ann? Kalau kau tidak mau mengucapkan sepatah kata yang enak kudengar, aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau sampai mereka ingin menghabisi nyawa orang yang kaukasihi itu.”

”Kau menjijikkan sekali!!“jerit Ann tidak tahan lagi, “kenapa kau tega berbuat seperti ini padaku!!!”

”AKU LAKUKAN INI SEMUA KARENA AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU!! SEKARANG KAU SUDAH TAHU SEBERAPA BESAR CINTAKU UNTUKMU, ANN?! KAU SUDAH TAHU SEKARANG ?!!”

Ann menutup kupingnya kuat-kuat, ia ingin menjerit sekencang-kencangnya seakan-akan ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Berbagai kilatan bayangan yang mengerikan berkelebat di depan matanya, menghantuinya dengan bayangan Dennis yang sedang sekarat dihabisi orang-orang suruhan Calvin. Seolah-olah Ann bisa mendengar jeritan kesakitannya, melihat darah yang merembes dari sekujur tubuhnya, merasakan nafasnya yang terputus-putus dan tubuhnya yang menjadi sasaran empuk kebengisan mereka. Ann tidak tahan lagi. Jiwanya ikut meradang membayangkan semua itu.

“Katakan kau akan menikah denganku, Ann! Atau aku akan berbuat lebih kejam lagi padanya! Aku tidak takut dengan apapun di dunia ini.Kau tahu sendiri kan, aku bisa berbuat apa pun semudah aku membalikkan telapak tangan. Kalau sampai ia matipun aku tidak takut, aku hanya takut kehilanganmu!”desak Calvin sambil mencengkram tangan Ann dengan kasar,ia hampir membuatnya kesakitan, “KATAKAN PADAKU KAU AKAN MENIKAH DENGANKU!!”

”Aku tidak mau!!!”

Tatapan Calvin berubah dingin, “Baik, kalau memang itu maumu….dengan begini kau sendirilah yang mencelakakan Dennis. Kau yang bersalah kalau sampai ada sesuatu yang buruk menimpanya. Semua ini kau yang tanggung sendiri, Ann. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

”Tidak ! Jangan kaulakukan itu! Suruh mereka berhenti! Cepat!”

Calvin tidak mengubris permohonannya. Ia melangkah pergi dengan angkuh.

“Calvin!!! Suruh mereka berhenti!!”

Calvin tetap tidak mempedulikannya. Bahkan seandainya Ann sampai bersujud-sujud memelas padanya, ia tetap tidak akan peduli. Langkahnya semakin mantap meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Ann yang terus menjerit ketakutan memanggil-manggil namanya.

Hingga akhirnya Ann tidak kuasa lagi menahan semua rasa takutnya, ia berseru tegas, “Baik! Aku akan menikah denganmu!”

Langkah Calvin berhenti. Ia memunggungi Ann tanpa reaksi.

“Kau dengar itu?! Aku akan menikah denganmu!! Cepat suruh mereka berhenti, Calvin, aku mohon!!!”

Akhirnya Calvin menoleh, tapi wajahnya kembali kelihatan tanpa ekspresi, “Apa kata-katamu itu bisa dipercaya? Aku butuh kepastian darimu, Ann.”

“Kau tidak perlu kepastian apa-apa..” Ann menatapnya tanpa daya, “selama kau tidak melukai Dennis, aku pasti akan menikah denganmu…”

Calvin tersenyum singkat, ia mengeluarkan HP dari saku celananya lagi, lalu memberi perintah baru, “Kalian boleh berhenti, biarkan dia hidup untuk menikmati bagaimana menyakitkannya kehilangan orang yang ia cintai. Lepaskan dia.”

Setelah mendengar itu, kontan Ann menghela nafas lega. Rasanya ia mau mati saja saat Calvin memberinya ancaman mengerikan seperti itu. Ia tidak habis pikir bagaimana seorang Calvin yang begitu tenang bisa berubah menjadi kejam dalam sekejap hanya karena takut kehilangan orang yang ia cintai? Tapi Ann tidak sempat memikirkan jawabannya lagi, ia hanya bisa memikirkan keadaan Dennis sekarang.

Dan dalam sekejap ia lunglai dihantui rasa takut yang luar biasa.

Terlebih-lebih lagi saat Calvin mematikan HPnya dan beralih menatapnya, “Aku harap kau mengerti, Ann. Aku lakukan semua ini karena aku tidak rela melihat kau menjadi milik orang lain. Berjanjilah padaku, kau akan menikah denganku. Jangan ingkari kata-katamu tadi, Ann, kau tahu sendiri aku bisa berbuat yang lebih jauh lagi.”

Ann membeku ketakutan di sana. Tidak sanggup membalas setiap ucapannya.

Kini ia takluk sepenuhnya.

—————————————————————————————————

Dennis tergeletak di sana, bersimbah darah.

“Kau dengar kami baik-baik, bocah tengik! Jangan sekali-kali kau dekati gadis yang bernama Ann itu lagi. Inilah akibatnya!! Kalau kau sudah bosan hidup, kami tidak akan segan-segan menghabisimu!”

Mereka menendang Dennis untuk terakhir kalinya, lalu segera angkat kaki meninggalkan tempat itu.

————————————————————————————————————

Pernikahan yang dimajukan menjadi dua minggu lebih awal ternyata dianggap Calvin sebagai suatu penantian yang panjang, maka dengan berbagai alasan yang dibuat-buat ia memajukannya menjadi 3 hari lagi. Tentu saja dari pihak keluarga Ann sangat terkejut. Mereka bergegas berangkat dari London ke Jakarta untuk membantu persiapan pernikahan.

Di bandara udara internasional Soekarno Hatta……

Ann bersama Calvin berdiri di depan terminal kedatangan untuk penerbangan luar negri. Mereka tersenyum lebar saat melihat kedatangan keluarga Ann seutuhnya. Ada kedua orang tua Ann, lalu Caroline kakaknya Ann dan suami Caroline, Theodore.

Ann berlari kecil menyambut mereka satu persatu.

Mama memeluknya erat-erat, “Kamu kelihatan lebih kurus, Ann.”

Caroline menghampirinya. Ann tersenyum pada Caroline, kakak semata wayangnya yang sangat cantik dan anggun itu. Kemudian Theo, suami Caroline, ikut menepuk-nepuk pundak Ann sambil tertawa kecil, “Senang bertemu denganmu lagi, Ann.”

Lalu tiba giliran Papa. Pria yang penampilannya seolah-olah tidak termakan usia itu terlihat agak sungkan melihat putri bungsunya sendiri. Percakapan mereka di telepon tempo hari masih membekas di hatinya dan membuatnya tidak punya keberanian untuk menerima pelukan Ann. Tapi Ann memeluknya lembut, “Pa, aku kangen sekali.”

Papa menghela nafas lega saat dilihatnya Ann tersenyum penuh maaf padanya.

Mama memandangi Calvin bingung, “Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba pernikahan kalian dimajukan jadi 3 hari lagi? Kita semua jadi bingung, cepat-cepat terbang dari London.”

”Maaf jadi membingungkan kalian semua,” jawab Calvin penuh karisma, “aku cuma tidak mau menunda lebih lama lagi, takutnya nanti akan mengganggu kuliah kami berdua yang sudah mau mulai sebentar lagi. Liburan kami kan sudah mau habis di sini, jadi lebih baik segera menikah sebelum kami kembali ke London.”

”Apa sudah ada persiapannya? Ini semua kan mendadak sekali. Kenapa tidak menikah di London saja?”

”Tidak, Tante, kata Ibu lebih baik diadakan di sini saja. Bukankah masih banyak kerabat yang tinggal di sini? Nanti kan kasihan kalau mereka harus jauh-jauh terbang ke Inggris untuk menghadiri pernikahan kami,” Calvin berbalik menatap Papa, “lagipula Ibu sudah menetapkan tempat pemberkatannya. Katanya di gereja tempat mereka menikah dulu.”

”Ya…kalau begitu baik juga…” Papa mengangguk-angguk kecil, masih agak bingung, “meskipun mendadak begini tapi kami sekeluarga akan membantu Ibumu mempersiapkan semuanya. Kasihan kan, Ibumu kerja sendiri? Yang menikah kan anak kami juga.”

Mereka semua tertawa. Ann juga ikut tertawa meskipun ia merasa tawanya itu sangat palsu dan dibuat-buat. Terserah, mau menikah kapan pun juga tidak ada bedanya, toh dia tetap akan jatuh ke dalam tangan Calvin. Tapi ia tetap harus menikah dengannya, ia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Dennis.
***

Dua hari belakangan ini berjalan bagai neraka bagi Ann. Semua persiapan pernikahannya sama sekali tidak membuatnya bergairah. Ia juga tidak banyak turun tangan mengurusi semuanya. Ibu Calvin yang paling repot mempersiapkan pernikahan mereka. Mulai dari pemesanan tempat dan pendeta, menyewa seorang perancang ternama untuk merancang gaun pengantin Ann, menyebarkan kartu undangan, mengatur penataan resepsi, sampai pada makanan dan hal-hal kecil lainnya.

Ann hanya duduk menunggu. Semakin dekat dengan hari pernikahannya ia merasa perasaannya semakin kacau balau. Malam ini di rumahnya diadakan makan malam keluarga, Calvin tidak ikut serta karena akan menghadiri pesta bujangan yang diadakan teman-temannya.

Sepanjang makan malam di suasana keluarga yang penuh kehangatan itu, Ann justru merasa hampa. Ia merasa hatinya sudah beku dengan semua puji syukur yang dialamatkan untuknya.

“Selamat ya, Ann. Aku doain moga-moga pernikahanmu dengan Calvin akan awet sampai tua.”

“Mama juga mau ucapin selamat buat kamu. Rasanya baru kemarin Mama melahirkanmu, menemanimu setiap malam saat kamu menangis, melihatmu merangkak dan berjalan untuk pertama kalinya, mendampingimu mengarungi masa kecil dan masa remaja yang indah….lalu sekarang putri kecil Mama ini sudah dewasa dan siap menikah. Rasanya Mama masih belum rela menyerahkanmu pada orang lain. Rumah kita akan sepi ya, Pa. Caroline dan Svannie sama-sama sudah dewasa dan siap meninggalkan kita.”

”Jangan begitu, Ma. Nanti kan bakal ada cucu-cucu yang bakal nemenin kita. Tapi Ann, Papa senang sekali melihatmu akan segera menikah. Kamu bukan putri kecil Papa lagi, besok kamu sudah akan menjadi istri orang lain. Papa cuma berharap Calvin bisa membahagiakan putri Papa ini dan kalian bisa membina keluarga yang harmonis sampai akhir hayat.”

Ann tersenyum menatap mereka bergantian. Ia tahu doa mereka sangat tulus untuknya, tapi hatinya kosong sekali.

Besok bukan hari yang ditunggu-tunggunya. Besok adalah mimpi buruk yang tanpa akhir, sekali ia diseret ke dalamnya maka ia tidak akan bisa berpaling lagi. Besok adalah neraka baru untuknya.
***

Dennis baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ia berjalan lunglai membelok ke gang sempit menuju rumahnya. Kondisinya tidak terlalu baik saat itu, dengan luka-luka di sekujur tubuh dan wajah yang hampir babak belur. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk kerja. Ia tahu betul siapa penyebab semua itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pada teman-teman di tempat kerjanya ia memakai alasan dihajar perampok.

Langkah Dennis tiba-tiba terhenti. Jantungnya serasa mau copot ketika ia melihat seorang yang sangat dikenalnya tengah berdiri di depan rumahnya, menantinya.

Dengan tertatih-tatih Dennis menghampirinya, suaranya tercekat, “Ann.”

Ann menoleh. Hatinya teriris-iris pilu saat melihat keadaan Dennis yang menggenaskan. Ia cepat menunduk, berusaha menahan diri untuk tidak berbuat apa-apa pada pemuda itu.

“Kenapa kau bisa datang ke sini?” Dennis membuka pintu rumahnya, “kau sudah menunggu dari tadi? Ayo, masuk.”

”Tidak perlu, lagipula kedatanganku hanya sebentar saja. Ada yang ingin kusampaikan.”

”Bicaralah di dalam,” Dennis membuka pintu lebar-lebar untuk Ann, “kau tidak keberatan kan?”

Mau tak mau Ann terpaksa memasuki rumah sempit itu. Ia berdiri menyapu pandangannya ke seisi rumah. Kemudian mendesah panjang, kenapa aku malah masuk? Aku tidak boleh berlama-lama di sini…

“Maaf berantakan, maklum aku tidak sempat bersih-bersih karena sibuk kerja,” Dennis tertawa pelan. Ia tahu Ann saat ini tengah mengawasi dirinya yang sibuk mondar-mandir memberesi semua barang yang berserakan di lantai. Dennis segera mengambilkan kursi untuk Ann, “duduklah.”

Ann menggeleng kecil, “Tidak, aku hanya sebentar di sini.”

Saat itu Dennis baru sadar apa pun yang ingin dibicarakan Ann padanya, pastilah sesuatu yang serius. Wajah gadis itu begitu murung, pandangannya kemana-mana dan seolah-olah tak berani menatapnya.

“Baiklah, apa yang ingin kaubicarakan?”

Ann diam sejenak.
“Besok aku akan menikah.”

Ann menyebutkan nama gereja tempatnya menikah besok. Dennis hanya membisu. Kemudian perlahan-lahan ia membentuk seuntai senyum yang sangat kaku di bibirnya, “Kau tidak perlu repot-repot datang ke sini untuk memberitahuku. Kau kan bisa kirim kartu undangan saja..”

Ann menatapnya pilu, tidak tahu harus bicara apa lagi. Banyak yang ingin dikatakannya pada Dennis, tapi semuanya sirna begitu ia harus berdiri berhadapan dengannya. Bahkan menatapnya saja sudah cukup membuat Ann lumpuh tak berdaya. Lima tahun yang lalu keadaanlah yang telah menciptakan jurang di antara mereka, kini setelah mata Ann terbuka pun ia tetap tidak sanggup menyeberangi jurang itu.

“Aku ucapkan selamat untukmu.” gumam Dennis tak jelas.

“Ya,” Ann mencoba tersenyum di hadapan Dennis, menampakkan dirinya seolah-olah sangat bahagia. Ann merasa Dennis tidak perlu tahu apa-apa tentang penyebab dirinya menikah dengan Calvin. Biar saja Dennis menganggapnya menikah karena mencintai Calvin, dengan begitu maka semuanya bisa berakhir.

Tapi mengapa hati ini ingin menjerit?

“Apa kau mencintai Calvin?”

Pertanyaan itu membuat Ann terhenyak, ia menengadah menatap Dennis. Dagunya bergetar saat ia menjawab, “Kenapa kau mempertanyakan itu? Aku menikah dengannya tentu saja karena aku mencintainya.”

”Tapi dia…”

Ann menatap semua perban dan plester luka yang menempel di wajah dan tubuhnya. Ia menunduk sedih melihat akibat dari perbuatan orang-orang Calvin.

“Tapi dia…” lanjut Dennis, “dia tidak sebaik dugaanmu.”

”Ada satu hal lagi.”

Dennis mengamati gerak-gerik Ann saat gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Sebuah gelang, hadiah ulang tahun Dennis untuk Ann waktu itu.

“Aku tak bisa menerima gelang pemberianmu ini. Aku sudah putuskan untuk tidak menyimpan apa pun lagi darimu, karena semua itu hanya akan membuatku teringat padamu. Aku minta maaf, kumohon ambillah kembali benda ini.”

Dennis mengambil gelang itu dengan hati hancur.

“Kelak aku harap kita tidak perlu bertemu lagi. Semuanya sudah berakhir.” Ann beranjak meninggalkannya.
***

“Ann, tunggu.” Dennis meraih tangannya, “kalau memang semuanya sudah berakhir, lalu kenapa kau masih mau menemuiku di sini? Apa benar kau sudah melupakanku? Aku mohon pertimbangkan kembali pernikahanmu itu.”

Dennis, tolong lepaskan tanganmu…kalau begini kau malah membuatku lemah… Ann susah payah melepaskan pegangan Dennis tapi Dennis tak mau melepaskannya. Meskipun genggaman itu lembut, tapi bagi Ann sangat mematikan. Dennis bisa membunuh keteguhan hatinya kapan saja ia mau.

“Aku benar-benar tidak mau melihatmu menghabiskan sepanjang hidupmu dengan orang seperti itu! Aku tidak rela selalu menjadi korban kesalahpahamanmu. Mengapa sampai detik ini kau masih juga tidak mau mempercayaiku?!”

Aku percaya padamu…aku percaya..

“Tolong lepaskan aku, Dennis.” jawab Ann lirih.

Tapi Dennis justru malah mencengkram pundak Ann dan memaksa gadis itu berbalik menatapnya, “Kau benar sudah melupakan aku? Tidak bisakah kau percaya padaku?”

Jarak mereka sangat dekat saat itu, meski Ann menunduk tapi Dennis bisa melihat dengan jelas air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Hatinya bergetar hebat. Lalu entah kekuatan apa yang mendorongnya untuk memeluk Ann, melindungi gadis itu dari semua kerisauannya. Saat ia memeluknya erat-erat, ia tidak merasa takut Ann akan marah besar, ia justru merasa rapuh. Semua kerinduannya tertumpah di sana.

Rasanya sudah lama sekali ia tidak memeluk Ann. Sudah berapa lama? Lima tahun kah? Atau lebih? Tidak, Dennis sadar ternyata selama ini ia tidak pernah sekalipun memeluk Ann. Ia selalu menahan diri untuk tidak mencintai gadis itu, bahkan sekedar memeluknya pun ia sungguh tidak punya keberanian.

Tapi kini Ann berada dalam pelukannya.

Kenyataan bahwa Ann akan segera meninggalkannya membuatnya semakin tidak sanggup untuk melepaskan gadis itu. Ia ingin selalu bersamanya, selalu memilikinya. Bukankah selama lima tahun ini perasaan seperti itu selalu ada di hatinya? Begitu menggebu-gebu hingga ia tidak sanggup menahan diri lagi?

Beberapa saat kemudian Ann melepaskan pelukan Dennis dengan terpaksa. Ia menatap pemuda di hadapannya itu dengan seluruh cintanya, “Aku telah berbuat banyak kesalahan padamu. Jika aku meminta kau berjanji satu hal padaku, akankah kau mengabulkannya?”

Dennis terpaku.

“Berjanjilah padaku, apa pun yang terjadi nanti kau harus melupakan aku. Kau harus melepaskan aku.”

“Aku tidak bisa,” bisik Dennis pedih.

“Kau harus bisa. Kalau aku berjanji untuk selalu percaya padamu, maka kau harus berjanji untuk melupakanku. Apa pun yang terjadi nanti. Berjanjilah, Dennis, berjanjilah kau akan melupakanku.”

Dennis tidak sanggup memenuhi permintaannya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Ann, sedangkan dalam setiap nafasnya saja ia selalu mengingat nama gadis itu?

“Mencintaimu adalah sesuatu yang berharga, yang akan selalu kujaga sepanjang hidupku. Tapi aku tidak bisa terus hidup seperti ini. Besok aku akan menikah dengan Calvin, karena itu aku harus membuang jauh-jauh semua kenangan di antara kita. Izinkan aku bahagia, Dennis. Bukankah itu yang selama ini kau inginkan?”

”Aku ingin kau bahagia, tapi bersamaku. Kenapa kita harus bertemu lagi kalau akhirnya kita tetap tidak bisa bersatu?”

”Mungkin kita memang tidak ditakdirkan begitu.” Ann menatapnya pilu.

“Kau ingin aku berjanji untuk melupakanmu, melepaskanmu. Tapi bagaimana caranya aku menghilangkan perasaanku? Aku selalu mencintaimu, Ann.”

Ann menyentuh wajah Dennis dengan tangannya yang gemetar. Air mata menetes dari pelupuk matanya. Ia menangis saat menatap kedua mata kekasihnya itu. Sampai kapanpun Dennis akan selalu menjadi kekasih hatinya, Ann sadar hal itu.

Maka ia pun mencondongkan wajahnya mendekati Dennis, lalu menciumnya.

Ciuman pertama mereka.

Tanpa hasrat yang menggebu-gebu. Lembut. Indah. Penuh cinta.

Dennis luluh, direngkuhnya Ann dengan segenap jiwanya. Ia siap mengorbankan segala sesuatu yang ia miliki di dunia ini demi satu momentum seindah ini. Momentum di saat Ann merasuki jiwanya.

Seolah-olah waktu lima tahun yang selama ini terbuang sia-sia sanggup ditebusnya.

Kalau saja semua ini bisa untuk selama-lamanya. Kalau saja Ann memang bisa menjadi miliknya. Tapi nyatanya tidak…

Ann melepaskan dirinya dari Dennis, matanya merah dan suaranya menyerupai bisikan penuh penderitaan, “Berjanjilah padaku….kau harus melupakan aku.. “

Belum sempat Dennis berhasil mengumpulkan semua kesadarannya kembali, Ann sudah sepenuhnya melepaskan diri dari pelukannya. Gadis itu lalu berlari, pergi meninggalkannya di sana. Dennis ingin mengejarnya, berteriak memanggil namanya untuk memaksanya kembali… tapi lututnya terasa lemas, suaranya seolah-olah hilang. Yang bisa ia lakukan hanya diam, membiarkan dirinya hancur berkeping-keping. Ia membeku di sana.

Tanpa terasa air mata pun menetes tak tertahankan.
***

Pagi-pagi sekali Dennis berdiri di tepi danau itu seorang diri. Wajahnya kusut tidak karuan, semalam ia tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Bayangan Ann terus melintas dalam benaknya. Hatinya sungguh hancur. Berkali-kali ia teringat pada permintaan Ann agar ia melupakannya, tapi yang tersimpan dalam benaknya justru betapa dalam cintanya untuk Ann. Beberapa kali ia menegaskan diri untuk melupakan semua itu, tapi ia gagal.

Ia masih ingat betul harum lembut Ann saat ia memeluknya. Manis bibirnya saat ia menciumnya semalam. Air matanya saat ia menangis dan pergi meninggalkannya. Semuanya begitu lekat dalam pikirannya.

Dennis tahu, saat ini Ann sudah berada dalam gereja. Siap menikah dan menyerahkan seluruh hidupnya pada pria lain. Dennis meremas dadanya, sakit membayangkan semua itu. Haruskah semuanya berakhir begitu saja?

“Pagi-pagi sudah datang ke sini. Muka dan pakaian sama kusutnya. Sekali lihat saja aku sudah tahu, kau pasti korban patah hati.”

Dennis menoleh, melihat seorang pria muda berpakaian rapi tengah berjalan ke situ sambil menenteng biolanya. Ia membuka kursi lipat yang diletakkannya di tengah-tengah hamparan rumput, lalu duduk di sana siap memainkan alat musiknya. Dennis sering mendengar tentang si pemuda ini. Ia sering datang ke taman ini pagi-pagi, lalu bermain biola dengan segenap hatinya. Irama yang dihasilkan dari gesekan biolanya sangat indah, selalu penuh penghayatan. Tapi tidak ada yang tahu siapa nama pemuda itu, orang-orang hanya memanggilnya si Musisi Jalanan.

Dennis memalingkan wajahnya tak peduli. Tak lama kemudian si Musisi Jalanan itu kembali berceloteh, “Kalau mau menangisi nasib burukmu, tempat ini memang tempat yang paling tepat. Aku menjulukinya Taman Sejuta Tangisan, tapi tempat ini juga tempat berseminya cinta maka aku pun menjulukinya Taman Sejuta Harapan. Karena manusia itu selalu menangis dulu baru berharap kemudian. Ada yang bilang pribahasa ciptaanku itu seharusnya terbalik, tapi aku tipe orang yang selalu optimis.”

”Tapi apa yang bisa kuharapkan? Apa pun yang kulakukan semuanya sudah tidak bisa mengubah keadaan.”

“Pasti seorang gadis sudah mencampakkanmu kan?” dia terkekeh-kekeh, “lebih baik sama biola, selalu setia.”

Dennis tersenyum pahit.

“Memangnya apa yang membuatmu bisa berpikiran seperti itu? Tidak ada yang bisa diharapkan, apapun yang kaulakukan tidak bisa mengubah keadaan? Kadang kita tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi kalau kita berhenti berharap, berhenti percaya.”

”Apa maksudmu?”

”Maksudku, jangan pernah berhenti berharap pada cinta kalau memang kau ingin meraihnya kembali. Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang namanya terlambat.” Ia tersenyum, kemudian perlahan-lahan mulai memainkan biolanya.

Dennis termenung. Lama ia terdiam di sana. Meresapi setiap kata-kata yang meluncur dari bibir orang tidak dikenal itu.

Tiba-tiba saja ia tersentak kaget dari lamunannya. jangan pernah berhenti berharap pada cinta kalau memang kau ingin meraihnya kembali

Dan tanpa banyak bicara lagi Dennis langsung mengambil langkah seribu meninggalkan taman itu, berlari sekencang-kencangnya.

————————————————————————————

Alunan denting piano yang merdu dan suara lembut Priska yang melantunkan lagu Angel membius semua undangan yang duduk berjejeran di dalam gereja.

You’re in the arms of the angel…..

Dulu sewaktu masih duduk di bangku sekolah, Priska dan Ann sama-sama menyukai lagu yang dinyanyikan Sarah McLachlan itu. Dan mereka membuat perjanjian satu sama lain, jika kelak salah satu dari mereka menikah maka yang lainnya akan membawakan lagu itu dengan iringan piano. Baik Priska maupun Ann memang sama-sama mahir memainkan piano.

Dan Priska memenuhi janjinya. Saat ini ia memainkan lagu itu, mengiringi langkah Ann yang mulai muncul di depan pintu gereja. Seluruh undangan yang memenuhi gereja itu menengok ke belakang, ke arah pintu. Mereka berseru tertahan, menahan nafas bersiap-siap menikmati moment berharga ini.

“Kamu sudah siap, Ann?” bisik Papa yang berada di sampingnya, “sebelum kita melangkah ke altar itu, ada satu hal yang ingin Papa tanya padamu. Apakah kamu mencintai Calvin sebesar cintamu pada pemuda itu?”

Ann menatapnya bingung, “Ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan itu, Pa.”

”Papa tidak bermaksud menyerangmu di saat-saat penting seperti ini. Tapi Papa bisa merasakan, sepertinya kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini. Apa…kamu melakukannya karena terpaksa?”

”Apapun alasannya, Pa…aku harus tetap menikah dengan Calvin.”

Akhirnya Papa mengangguk, tak bertanya-tanya lagi.

Perlahan-lahan Ann mulai memasuki pintu gereja, ia mengenakan gaun pengantin yang sangat indah hasil rancangan desainer pilihan Ibu Calvin. Penampilannya sungguh luar biasa cantik. Seluruh mata tertuju padanya, berdecak kagum sambil melemparkan senyum padanya. Ann mengapit sebelah tangannya di lengan Papa, bersama-sama mereka melangkah menuju altar.

Calvin sudah berdiri di sana dengan jas putihnya, ia berdiri terpana mengagumi pengantinnya. Hatinya berbisik memuji betapa beruntung dirinya.

————————————————————————————

Dennis terus berlari dan berlari…..mengikuti kata hatinya. Ia tidak merasakan sakit di sekujur tubuh dan kakinya. Ia tidak peduli sedikitpun. Ia hanya terus berlari. Tak mau menyerah hingga ia sampai di gereja itu, menjemput kekasihnya.

Sedikit pun ia tidak boleh terlambat!

————————————————————————————

Ann berjalan perlahan-lahan, membalas semua senyuman tamu undangannya. Ia melihat mereka satu per satu. Semuanya hadir di sana. Teman-teman sekolahnya termasuk Josh, Ria, dan Priska yang sedang memainkan lagu mereka. Teman sepermainannya sejak kecil, salah satunya Emma yang sedari tadi terus menahan air mata haru. Lalu kerabat jauhnya, dan seluruh keluarganya. Mamanya, Caroline dan Theodore, mereka tak henti-hentinya tersenyum menyaksikannya berjalan menuju altar.

Ann tersenyum pada mereka semua.

Tapi tak ada seorang pun yang tahu betapa sakitnya hati Ann saat itu, betapa berat langkah kakinya untuk menghampiri Calvin. Mereka tidak tahu Ann tengah melangkah menuju mimpi buruknya.

————————————————————————————

”Hei, berhenti!!!” teriak seorang security saat Dennis menerobos memasuki halaman gereja. Petugas keamanan berbadan kekar itu mencegat langkah Dennis, Dennis berusaha melawan namun sulit sekali.

“Aku harus masuk ke sana! Jangan halangi aku!”

————————————————————————————

Ann sampai di sebelah Calvin. Papa melepaskannya dan menyerahkannya pada Calvin. Calvin tersenyum singkat lalu mengandeng tangan Ann di depan pendeta.

Pendeta itu memulai upacara dengan membaca bait dari salah satu ayat dalam Alkitab. Sekilas Ann menoleh menatap Calvin di sampingnya, ia yakin ia sudah berbuat yang benar.

Lalu tiba-tiba terdengar suara dobrakan pintu yang menggelegar memekakkan telinga. Suaranya begitu kencang hingga memenuhi setiap sudut gereja itu. Semua tamu menengok ke belakang, terperangah melihat kedatangan Dennis.

Tapi yang mau pingsan adalah Ann. Ia menahan nafas tak percaya melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu masuk. Dennis! Nafasnya tersengal-sengal, sekujur tubuhnya basah oleh keringat.

“Ann, “ teriak Dennis lantang, “jangan lanjutkan pernikahan ini!!”

Seluruh tamu undangan berseru kaget. Beberapa bangkit berdiri saat melihat Dennis semakin nekad memasuki gereja itu.

“Apa-apaan ini!!” Calvin turun dari altar menyambut Dennis dengan wajah penuh dendam. Beberapa security berlari sangar menghadang Calvin, mencoba menarik dan mengusirnya keluar.

“Jangan sampai kau menikah dengannya, Ann!! Kalau kau memang masih mencintaiku, jangan menikah dengannya!”

“CEPAT BAWA DIA PERGI DARI SINI! AKU TIDAK MAU MELIHATNYA BERKELIARAN DI SINI!” teriak Calvin hingga bergema.

“TIDAK !! ANN, KAU HARUS MENDENGARKAN AKU! INI SEMUA BELUM TERLAMBAT, JANGAN MENIKAH DENGANNYA!”

”CEPAT USIR DIA!!”

“KAU TIDAK BISA MENGUSIRKU! AKU HARUS BICARA PADANYA!”

”AKU TIDAK PEDULI! ANN AKAN SEGERA MENIKAH DENGANKU, AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAU MENGACAUKAN SEMUANYA BEGITU SAJA! CEPAT BAWA DIA PERGI!!!”

“AKU TIDAK AKAN PERGI!”

“KAU HARUS PERGI!!! TIDAK ADA YANG PERLU KAU BICARAKAN LAGI DENGAN ANN!”

“Tunggu. Biarkan dia bicara.”

Semua orang terpaku diam. Mereka menoleh ke altar, tercengang saat menyadari suara itu berasal dari Papa Ann. Ann tak kalah kagetnya, ditatapnya Papa lekat-lekat.

“Biarkan dia bicara.” Papa maju mendekati Calvin dan Dennis, lalu mengangguk pada security yang menahan tubuh Dennis, “lepaskan dia.”

Mereka menuruti perintah Papa dan langsung mundur.

Papa menatap Dennis dengan penuh wibawa, “Lima tahun yang lalu aku tidak pernah memberimu kesempatan untuk bicara. Sekarang…bicaralah. Katakan semua yang mau kaukatakan di depan Ann, di depan kami semua.”

Calvin berang, “Om!! Kenapa Om biarkan dia bicara?! Ini hari pernikahanku!!”

Tapi Dennis tidak memperdulikannya, ia lalu berjalan gontai mendekati altar tempat Ann berdiri. Lidahnya terasa keluh saat bertatapan dengan Ann, “Ann…” Dennis mengulurkan tangannya, “aku tahu denganku, kau tidak akan mendapat apa-apa. Tapi aku bisa selalu membuatmu bahagia. Akan kupertaruhkan semuanya demi itu. Aku tahu kau masih mencintaiku, jadi kumohon jangan teruskan pernikahan ini.”

Tapi Ann memalingkan wajahnya, “Maaf, Dennis, aku tidak bisa.”

Ia menangis dalam hati. Sadarlah, ini semua kulakukan demi kau! Cepatlah pergi dari tempat ini dan jangan berpaling lagi. Jangan membuatku menangis lagi…

“Kau dengar kata-katanya kan?!! Cepat kau angkat kakimu dari sini!!” Calvin tidak mau memberi kesempatan lebih banyak lagi untuk Dennis, buru-buru ia menarik Dennis keluar.

“Ann, dengarkan kata hatimu!! Kau masih mencintaiku bukan? Aku tahu itu!! Jangan sampai kau hancurkan semuanya dengan menikahi pria ini!! Malam itu kau memintaku untuk berjanji melupakanmu, aku tak bisa!! Sampai kapanpun aku akan selalu menunggumu! Aku akan selalu menyimpan semua kenangan kita!! Karena aku mencintaimu! Kau dengar itu, Ann?! Aku mencintaimu! Aku tahu kau pun juga begitu!!” teriak Dennis makin menjadi-jadi saat Calvin menyeretnya keluar, “kau bilang, buat apa kita bertemu lagi kalau akhirnya kita tetap tidak bisa bersatu?! Aku tidak percaya kita tidak bisa bersatu! Aku datang ke sini karena aku percaya kita bisa meraih apapun selama kita masih saling mencintai!!”

Ann menunduk, ia tak tahan lagi. Suara Dennis begitu menyayat-nyayat hatinya.

“Jangan takut pada apapun!! Percayalah padaku!!!!”

Tidak….aku tidak mau dengar!!! Ann jatuh berlutut, menutup kupingnya. Aku tidak mau dengar!!

“ANN!!”

Di luar gereja, Calvin menjatuhkan Dennis dengan kasar. Kemarahannya sudah memuncak pada pemuda itu, “Kau cari mati! Kau sudah tahu kan, apa akibatnya kalau kau sampai berani mengganggu hubunganku dengan Ann!! Kau akan kuhabisi!”

Dennis cepat bangkit berdiri, ia tidak takut, “Aku tidak akan membiarkan Ann menikah dengan orang sepertimu!! Kau tidak pantas mendampinginya!”

”Lalu siapa yang pantas? Kau?!” Calvin tertawa tergelak-gelak, “jangan membuat lelucon dan jangan bermimpi!! Sampai kapan pun juga kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Ann!! Kau dengar?! Sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkan Ann!”

Calvin melirik pada beberapa security bayarannya, orang-orang itulah yang kemarin mengeroyok Dennis.

“Aku tidak mau pernikahanku ini ternoda dengan sampah seperti dia,” ujar Calvin dingin, “habisi dia, terserah mau kalian apakan!! Pastikan saja dia tidak akan pernah muncul lagi di depan mataku!!”

Calvin langsung pergi meninggalkannya, kembali masuk ke dalam gereja seolah-olah tak ada yang terjadi. Ia tidak memperdulikan jerit-jeritan Dennis saat orang-orang itu menyeretnya pergi dan siap menghabisinya di tempat lain.

Tapi kemudian langkah Calvin terhenti. Apa yang terjadi?

Ann berlari meninggalkan altarnya. Semua tamu undangan berseru kaget, suasana dalam gereja berubah menjadi begitu gaduh. Para wanita menjerit, memekik.

“Apa yang kaulakukan?!!” Calvin mencegat Ann dengan kasar sekali, “kembali ke dalam sana, Ann!”

”Aku tidak mau!”

“AKU BILANG KEMBALI KE DALAM SANA!!!!” Calvin menariknya hingga tangan Ann terluka. Ann memekik kesakitan.

Dari tempatnya, Ann melihat orang-orang Calvin membawa Dennis keluar dari gereja itu dan mereka beramai-ramai menghajarnya. Tak ada yang mencegah mereka, tak ada yang menolong Dennis. Semuanya ketakutan melihat kejadian itu.

Ann pun ketakutan. Ia merasa nyawanya ikut melayang saat menyaksikan Dennis dibantai habis-habisan oleh mereka.

“Kau kejam sekali! Lepaskan dia!! Lepaskan dia!!”

Semua tamu undangan berbondong-bondong keluar dari dalam gereja, mereka menyaksikan pemandangan itu dengan tak percaya.

“Calvin, lepaskan anakku!” Papa datang menolong Ann, “kau sudah gila! Apa yang kaulakukan! Cepat lepaskan Ann atau aku akan berbuat sesuatu yang akan membuatmu menyesal!!”

Calvin kebingungan. Sialan!! Bangsat!! Bajingan!!! Ia mengumpat-ngumpat kasar saat semua orang menuding dan memaksanya melepaskan Ann. Kedua orang tuanya tampak begitu terpukul.

Josh berlari kencang ke tempat Dennis. Ia datang menolong Dennis meski ia tahu mungkin semuanya sudah sedikit terlambat.

Sedetik kemudian, yang Ann tahu hanyalah tiba-tiba ia terlepas dari Calvin. Ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi, langsung berlari menghampiri tempat Dennis dan mendapatkan pemuda itu roboh di depan matanya. Ann memekik ketakutan. Ia berlutut dan meraih tubuh Dennis yang lunglai. Dennis belum pulih sejak peristiwa pengeroyokan beberapa hari yang lalu, dan kini ia dihajar lagi. Keadaannya benar-benar menggenaskan.

“Dennis!! Dennis, sadarlah!!” Ann memeluknya erat-erat saat Dennis tidak sadarkan diri. Tubuhnya lemah sekali. Ann semakin histeris, “Dennis!!!”

Josh berdiri mematung di sana. Setelan jas-nya compang-camping tapi ia tak peduli. Jantungnya berdetak kencang saat mendengar teriakan Ann. Dengan mata kepalanya sendiri ia bisa melihat darah segar yang merembes dan membasahi seluruh gaun putih Ann. Itu darah Dennis.

Ia terguncang. Darah itu terus mengalir……

“Dennis!!!!”

Jeritan Ann menyayat hati semua yang mendengarnya. Tapi Dennis tidak menjawabnya. Ia terbaring kaku dalam pelukan Ann
***

2 minggu kemudian…

Di taman itu Ann berdiri sambil menenteng kopernya. Kemudian ia meletakkan koper itu ke bawah, dipandanginya pemandangan sore yang indah membentang di depan matanya. Ia tersenyum pedih.

Hari ini ia akan berangkat ke London. Mungkin ini sore terakhir yang bisa ia nikmati di taman ini. Taman tempatnya pertama kali jatuh cinta pada Dennis, tempatnya berpisah dengan Dennis dan berjanji melupakannya, lalu tempatnya bertemu kembali setelah lima tahun berpisah. Taman bersejarahnya. Ia merasa berat untuk meninggalkan tempat itu, sama seperti lima tahun yang lalu.

Tapi ia tetap harus pergi.

Tiba-tiba Ann teringat sesuatu. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah koin kecil.

Kalimat yang diucapkan Dennis lima tahun lalu, saat ia pertama kali membawanya kemari terngiang-ngiang kembali, ”Kau tahu? Dulu orang-orang bilang kalau kita melempar koin ke danau ini dan meminta permohonan apa saja, pasti akan terkabulkan.”

Ann tersenyum penuh arti. Ia mengenggam koin itu erat-erat, kemudian melemparkannya ke dalam danau.

Sunyi.

Lima tahun yang lalu aku tidak memasukkan Dennis dalam permohonanku. Kini aku hanya ingin satu hal, aku ingin selalu bersamanya.

Ann mengigit bibirnya, lalu menunduk lirih. Perlahan-lahan ia membungkuk dan mengambil kopernya, siap untuk mengangkat kakinya pergi.

Dan saat itu…..datang seorang anak kecil. Anak kecil yang cantik dan manis sekali, ia berlari-lari menghampiri Ann sambil membawa setangkai mawar. Mawar merah. Dan ia menyodorkan mawar itu pada Ann. Ann tertegun.

“Kakak, mawar ini untuk kakak.” Kata anak kecil itu,kemudian berlari pergi.

Belum habis Ann tertegun, datang lagi seorang wanita tua. Wanita yang sangat gemuk namun wajahnya begitu cerah. Ia datang menghampiri Ann, lagi-lagi menyodorkan setangkai mawar merah di depan wajahnya.

“Ini untukmu, Nak.”

Ann menerimanya dengan heran.

Datang lagi satu orang. Kali ini pria setengah baya yang rapi dengan pakaian kantornya. Dan di tangannya juga ada setangkai mawar.

“Untukmu.”

Begitu terus kejadiannya hingga ada 29 tangkai mawar di pelukan Ann, masing-masing dari orang yang berbeda. Orang-orang itu langsung pergi begitu saja tanpa menjelaskan lebih lanjut lagi. Tapi mereka semua pergi dengan seuntai senyum. Ann semakin kebingungan. Lalu entah dari mana Ann mendengar alunan musik biola. Ia menoleh.

Si Musisi Jalanan tengah duduk di atas kursi lipat, memainkan biolanya dengan alunan musik yang begitu indah dan penuh penghayatan. Membentuk sebuah simfoni yang begitu mengugah perasaan. Entah kenapa air mata menggenang di pelupuk mata Ann saat pemain biola itu tiba-tiba mendongak kepalanya dan melemparkan senyum padanya.

Lalu di tengah-tengah alunan musik itu, Ann mendengar suara yang begitu lembut. Suara yang sangat dirindukannya.

“Ini untukmu.”

Ann menoleh cepat.

Ia tak menyangka Dennis berdiri di sana, memberikan setangkai mawarnya yang terakhir. Senyum mengembang dari wajahnya yang masih penuh luka.

“Lima tahun yang lalu, aku menjelajahi seisi taman ini hanya untuk memberimu setangkai mawar yang sudah layu. Tapi saat itu aku berani yakin sepenuhnya kalau aku sungguh mencintaimu. Dan kini aku tidak memberimu mawar yang layu lagi. Cintaku tidak pernah berubah, tidak peduli meski bunga yang kuberikan layu atau hidup.”

Ann mengigit bibirnya, tercengang sekaligus terharu saat 29 orang yang tadi memberinya mawar tiba-tiba berkumpul di belakang sana, memandangi mereka dengan senyum tertahan.

Ann menerima mawar terakhirnya dari tangan Dennis. Mawar ke-30nya. Ia tersenyum, tak sanggup menyembunyikan kebahagiaan di dalam hatinya.

“Aku tidak punya apa-apa, mungkin tidak bisa setiap hari menghujanimu dengan semua kebahagiaan di dunia ini. Tapi aku berjanji padamu dan diriku sendiri, aku akan selalu mencintaimu dengan seluruh hatiku, mencintaimu setiap hari sepanjang hidupku. Dan kalau kau tidak keberatan, aku ingin mencoba untuk membahagiakanmu.”

Dennis mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah gelang. Gelang yang dikembalikan Ann waktu itu.

Kemudian tanpa berkata-kata lagi ia memakaikan gelang itu di pergelangan tangan kiri Ann. Ia mendekati Ann, menatapnya dalam-dalam seolah-olah tidak ada jarak di antara mereka, “Sebelum kau pergi ke London, aku hanya ingin memastikan aku tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang kita lakukan lima tahun yang lalu di taman ini. Kali ini aku tidak mau terlambat lagi. Jadi sebelum kau pergi, Ann, katakan padaku….apa kau mau menerima aku kembali?”

Ann mengatup bibirnya dengan tangan, wajahnya merona merah dan dalam sekejap tawanya meledak.

Dennis tersenyum, “Itu artinya ‘iya’?”

Kemudian ia menarik Ann ke dalam pelukannya. Semua orang yang sejak tadi menyaksikan mereka serempak bertepuk tangan, bahkan ada yang menangis terharu.

“Aku mencintaimu.” Bisik Ann untuk pertama kalinya.

Dennis melepaskan pelukannya dan membungkuk, perlahan-lahan menciumnya dengan lembut.

Semua pengunjung taman semakin bertepuk tangan. Dan tiba-tiba saja baik Ann maupun Dennis sama-sama tersipu malu. Dennis merangkul pundak Ann, melambai pada mereka, “Terima kasih ya, sudah membantuku memberinya bunga.”

Ann berbisik kecil setelah mereka mulai berbubaran, “Kenapa kau pakai ide konyol seperti ini? Dan kenapa kau bisa ada di sini! Kau pasti kabur dari rumah sakit ya!” Ann melotot cemas. Dennis seharusnya masih terbaring di rumah sakit sekarang, ia sengaja berangkat ke London tanpa memberitahunya karena ia tahu betul kondisi Dennis masih sangat lemah. Bahkan ia sadar saat ini Dennis tidak sanggup berdiri tegap. Hatinya terharu melihat pengorbanan pemuda itu.

”Begitu mendengar dari Emma kau hari ini akan berangkat ke London untuk melanjutkan kuliahmu, aku langsung cabut semua infus dari tanganku, langsung lari ke sini!”

“Kau gila!” Ann tertawa, “lalu pemain biola itu…kau juga yang menyiapkannya?”

Dennis tertegun sesaat, ia mengandeng tangan Ann menghampiri Musisi Jalanan yang masih larut dalam permainannya itu. Kemudian mereka berdua berdiri di depannya, diam untuk menghayati setiap alunan musik biolanya dan meresapi setiap detik kebersamaan mereka.

Begitu permainannya selesai, Dennis langsung menanyakan apa lagu yang dimainkannya itu mempunyai judul. Si Musisi Jalanan tersenyum pada mereka, “Ini lagu ciptaanku sendiri, lagu yang kudapat dari begitu banyak orang yang kuamati di taman ini. Judul? Aku tidak pernah memberi judul pada setiap lagu ciptaanku. Tapi karena aku paling suka mengamati kisah cinta semua pengunjung taman ini, mungkin lagu ini akan kuberi nama Dear Love, sama seperti keinginanku untuk menyapa setiap cinta yang bersemi di sekitarku. Termasuk kalian.”

Dennis tersenyum, kemudian menatap Ann di sampingnya. Ia mempererat gengaman tangannya.

Dear Love…

Apa kalian masih ingat? Dulu aku pernah bilang, aku ingin sekali keluar dari kehidupanku yang serba membosankan. Aku ingin sekali punya cerita cinta yang unik, yang indah dan berakhir bahagia. Tentu saja aku tidak berharap kisah cintaku bisa menjadi sedemikian rumit. Tapi aku lega karena pada akhirnya semua ini berakhir bahagia. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini, mungkin senang…mungkin deg-degan…tapi yang pasti cinta telah membuatku bahagia.

Kata orang cinta itu buta. Mungkin ada benarnya juga…entah bagaimana aku menjelaskan pada kalian semua. Aku hanya ingin kalian selalu percaya bahwa cinta itu selalu ada, jangan pernah ragu mencintai seseorang hanya karena kalian takut menghadapi semua resikonya. Bukankah cinta itu selalu kuat dan siap menopang kalian? Dan cinta bisa memberi sayap pada kalian semua, membawa kalian terbang tinggi. Tapi ada saatnya bagi kalian untuk jatuh….benar kata orang, semakin tinggi kita terbang, semakin keras dan sakit saat kita jatuh. Tapi jangan khawatir, sayap yang patah itu akan segera terbentuk kembali kalau kalian tidak pernah berhenti percaya.

Hm….apa lagi yang harus kuceritakan? Oh ya, Emma sekarang sudah diangkat jadi kepala manajer di perusahaan Pamannya. Ia kelihatannya sangat menikmati pekerjaannya. Meskipun banyak yang mengungkit-ungkit keberhasilannya dengan unsur koneksi, tapi Emma tidak peduli. Ia memang selalu begitu. Selalu menjadi dirinya sendiri tanpa mau peduli kata orang lain. Tapi sifatnya tidak pernah berubah, keras kepala dan suka sekali ganti-ganti pacar. Aku bahkan sudah lupa siapa nama pacar terbarunya. Percuma saja diingat, minggu depan juga sudah ganti.

Lalu Josh…cinta pertamaku dan sahabat baikku. Dua minggu setelah aku sampai di London, aku menerima kabar darinya kalau ia akan segera melamar Sherly. Aku turut senang, semoga saja Sherly menerima lamarannya. Aku sungguh berharap Josh bisa bahagia.

Ria dan Priska. Mereka seperti tidak pernah kehabisan cerita. Priska masih bergelut dengan dunia tarik suaranya, jangan kaget kalau suatu hari nanti kalian akan mendapatkan berita tentang sensasi penyanyi baru. Selamanya aku akan menjadi penggemar nomor satunya. Ria sudah bertunangan dengan seorang bankir muda, Revan kalau tidak salah. Akhirnya mimpinya terwujud juga, menikah dengan pangeran tampan yang kaya.

Aku dan Dennis baik-baik saja. Meski aku sekarang sangat merindukannya. Aku di London meneruskan kuliahku dan dia di sana. Dia selalu penuh kejutan, sebentar-bentar bilang jabatannya sudah mau dipromosikan…sebentar-bentar bilang mau pindah rumah…Tapi aku rindu sekali padanya….Apa kalian ada waktu untuk menyampaikan salamku padanya?

Katakan padanya….aku selalu mencintainya.

———————————————————————————————————–

Ann menutup latopnya. Tersenyum kecil, kemudian beranjak masuk ke kamarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: