PULANG !

(Sebuah tulisan milik seorang sahabat lama yang entah sekarang ada dimana)

1987, alm UK (umar kayam) menulis kolom : Sebuah
Perjalanan Pulang. Kolom itu diilhami film berjudul A
Trip to Bountiful. Ceritanya, seorang ibu sepuh yg
sebel banget dg kehidupan sehari-harinya, lalu dia
minggat, meninggalkan anak dan mantunya, kembali ke
Bountiful, desa tempat dia dibesarkan. Dia menjumpai
desa leluhurnya itu telah mati dan rumahnya sendiri
telah roboh. Tapi dia sangat bahagia, dia telah
“Pulang”, walau cuma sesaat, karena tak lama kemudian
anak dan mantunya berhasil menebak jalan pikirannya
(ibu tak punya tujuan minggat lagi selain ke pulang ke
Bountiful), lalu menjemputnya dan membawanya kembali.

Pulang. Sebuah kata pendek yg mengandung makna begitu
dalam. Ah, bukan, sekedar “makna mendalam” kurang
tepat untuk melukiskan dahsyatnya Pulang. UK bilang :
Pulang adalah konsep yang penuh magic. Dalam saduran
bebas berikut, bisa kita simak lebih jauh bagaimana UK
menggambarkan daya magis yang terkandung dalam kata :
Pulang.

Pulang berarti masuk kembali ke jagad lama yang sudah
sangat kita kenal : tempe bacem dan sayur lodeh
masakan Ibu, kopi kental dan batuk-batuk Bapak, kamar
mandi di belakang yang berbau pesing. Juga harapan
akan pelukan keteduhan dalam lindungan rumah : selimut
kain Ibu yang usang, dan sentuhan jari-jari keriput
Nenek. Pulang adalah bertemu kembali dengan dunia yang
dulu memeluk kita, tapi kemudian merenggang digerogoti
waktu : pasar sudah disulap jadi shopping centre,
jalan yang makin lebar dan rumah-rumah yang digusur.
Dan ketika keterasingan dan ketakutan mulai merayapi
akibat melihat jagad lama itu ternyata semakin kusam,
buru-buru kita berkemas untuk kembali ke ibukota, ke
neraka yang aneh tetapi terus saja menarik diri kita
bagai besi berani.

**

Bagi sebagian diantara kita, Pulang kadang kala
menimbulkan rasa perih di hati, dan memaksa
bulir-bulir air mata menetes walau sekuat apa pun kita
berusaha mencegahnya. Ya, itulah yang terjadi ketika
pada waktu pulang, kita mendapati Ayah terbaring sakit
dan kondisinya makin menurun. Atau ketika kita melihat
rumah yang ditinggali Ibu sudah semakin reyot,
sedangkan kita sendiri tak mampu berbuat apa-apa untuk
mencegahnya, karena rumah kita sendiri di ibukota
sebentar lagi habis masa kontraknya (dan itu berarti
sebuah akrobat cash flow harus dijalani untuk beberapa
waktu lamanya).

Pulang dan bertemu kawan main masa kecil, bisa
menimbulkan reaksi yang berbeda-beda, karena sadar
atau tidak setiap dari kita akan melakukan suatu studi
komparasi. Bertemu si A yang tetap saja menunggui
bengkel atau toko kecil warisan keluarganya, akan
membuat kita bersyukur karena kita telah mengambil
keputusan yang tepat untuk berani terima tantangan
kehidupan yang keras di ibukota, meninggalkan kampung
yg (damai dan ayem sih, tapi ..) stagnan. Sebaliknya,
bertemu si B yang sukses mengembangkan sawah ladangnya
menjadi sebuah perkebunan modern walau berskala
sedang-sedang saja, mungkin membawa sedikit rasa sesal
mengapa dulu kita tidak jeli melihat peluang di
kampung halaman sendiri.

Pulang buat seorang perempuan yang dikhianati suaminya
yang berselingkuh, adalah suatu hal yang berbeda lagi.
Ketika dia meninggalkan suaminya untuk pulang ke rumah
orang tuanya sendiri, dia mendapati bahwa memang cinta
kasih orang tua adalah tanpa syarat dan keikhlasan
yang tak bertepi. Dia pulang bukan karena kalah
bersaing dengan perempuan lain dalam memperebutkan
cinta laki-laki itu. Dia ingin bertemu dengan ayah
ibunya yang mencintai dirinya apa adanya, dan
keinginan itu hanya bisa dipenuhi oleh sebuah
perjalanan Pulang.

Beberapa waktu lalu seorang sahabat lama saya pulang
dari perjalanan belajar di negeri nun jauh disana.
Saya kira dia pulang untuk cuti beberapa minggu,
mengumpulkan energi, sungkem dan mohon restu orang tua
nya, dan ketika batere semangatnya sudah fully charged
maka dia akan berangkat lagi menyelesaikan tugas berat
itu. Tapi ternyata dia benar-benar pulang.
Scholarshipnya terpaksa dibatalkan karena pemerintah
negeri sono itu lebih mengutamakan bujet untuk
berperang melawan poros-poros setan. Sebetulnya saya
tercekat juga, tapi saya segera sadar bahwa teman saya
ini bukan orang yang pulang karena kalah perang, tapi
semata-mata sebuah pencapaian prestasi yang tertunda
karena kurangnya dukungan logistik. Maka saya jabat
erat tangannya, dan dalam hati berdoa semoga pada
suatu soa’at yang tidak terlalu lama lagi dia bisa
mendapat kesempatan yang lebih baik.

Katanya sih, perjalanan Pulang yang paling dahsyat
dilakukan ikan Salmon. Mengawali hidup di hulu, mereka
lalu ke hilir, lalu merantau di laut. Ketika tiba
waktunya untuk berkembang biak, mereka menempuh
perjalanan yang penuh derita ke hulu, menentang arus
air, memanjat air terjun. Tiba di hulu, memijah, dan
mati. Entah mengapa Tuhan menunjukkan metafor ini
kepada kita, apa ya kiranya pesan yang ingin
disampaikan kepada kita ?

Satu dua orang mungkin enggan Pulang. Mungkin dia
merasa kurang berhasil dalam perantauannya, sehingga
tidak punya kebanggaan untuk dipamerkan ketika pulang.
Mungkin terlalu banyak pertanyaan yang tak bisa dia
jawab ketika dia pulang : kapan menikah kan kamu sudah
mapan, kapan punya anak apa kamu dan binimu sudah ke
dokter ; dan lain-lain pertanyaan yang dirasa si
penanya masih cukup wajar tapi bagi si tertanya terasa
mengganggu pribadi dirinya. Ada juga orang yang enggan
pulang, karena dia sekarang sudah jadi orang besar
maka dia malu mengakui masa lalunya yang kelam,
mungkin seperti legenda Malin Kundang itu, tapi orang
seperti ini rasa-rasanya hanya satu diantara sejuta.
———————–

HARI KETIGA RAMADHAN

“Katakanlah kepada orang-orang kafir itu : ‘Jika mereka berhenti dari kekafirannya, niscaya Allah SWT akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa yang sudah lalu. Dan jika mereka kembali lagi pada kekafiran, sesungguhnya akan berlaku bagi mereka ketetapan Allah SWT terhadap orang-orang terdahulu” (Q.S : 8 : 38)

“Detak hati berkata kepada manusia
Sungguh kehidupan hanyalah menit dan detik
Oleh karena itu ingatlah kematian
Sebelum tiba kematian, Sungguh bagi manusia
mengingat kematian adalah umur kedua”
(Syair)

———————————————

(Sampaikan Walau Hanya Satu Ayat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: