Kebijakan Berawal Dari Batin Sendiri

Pada suatu hari, Maha Bhiksu Fo In bersama pujangga Su Tung Pho
bersama-sama melakukan samadhi. Setelah itu Su Tung Pho tiba-tiba
bertanya kepada Maha Bhiksu Fo In: “Bhiksu, tolong anda lihat! Kalau
saya sedang duduk bersamadhi, rupanya seperti apa?” Setelah melihat
melihat, Maha Bhiksu Fo In kemudian berkata: “Sungguh menakjubkan!
Anda duduk bagaikan seorang Buddha.” Su Tung Pho merasa amat senang
dengan jawaban dari Maha Bhiksu Fo In. Sejenak kemudian, Maha Bhiksu
Fo In bertanya kepada Su Tung Pho: “Coba tolong lihat, kalau saya
duduk bersamadhi seperti apa?” Su Tung Pho berniat ingin menjatuhkan
dan mengejek sang bhiksu, karena biasa dalam diskusi dan perdebatan
dia selalu kalah. Oleh karena itu Su Tung Pho menjawab: “Bhiksu, kalau
anda duduk bersamadhi, bentuk anda bagaikan setumpuk kotoran kerbau!”
Maha Bhiksu Fo In tidak merasa tersinggung. Beliau hanya tertawa. Su
Tung Pho beranggapan dia telah berhasil mengalahkan Maha Bhiksu Fo In.
Dia menganggap dirinya pandai dan selalu bercerita kepada orang lain.

Sedangkan adiknya yang bernama Su Siao Mei malah berkata: “Kakak, kamu
sebenarnya sudah kalah!” Su Tung Pho merasa heran dan berkata:
“Bagaimana saya bisa kalah? Sudah jelas sang bhiksu tidak dapat
membantah jawaban saya!”

Su Siao Mei berkata: “Kakakku, di hati sang bhiksu semuanya adalah
Buddha. Demikianlah beliau memandang kamu sebagai Buddha! Sedangkan di
hati kamu semuanya adalah kotoran kerbau, oleh karena itu kamu melihat
sang bhiksu juga sebagai kotoran kerbau!”

Latihan di dalam batin bukanlah suatu kepintaran untuk berdebat.
Lebih-lebih lagi bukan semata-mata kepandaian untuk bersilat lidah.
Latihan batin bertujuan untuk memperbaiki perangai dan kebiasaan
buruk, sehingga berangsur-angsur dapat menyingkirkan kekotoran yang
berada di dalam batin. Kekotoran yang ada di dalam batin cenderung
membuat kita membeda-bedakan pandangan kita. Bila dengan pandangan
positif yang terlatih dengan baik, maka dapat melihat dunia dan
kehidupan ini dengan positif. Tetapi bila dengan pandangan negatif
yang tak pernah terlatih dan tak terkendali, maka akan melihat dunia
dan kehidupan ini dengan pandangan negatif. Memandang orang lain
dengan penuh keagungan karena batin orang tersebut penuh dengan
keagungan. Sebaliknya memandang orang lain bagaikan tumpukan kotoran,
berarti orang yang mempunyai pandangan tersebut batinnya juga penuh
dengan kotoran yang berbau busuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: