Jadi Pengusaha tak perlu IP Tinggi

MAU jadi pengusaha sukses? Pendidikan tidak perlu tinggi-tinggi. Hal ini terbukti, di Indonesia banyak pengusaha sukses tidak tamat sarjana, bahkan ada yang tidak tamat SD (Sekolah Dasar). Demikian pula, sembilan orang terkaya di dunia akademiknya tidak begitu menggembirakan. Mengapa itu terjadi, karena otak kanannya yang menonjol, ketimbang otak kirinya. Itulah yang dipaparkan Bos Primagama Purdi E Chandra, di Hotel Nikki dalam seminar ”Cara Gila Jadi Pengusaha,” Minggu (17/4) kemarin.

Di hadapan perserta seminar yang diikuti kalangan mahasiswa dan pengusaha itu, Purdi mengatakan, untuk menjadi pengusaha, sejak sekolah harus pintar nyontek. Nyontek ini termasuk perilaku otak kanan yang kreatif. Kelak jika jadi pengusaha nyontek/”mencuri” teknologi misalnya akan memberikan manfaat bagi kemajuan usaha. ”Nyontek ini harus kita lihat sebagai hal yang positif,” katanya.

Menurutnya, jika mau sukses jadi pengusaha otak kiri — yang berpikirnya teoritis, intelektual — harus dikendalikan otak kanan yang lebih kreatif dan menekankan pada praktik di lapangan. Kalau ada mahasiswa sekarang IP (indek prestasinya) sudah melebihi tiga, harus diturunkan jika ingin menjadi penngusaha.

Menurutnya, pengusaha yang lahir dari otak kiri dengan IP tinggi cenderung gagal dalam bisnis. Mereka (pengusaha-red) yang berotak encer (kiri) selalu akan berhitung setiap langkah yang akan dikerjakan. ”Baru mau berinvestasi, mereka ini sudah berpikir BEP (break event point/pulang pokok). Belum buka usaha, sudah berpikir BEP, kapan memulai usahanya? Jika sudah demikian, yang ada hanya ketakutan mengambil risiko,” paparnya.

Dia yang mengaku memiliki puluhan usaha ini, selalu tidak tamat sarjana di perguruan tinggi. Semula ia kuliah di FT UGM tidak tamat, kemudian pindah ke IKIP Jogyakarta juga tidak tamat. ”Saya baru tamat MBA setelah mendirikan sekolah sendiri. Barangkali dosennya takut sehingga saya diluluskan,” papar sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Hal menarik yang disampaikannya adalah kunci untuk menjadi pengusaha harus berani mengambil risiko dan siap gagal. Dengan kegagalan itu dapat dijadikan pelajaran untuk memulai usaha baru. Jangan putus asa kalau ingin jadi pengusaha.

Menurutnya, untuk menjadi pebisnis, tidak harus bermodal besar, tidak harus berotak encer, tidak harus menunggu pensiun dan tidak harus menunggu hari tua. Yang diperlukan punya nyali dan naluri bisnis, motivasi diri yang kuat dan komitmen diri untuk sukses. (wir)

1 Komentar »

  1. arifaji said

    wuih bagus tenan tulisan panjenengan pak hehehe….salam dari surabaya

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: